"Aku pulang. Tapi ingat kau harus bangkit dan jangan menangisi pria banjingan itu lagi." Pamit Ruby saat suaminya sudah menjemput dirinya. Ia tidak bisa meninggalkan bayi mereka terlalu lama, meskipun ada mommy yang menjaganya.
"Baiklah, Baik. Aku akan melakukan apa yang kau sarankan padaku." Jawab Amber dengan tersenyum kecil.
"Bagus. Aku pulang, besok aku akan menyuruh bibi lili menemanimu lagi." Ujar Ruby.
"Hm! Balas Amber dengan gumaman.
"Dah!
"Dah! Berhati-hatilah.!"
"Hm.!"
Setelah kepergian Ruby, Amber menutup pintu Apartemennya. Ia menyusuri setiap sudut huniannya itu. Dalam ingatannya tempat ini penuh kenangan pria yang sudah membuatnya terluka.
"Ayolah Amber. Kau tidak boleh menangisinya lagi. Kau harus kuat. Iya aku pasti bisa melupakannya dan membuang semua kenangan tentang dirinya." Lirihnya pelan.
Meskipun ini berat, tapi dia harus berusaha. Ia tidak ingin membuat dirinya hancur hanya karena cintanya yang yang terlalu berlebihan kepadanya. Benar kata Ruby, ia harus menjadikan ini sebuah pelajaran agar tidak terjerumus pada lubang yang sama. "Aku pasti bisa." Batinnya memberikan semangat pada dirinya sendiri.
"Hal, pertama yang harus aku lakukan adalah, membuang dan menyingkirkan kenangan indah yang berakhir buruk bersama pria itu. heheh … aku harus menyebutnya apa? Apakah masih pantas aku menyebut pria yang ku cintai? Setelah dia tega menghilang dan meninggalkan luka buatku? Haruskah aku mengharapkan dia lagi? Aku rasa tidak, sudah cukup aku menyiksa diriku sendiri. Mengabaikan kebaikan orang yang peduli paduku. Meskipun ini berat tapi aku pasti bisa melupakannya." Monolog Amber pelan.
"Aku bersumpah tidak akan ada lagi, cinta ini untuknya. Hati dan cintaku terlalu berharga buat dipermainkan olehnya. Aku pasti bisa membuang tentang dirinya dan mengubur dalam tentang kenangan bersama pria itu. Aku tidak boleh lemah. Aku harus kuat. Ayo Amber jangan menangis." Monolog nya dengan menyemangati dirinya sendiri.
Amber menghapus linangan air mata yang berada di kelopak matanya yang terlihat masih bengkak dan lembab. Amber meraih sebuah kardus di dalam gudang. Ia memasuki kamarnya dan mengambil semua barang-barang milik Bram di sana. Meskipun berat dan berusaha menahan ledakan emosi yang siap meledak itu, sekuat tenaga Amber menahannya. Semua kenangan tentang Bram ia masukkan dalam kardus. Amber bahkan menutup matanya saat netranya meraih potret dirinya bersama pria itu. Tangannya bahkan gemetar hanya untuk menyentuh semua kenangan bersamamu Bram. Amber meraih koper di dalam lemari. Ia membuka lemari letak semua pakaian Bram.
Iya tertegun dan bergeming di tempatnya saat maniknya menatap pakaian dan wangi yang sejujurnya ia rindukan. Emosi dan perasaan yang ia tahan sejak tadi kini meledak begitu saja. Oh Tuhan, dia hanya seorang perempuan yang memiliki sisi lemah dan rapuh. Sekuat-kuatnya dia berusaha dia tetap tidak akan pernah baik-baik saja. Amber merosot kelantai dan Kembali menangis dan terisak, ketika menatap pakaian Bram yang tersusun rapi. Pakaian yang sering ia kenakan sesuka hatinya dan pria itu selalu menyukai dirinya memakai pakaian miliknya. Belum lagi Indara penciumannya yang disuguhkan oleh wangi maskulin khas milik pria itu.
Amber terisak dengan kemeja hitam terakhir Bram kenakan masih tergantung disana meninggalkan wangi yang menjadi candunya. Amber memeluk kemeja hitam Bram dan menghirup wangi parfum pria yang begitu ia rindukan.
"Biarkan aku menangis untuk yang terakhir. Setelah ini aku berjanji tidak akan menangisi pria itu lagi."
Gumam Amber dalam isakannya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 147 Episodes
Comments
Nur Febriani
ya allah bgtu menguras emosii bacanya, jgn cpt menarik kesimpulan aamber , bram sangat mencintai km pasti ada sesuatuu yg terjadi dan ini pasti sangat berat juga untk bram krn meninggalkanmu
2023-07-03
0
Muhammad Iqbal
hm...
2022-12-31
0
Yuni
nyesekkkkk
2022-12-27
0