Sepanjang perjalanan pulang, Reyna terus menggerutu dalam hati. Ia kesal, marah keinginannya untuk menikmati senja di tepian pantai harus kandas. Padahal angan-angan Reyna sudah tertata rapi. Bahkan ia tidak memainkan ponsel agar batrenya tetap full karna ia ingin mengabadikan cahaya senja yang indah dengan ponselnya. Tapi mungkin inilah definisi yang paling tepat, manusia boleh berencana tapi Tuhan jualah yang menentukan.
Reyna menoleh ke kiri menatap tajam pria di sebelahnya. Pria inilah yang telah menghancurkan semua rencananya.
"Dasar pembuat masalah. Seharusnya sekarang aku lagi duduk dipinggir pantai sambil menunggu senja hilang terus minum air kelapa. Ahh pasti seru banget. Tapi gara-gara dia jadi gagal semuanya" racau Reyna dalam hati. Ia memejamkan mata lama lalu membuang nafas berat. "Padahalkan lumayan hari ini gak kerja tapi malah cuman gini doang liburannya" sambungnya bergumam.
Pram menyadari kemarahan juga kekecewaan Reyna. Ia merasa kesal dengan dirinya sendiri karna belum bisa mengendalikan trauma yang berhasil menguncinya dalam waktu yang cukup lama itu. Setiap kali melihat pantai, Pram akan langsung teringat dengan kejadian tragis itu.
"Kenapa sih kamu selalu begitu kalau lagi di pantai?" tanya Reyna penasaran.
Pundak Pram bergedik menyadarkannya dari lamunan panjang.
"Apa? Kamu tanya apa barusan?"
"Gak ada" balas Reyna malas. Lagi-lagi Pram mengabaikannya. Ia greget bukan main, Pram tidak ada niatan untuk minta maaf padanya. Tidak merasa bersalah telah menghancurkan rencana yang sudah ia susun rapi. Bahkan bekal yang dibawak juga belum sempat dimakan. Semua ini karna Pram yang memaksa untuk pulang cepat. "Mana aku belum sempat buat rumah pasir. Ahh kesal banget gak sih. Dasar Pram brengsek" umpat Reyna dalam hati. Tangannya gatal ingin memukul kepala Pram sampai pingsan.
"Di depan ada rumah makan. Kamu mau makan gak?" tanya Pram canggung. Sebenarnya ia merasa bersalah karna kelemahannya membuat acara liburan mereka berantakan. Kado yang Pram pikirkan akan membuat Reyna terkesan justru berubah kecewa.
"Aku gak lapar"
Waktu baru menunjukkan jam 16.00 begitu mereka sampai di rumah. Reyna langsung masuk ke kamarnya tak menghiraukan Pram di belakangnya. Mengunci rapat pintu kamarnya lalu menjatuhkan diri di atas kasur empuk kesukaannya. Tidak ada kenangan seru yang didapat. Hanya ada rasa capek.
Pukul 19.00 pm
Pram menata dua mangkuk sop di atas meja. Lalu naik ke lantai 2.
Tok tok tok
"Reyna buka pintunya"
Di dalam kamar, Reyna masih tidur pulas.
Tok tok tok
"Reyna kamu tidur. Kamu dengar saya?"
Tok tok tok
Kali ini Pram tidak hanya mengetuk tapi juga memukul keras pintu kamar menggunakan kepalan tangannya.
Seketika Reyna terbangun dari tidurnya. Ia mendengar seseorang memanggil namanya.
"Duh apaan sih? Ada apa lagi sih?" wajah Reyna tampak sangat lusuh dengan rambut berantakkan.
"Jadi dari tadi kamu tidur? Saya pikir lagi nangis..."
"Ngapain aku nangis?" sambar Reyna dengan kantuk yang masih menyerang bola matanya.
"Kamu gak lihat ini jam berapa? Buruan mandi terus makan"
"Aku gak lapar"
"Gak lapar apanya. Dari siang kamu belum makan. Mandi sekarang atau saya yang mandi'in" ancam Pram menggoda.
"Dihh mesum banget. Kamu makan sendiri deh. Aku belum lapar"
"Ok kalau gitu saya yang mandi'in" Pram mendorong Reyna ke dalam. Melepas paksa kancing baju yang Reyna kenakan.
"Pram apa-apaan sih. Aku bisa sendiri" tolak Reyna berusaha menyingkirkan tangan Pram.
"Telat"
"Telat apanya sih? Lepasin gak atau aku tendang kamu" ancam Reyna seraya terus berusaha menyingkirkan tangan kekar Pram yang kini sedang mencoba melucuti celana jeansnya.
Pemberontakkan Reyna semakin membuat Pram terpacu. Semakin bersemangat melepaskan pakaian yang melekat di tubuh Reyna. Sedangkan Reyna masih terus melawan. Kaki Reyna sudah siap mengtekel pergelangan kaki Pram namun yang terjadi luar rencana. Reyna tidak sengaja menarik kuat baju Pram yang membuatnya bersama Pram jatuh ke kasur.
Reyna membuka matanya perlahan dan mendapati Pram ada di atasnya. Mata keduanya bertemu intim. Aliran darah berdesir cepat seperti angin lewat. Sudah lama Reyna merasa berdebar seperti ini setiap kali bertatap mata dengan Pram dari jarak sedekat ini. Hanya hidung yang menjadi penghalang bibir mereka.
Bibir ranum itu membuat Pram selalu ingin mencicipinya. Kini sepasang mata indah Pram bergerak naik turun menghafal detail wajah wanita dibawahnya.
"Cantik" puji Pram spontan.
"Apanya?" tanya Reyna deg degan.
"Semuanya"
Pram menurunkan wajahnya ingin mencumbu bibir Reyna namun dengan cepat Reyna memalingkan wajahnya ke kanan. Kemudian Pram berusaha lagi namun Reyna memalingkan wajahnya ke kiri. Prampun tersenyum tipis menampilkan wajah sensual menggodanya.
"Kamu wanita pertama yang menolakku" ujar Pram geram. Kembali ia tersenyum tipis. "Kenapa kamu selalu menolak untuk bagian ini? Jelas tadi kamu sangat puas bisa mencium bibirku" kata Pram erotis.
"Apaan sih. Ngawur banget ngomongnya. Minggir gak. Aku mau mandi" ucap Reyna melotot.
Pram segera bangkit. Ia merasa gerah sekali. Kalau saja tidak memikirkan perut Reyna yang kosong, mungkin sekarang ia sudah melahap habis tubuh istrinya itu.
...----------------...
"Kita ketemu di restoran Pakan jam 19.00. Sekarang saya masih di kantor" .
Pram tersenyum lebar setelah mengirim pesan pada Reyna. Malam ini ia mau mengajak Reyna makan malam sebagai permintaan maaf karna liburan kemarin gagal. Pram juga mau menunjukkan isi rekaman yang membuktikan bahwa ia bukan ayah biologis dari anak yang sekarang sedang dikandung Diana. Pram yakin Reyna pasti sangat senang mendengarnya.
Tok tok tok
"Masuk"
"Pak saya minta maaf"
"Ada apa?" tanya Pram curiga melihat wajah asistennya.
"Pak Aditya minta bertemu malam ini juga karna besok dia mau langsung pulang ke London" jelas Gilang asisten Pram.
"Loh gak bisa gini. Saya gak bisa malam ini. Saya sudah ada janji"
"Tapi pak, pak Aditya bilang kalau tidak mau bertemu malam ini maka dia akan membatalkan..."
Gilang menutup mulutnya begitu Pram mengankat tangan kanannya. Itu pertanda agar Gilang berhenti bicara.
Pram melirik arloji yang melingkar di tangannya.
17.15
Sudah sangat mepet dengan janji makan malamnya dengan Reyna. Tidak mungkin ia membatalkan janji yang sudah ia buat begitu saja. Pasti Reyna akan kecewa lagi. Pram mengirim pesan lagi pada Reyna memberitahu makan malamnya akan diundur jadi jam 19.30 pm.
Waktu terus berjalan. Siang telah berganti malam. Gemerlap lampu jalan serta hilir mudik kendaraan membuat malam tampak semakin sibuk. Di restoran Pakan Reyna menunggu anggun dengan gaun merah marun. Warna ini warna favorit Pram. Ia sengaja memakainya agar Pram senang ketika melihatnya.
"Maaf mbak sudah mau pesan makanan belum?"
"Belum mbak bentar lagi ya" balas Reyna tidak enak hati. Sudah 2 kali pelayan yang sama menghampirinya.
Reyna melihat jam tangannya lagi. Sudah jam 19.15 dan Pram masih belum datang.
"Maaf mbak, restorannya mau tutup"
Reyna tersentak dari lamunannya. Ia melihat keadaan di luar dari balik dinding kaca. Lalu melirik arlojinya. Jam 21.30. Ini memang sudah waktunya restoran tutup. Reynapun keluar dengan langkah berat. Ia sangat kecewa juga marah.
"Dasar brengsek. Harusnya bilang kalau gak jadi datang" umpat Reyna kesal.
Ia mengusap matanya kemudian menangis keras. Ia bingung karna terlalu bersemangat sampai lupa membawak ponsel. Sekarang ia tidak bisa menghubungi siapapun. Reyna duduk lesuh di halte bus. Kedua kakinya diangkat lalu memeluk mereka erat. Pelan tapi pasti rintik hujan turun membasahi bumi.
Tak lama berselang dari kejauhan sinar lampu mobil menyilau mata. Reyna memicingkan mata melihat ke arah mobil. Ia tahu mobil itu tapi mobil dengan merk dan warna seperti itu banyak. Semakin dekat dan mobil itupun berhenti tepat di depan Reyna.
"Masuklah" ajak Tama nyaring melawan hujan yang turun deras.
Tentu saja tanpa penolakan Reyna langsung berlari masuk ke dalam mobil Tama.
"Ngapain kamu disitu malam-malam gini?"
"Tadinya mau makan malam sama Pram tapi gak jadi" jawab Reyna seraya menepis air hujan dari lengannya.
"Kenapa gak jadi?"
"Gak tahu. Dia gak datang. Udah ah gak usah dibahas, males" Reyna mengusap matanya. Sejak di halte tadi Reyna menahan airmatanya. Duduk sendiri ditengah malam ditemani hujan menunggu seseorang yang tidak jelas kedatangannya, itu sangat menyesakkan dada.
Setelah hampir 25 menit perjalanan.
"Ini keringkan dulu rambut kamu" ujar Tama sambil memberikan handuk putih pada Reyna.
"Terima kasih" balas Reyna dengam senyum khasnya.
"Mau makan?"
"Mau" sahut Reyna tanpa ragu. Ini sangat berbeda saat ia bersama Pram. Dengan Tama, Reyna merasa tak perlu menyembunyikan apapun. Tak perlu merasa takut juga.
"Makan mie mau?"
Seketika Reyna melongoh sambil melihat Tama tajam.
"Soalnya aku tidak ada bahan buat dimasak. Cuman ada mie" jelas Tama salah tingkah.
"Aku suka mie kok"
Senyum manis keduanya bersahut memenuhi apartement luas yang kini hanya dihuni mereka berdua.
6 menit kemudian....
"Selamat makan"
"Selamat makan juga. Oh ya kamu ada saos sambal gak" dari kecil Reyna sudah terbiasa makan mie kuah dengan saos sambal. Baginya lebih menambah sensasi jika ada rasa pedas serta asem dari saos.
"Ini"
Reyna memencet botol saos penuh semangat. Dingin-dingin gini memang paling nikmat makan mie kuah pakai saos sambal. Namun karna terlalu kuat menekan, saos itu mengenai baju juga wajah Reyna.
Tama langsung mendekati Reyna sambil membawak beberapa tisu.
"Bersihkan dengan ini" kata Tama memberikan tisu.
Tingkah Reyna membuat Pram tersenyum tipis. Grasak grusuk itu tidak berubah.
"Pelan-pelan. Sini wajah kamu biar aku yang bersihin. Ntar saosnya kena mata" Tama mengambil tisu dari tangan Reyna lalu mulai menyapu saos yang ada di wajah Reyna.
Denting jam seakan berhenti sesaat saat dua pasang mata itu bertemu kembali setelah sekian lama. Tama dapat melihat jelas pancaran dirinya dari mata indah Reyna begitupun sebaliknya.
"Kita sangat dekat sekarang. Apa kamu tidak merasakan apapun?" tanya Tama memecah keheningan.
Reyna terperanjat namun dirinya merasa kaku tidak berani bergerak.
"Aku tidak tahu bagaimana menjelaskan perasaanku saat ini. Jantungku berdetak kencang ketika melihat matanya. Aku merasa nyaman saat bersamanya"._Reyna_
Jemari Tama membelai lembut wajah dingin Reyna. Lalu jari-jari kerasnya berhenti di bibir kecil menggoda. Tama melingkarkan keduanya tangannya di leher jenjang Reyna kemudian mendekatkan wajahnya pada gadis yang berhasil menggetarkan hatinya sejak pertama bertemu itu.
"Pram" ucap Reyna refleks.
Selang detik kemudian guntur bersuara lantang memisahkan kedekatan intim Reyna dan Tama. Keduanyapun menjadi canggung.
Di lain tempat tepatnya di restoran Pakan, Pram mengedarkan matanya ke setiap sudut restoran yang terlihat sepi. Tidak ada pengunjung dan pintu utama restoran juga telah ditutup. Entah yang ke berapa kali Pram menelpon Reyna namun tetap tidak ada jawaban.
📞 Bu Reyna belum pulang pak" jawab Sandi dari sambungan telpon.
Pram semakin cemas. Apalagi hari semakin larut dan hujan juga.
"Kamu yakin gak mau aku antar pulang?" tanya Tama kedua kalinya.
Reyna menggeleng ragu.
"Atau kamu mau telpon Pram?"
"Jangan. Aku tidak mau dia tahu aku disini" sahut Reyna cepat.
" Pram pasti mencari kamu"
"Kalau kamu keberatan aku disini, aku akan pergi" Reyna langsung beranjak dari duduknya.
"Gak...gak gitu maksudku"
"Lalu apa? Aku sengaja kesini biar gak ketemu Pram tapi dari tadi kamu bahas dia terus. Aku pergi saja"
"Stop bicara asal. Kamu tahu betul bagaimana perasaan aku sama kamu. Tidak mungkin aku biarin kamu di luar sendiri" Tama menarik nafas pendek lalu membuangnya cepat. "Sekarang kamu tidur di kamarku. Aku tidur disini" ucap Tama sambil menunjuk sofa.
Malam itu berlalu cepat. Tak terasa pagi telah tiba. Sinar matahari pagi menyapa ramah. Hangatnya sinar itu menyeruak masuk dari dinding kaca yang tak ditutupi apapun membuat Tama bangun dari tidur lelapnya.
Krekk
"Masih tidur" ucap Tama tersenyum bahagia. Walaupun tidak satu ranjang tapi ia cukup bahagia bisa tidur dengan wanita yang ia cintai dalam satu ruangan yang sama.
...----------...
Pram mengenakan jaket abu-abu bersiap mencari Reyna kemanapun. Saat Pram akan keluar kamar, tiba-tiba saja ponselnya berdering.
"Tama. Ngapain nelpon pagi-pagi gini"
📞 Sekarang Reyna ada di apartmentku. Dia sedang tidur. Kamu tidak perlu menjemputnya. Aku akan mengantarnya pulang. Aku memberitahu kamu agar kamu tidak khawatir. Reyna aman bersamaku"
Pram mencengkam erat ponselnya lalu melemparnya sembarang. Ia merogoh kunci mobilnya di atas nakas kemudian bergegas turun.
Tok tok tok
"Aku sudah bilang akan mengantarnya pulang" ucap Tama begitu mendapati Pram ada di depan pintu apartmentnya.
"Mana Reyna? Reyna...Reyna pulang" panggil Pram nyaring.
Suara Pram membuat Reyna bangun dari tidur nyenyaknya. Ia langsung bergegas menghampiri pram.
"Ayo pulang" Pram menarik kasar tangan Reyna yang mau tidak mau Reyna harus mengekori Pram jika tidak ingin jatuh. Bahkan Reyna tidak sempat mengucapkan terima kasih pada Tama.
Mobil Pram melaju dengan kecepatan penuh. Dan tak butuh waktu lama, mobil mahal itu sudah terparkir di depan rumah mewah Pram.
"Mau kemana kamu? Jelasin kenapa kamu bisa tidur di rumah Tama? Bicara sekarang" teriak Pram keras.
Reyna diam sesaat.
"Tidak bisakah kamu memelukku sekarang. Aku sangat capek sampai rasanya aku mau pingsan" ucap Reyna sendu. Tatapan matanya tampak kosong tak bercahaya.
"Saya akan mendengarkan jawaban kamu nanti" Pram menarik tubuh Reyna dalam dekapan hangatnya lalu menepuk lembut pundak istrinya itu.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 41 Episodes
Comments
Rice Btamban
lanjutkan
2022-06-17
1
Mona Nuraeni
gantung lagi, gantung lagi 😕
2022-06-07
1
Titin Aini
lanjut
2022-06-04
1