Pram memandang hujan yang tak kunjung berhenti dari balik pintu kaca kamarnya. Hari semakin gelap dan Reyna belum pulang juga. Ia merasa khawatir Reyna diganggu orang di jalan. Pram kembali duduk di sisi kasur.
📞Kamu lakukan apa yang saya suruhkan? Kenapa Reyna belum pulang?"
Sebenarnya Pram telah menyuruh orang kepercayaannya untuk mengawasi Reyna. Meskipun tampak cuek dan tak perhatian namun Pram sebenarnya sangat memperdulikan keselamatan Reyna. Dan walaupun tidak memberi tumpangan namun Pram tetap mengawasi Reyna dengan memerintahkan orangnya untuk menjaga Reyna sepenjang perjalanan pulang.
📞 Bu Reyna sudah pulang dari tadi pak. Tapi bu Reyna pulang dengan laki-laki"
Hujan masih terus turun namun tak sederas tadi. Pram berulang kali menekan remot tv mencari acara tv yang bagus namun rata-rata semua programnya sama berisi drama yang memuakkan.
Haaaah
Bangkit dari duduknya lalu menghela nafas berat. Sudah hampir jam delapan malam namun Reyna belum datang juga. Pram kembali ke kamarnya karna saat ini tidak ada yang bisa dilakukan selain menunggu.
"Terima kasih" ucap Tama.
"Kok kamu yang bilang terima kasih. Harusnya aku"
"Karna kamu sudah mengkhawatirkan keadaan nenek"
Dua sudut bibir Reyna tertarik ke atas menampilkan senyum khasnya yang mempesona.
"Terima kasih karna selalu ada saat aku butuh kamu, Tama. Ya udah aku masuk ya"
Mata Reyna tertuju pada lampu ruang tv yang masih menyala. Ruangan itu biasanya selalu gelap di malam hari.
"Apa mungkin dia habis nonton tv? Tapi kok tumben. Biasanya juga kalau gak ada kerjaan dia tidur" Reyna melangkah ke kamarnya. Hari ini sangat melelahkan dan ingin tidur cepat.
Brakkkk
Reyna tersentak begitu kamarnya terbuka tiba-tiba. Tubuhnya terhuyun ke kasur. Baju yang belum sempurna ia kenakan tampak aneh di tubuhnya.
"Kamu apa-apaan sih main masuk-masuk aja" Reyna lekas membetulkan bajunya. "Gak bisa apa ketuk dulu" sambungnya dengan raut muka masam.
"Kamu pulang sama siapa tadi?" dua tangan Pram menenteng di pinggang. Berdirinya tidak tegap namun tampak elegant layaknya model yang sedang berpose di catwalk.
Reyna memalingkan wajahnya. Ia takut Pram marah lagi jika mengatakan yang sebenarnya.
"Kalau saya tanya jawab" terdengar jelas bunyi yang ditimbulkan begitu Pram menghentak daun pintu kamar. "Kenapa kamu bisa pulang bareng Tama? Kamu sengaja minta jemput sama dia lalu cerita kalau saya menelantarkan kamu gitu"
Reyna terkejut. Bagaimana Pram bisa tahu?
"Ya karna hujannya gak mau berhenti. Terus sudah malam juga. Aku bingung harus minta tolong sama siapa lagi. Lagian ini salah kamu"
"Kenapa jadi saya yang salah ?"
Kedua pundak Reyna terangkat lalu menurunkannya cepat.
"Jadi kamu tidak tahu salah kamu apa? Jika saja kamu ngajak aku pulang bareng maka aku tidak mungkin nelpon Tama. Itu jelas salah kamu. Sudahlah kamu memang tidak pernah merasa salah"
Pram memicit pelan pangkal hidungnya sedangkan Reyna mengibas selimut juga kasurnya. Ia mau secepatnya tidur.
"Itu tidak bisa kamu jadikan alasan. Kenapa kamu harus menelponnya. Masih ada..."
"Lalu aku harus telpon siapa? Aku tidak punya teman akrab selain dia. Dan aku tidak punya keluarga selain kamu. Tapi sepertinya kamu bukan keluargaku" kata Reyna dengan suara deepnya.
"Kamu sengaja mengatakan itu agar saya merasa bersalah. Tapi saya tidak selemah itu. Kamu menyukainya karna itu kamu menelponnya. Itulah kenyataannya" Pram tetap kekeh dengan asumsinya. Baginya alasan orang menelpon orang lain diwaktu mendesak, itu karna ada rasa suka. Dan alasan itu yang membuat Pram marah.
"Terserah kamu. Apapun yang aku katakan kamu tidak akan percaya. Kamu tidak pernah mau mendengarkan orang lain..."
"Dan kamu tidak mau minta tolong padaku di saat susah. Sepertinya kamu tidak sungguh-sungguh menganggapku keluarga"
...----------------------------------...
Pram menghampiri Reyna yang sedang menyiapkan makanan.
"Tumben jam segini sarapan sudah siap" ucap Pram sambil melirik arlojinya yang baru saja berada di angka 07.00 am.
"Kamu lupa. Sekarang aku kerja. Kalau terlambat ntar kamu pecat lagi" Reyna memasukkan nasi juga lauk ke dalam kotak bekal.
Etos kerja Reyna tidak perlu diragukan. Ia tahu betul bagaimana susahnya mencari kerja dan ia juga tahu seperti apa kerasnya mempertahankan pekerjaan. Lengah sedikit posisimu akan digeser orang lain.
"Good" puji Pram seraya menyantap makan paginya.
"Aku duluan ya" pamit Reyna buru-buru.
"Ikut saya saja"
Langkah Reyna terhenti.
"Maksud kamu, saya berangkat kerja bareng kamu gitu?" tanya Reyna memperjelas pendengarannya.
"Iya"
"Serius?"
"Ayo" ajak Pram setelah menyudahi makannya.
Reyna mengangah tak percaya. Pram memang sulit di tebak. Dalam semalam sifat dan sikapnya bisa berubah drastis seperti air hujan yang berhenti secara tiba-tiba. Misterius dan penuh kejutan.
Sepanjang jalan sepasang retina Reyna tak berhenti memandangi wajah menawan Pram. Tampak fresh dan menggairahkan. Jakun yang menonjol, bibir tebal berisi, jari-jari yang kokoh, rambut hitam klimis, dibalut setelan jas berwarna hitam. Penampilan yang sempurna.
Tanpa sadar Reyna menelan salivanya. Darahnya berdesir melihat Pram berteriak pada pengendara yang lain.
"Heh. Sial" umpat Pram marah begitu mobilnya disalip mendadak. Untung saja Pram tidak hilang fokus dengan setirnya dan hal yang tidak di inginkanpun tidak terjadi.
Pram mengigit bibir bawahnya. Jakunnya bergerak naik turun. Semua itu membuat Reyna semakin tergoda.
"Kenapa lehernya bagus banget. Aku ingin menyentuhnya" gumam Reyna liar. "Ahh apa yang kamu pikirin Na. Gak gak kamu gak boleh punya pikiran gitu" lanjutnya frustasi dengan pikiran kotornya. Reyna tidak tahu kenapa tiba-tiba ia punya pikiran seperti itu.
Pram menghentikan mobil di pinggir jalan berdekatan dengan trotoar.
"Turun"
"Kok turun disini?"
"Saya tidak mau karyawan lain lihat kamu turun dari mobil saya. Saya tidak suka jadi bahan gosip mereka"
"Ya tapi ini tanggung banget. Paling 3 menit lagi nyampe" rengek Reyna coba membujuk Pram.
"Turun"
"Aish kejam banget sih padahal dikit lagi nyampe" tangan Reyna berusaha melepaskan seatbelt namun tidak bisa. "Ini kenapa kok gak bisa dilepas. Gimana sih? Ini mobil keliatannya mahal tapi kok seatbeltnya rusak gini" racau Reyna meledek.
"Bawel. Sini"
Pram tampak kesulitan juga melepaskan seatbelt yang mengunci tubuh Reyna. Ia lalu mengerahkan tenaganya menarik keras benda menyebalkan itu. Namun Pram hilang kontrol, tangannya tanpa sengaja menekan tombol yang ada di sisi kursi membuat kursi jatuh ke belakang. Begitupun dengan Reyna dan Pram yang ikut tertarik.
Reyna berusaha melindungi diri. Ia menarik pundak lebar Pram dan tanpa di duga bibirnya menempel di leher kokoh Pram yang diincarnya tadi. Untuk beberapa saat keduanya berada di posisi intim itu. Pram berada di atas dan Reyna ada di bawahnya.
"Kamu mau melakukannya disini?" bisik Pram lembut disertai hembusan kecil tepat di depan telinga Reyna.
"Maksudnya?" Reyna tersentak dan segera melepaskan pautan bibirnya dari leher Pram.
Pram menekan lagi tombol yang tidak sengaja ia tekan tadi. Kursi kembali ke posisinya membuat tubuh Reyna ikut terdorong ke depan. Keadaan ini membuat jarak diantara mereka hanya berjarak beberapa senti saja. Pram bahkan bisa merasakan hembusan nafas Reyna. Mata keduanya menatap intens.
"Apaan sih?" sedikit gerakan, Reyna mendorong Pram menjauh.
Pram mengelus lehernya dengan ekspresi menggoda. Dan tentu saja tingkah Pram itu membuat Reyna sangat malu.
"Sepertinya kamu juga sudah menginginkan itu" ucap Pram kembali menggoda.
"Apaan sih? Masih pagi sudah mesum banget pikirannya" tangan Reyna cekatan membuka pintu mobil seraya menyembunyikan wajah malunya dengan rambut hitam miliknya. Kemudian berlari secepat mungkin tanpa menoleh ke belakang. Reyna tidak mau Pram melihat wajah merahnya yang bagaikan kepiting rebus.
"Huhh kenapa dia semakin menggemaskan" ucap Pram sambil memandangi Reyna yang kian menjauh.
...--------------...
Terlihat sempurna pantulan tubuh atletis Pram di cermin. Dengan hanya memakai kimono membuat kaki jenjangnya terpampang jelas. Pram berjalan keluar kamarnya tanpa menganti pakaiannya.
"Kamu masak apa?"
"Rencananya mau masak Nasi goreng. Iih kenapa sih gak pakai baju dulu?" kata Reyna risih melihat Pram yang hanya mengenakan kimono.
"Memangnya ini bukan baju?"
"Maksudnya pakai baju tidur gitu. Itukan kimono doank. Kamu pasti gak pakai dalamankan?"
"Kok tahu?" sambung Pram memicingkan mata.
"Aish nyebelin banget sih. Gimana kalau tiba-tiba kimono kamu lepas?"
"Gampang kalau lepas tinggal pakai lagi. Dan kamu termasuk cewek beruntung bisa lihat saya tanpa pakaian" balas Pram santai diiringi senyum seringainya itu.
"iih kamu itu selalu mengampangkan semuanya. Udah kamu ganti baju dulu sana"
Pram mengabaikan Reyna lalu duduk seperti biasa. Layaknya anak kecil, Pram menunggu tak sabar makanannya.
5 menit berlalu dan Reyna masih belum selesai.
Pram menghampiri Reyna ingin tahu sampai mana makanannya akan disajikan. Retina abu-abu kekuningan itu tak lepas memandang wajah cantik gadis di sebelahnya. Rambut yang dikuncir tinggi membuat leher jenjang Reyna tampak begitu menggoda.
"Kamu ngapain sih kesini? Mending kamu ganti baju dulu sebelum nasi gorengnya masak" ujar Reyna tanpa melihat Pram. Tangannya cekatan mengaduk nasi goreng agar masak merata.
Senyum tipis menyeringai di wajah tampan Pram. Naluri kelakiannya bangun. Dari arah belakang tangan Pram bergerilya lihai menyentuh jemari Reyna.
"Nasi gorengnya susah masak kalau kamu ngaduknya begitu" ucap Pram seraya mengajari Reyna bagaimana cara mengaduk nasi goreng yang benar.
"Emangnya apa yang salah? Cara kamu juga sama dengan caraku. Udah awas ah, mau cepat makan gak? Ganggu banget" Reyna menyikut perut Pram kesal. Tingkah Pram sangat aneh.
"Sitt ni cewek gak peka banget" gumam Pram frustasi.
Malam semakin larut. Di kamarnya masing-masing Pram dan Reyna sama-sama tidak bisa tidur. Pikiran Pram hanya tertuju dengan memori yang baru beberapa saat yang lalu masuk ke dalam otaknya. Ia mengingat betul betapa indahnya leher jenjang Reyna. Sedangkan Reyna masih saja membayangkan seandainya saja kimono yang Pram kenakan tadi lepas.
"Haah kenapa sih pikiranku kotor banget" hela Reyna gelisah.
Tok tok tok
Brakkk
Tanpa kata Pram menyerbu mencium brutal bibir mungil Reyna. Terus menyerang tak membiarkan gadis dalam dekapannya itu menolak. Reyna seakan tenggelam dalam lautan. Ia tidak bisa kemana-mana dan kesulitan bernafas seiring ******* Pram yang semakin lekat layaknya vacum cleaner.
Reyna semakin terdesak. Ia merasa benar-benar akan kehabisan nafas. Pram sangat liar tak memberi cela sedikitpun. Dan dengan sisa tenaganya, Reyna mendorong tubuh Pram keras.
"Aku tidak suka kamu kasar begini" ujar Reyna dengan nafas tak teratur.
Pram memejamkan mata mengatur nafasnya kembali stabil.
"Aku minta maaf" ucapnya berlalu meninggalkan Reyna sendiri.
Reyna tercengang. Pikirannya mengawan begitu Pram pergi setelah mengatakan maaf. Ia tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi. Pram pergi begitu saja setelah mencumbuinya kasar. Bagaimana bisa Pram memperlakukannya seperti ini? Reyna masih tak percaya. Suaminya itu seperti dua orang yang berbeda.
"Aku terus memikirkan kamu sepanjang hari. Tapi kenapa saat kita begitu dekat, aku kembali mengingatnya. Aku pikir sudah bisa melupakan semuanya" kata Pram dalam hati. Ia mengusap kasar wajahnya, mengacak frustasi rambutnya. Pram merasa bersalah karna sebenarnya ia menganggap Reyna yang dicumbunya tadi adalah Tari, gadis pengkhianat yang mati bunuh diri. Kematian tragis yang membuat Pram selalu dirundung rasa bersalah.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 41 Episodes
Comments
Nurdia Nailaaqila
lanjut thor
2022-07-01
1
Rice Btamban
lanjutkan
2022-06-13
0
Lina Fitri
lanjutnya thor
2022-05-28
1