Hanya sebuah dongeng

Mobil hitam yang Reyna tumpangi perlahan memasuki pekarangan hijau yang sangat luas. Rumputnya tertata rapi begitu dengan tanaman disekitarnya. Ada juga beberapa kembang warna warni yang sedang mekar sempurna. Mobil akhirnya berhenti tepat didepan rumah yang sangat besar dan mewah. Sekilas dari luar rumah dihadapan Reyna tampak sepeti istana dicerita dongeng. Reyna lalu memalingkan pandangannya pada Pram yang sudah berjalan lebih dulu didepannya.

"Wahh ini benar-benar seperti cerita dongeng. Seorang pangeran yang tampan beserta istana megahnya" ucap Reyna dalam hati. Ia merasa kagum atas pemandangan indah yang tersaji didepan matanya. "Aku mimpi gak sih?" Reyna meraba-raba wajahnya berpikir kalau ia sedang bermimpi.

Reyna tersentak begitu sadar dari lamunannya. Ia tidak melihat lagi sosok Pram suaminya. Pintu rumah sudah terbuka dan Reynapun langsung saja masuk ke dalam rumah besar yang dia sebut istana itu. Baru saja masuk, Reyna seketika dibikin takjub berkali-kali lipat dari sebelumnya.

"Waw rumah ini besar sekali" puji Reyna kagum.

Ditambah lagi berbagai furniture yang terlihat sangat mahal yang memiliki nilai jual tinggi pastinya dan semuanya disusun dengan baik ditempatkan di sudut yang pas. Nuansa putih mendominasi rumah itu membuat rumah tampak semakin bersih dan nyaman.

"Kamu mau tetap berdiri disana?"

Suara berat Pram memecahkan keheningan.

Reyna membalas dengan senyum tertahan seraya berjalan mendekat pada Pram. Reyna masih merasa canggung walaupun kini ia sudah menjadi istri Pram.

"Kamu tahukan pernikahan kita hanya untuk formalitas saja. Pernikahan ini terjadi hanya untuk memenuhi ambisi ayah kamu"

"Jangan bicara asal tentang ayah saya" sahut Reyna dengan sorot mata tajam.

"Nyataya memang begitu sifat ayah kamu. Dia tahu saya pria mapan yang memiliki segalanya. Sedangkan dia hanyalah pria tua yang miskin, penyakitan tidak punya apa-apa. Lalu memaksa saya menikahi anaknya dengan alasan tanggungjawab. Dan dia...."

"Jangan menghina ayah saya" potong Reyna mendelik.

"Ayah kamu pantas untuk dihina begitupun dengan kamu. Mana ada seorang ayah yang mau menikahkan putrinya dengan laki-laki yang baru dilihatnya kalau bukan karna uang" ucap Pram menggebu dan mengeraskan suaranya. "Dan saya harus menikahi perempuan seperti kamu. Kamu sangat...."

"Memangnya saya perempuan seperti apa? Kamu pikir saya mau menikah dengan kamu. Kalau bukan karna ayah, saya tidak akan mau menikahi pria sombong seperti kamu" hinaan Pram untuk ayahnya sangat menyakitinya. Belum hilang kesedihannya atas kepergian ayahnya dan sekarang ia harus mendengar hinaan dari pria yang sudah menjadi suaminya.

"Kalau begitu kamu bisa pergi dari sini" usir Pram kasar seraya menunjuk ke arah pintu.

Reyna seketika terdiam. Pikirannya mengingat kembali isi surat dari ayahnya.

"Ayah aku harus bagaimana? Ayah menyuruhku bertahan dengan pernikahan ini tapi suamiku sendiri yang mengusirku. Ayah" gumam Reyna dengan pikiran mengawan.

"Kenapa diam?"

Bahu Reyna bergedik begitu Pram membuka pembicaraan lagi.

"Kamu tidak mau pergikan dari sini. Lagian mana ada wanita yang mau pergi dari rumah ini. Semua wanita itu sama, gila uang" Pram tidak menahan bicaranya sedikitpun.

Pram seperti sangat antusias mengeluarkan uneg-unegnya. Ia tidak menerima pernikahannya dengan Reyna. Semuanya begitu mendadak diluar kendalinya. Pram juga merasa aneh, kenapa pernikahan ini bisa terjadi? Kenapa ia mau menikahi wanita yang tidak ia cintai? Apalagi Reyna sama sekali tidak masuk kriteria cewek idamannya.

"Ingat pernikahan ini hanya di atas kertas. Sampai kapanpun saya tidak bisa mencintai kamu jadi jangan mengharapkan apapun dari pernikahan ini. Kamu bisa menikmati semua kemewahan dirumah ini tapi jangan menuntut apapun dari saya. Ngerti" Pram beranjak menaiki anak tangga menuju kamarnya yang berada dilantai 2.

Reynapun mengekor dibelakang Pram.

"Mau kemana kamu?"

Reyna tertunduk bingung.

"Mau tidur sama saya" sudut bibir kiri Pram sedikit tertarik. "Jangan mimpi" sambungnya.

"Kamar kamu dibawah" Pram berbalik menurunin tangga. Ia menuntun Reyna menuju kamarnya.

Tak berapa lama tibalah Pram dan Reyna di depan kamar berukuran kecil yang tidak jauh dari dapur. Walaupun kecil tapi kamar yang akan ditempati Reyna lebih besar dari kamar rumah ayahnya.

"Hemm setidaknya dia masih memberiku kamar" ucap Reyna bersyukur. Reyna tidak tahu kalau kamar itu sebenarnya kamar untuk art.

Pram merebahkan tubuhnya dikasur empuk kesukaannya. Matanya memandang intens langit kamarnya. Ia coba flashback kembali dengan semua yang terjadi. Semuanya berlangsung begitu cepat. Ia tidak menyangka harus menikah dalam situasi yang sama sekali tidak diinginkan setiap pengantin pada umumnya. Parahnya Pram menikahi wanita yang gak dia kenal. Bukan ini yang dia harapkan.Jika tidak ada pesta setidaknya Pram ingin menikahi wanita yang ia cintai.

"Apa ini hukuman untukku?" Pram memejamkan matanya, mengistirahatkan pikirannya dan berharap semuanya kembali seperti semula saat ia bangun nanti.

Didalam biliknya Reyna tidak bisa tidur. Pikirannya kemana-mana. Ia rindu dengan ayahnya. Biasanya disituasi seperti ini ada ayahnya yang selalu memberinya wejangan yang akan membuat pikirannya lebih plong dan tenang. Reyna kembali melihat jam dilayar ponselnya yang telah menunjukkan angka 22.25 pm. Masih tidak bisa tidur, Reynapun keluar kamar untuk mencari angin segar. Sepertinya otaknya butuh asupan oksigen yang lebih.

Suasana malam yang gelap sedikit membuat Reyna merinding ditambah lagi keadaan rumah yang sangat sepi. Reyna merasa setiap langkahnya ada yang mengikuti. Ia menyusuri setiap sudut rumah yang masih asing baginya hingga bertemu dengan dinding kaca yang diluarnya terdapat kolam berenang yang berukuran cukup besar. Reynapun bersandar dikursi yang ada dipinggir kolam. Kepalanya menengadah ke langit menikmati pemandangan langit yang indah dengan gemerlap bintang.

"Disini lebih nyaman" Reyna memejamkan matanya. Kalau saja Reyna tidak mendengar derap langkah kaki, mungkin ia sudah tertidur lelap.

"Siapa ya yang lewat barusan?"

Reyna mengecek sekelilingnya tapi tidak ada siapapun. Ia pun berjalan ke tengah rumah.

"Jangan-jangan maling" duganya.

Ada suara lagi dan kini arahnya berasal dari dapur.

"Jangan-jangan malingnya lapar" Reyna buru-buru berjalan ke dapur.

Dengan langkah yang sangat hati-hati, Reyna mengerahkan semua keberaniannya untuk menangkap si maling.

"Apa yang kamu lakukan disini?"

Aaaahhhhh

Sontak Reyna berteriak nyaring.

"Heh heh apaan sih" tangan Pram refleks menutupi mulut Reyna. "Berisik banget"

"Maaf aku pikir ada maling" ungkap Reyna dengan kepala menunduk.

"Maling? Rumah ini dijaga 2 satpam. Tidak semudah itu maling masuk kesini. Dengar ya, saya tidak mau dengar kamu teriak-teriak lagi disini. Ini rumah bukan hutan. Ngerti" seperti biasa Pram bicara tanpa menyaring ucapannya.

Sedangkan Reyna yang masih tampak shock hanya bisa tertunduk jengkel menganggukkan kepalanya mengiyakan perintah Pram. Reyna tidak bisa berbuat banyak selain menurut. Ini rumah Pram dan ucapan Pram tadi siang seakan menjelaskan kalau Reyna tidak punya hak apapun disini.

Hangatnya sinar matahari pagi menembus jendela kamar. Pram sudah bersiap berangkat kerja. Dengan setelan jas berwarna abu-abu serta celana panjang berwarna senada membuat Pram terlihat semakin menawan. Pesona dan kharismanya terpanjar jelas. Tak lupa jam tangan mahal melingkar dipergelangan tangan Pram membuat penampilannya hari ini semakin mewah.

"Mas Pram sarapan dulu. Aku sudah buatin nasi goreng telur. Rasanya enak, kamu pasti suka" cegat Reyna cepat sebelum Pram berangkat ke kantor.

Pram acuh saja tanpa menghiraukan ajakan Reyna yang sedari tadi sudah mempersiapkan sarapan untuknya. Melihat Pram tidak menganggapnya, Reyna segera berlari ke arah Pram.

"Mas sarapan dulu biar kerjanya enak kalau perut kenyang" ajak Reyna lagi.

"Minggir atau kamu saya dorong. Saya ada meeting penting pagi ini" intonasi bicara Pram sangat mengintimidasi. Pram tidak senang melihat Reyna sok peduli padanya.

"Ya sudah kalau gitu tunggu dulu sebentar. Aku bekalin aja nasi gorengnya biar kamu bisa makan dikantor"

Sementara Reyna menyiapkan bekal, Pram langsung saja berjalan keluar. Ia tidak peduli sama sekali dengan Reyna.

"Loh mas Pram dimana ya? Apa sudah pergi?" buru-buru Reyna berlari keluar. Mungkin saja Pram belum berangkat.

Benar saja Pram baru mau masuk mobilnya.

"Mas Pram ini bekalnya jangan lupa dimakan ya"

Pram menatap sinis kemudian melempar kotak bekal yang diberikan Reyna. Tentu saja sikap Pram itu membuat Reyna sangat terkejut. Rasa sedih seketika menyergap ulu hati Reyna takkala bekal yang ia siapkan kini berserakan dilantai.

"Dengarkan saya. Jangan bersikap seolah-olah kamu istri saya beneran. Ingat pernikahan kita hanya di atas kertas jadi bersikaplah seperti orang asing. Jangan sok baik apalagi peduli sama saya, itu hanya akan membuat saya semakin muak sama kamu jadi berhenti melakukan sesuatu yang akan membuat saya semakin benci sama kamu. Dan panggil saya pak Pram karna bagi saya kamu sama seperti yang lain" Pram berlalu dengan mobil hitamnya setelah mengatakan sesuatu yang sangat menusuk.

Reyna terduduk lemah dilantai. Ia memandang lama nasi goreng yang berserakan dihadapannya. Lagi-lagi airmatanya keluar dengan mudah. Pernikahan seperti apa ini?

..................

"Pak Pram sudah pulang" sapa Reyna ramah.

"Belum, Pram masih dikantor dan ini hantunya Pram" kata Pram malas.

Reyna tersenyum kecil. Ternyata Pram yang dingin nan kaku bisa juga melawak.

"Saya sudah siapin makan malam buat pak Pram. Pak Pram mandi dulu, setelah itu kita makan sama-sama" Reyna tidak perduli kalau Pram akan marah lagi padanya. Reyna tetap akan melakukan tugasnya sebagai istri melayani suami.

Pram membalas dengan senyuman sinis.

"Siapa yang mau makan sama kamu? Siapa juga yang mau makan masakan kamu. Berhenti sok perhatian sama saya. Saya tidak akan makan apapun yang kamu buat" kata-kata Pram masih saja menyakitkan didengar, nyelekit dan on point tidak ada kata ataupun senyum manis. Dan lagi-lagi Reyna makan sendiri.

Hari-hari berlalu begitu saja tanpa ada kesan istimewa. Setiap harinya selalu dengan cerita yang sama. Pram yang dingin. Pram yang kaku. Pram yang acuh dan Pram yang tidak ada rasa peduli pada istrinya.

Reyna mulai berasa bosan berdiam diri di rumah saja. Hari ia memutuskan untuk keluar. Reyna mau mencari pekerjaan agar dia tidak terlalu bosan dengan hidupnya yang gini-gini saja. Meskipun sulit tapi Reyna akan mencobanya lagi. Siapa tahu kali ini nasibnya beruntung ada yang mau memberinya pekerjaan.

Butuh perjuangan dan semangat pantang menyerah. Sudah setengah hari Reyna berjalan, ia masih belum juga mendapatkan pekerjaan. Namun kali ini sepertinya dewi Fortuna sedang berpihak padanya. Ada sebuah kafe yang cukup ramai pengunjung mau menerima jasanya. Reynapun langsung disuruh bekerja hari ini juga mengingat pengunjung masih lumayan banyak dan kafe kekurangan pegawai untuk melayani pengunjung. Kali ini Reyna jadi waitres. Pekerjaan ini diluar ekspektasi Reyna. Ia pikir akan diterima bekerja sebagai pencuci piring.

"Waw baru kali ini aku dapat pekerjaan yang keren" gumannya gembira. Ia dengan semangat bekerja. Hatinya berdebar seperti orangnya yang sedang jatuh cinta. Reyna sangat bahagia bisa mendapatkan pekerjaan. Ini sesuatu yang luar biasa dalam hidupnya.

Melihat semangat dan cara kerja Reyna yang telaten membuat pemilik kafe terkesan. Iapun menaikan status Reyna dari pekerja harian menjadi pekerja tetap. Hal ini semakin membuat Reyna bahagia tak terkira.

"Yes...yes...yes aaaahhhhh" Reyna berteriak dalam hati untuk mengekspresikan kebahagiaannya. Ini sesuatu yang sudah lama ia inginkan.

Namun ada satu masalah yang belum Reyna temui jalan keluarnya. Bagaimana caranya ia memberitahu Pram kalau ia sudah bekerja sekarang. Sedangkan komunikasinya dengan Pram sangat buruk.

Tok tok tok

"Selamat siang pak Pram"

"Siang. Silakan masuk" balas Pram dengan senyum ramah. Senyum yang tidak pernah ia perlihatkan pada Reyna.

"Maaf pak kami sedikit terlambat" sesal pria didepan Pram.

"It's okay. Saya tahu tim bapak juga sibuk. Dan saya dengar diperempatan lampu merah ada kecelakaan, pak Toni pasti terjebak macet" sangka Pram menduga.

"Benar sekali pak. Terima kasih pak atas pengertiannya. Kita langsung mulai saja pak"

Toni memaparkan bagan kerjasama yang akan dilakukan perusaannya dan perusahaan milik Pram. Tidak ada masalah dan kesepakatanpun dengan mudah terjadi.

.........................

"Diana apa lagi jadwal saya hari ini?" tanya Pram pada sekretarisnya. Diana sudah 3 tahun bekerja dengan Pram dan hubungan mereka sangatlah dekat bahkan karyawan yang lain sering bergosip tentang mereka. Banyak yang meyakini kalau mereka punya hubungan lebih diluar hubungan bos dan sekretarisnya.

"Jadwal bapak hari ini sudah selesai pak. Pak Pram tidak mau makan siang dulu" waktu telah menunjukkan pukul 13.30

"Ok kita makan siang dulu. Kamu juga belum makankan?"

Diana mengangguk setuju.

Mobil itu berhenti tepat didepan kafe Doria.

"Saya baru lihat kafe ini" kata Pram.

"Kafe ini baru pak dan banyak yang bilang makanan disini enak" balas Diana menjawab rasa penasaran Pram.

Langsung saja Diana memesan ruangan VIP untuk makan siang mereka agar bisa makan dengan santai tidak terganggu dengan suara bising pelanggan lain. Sampai di ruangan VIP, Diana melepas dua kancing kemeja yang ia kenakan dan hal itu disambut kecupan manis dari Pram. keduanyapun melakukan ciuman panas dan saling melahap satu sama lain. Pram sebenarnya sudah tidak tahan dengan bibir merah mudah sekretaris seksinya itu begitupun dengan Diana yang sudah tidak tahan dengan badan kekar Pram. Tangan Pram pun tidak mau diam saja. Ia meraba dan mengelus paha mulus Diana membuat wanita dalam dekapan Pram makin menggelinjang.

"Reyna hari ini kamu akan melayani tamu VIP. Ingat bersikap sopan dan ramah. Saya tidak mau ada komplen dari mereka" ujar manager kafe yang diiringi anggukan Reyna.

Sedangkan di ruangan VIP Pram dan Diana semakin liar bercumbu. Mereka tidak mau melepas satu sama lain dan semakin menikmati sentuhan demi sentuhan.

Tok tok tok

Bahkan saking asyiknya bersahut bibir, Pram dan Diana tidak sadar ada yang mengetuk pintu.

Karna tidak ada jawaban, Reynapun berinisiatif membuka pintu walaupun belum ada izin dari dalam.

Krekkkk

Terpopuler

Comments

Rice Btamban

Rice Btamban

tetap semangat Thor

2022-06-12

1

Tri Wahyuni

Tri Wahyuni

Reyna lebih baik kmu kelur dr rmh pram dn cari kontrakan yg tuk 1 orang gpp kmu kn sekarang sdh kerja dr pada kmu selalu d hina oleh pram bikin kmu kesel ..

2022-06-12

1

Mira Bae

Mira Bae

lanjut thor makin penasaran kelanjutanny

2022-04-06

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!