Netra itu kembali menangis

Pram menatap layar ponselnya yang dipenuhi panggilan tak terjawab dari Diana. Isi pesan Prampun penuh dengan bujukan rayuan Diana agar segera menikahinya. Disisi lain Diana semakin khawatir akan nasibnya kini. Calon bayi dan pekerjaannya sama-sama terancam.

"Apa yang harus aku lakukan? Tidak mungkin aku menikahi Diana" Pram mengusap lembut wajahnya lalu memijit pelipisnya. "Aku sangat yakin itu bukan anakku. Tidak mungkin" sambung Pram frustasi.

"Dorrr"

"Ahh apaan sih"

"Terkejut ya? Lagian melamun mulu. Mikirin apa sih" Reyna duduk di sebelah Pram.

"Bukan urusan kamu"

"Bukan urusan kamu. Gitu terus jawabannya kalau ditanya" Reyna memainkan mata juga bibirnya menampilkan wajah culesnya.

"Gak usah bikin saya semakin pusing"

"Ya udah pusingnya kenapa? Kali aja aku bisa bantukan" tawar Reyna semangat. Seperti biasa walaupun Pram sangat menyebalkan tapi tetap saja Reyna tidak bisa melihat Pram uring-uringan begini.

Reyna cukup paham posisi Pram di kantor. Suaminya itu sosok yang sangat penting di perusahaan dan tentu saja banyak pekerjaan yang membuat pikiran Pram kacau. Karna itu ia selalu bertanya juga menawarkan diri apa ada yang bisa ia bantu namun Pram selalu ketus menanggapinya. Pram seakan tidak mau berbagi kesulitannya pada Reyna.

"Kamu mau membantu saya?"

"Iya apa? Apa yang bisa aku bantu?" tanya Reyna antusias. Akhirnya Pram mau mendengarkannya.

"Diam dan balik ke kamar kamu"

Seketika muka Reyna berubah masam.

"Dih apaan sih. Orang cuman mau bantu doank. Ya udah kalau gak mau dibantu. Makin tua kamu mikir terus" Reyna berlalu meninggalkan Pram sendiri di pinggir kolam berenang.

Cahaya bulan menembus air kolam menciptakan cahaya terang disana. Bintang di langit juga bersinar gemerlap. Ditambah angin yang berhembus sejuk. Malam yang indah namun Pram tidak bisa menikmati keindahan itu sepenuhnya. Pikirannya benar-benar semberawut. Bagamaina kalau ternyata anak yang dikandung Diana beneran anaknya? Seperti apa reaksi Reyna jika ia tahu Diana hamil anaknya? Lalu apa yang akan terjadi dengan pernikahannya? Pikiran-pikiran itu silih berganti berlari di kepala Pram.

"Kenapa aku jadi takut gini? Kejadian gini udah pernahkan. Tapi kenapa sekarang jadi serius gini sih? Kenapa juga aku harus mikirin tanggapan Reyna untuk masalah ini?" racau Pram dalam hati. Pram masih tidak menyadari perasaannya sendiri.

...----------------------------------...

Diana memasuki ruangan Pram dengan beberapa berkas ditangannya.

"Ini yang harus pak Pram tandatangani" jelas Diana menyodorkan berkas ke depan Pram.

Pram membaca sekilas berkas yang Diana sodorkan lalu menandatangani berkas-berkas itu.

"Permisi pak"

"Diana"

"Iya pak" suhut Diana berbalik.

"Mulai besok kamu tidak perlu masuk kerja lagi"

Mata Diana seketika melotot.

"Maksudnya? Pak Pram mecat saya"

Hmmm

Angguk Pram sekali.

"Apa alasan saya dipecat. Saya tidak melakukan kesalahan. Saya selalu melakukan pekerjaan saya dengan benar" ujar Diana membela diri. Ia tidak bisa menerima begitu saja pemecatannya. Cukup lama ia mengabdi untuk perusahaan Djaya Group dan sekarang ia dipecat tanpa alasan yang jelas.

"Apa perusahaan perlu alasan untuk memecat karyawannya?"

"Tapi saya butuh alasan pak. Saya merasa saya tidak melakukan kesalahan. Jangan karna saya hamil anak kamu lalu kamu mau lari dari tanggungjawab dengan memecat saya. Kamu sering bilang jangan campurkan urusan pribadi dengan pekerjaan " kata Diana mengingat kembali perkataan Pram.

Prangggg

Pram memukul keras meja kerjanya. Iapun bangkit dari duduk.

"Jangan bilang itu anak saya. Kamu tidak punya bukti apapun kalau itu anak saya. Saya tahu selain saya, kamu juga tidur dengan laki-laki lain"

Mata Diana semakin melebar mendelik tajam.

"Jangan menuduh saya. Pak Pram juga tidak punya bukti jika saya pernah tidur dengan pria lain. Saya cuman tidur dengan kamu dan ini anak kamu"

"Yakin cuman tidur sama saya. Lalu ini apa?" Pram melemparkan beberapa foto ke depan Diana. Di foto itu terlihat jelas Diana sedang tidur dengan seorang pria. Bagian atas tubuh Diana dan pria itu tampak terbuka dan bagian bawah mereka ditutupi selimut tebal berwarna putih.

Jantung Diana berdebar keras. Mentalnya down serta nyalinya yang tadi sebesar gunung kini menciut seperti tumpukan tanah tumbuh.

Namun begitu Diana berusaha tetap tenang. Menghadapi Pram tidak bisa dengan cara yang keras tapi harus dengan tutur kata dan wajah yang tenang. Karna hanya dengan itu bisa membuat Pram goyah.

"Foto ini tidak bisa jadi bukti jika anak ini bukan anak kamu. Saya ibunya dan saya yang paling tahu siapa bapaknya. Sekarang kamu tentukan kapan kamu akan menikahi saya dan..."

"Jangan mengatur saya" sambar Pram dengan sorot membara. "Sekarang pergi dari sini atau saya panggilkan satpam" sambung Pram mangancam.

...----------------------------------------...

Sama seperti kemarin, Pram kembali uring-uringan begitu sampai di rumah. Ia memilih duduk di ruang tengah daripada istirahat di kamarnya. Sedikit menurunkan bokongnya menyandarkan pundak di kursi sofa yang empuk. Reyna yang sedari tadi memperhatikan Pram semakin merasa prihatin apalagi melihat muka menyedihkan suaminya itu.

"Sebenarnya dia sedang ada masalah apa sih? Dari kemarin muka gitu mulu. Ditanya malah aku disuruh diam. Ah bikin bingung banget ni orang. Kenapa sih gak mau cerita? Aneh" Reyna melangkah menghampiri Pram.

Reyna duduk agak jauh dari Pram dan memilih diam tanpa bicara apapun.

"Ngapain kamu duduk disitu?" tanya Pram aneh.

Reyna tidak menjawab. Ia hanya melihat intens wajah kusut Pram.

"Kenapa gak jawab? Bisu"

Reyna tetap diam. Pram lalu mendekat.

"Lagi sakit gigi?" tanya Pram lagi.

Reyna masih diam membisu.

"Kamu hantu yang gak bisa ngomong?" ucap Pram sembarang seraya memperhatikan detail wajah gadis di depannya.

Reyna tertawa kecil kemudian menutup mulutnya dengan tangan agar tawanya tidak membesar.

"Wah keren hantunya bisa ketawa" ledek Pram kesal.

Reyna tidak bisa menahan tawanya lagi. Ia tertawa besar karna perkataan receh dari pria dingin disebelahnya.

"Bisa ngelawak juga ternyata. Manusia dibilang hantu"

"Lagian ditanya diam saja" celetuk Pram.

"Kamu sendiri yang nyuruh diam. Katanya suara aku berisik bikin pusing. Itu kamukan yang bilang"

"Kalau saya tanya ya jawab"

"Kamu lagi ada masalah apa sih? Emangnya berat banget ya masalahnya. Andai saja aku sekolahnya tinggi, mungkin aku bisa bantu masalah di perusahaan kamu" ujar Reyna yang ingin sekali membantu Pram menyelesaikan masalahnya. "Kamu gak mau cerita?" bujuk Reyna lagi.

Pram menatap Reyna cukup lama lalu bergeser dari duduknya hingga lututnya dan Reyna bersentuhan. Pram meraih tangan istrinya itu.

"Dengarkan saya. Cukup dengarkan saya. Apapun yang orang lain katakan, jangan percaya. Jika kamu ingin tahu kebenarannya maka tanyakan pada saya dan..."

"Maksud kamu apa sih?" potong Reyna penasaran.

"Percaya sama saya. Dan cukup dengarkan saya. Ngerti" ujar Pram menekankan kata ngerti di akhir kalimatnya.

Pagi ini Pram tampak begitu fokus memandangi komputer dihadapannya. Dengan kaca mata putih serta setelan jas abu tua semakin melengkapi kharisma yang ada dalam dirinya. Kharisma inilah yang membuat wanita tidak bisa sebentar memandanginya. Ada yang sembunyi-sembunyi, ada juga yang terang-terangan mengagumin ketampanan wajah yang Pram miliki.

"Lepasin saya pak. Saya mau masuk" rontak Diana.

Pak satpam yang diberi tugas khusus oleh Pram tak bergeming. Mereka sekuat tenaga menahan Diana agar tidak memasuki gedung.

"Pak saya harus kerja. Kenapa saya dilarang gini sih?" Diana tidak menyerah terus melawan.

Satpam yang berjagapun mendorong Diana hingga terjatuh.

"Kurang ajar sekali kamu. Kamu itu cuman satpam. Kalau saya luka kamu mau tanggungjawab"

"Maaf bu tapi ini perintah pak Pram. Silakan bu Diana pergi. Bu Diana akan terluka jika terus melawan"

"Benar dugaanku. Ini pasti perintah Pram. Jadi sekarang dia bermain kasar. Aku tidak bisa berakhir seperti ini. Anakku tidak boleh lahir tanpa seorang ayah. Kamu harus bertanggungjawab Pram" Diana berdiri menyudahi percakapan batinnya. Ia melangkah pergi dan akan secepatnya menyusun rencana agar Pram segera menikahinya.

Diana mendapatkan satu ide. Ia melambaikan tangan memberi kode pada mobil berwarna biru untuk berhenti di dekatnya. Sekitar 20 menit perjalanan, taksi yang ditumpangi Diana berhenti di depan gerbang rumah mewah Pram. Diana berencana mengadu pada ayahnya Pram bahwa ia sedang mengandung anaknya Pram. Diana yakin ayah Pram akan mendengarkan putranya serta membujuk Pram agar mau menikahinya.

"Pak Sandi" panggil Diana nyaring.

"Bu Diana. Pak Pramnya di kantor bu"

"Saya kesini bukan untuk ketemu pak Pram. Saya kesini mau ambil berkas pak Pram yang ketinggalan" jelas Diana berbohong. Dan meskipun tidak yakin tapi ia akan mencobanya. Siapa tahu ayahnya Pram ada di rumah.

Tentu saja tanpa curiga Sandi membuka gerbang membolehkan Diana masuk. Sandi tahu Diana sangat dekat dengan bos nya itu jadi ia tidak perlu lagi menelpon Pram.

Diana menekan bel beberapa kali hingga Reyna datang membukakan pintu.

"Pak Alex ada?" tanya Diana.

"Pak Alex siapa?" tanya Reyna tak tahu.

"Masa gak tahu pak Alex sih. Pak Alex itu ayahnya pak Pram. Ada gak?"

Reyna menggelengkan kepala tak tahu. Ia masih bingung. Selama ini Pram tidak pernah cerita tentang orangtuanya.

Tak menunggumu persetujuan Reyna, Diana langsung nyelonong masuk.

"Eh kamu apaan sih. Main masuk aja gak sopan" hardik Reyna tak suka.

"Pak Alexnya ada gak?"

"Disini tidak ada orang yang bernama Alex. Pak Pram tidak pernah cerita soal ayahnya"

Diana berbalik badan lalu tersenyum sinis.

"Ya iyalah Pram gak cerita. Kamu siapa? Cuman pembantu jadi jangan sok penting"

Hmmm

Dehem Reyna sabar.

"Kamu sudah cek sendirikan. Disini tidak ada orang bernama Alex. Jadi kamu bisa keluar"

"Lancang sekali kamu ngusir saya" Diana mendorong pundak Reyna.

Reynapun tidak tinggal diam. Dia membalas mendorong Diana cukup kuat membuat wanita yang sedang mengandung itu tersungkur ke lantai. Perut Diana bereaksi.

"Awww sakit banget" ringis Diana memegang perutnya. "Awww aduhh"

"Maaf...maaf...aku gak bermaksud..." ucap Reyna merasa bersalah.

"Sakit...perutku sakit banget" keringat kecil membasahi kening Diana.

Dari paha mulus Diana mengalir darah segar.

"Kamu berdarah" Reyna panik.

Tiba-tiba saja Pram datang. Entah sejak kapan.

"Ada apa ini?"

"Aku tadi mendorongnya tapi aku tidak bermaksud..."

"Kamu gila ya" maki Pram begitu melihat darah terus keluar dari sela paha Diana.

Pram segera mengankat tubuh Diana membopong sekertarisnya itu masuk ke dalam mobilnya.

"Aku ikut"

"Kamu tetap disini jangan ikut" larang Pram tegas.

Mobil yang membawak Pram dan Diana melaju cepat. Namun Reyna tidak tinggal diam. Ia ingin tahu tentang kondisi Diana karna dialah yang membuat Diana harus dibawak ke rumah sakit.

"Pak Sandi aku minjam motor bapak sebentar" Reyna menghidupkan motor menarik gas mengikuti mobil Pram.

Pertolongan segera dilakukan begitu mobil Pram sampai rumah sakit. 15 menit berlalu namun belum ada kabar pasti. Pram tertunduk cemas menunggu. Sedangkan Reyna masih tidak berani mendekati Pram. Selang 20 menit berjalan, Reynapun memberanikan diri menghampiri suaminya itu. Disentuhnya lembut pundak Pram memberitahu bahwa ia ada disini. Pram menatap Reyna dalam diam. Tampak jelas kekhawatiran diwajahnya.

"Bagaimana keadaannya dok?" tanya Pram tak sabar begitu dokter keluar dari ruang UGD.

"Ibunya baik-baik saja. Untung saja pasien dibawak kesini lebih cepat" ujar dokter lega.

"Lalu gimana keadaan kandungannya?"

Seketika kening Reyna mengernyit memahami arah pertanyaan Pram.

"Anda siapanya pasien?" tanya dokter yang tidak mau sembarangan memberitahu informasi tentang pasiennya.

Pram terdiam sesaat dengan wajah menunduk ragu. Kemudian melihat sebentar wajah Reyna yang berdiri di belakangnya.

"Saya ayah dari anak yang pasien kandung"

Reyna menatap kosong seperti orang linglung. Ludahnya terasa pahit ditelan. Seluruh persendiannya terasa lemah seketika. Sangat menyesakkan dada pengakuan itu.

"Kandungannya juga baik-baik saja. Tolong dijaga ya istrinya. Kejadian ini jangan sampai terjadi lagi karna bisa membahayakan kandungannya" jelas dokter seraya menepuk pelan bahu Pram. "Sekarang pasien boleh dijenguk tapi jangan lama karna pasien butuh istirahat" setelah memberikan peringatan, dokterpun berlalu ke ruangannya.

Pram mendekati Reyna yang terlihat masih shock. Ia meraih pundak Reyna namun Reyna langsung mengelak.

"Sudah saya katakan, cukup percaya apa yang saya katakan"

"Kata yang mana? Kata kalau kamu ayah dari anak dalam kandungan sekertaris kamu" netra bening itu mengalir lagi membasahi pipi Reyna.

"Saya akan jelaskan semuanya. Kamu tunggu disini sebentar jangan kemana-mana" dengan berat hati Pram harus membiarkan Reyna yang sedang terpukul di luar. Ia hanya akan melihat keadaan Diana sebentar.

5 menit kemudian...

Pram keluar ruangan. Didalam ia hanya bicara sebentar karna ditengah pembicaraan Diana tertidur. Mungkin masih ada pengaruh obat dari dokter.

Pram mengedarkan matanya namun Reyna tidak terlihat dimanapun.

...------------------------------------...

Reyna duduk meringkuh di bawah pohon besar yang baru beberapa bulan yang lalu menjadi tempat favoritnya. Tempat yang akan langsung mengingatkannya pada seorang pria yang selalu berusaha menghiburnya membuatnya bahagia, menghapus airmatanya, dan pria yang selalu siap meminjamkan pundak untuknya bersandar.

"Tama kamu dimana?"

Terpopuler

Comments

Nurdia Nailaaqila

Nurdia Nailaaqila

lanjut thor

2022-06-30

1

Tri Wahyuni

Tri Wahyuni

pram kmu jangan mau d jebak sama Diana .dn kmu hrs cari bukti2 klo diana main dgn laki2 lain kmu hrs cari haekers tuk melacak kegiatan Diana dr hp nya .dn kmu jangan mau d suru bertanggung jwb dn juga kmu hr cari detektip juga .siapa yg bekerja sama Diana ...

2022-06-19

0

Rice Btamban

Rice Btamban

tetap semamgat

2022-06-12

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!