Kopi Susu dan Hujan

Reyna membuka matanya menggeliat hebat meregangkan persendiannya yang kaku. Tubuhnya terasa lebih enak sekarang.

"Tumben aku bangun semangat gini. Mungkin semalam aku tidurnya nyenyak banget kali ya" Reyna menguap lebar menghabiskan sisa kantuknya yang tertinggal. Kini kesadarannya telah berkumpul sepenuhnya. Matanya terbuka lebar sudah tidak ada lagi samar kantuk yang terlihat.

Segera bangkit melawan rasa malasnya. Meraih handuk lalu masuk ke kamar kecilnya. Ia kemudian melangkah menuju dapur begitu selesai melapisi pipinya dengan bedak tipis dan bibir kecilnya dengan lipstik merah. Wajahnya tampak sangat cerah dan fresh.

Hari ini Reyna berniat ingin memasak menu baru yang ia dapati dari internet kemarin. Menu yang mungkin Pram akan suka. Namun sampainya di dapur, Reyna melihat Pram telah ada disana. Pria kharismatik itu terlihat sedang memasak sesuatu.

"Hmm" dehem Reyna menyapa.

"Duduk saja disana. Sebentar lagi masakanku selesai" balas Pram sambil mengaduk sesuatu.

Reyna menunggu dengan sabar. Ia sebenarnya penasaran dan ingin membantu tapi ia sudah hafal betul sifat suaminya itu. Bisa-bisa masakan itu melayang ke tempat pembuangan jika ia ikut campur.

"Mana baunya enak banget lagi. Eh tapi kayaknya bau ini aku kenal" gumam Reyna makin penasaran dengan apa yang Pram masak.

Pram memindahkan masakannya ke dalam dua mangkuk berbeda.

"Makanlah"

Sepasang retina Reyna memperhatikan sop ayam bakso di hadapannya. Matanya nanar mengingatkan kembali pada sosok yang sangat penting dalam hidupnya.

"Ayah" ucap Reyna pilu.

"Walaupun sedikit terlambat tapi saya harap kamu menerimanya. Selamat ulang tahun, Reyna"

Sontak Reyna mengalihkan mata bulatnya pada si pembuat sop. Ia terharu tidak menyangka Pram akan mengatakan itu.

"Kamu tahu?"

"Tidak penting bagaimana saya bisa tahu. Sekarang cepat makan sopnya. Kalau terlalu dingin nanti sopnya kurang enak"

Senyum simpul menawan tersirat di bibir mungil yang telah diolesi warna merah itu.

"Kenapa senyum-senyum? Ada yang lucu?" tanya Pram heran.

"Kata-kata kamu barusan sangat mirip dengan yang pernah ayah katakan. Dia selalu bilang gitu. Terima kasih"

Reyna mulai melahap sop ayam begitupun dengan Pram. Seperti biasa keduanya tidak banyak bicara dan fokus dengan kegiatannya masing-masing.

"Ayah ternyata ulang tahunku kali ini tidak terlalu buruk. Walaupun tidak sebaik ayah tapi dia ada dan sop buatannya juga lumayan enak. Tapi sop ayam buatan ayah yang terbaik" gumam Reyna bahagia.

"Kamu mau apa?" tanya Pram di sela makan mereka.

"Hmm emangnya kamu mau memberikan apapun yang aku minta?"

"Tentu saja" jawab Pram yakin.

Reyna tampak ragu menyampaikan keinginannya. Ia tidak ingin permintaannya justru membuat Pram marah dan merubah waktu yang baik ini menjadi mencekam.

"Janji gak akan marah?"

"Kamu pikir saya hanya bisa marah-marah saja. Buruan setelah sop ini habis, saya langsung ke kantor" ujar Pram mempercepat makannya.

"Hmm aku mau kerja" ungkap Reyna hati-hati.

...----------------------------------------...

"Pak Tris kasih dia kerjaan dan saya minta jaga rahasia ini. Saya tidak mau yang lainnya tahu kalau dia kerja disini karna saya" Pram melihat Reyna sebentar lalu pergi ke ruangannya yang ada di lantai 2.

Sesuai arahan Pram sebelumnya, Tris membawak Reyna ke bagian loker karyawan. Disana Reyna diarahkan bagaimana harus bekerja dan bersikap. Tentu saja Reyna sangat antusias dengan pekerjaan barunya walaupun apa yang ia dapatkan saat ini tidak sesuai ekspektasinya. Namun Reyna tetap bersyukur setidaknya sekarang ia punya kegiatan lain selain mengelilingi rumah Pram setiap harinya. Setidaknya ia tidak harus melakukan interview atau sejenisnya agar diterima bekerja.

"Ya, ini sangat baik. Semangat Reyna. Tapi memang dia sangat kejam" umpat Reyna dalam hati. Tadinya Reyna berharap diberi pekerjaan dengan jabatan tinggi tapi malah disuruh jadi Office girl.

Hari beranjak siang. Reyna menyingkap rambutnya lalu mengelap keringat yang menghiasi wajah polosnya. Hari ini walaupun karyawan baru namun Reyna sudah harus bekerja extra keras. Pak Tris tidak membiarkannya berleha-leha. Tenaga Reyna terus di porsir untuk segera membersihkan setiap sudut yang kotor.

"Kenapa gak ada yang kasih tahu kalau Susan gak masuk kerja hari ini? Kenapa juga dia gak izin dulu sama saya?" kata pak Tris dengan wajah paniknya.

"Tadi pagi Susan sempat datang pak tapi dia izin pulang karna ibunya sakit. Mungkin karna mendadak dia gak sempat kasih tau pak Tris" jelas karyawan lain.

Pak Tris memainkan ujung telunjuk juga jari tengahnya di meja. Pria cukup berumur itu tampak memikir sesuatu.

"Lalu bagaimana dengan kopi susu untuk pak Pram. Hanya Susan yang tahu takarannya. Pak Pram pasti marah kalau rasa kopi susunya tidak pas "

Dalam hitungan detik wajah kusut pak Tris berubah cerah. Ia mendapatkan ide yang bagus.

"Reyna kamukan kesini dibawak pak Pram. Kamu pasti tahukan kopi susu kesukaan pak Pram?"

Reyna mengangguk ragu.

"Bagus. Sekarang kamu ikuti saya ke Pantry"

Reyna mengekor patuh. Ia masih bingung. Namun hatinya merasa tidak enak.

"Ini gelasnya, ini kopi, gula, susu. Sekarang kamu buatin kopi susu untuk pak Pram. Ingat rasanya harus enak. Jangan terlalu manis dan masih ada pahit-pahitnya dikit" jelas pak Tris rinci.

"Sepertinya pak Tris lebih paham. Kenapa gak pak Tris saja yang buat?"

"Uhh buatkan saja" suruh pak Tris terpojok. "Setelah itu antarkan kopinya kepada pak Pram. Ruangannya ada lantai 2 paling ujung. Ingat ketuk pintu dulu sebelum masuk. Ngerti" pak Tris berlalu melanjutkan pekerjaannya.

5 menit kemudian....

Tok tok tok

"Masuk"

"Permisi pak. Ini kopi susu bapak" sapa Reyna menundukkan wajahnya agar Pram tak mengenalinya. Ia berjalan pelan ke arah Pram lalu meletakkan secangkir kopi susu di sudut meja.

"Gelasnya bisa jatuh kalau kamu letakkan disitu. Kemana Susan? Kemana kamu yang bawak kopinya?"

Reyna berbalik badan. Kali ini ia menegakkan kepalanya angkuh.

"Kenapa lihat saya gitu? Kamu marah?"

"Kamu bilang mau kasih aku pekerjaan..."

"Sudah saya lakukan lalu apa yang salah?" sambar Pram cepat.

"Kamu tahu perusahaan kamu ini sangat besar. Mana gedungnya gede banget lagi" puji Reyna di sela rasa kesalnya. Matanya mengedar memperhatikan tiap sudut ruangan Pram yang tampak sangat rapi serta dihiasi furniture mahal.

"Lalu?"

"Dan kamu hanya bisa kasih aku kerjaan sebagai Ofiice girl"

"Memang kamu berharap saya kasih pekerjaan yang seperti apa. Manager, Sekertaris atau Kepala Personalia seperti pak Tris? Yang perlu kamu ketahui, jabatan-jabatan itu tidak didapat dengan mudah butuh kerja keras dan ketekunan. Mereka juga sekolah tinggi untuk mencapai itu semua. Jika bukan karna saya kamu tidak akan bisa bekerja disini dengan pendidikan kamu yang rendah. Berhenti mengeluh. Sekarang kembalilah bekerja"

Reyna menggertakkan giginya. Ucapan Pram benar adanya tapi itu sangat menyakitkan. Rasanya seperti orang yang dipanah lalu anak panahnya tepat mengenai hati.

"Dia selalu bicara seenaknya. Memangnya tidak bisa apa kata-katanya disaring dulu sebelum bicara. Rasanya aku ingin merobek mulutnya" ungkap Reyna kesal. Namun kata-kata keras itu hanya ada dalam pikirannya saja. Saat ini ia tidak bisa mengutarakannya mengingat ia sedang bekerja sekarang. Apalagi posisinya sebagai bawahan yang sudah seharusnya menerima cacian atasannya.

Sudah pukul 11.20 siang tapi pak Tris belum menerima komplen dari Pram.

"Kok pak Pram gak ngomel. Berarti kopi susu buatan Reyna masuk ke tenggorokannya. Hah syukurlah" ucap pak Tris lega. Pak Tris selalu was-was jika Susan tidak masuk. Bukan karna takut kekurangan karyawan tapi tentang siapa yang akan membuat kopi susu untuk bos killernya itu. Pram sosok yang perfeksionis. Ia tidak terlalu suka perubahan namun selalu update dengan sesuatu yang baru.

...------------------------------------------------...

"Tama kapan kamu menikah? Nenek mau punya cicit. Umur nenek terus bertambah. Kalau nenek pergi duluan terus...."

"Nenek apaan sih. Ngomongnya gitu mulu. Tama ini pasti nikah nek kalau udah ada pasangan yang pas" ujar Tama berkilah.

"Ya kapan? Dari dulu kamu juga bilangnya gitu. Memangnya tidak ada satupun cewek yang kamu suka? Kalau ada kenalin sama nenek. Setidaknya sebelum meninggal nenek sudah lihat calon pasangan kamu"

"Udah ah nek. Ngomongnya gitu lagi. Bosan Tama nek"

"Makanya cari pasangan biar gak bosan. Masa segini banyaknya cewek, gak ada yang nyantol di hati kamu" nenek terus berusaha membujuk cucu tunggalnya itu.

"Sebenarnya ada nek tapi dia..."

"Tapi apa lanjutin?"

"Tapi dia sudah milik orang lain" gumam Tama murun.

Hari beranjak petang. Sudah waktunya para pekerja pulang. Reyna bergegas ke ruang loker untuk mengganti pakaiannya.

"Eh di luar hujan ya"

"Iya. Deras banget lagi. Mana gak bawak payung"

Reyna mengendus nafas berat mendengar percakapan rekan-rekannya. Ia lupa ini sudah memasuki musim penghujan. Harusnya ia bawak payung. Entah sampai kapan ia harus terjebak di kantor. Ia berdiri malas di luar kantor. Tangannya dijulurkan ke depan membiarkan air hujan membasahi jari-jarinya. Lalu mengankat wajahnya membiarkan air hujan yang tersapu angin memukul wajah lelahnya.

Tak lama berselang sebuah mobil mewah berwarna hitam berhenti tepat di depan Reyna.

"Inikan mobil Pram. Apa dia menyuruh orang mengantarku pulang?" itu yang sempat Reyna pikirkan namun nyatakan berbeda.

Pram muncul dari belakang melewati Reyna masuk ke dalam mobil hitam itu.

"Pulanglah sendiri" kata Pram samar.

Reyna yang baru ingin bicara kembali menutup mulutnya. Ia hanya bisa memandangi laju mobil Pram yang perlahan menghilang melewati tugu nama perusahaan.

"Jadi aku gimana donk. Mana hujannya makin deras lagi. Ini udah jam setengah tujuh. Kenapa sih Pram kamu tega banget" Reyna menggoyangkan kakinya cemas. Ia tidak punya keberanian untuk memesan taksi online. Ia takut.

Tama menutup buku yang sedang dibacanya. Lalu menggapai ponselnya yang berdering. Terlihat jelas nama Reyna yang ada dalam ponsel yang sedang menyala itu.

📞 Hallo. Ada apa Na?"

"Tama kamu bisa gak jemput aku? Aku gak bisa pulang. Hujannya deras banget"

25 menit berlalu.....

Mobil yang Tama kendarai berhenti sesuai petunjuk yang Reyna berikan.

"Tama terima kasih banyak ya. Kalau gak ada kamu mungkin aku masih terjebak disana"

"Kamu kok ada di perusahaan Pram?"

"Kamu tahu itu perusahaan Pram?"

"Tahulah. Perusahaan papaku ada saham disana. Kamu belum jawab pertanyaanku"

"Kerja" jawab Reyna apa adanya.

"Kerja. Kok bisa? Maksudku kamukan istrinya. Kenapa mesti kerja disana. Harusnya kamu di rumah saja"

"Aku yang minta. Bosan di rumah. Udahlah gak usah bahas dia bikin mood jelek aja. Kamu gimana?"

"Gimana apanya?" tanya Tama tidak paham.

"Ya tentang kerjaan kamu. Kamu bilang perusahaan papa kamu ada masalah"

"Oh itu. Masalahnya sudah beres"

"Syukurlah kalau gitu. Aku khawatir kamu jadi kepikiran karna masalah itu. Terus kesehatan nenek kamu gimana?"

Seketika Tama memandang Reyna dalam. Matanya berbinar. Hatinya terus berdebar tak menentu.

"Ternyata kamu ingat semuanya" ucap Tama dalam hati disertai senyum kecilnya.

"Nenek baik. Dia mau kamu main ke rumah"

Reyna melihat pada pria bersuara lembut di sebelahnya. Entah kenapa ia merasa deg degan sekarang.

"Kamu cerita tentang aku sama nenek kamu?"

Hmmm

Angguk Tama sambil mengedipkan sepasang matanya sekejap.

"Gimana kamu mau?"

Suara guntur menggelegar membuat pundak Reyna bergedik menyadarkannya dari lamunan.

"Oh kita sudah sampai" kata Reyna mengalihkan pembicaraan.

"Jangan turun. Aku antar sampai depan rumah. Di luar masih hujan" cegat Tama perhatian.

Padahal sudah sangat dekat tapi Reyna merasa laju mobil Tama terasa sangat lambat. Ia tidak suka situasi ini dan ingin cepat sampai.

"Terima kasih ya tumpangannya. Untung ada kamu kalau tidak..."

"Kamu sudah mengatakan itu tiga kali" potong Tama tersenyum simpul.

"Oh ya kok aku gak ingat ya" tawa keduanya menyeruak bersama air hujan yang tak ingin berhenti turun. Saling melempar senyum tanpa menyadari angin yang bertiup semakin kencang membawak air hujan membasahi baju mereka.

"Terima kasih" ucap Tama.

"Kok kamu yang bilang terima kasih. Harusnya aku"

"Karna kamu sudah mengkhawatirkan keadaan nenek"

Dua sudut bibir Reyna tertarik ke atas menampilkan senyum khasnya.

"Terima kasih karna selalu ada saat aku butuh kamu, Tama"

...------------------------------------...

📞 Hallo pak Pram. Saya sudah dapat bukti rekamannya"

"Bagus. Kirimkan rekamannya"

Terpopuler

Comments

Nur Aeni Eni

Nur Aeni Eni

maaf ya thor..tapi bisa nggak reyna bisa manggil suaminya dengan sopan 🙏
lanjut lagi thor tetap semangat 💪😍

2022-06-15

1

Rice Btamban

Rice Btamban

semangat Thor

2022-06-13

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!