* 10 tahun yang lalu...
Tari berlari mensejajarkan langkahnya dengan Pram. Teriak wanita cantik itu tak Pram hiraukan sedikitpun. Tarikan nafas Pram semakin tidak beraturan seiring jalannya yang semakin cepat. Apa yang dilihatnya malam itu masih menyisakan sesak di dada. Melihat wanita yang sangat dicintainya tidur bersama pria lain. Itu pemandangan yang sangat menyakitkan. Ia tidak bisa melupakan apalagi memaafkan perbuatan menjijikkan itu.
Di belakang Tari masih terus mengejar sambil memanggil nama Pram keras. Namun meskipun suaranya sudah hampir habis, Pram tetap tak bergeming. Angin pantai dan gerimis kecil menyusup masuk membuat hawa tubuh Tari semakin dingin. Bibirnya mengigil dan tangannya mulai bergetar.
"Pram berhenti. Aku minta maaf" pekik Tari nyaring namun suaranya tak terdengar jelas karna hujan yang turun semakin deras.
Tari tidak pernah melihat Pram setega ini padanya. Pram yang ia tahu selalu bersikap manis dan lembut padanya. Tidak akan membiarkannya menangis apalagi menderita seperti saat ini.
"Pram aku minta maaf" mohon Tari perih.
Pram terus berjalan tanpa menoleh ke belakang walaupun hanya sedetik. Hatinya teramat sakit. Wanita yang ia puja sejak lama tega mengkhianati cintanya.
"Pram berhenti" Tari menarik keras lengan kekar Pram. Ia mengenggamnya erat tak akan membiarkan Pram lari lagi. "Aku mohon dengerin aku dulu" lanjutnya dalam keadaan basah kuyub begitupun dengan Pram.
"Apa lagi yang mau kamu jelaskan?" kata Pram dengan mata menyala. Dinginnya air hujan tak dapat mematikan kobaran api dari sepasang retina Pram.
"Aku mohon maafin aku. Aku memang salah tapi ini sepenuhnya bukan salah aku"
"Maksudnya?"
"Kamu selalu pergi ke luar kota. Kamu sibuk dengan pekerjaan kamu. Dan setiap aku butuh kamu, kamu tidak ada. Kamu selalu membuatku menunggu. Aku kesepian, Pram" ujar Tari mengutarakan isi hati yang selama ini ia pendam.
Pram mengusap sembarang wajahnya menyingkirkan air hujan yang menghalangi penglihatannya.
"Apa aku menyuruh kamu tidur dengan pria itu? Jadi menurut kamu, aku yang salah dan kamu yang benar?" pancaran mata Pram makin tajam. "Gila kamu" umpat Pram kasar.
Prampun berlalu dengan langkah lebar.
"Aku tahu aku yang salah. Aku sudah minta maaf. Bukankah kamu bilang akan selalu memaafkan aku" kata Tari mengungkit janji Pram dulu.
Senyum sinis menghiasi wajah basah Pram.
"Cukup jangan bicara bodoh lagi. Hubungan kita sudah berakhir. Tolong jangan ikuti saya lagi"
"Gak aku gak akan berhenti sebelum kamu maafin aku. Aku lebih baik mati daripada tidak sama kamu"
"Kalau begitu mati saja karna saya tidak akan kembali lagi" ucap Pram tegas. Ia tidak akan lemah seperti dulu. Baginya tidak ada kata maaf untuk sebuah pengkhianatan.
Mata Tari melotot. Ia tersentak terpaku di tanah bagaikan disambar petir. Guntur bergemuru nyaring seakan petanda hubunganya dengan Pram benar-benar sudah berakhir.
"Gak...aku tidak bisa pisah dari kamu" geleng Tari menolak dengan keputusan sepihak Pram.
Tari tampak linglung seperti orang yang hilang akal. Ia merasa dunianya sudah hancur. Tidak ada yang harus ia pertahankan dan tidak ada lagi alasannya untuk hidup. Pram semakin menjauh. Pandangan Tari semakin buram. Matanya nanar memandang punggung Pram yang semakin samar.
Dengan langkah pasti dan tekad kuat, Tari berjalan ke mulut pantai. Tak berselang lama bagian tubuh bawah Tari telah terendam air.
"Pram, maafin aku"
Kini seluruh bagian tubuh Tari telah tenggelam seutuhnya.
"Tari" teriak Pram histeris.
Pram lalu menyelam mencari kekasihnya itu. Ombak pantai di sertai hujan sedikit melambat pencarian itu namun Pram tak menyerah. Ia kembali menyelam setelah mengambil nafas sebentar.
Berselang menit kemudian...
"Tari bangun" Pram menepuk panik wajah pucat gadis dalam pelukannya itu.
Namun Tari tak memberi respon.
Prampun dengan sigap membopong tubuh Tari membawaknya ke rumah sakit.
Ruang UGD
Di ruangan itu dokter beserta staff operasi berusaha menyelamatkan Tari. Tubuh Tari terlalu banyak kemasukkan air dan itu cukup menyulitkan proses operasi.
Setelah hampir satu jam lebih berjuang, dokterpun keluar dengan wajah tak bersemangat.
"Dok gimana keadaannya?" tanya Pram tak sabar.
Dokter hanya menggelengkan kepala.
"Kondisinya sangat kritis. Sulit baginya untuk bertahan" jelas dokter apa adanya.
Pram langsung masuk begitu Tari selesai dipindahkan dari ruang operasi. Saat ini Pram tidak bisa menyembunyikan kesedihan juga penyesalannya. Andai saja ia tidak berkata seperti itu, mungkin Tari tidak akan berbuat nekad.
Pelan-pelan Tari membuka matanya setelah 3 jam berlalu. Ia tersenyum bahagia begitu mendapati Pram ada di hadapannya.
"Pram"
"Jangan banyak bicara"
Tari mengankat tangannya kemudian Pram mengenggam tangan wanita yang masih dicintainya itu. Selama ini Pram berbohong. Cintanya pada Tari tidak pernah padam meskipun sudah dikhianati.
"Kamu masih marah?" tanya Tari tersendat. Suaranya sangat kecil dan hampir tak terdengar.
"Hmm" balas Pram singkat. Dadanya terasa sesak sekali. Ia takut.
"Aku mencintai kamu, Pram"
Bunyi khas itu terdengar. Jari lentik yang beberapa menit yang lalu ia genggam kini jatuh tak bernyawa. Tari, wanita pertamanya, cinta pertamanya kini telah pergi untuk selamanya. Tangis tak bersuara Pram menyeruak memenuhi batinnya yang hancur. Ini sangat sulit untuknya. Tak pernah terbayangkan olehnya harus kehilangan wanita yang dicintainya dengan cara tragis seperti ini.*
Pram menengadah sambil membuang nafas berat. Sampai saat ini ia tidak bisa melupakan kejadian tragis itu. Kejadian yang merubah total hidupnya. Sejak kejadian itu, Pram menjadi pria yang suka bermain dengan banyak wanita dan emosinya menjadi tidak stabil. Perubahan itupun membuat hubungan Pram dan ayahnya semakin buruk.
...-----------------...
Seperti pagi biasanya, Pram sudah bersiap pergi ke kantor. Ia berjalan ke dapur untuk sarapan namun tidak ada makanan di sana. Reyna juga tidak ada. Pram mencoba menelpon Reyna namun tidak diangkat.
"Apa dia sudah pergi?" tanya Pram begitu tahu Reyna juga tidak ada di kamarnya. "Apa dia masih marah soal kejadian semalam?"
Begitu sampai di kantor, Pram melihat Reyna sedang mengepel lantai. Pram memandang sebentar lalu mengalihkan matanya ke tempat lain. Begitupun dengan Reyna. Keduanya bersikap seolah tak saling mengenal.
"Reyna hari ini kamu buatin kopi susu buat pak Pram ya" perintah Pak Tris.
"Kok saya pak? Bukannya itu tugas Susan ya pak? Sayakan cuman gantiin saja" Reyna enggan bertatap langsung dengan Pram.
"Ini pak Pram sendiri yang minta" balas pak Tris mendelik. "Masih mau nolak?"
Sebenarnya ini bukan tugas yang berat tapi saat ini Reyna benar-benar tidak mau melihat Pram. Ia sengaja pergi pagi-pagi juga karna itu.
Tok tok tok
"Permisi pak" sapa Reyna ramah.
"Masuk"
"Ini kopi susunya pak" Reyna menyodorkan kopi ke depan Pram.
"Terima kasih"
"Kalau begitu saya permisi pak"
.
.
"Reyna tunggu"
"Iya pak" turut Reyna ragu membalikkan badan. Wajahnya tertunduk lesu.
"Angkat wajah kamu"
Reyna menggeleng cepat.
"Kamu masih marah?"
"Apa menurut kamu saya tidak boleh marah?" tanya Reyna balik tanpa mengankat wajahnya seperti yang Pram minta.
"Sepertinya ini sudah menjadi kebiasaan kamu ya. Ditanya malah nanya balik"
"Ini kantor. Jangan bahas soal pribadi. Bukankah itu yang kamu katakan?" ujar Reyna mengingatkan. Kali ini Reyna menatap Pram lantang.
"Ini kantor saya. Saya bebas melakukan apapun" balas Pram dengan suara deepnya.
Reyna langsung tertunduk kecewa. Kesombongan, rasa tidak bersalah, berbuat semaunya, Reyna sudah bosan dengan semuanya.
"Aku capek" ungkapnya sebelum meninggalkan ruangan Pram.
Pram memainkan USB ditangannya. Benda kecil ini berisi rekaman suara Diana. Sebenarnya ia mau Reyna mendengarkan rekaman itu. Namun justru ia kembali membuat istrinya itu kecewa dengan sikap buruknya.
"Mau makan siang denganku?" Reyna menghela nafas. Ia ragu membalas pesan dari Tama. Tapi dalam situasi seperti ini, ia butuh seseorang untuk menghibur dirinya.
Jam 11.55
"Aku pikir kamu tidak datang" kata Tama dengan raut muka senang. "Tunggu dulu. Kalau dilihat dari wajah suntuk kamu sepertinya lagi ada masalah" ucap Tama menebak.
"Aku gak papa kok. Oh ya kamu udah pesan makanannya?" jawab Reyna bersikap rileks.
"Belum. Aku nunggu kamu"
"Kamu udah lama nunggu disini? Kan janjiannya jam 12.15"
"Kamu juga datangnya sebelum jam 12.15" sambar Tama cepat.
Reyna tertunduk malu lalu tersenyum lepas.
"Iya kamu benar juga. Terima kasih, Tama"
"Terima kasih buat apa? Aku belum melakukan apa-apa"
"Karna kamu tidak memaksaku"
Senyum keduanya merekah bersama. Mata intens memandang dan bahagia tercipta begitu saja. Tanpa banyak bicara, keduanya tampak saling memahami satu sama lain.
...-----------------...
"Apa kamu sudah pikirkan mau kado apa?" tanya Pram seraya melahap makan malamnya.
Reyna tercengang tak percaya. Pram masih mengingat itu.
"Aku pikir kamu sudah lupa"
"Mungkin kamu yang lupa. Gimana gak lupa, marah-marah terus" canda Pram meledek.
"Diih apaan sih. Siapa yang gak marah coba? Abis dicium trus ditinggalin gitu aja" sindir Reyna frontal. "Aku ingatin lagi ya. Semalam itu kamu kasar banget. Nafsu'an banget. Mesum"
"Tapi kamu juga menikmatinyakan?" sambung Pram membela diri.
"Aish menikmati apanya? Kamu itu kalau ngomong bisa difilter dulu gak sih? Bikin mood makan hilang aja. Geli tahu dengarnya"
"Terus kamu mau kado apa?"
"Jalan-jalan"
"Kemana?"
"Pantai"
Pram terdiam sesaat.
"Memangnya tidak ada tempat lain selain pantai"
"Aku sangat suka pantai. Tiap hari kesana juga gak akan bosan. Duduk dipinggir pantai lalu menikmati senja. Itu salah satu impianku" ungkap Reyna seraya membayangkan dirinya saat ini sedang berada di pantai.
"Ya udah besok kita ke pantai"
"Loh tapikan besok kerja"
"Kita izin saja"
"Memangnya boleh?"
"Saya bosnya"
"Owhhh" Reyna membentuk bibirnya seperti huruf O. Terkadang kesombongan Pram membuatnya kagum dan beruntung. Sikap percaya diri seperti itu justru menambah kharisma yang Pram miliki.
Mobil hitam yang membawak Pram dan Reyna melaju dengan kecepatan sedang. Lagu-lagu lawas dari negara barat menemani perjalanan mereka.
"Di depan ada persimpangan. Kita belok kemana?" tanya Pram menanyakan arah jalan pada Reyna. Sampai sekarang Reyna belum memberi tahu nama pantai yang akan mereka datangi. Reyna hanya memberitahu arah jalannya saja.
"Belok kiri"
Pram mengambil jalan kiri sesuai petunjuk dari Reyna.
"Terus kemana lagi?"
"Lurus saja. Nanti ada simpang 3, kamu ambil kanan terus nyampe deh"
Mata Pram melebar. Ia tahu petunjuk yang Reyna katakan.
"Maksud kamu pantai Biru?" tanya Pram yakin.
"Iya. Kamu tahu? Sudah pernah kesana?"
"Kita tidak bisa kesana?"
"Kok gitu sih. Emangnya kenapa? Pantainya bagus kok"
"Saya bilang kita gak bisa kesana"
"Loh kok putar arah sih. Bentar lagi nyampe loh" rengek Reyna kesal.
"Gak. Pantai mana saja boleh asalkan gak kesana" larang Pram tegas.
"Apaan sih. Kamu sendiri yang bilang aku bebas pilih pantai mana saja. Kok berubah pikiran lagi. Sekarang kamu berhenti. Aku pergi sendiri saja" Reyna menggerakkan stir mobil agar Pram berhenti.
Mobil bergerak tak beraturan. Dan mau tidak mau Pram harus menghentikan mobilnya. Jika tidak mungkin kecelakaan tak dapat dihindari.
"Kamu itu nekad banget ya. Keras kepala. Kalau dibilang gak boleh ya gak boleh. Kalau kecelakaan gimana?"
"Siapa suruh kamu berubah pikiran tiba-tiba gini. Aku akan pergi sendiri kalau kamu tidak mau"
"Aahhh" Pram memukul kesal stir mobilnya. "Ok fine kita pergi kesana"
"Dasar aneh" ejek Reyna mengelaskan mata.
"Apa kamu bilang apa?"
"Kamu ganteng. Puas"
"Itu salah satu kelebihanku" puji Pram bangga. Senyum simpulnya mengembang indah. Ini bukan pertama kalinya ia mendengar pujian seperti itu namun entah kenapa ia bahagia mendengar itu dari bibir Reyna.
"Dihh narsis banget sih"
10 menit berlalu, keduanya sudah sampai di pantai Biru. Seperti namanya, pantai di depan mereka airnya sangat biru. Pasirnya putih halus. Juga ada hutan bakau yang tidak terlalu luas dan beberapa pohon kelapa.
Pram mengedarkan matanya ke setiap sudut. Tidak banyak yang berubah. Hanya ada beberapa pondok yang sepertinya dijadikan tempat berjualan. Perubahan itu paling terasa membuat pantai Biru sedikit berbeda. Namun anehnya pondok-pondok itu tidak ada orang. Dan yang paling menyenangkan, pantai Biru tidak terlalu ramai pengunjung.
"Heh bantuin bawak makanannya"
Pram melangkah ke bibir pantai tak menghiraukan Reyna. Pikiran Pram kembali mengenang masa 10 tahun yang lalu. Disinilah ia melihat Tari tenggelam. Ia ingat betul betapa gentingnya situasi saat itu. Teriakkan Reyna juga kata-kata menyakitkan yang ia lontarkan. Semua itu tampak nyata sekarang.
"Aahhh" teriak Pram kesakitan. Kepalanya berdenging hebat. Tubuh tegap Pram tersungkur ke pasir. Pram kembali berteriak pekik. Kepalanya pusing tak terkendali.
"Pramm"
"Aaahhh" teriak Pram semakin histeris begitu teriakkan Tari yang memanggil namanya kembali mengiang di kepalanya.
Dari kejauhan Reyna melihat gelagat aneh Pram. Iapun segera berlari mendekati suaminya itu.
"Pram, kamu kenapa?" tanya Reyna panik.
"Sakit" Pram memukul-mukul kepalanya untuk meredam rasa sakit yang menjalar.
"Ya..terus aku harus apa?" Reyna tidak tahu harus berbuat apa. Ia panik, bingung.
Pram kemudian mengeluarkan botol kecil dari saku jaketnya.
"Sini aku bukain" dengan sigap Reyna membuka tutup botol lalu mengambil pil yang ada di dalamnya. "Ini"
Pram menelan pil itu. Namun obat itu tidak begitu ampuh. Tubuh Pram masih bergetar dan ia terus memukul pelan kepalanya yang kesakitan.
"Bentar ya aku ambilin minum dulu"
Tak lama Reyna sudah ada di dekat Pram lagi.
"Ya ampun muka kamu makin pucat. Gimana ini. Aku harus ngapain? Mana gak ada orang lagi. Pram bilang donk aku harus ngapain" Reyna seperti sangat bingung. Ia tidak bisa pergi. Tidak mungkin meninggalkan Pram dalam kondisi mengkhawatirkan seperti sekarang. Namun ia harus cari bantuan.
"Pramm"
"Aahh" teriak Pram makin nyaring begitu suara Tari kembali terdengar.
Hal itu membuat Reyna semakin cemas. Tiba-tiba saja Reyna teringat kejadian beberapa bulan yang lalu. Kejadian itu sama persis seperti yang Pram alami sekarang. Hanya saja yang sekarang lebih parah.
"Apa ini akan berhasil juga?" gumam Reyna.
Reyna menarik wajah Pram lalu menempelkan bibirnya di bibir berisi Pram. Reyna membuka matanya melihat wajah Pram yang sangat dekat dengannya. Mata Pram masih terpejam, keningnya berkerut layaknya orang yang sedang menahan sakit.
Reyna membelai lembut wajah Pram tanpa melepaskan bibirnya. Sedikit ragu namun Reyna memberanikan diri memainkan bibirnya. Ia mengecup sensual bibir bawah Pram lalu beralih ke bibir atas. Beberapa kali Reyna melakukan hal yang sama kemudian sedikit memberikan tekanan sebelum mengakhiri kecupan panasnya.
"Gimana? Masih sakit?" wajah Pram tidak terlalu pucat lagi. Tidak lagi memukul kepalanya dan nafasnya tampak sudah stabil seperti biasa.
Pram tersenyum tipis.
"Ternyata kamu pencium yang hebat juga"
"Kamu ngerjain aku ya? Tadi kamu cuman pura-pura?" mata Reyna melotot curiga.
Kembali Pram hanya tersenyum tipis.
"Brengsek" umpat Reyna marah. Ia mendorong tubuh Pram kemudian bangkit.
Namun Pram menarik keras tangan Reyna kembali duduk di hadapannya.
"Tadi saya tidak pura-pura. Itu benaran sakit. Ternyata bibir kamu obat yang sangat ampuh. Terima kasih"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 41 Episodes
Comments
Tri Wahyuni
ingetan pram selalu k jafian d mana Tari tenggelam dn selalu mendengar suara Tari ..tapi klo g coba hilangin dgn dtng lagi k tempat k jadian g bakal ilang trauma nya selalu traoma kli k pantai biru ..
2022-06-19
0
Rice Btamban
tetap semangat Thor
2022-06-13
1
Mystorios _ Writer
lanjut kak gak sabar 😆
2022-06-02
1