Reyna baru tiba di rumah jam 18.00. Ia langsung saja berjalan ke kamar mandi membersihkan diri. Cukup lama ia memejamkan mata menengadahkan kepala mencoba memamahi atas apa yang dilihat sore tadi. Tidak ia sangka tamu VIP itu Pram suaminya sendiri dan ia juga sama sekali tidak menyangka ternyata Pram ada main dibelakangnya. Di rumah Pram sangat enggan menyentuhnya bahkan sekedar memandang sebentar saja susah apalagi mesra layaknya suami istri. Tapi diluar sana, sepertinya Pram sangat mudah melakukan itu semuanya. Reyna masih shock dan tidak percaya jika ternyata suaminya punya wanita lain.
"Kenapa mudah sekali dia menyentuh wanita lain bahkan itu sama tidak terlihat sulit baginya. Sebenarnya cowok seperti apa dia?" Reyna terus bergumam. Ia bahkan mengecek tubuhnya, barangkali ada yang salah hingga suaminya sendiri begitu membenci dan tidak mau menyentuhnya.
"Ahh Reyna apa yang kamu pikirin?" Reyna menggeleng frustasi kepalanya. Ia juga memijit pelan pelipisnya. "Kenapa aku harus mikirin itu sih. Terserah dialah mau ciuman sama cewek manapun. Aku gak peduli. Aku juga gak cinta sama dia" Reyna coba mengontrol perasaannya, ingin melupakan apa yang di lihatnya di kafe tadi sore.
Jam 08.00 malam Pram baru pulang dari kantor. Seperti biasa Reyna menyambut Pram. Dia sudah berprinsip untuk tidak peduli apa yang Pram pikirkan tentangnya dan juga tidak peduli Pram yang tidak menganggapnya penting bahkan tidak ada. Reyna tetap akan melakukan tugasnya sebagai seorang istri.
"Saya sudah siapkan makan malam. Kamu mandi du....."
"Saya sudah makan sama Diana" potong Pram acuh. Pram sengaja memancing Reyna.
Reyna terdiam.
"Diana siapa? Apa cewek di kafe tadi?" tanya Reyna dalam hati.
"Oh ya udah kalau gitu aku simpan dulu makanannya" ucap Reyna berlalu ke dapur.
Pram pun merasa heran dengan sikap Reyna. Kenapa Reyna santai sekali seakan dia tidak melihat apa-apa. Pram pun pergi ke dapur, pura-pura mau minum.
"Hmmm jadi kamu kerja disana?" tanya Pram gengsi.
"Iya" balas Reyna singkat sambil memasukkan makanan kedalam kulkas.
"Sudah lama?" tanya Pram masih penasaran.
"Iya"
Pram melonggarkan dasi yang melingkar dilehernya. Ia semakin penasaran kenapa Reyna tidak marah saat melihat dirinya mencium wanita lain.
"Saya lapar. Siapkan makanan" Pram ingin menguji kesabaran Reyna. Ia heran dengan perubahan Reyna.
Yang Pram tahu Reyna itu lemah dan hanya bisa menangis saat hatinya disakiti. Tapi kini Reyna terlihat lebih kuat dari biasanya dan pembawaannya tampak lebih tenang. Pram tidak suka dengan perubahan Reyna. Ia ingin membuat istrinya itu terus menangis menderita hidup bersamanya.
"Makanannya sudah aku masukin kulkas. Kalau kamu mau makan panasin saja. Ini sudah hampir jam 21.00, aku mau tidur besok harus kerja lagi" tolak Reyna halus.
Sontak hal itu membuat Pram murka. Ia melempar gelas ditangannya.
"Saya mau makan. Itu artinya kamu harus siapin makanan buat saya. Kamu tinggal dirumah ini tidak gratis. Kamu harus melayani saya dan melakukan apapun yang saya suruh. Lagian besokkan hari minggu jadi jangan banyak alasan" suara Pram terdengar nyaring dan lantang. Matanya mendelik seperti elang yang siap menerkam mangsanya. Sebagai sosok yang memiliki segalanya, Pram sudah biasa dilayani dan ia akan sangat marah jika ada yang mengacuhkannya.
Kemarahan Pram seperti angin lalu. Reyna seperti tidak mendengarkan apapun. Ia pergi sebentar lalu kembali membawak sapu untuk membersih pecahan gelas yang dilempar Pram.
Sikap acuh Reyna semakin membangkit amarah Pram. Ia menarik paksa sapu dari tangan Reyna lalu melemparnya sembarang.
"Kamu tuli. Saya bilang saya mau makan. Siapkan makanan untuk saya" perintah Pram dengan menekankan setiap perkataannya.
"Mau kamu apa sih? Kamu pernah bilang tidak mau makan masakanku dan gak akan pernah mau. Dan bilang juga kita jangan saling ikut campur urusan pribadi masing-masing lalu kenapa kamu bertanya terus? Kamu bilang aku tidak perlu nyiapin makanan untuk kamu tapi aku dengan bodohnya masih masak buat kamu. Tadi aku udah tawarin kamu makan tapi kamu gak mau terus makanannya aku masukin ke kulkas dan kamu nyuruh aku siapin makanan untuk kamu lagi. Mau kamu apa sih?" kali ini Reyna balik bicara keras pada Pram. Ia merasa kesabarannya sudah di ubun-ubun. Ia sudah muak dengan sikap keras Pram yang selalu memarahinya tanpa sebab dan selalu bertingkah semaunya sendiri, selalu buat aturan sendiri.
"Ok fine. Ini rumah saya dan kalau kamu gak mau melayani saya, kamu bisa pergi dari sini" lagi-lagi Pram sangat tega mengusir Reyna.
"Aku memang mau pergi dari sini" Reyna melangkah keluar tanpa membawak apapun. Kali ini Pram sudah sangat keterlaluan, ia sudah tidak tahan lagi. Ia tidak bisa terus diam menerima begitu saja perlakuan Pram padanya.
"Bagus pergi sana dan jangan pernah balik lagi kesini" usir Pram untuk yang kesekian kalinya.
Reyna berjalan sendiri menyusuri jalanan yang tampak semakin ramai padahal hari semakin malam. Mungkin karna malam ini malam minggu jadi banyak muda mudi memadu kasih. Banyak orang bilang malam minggu malam yang panjang.
"Aduhh kenapa tadi aku gak bawak tas. Sekarang mau kemana coba? Aku gak punya uang sama sekali. Masa balik ke rumah cowok gila itu lagi. Ahh ogah banget" Reyna bingung karna tidak punya tujuan. Ditambah lagi hari semakin malam. Ia juga mulai ngantuk.
"Masa aku harus tidur dijalanan?"
Rintik-rintik kecil mulai berjatuhan. Suara gemuruh dari langit membuat Reyna bergedik.
Reyna lalu berlari mencari tempat untuk berteduh. Tak disangka rintik kecil tadi berubah menjadi hujan yang deras. Reyna meringkuh memeluk dirinya sendiri menghangatkan diri dari dinginnya malam disertai hujan.
Haaaahhhh
Pram membuka mata lalu membuang nafas berat. Pram sebenarnya sejak tadi mengikuti Reyna diam-diam. Kalau sampai Reyna kenapa-kenapa, ia juga akan merasa bersalah.
Melihat hujan yang semakin deras, Pram segera memutar balik mobilnya .
Cuman butuh beberapa saat mobil Pram sudah parkir di halte tempat Reyna berteduh. Reyna mengamati mobil didepan yang tidak asing baginya. Dan benar saja, itu mobil Pram.
"Ngapain dia kesini?" bisik Reyna malas lalu memandang ke arah lain.
Pram pun menekan bel mobilnya lebih lama hingga meciptakan suara bising ditengah hujan yang masih berlangsung. Dan akhirnya Reyna menyerah. Dengan terpaksa ia masuk kedalam mobil Pram. Ini kedua kalinya ia satu mobil dengan suami bermuka dinginnya itu serta berhati batu.
Mobil Pram meninggalkan area halte. Berada di mobil mewah Pram semakin membuat Reyna kedinginan. Dengan cepat Pram mematikan ac mobil begitu melihat Reyna mengigil kedinginan. Perhatian kecil itu disadari betul oleh Reyna. Kemarahannyapun seketika hilang dan kini ia merasakan sesuatu yang lain dihatinya.
................................
Reyna menggeliat diatas kasur empuknya. Iapun membuka matanya lalu terpejam lagi untuk mengumpulkan seluruh nyawanya sebelum bangkit dari tempat tidur.
1 jam kemudian.....
Reyna pergi ke dapur untuk membuat sarapan pagi. Saat sedang memasak, Reyna mengingat kembali kejadian semalam. Saat ia bertengkar hebat dengan Pram lalu pergi dari rumah kemudian Pram menjemputnya dan berakhir dengan perhatian kecil dari Pram yang berhasil membuat hatinya berdebar.
"Ya ampun apaan sih ini. Kenapa aku mikirin dia terus? Jangan baper donk Na. Dia itu cowok gila, suami kurang ajar. Masa kamu suka sama dia" Reyna menggeleng-geleng kepalanya. Dan berharap apa yang dipikirkannya salah.
"Oh jadi kamu suka sama saya. Baper dengan kejadian semalam" sambar Pram yang entah kapan datangnya.
Reyna tersentak. Ia tidak tahu Pram sudah bangun padahal ini hari minggu. Biasanya Pram bisa bangun jam 09.00 pagi kalau masuk weekend.
"Ohh hmm gak gak" kata Reyna terbata-bata sambil menggerak-gerakkan tangannya. "Mana mungkin aku suka sama kamu"sambungnya lagi.
Pram lalu mendekati Reyna. Matanya menatap intens pada Reyna yang berdiri tepat dihadapannya.
"Dengar jangan baper dengan kejadian semalam. Saya melakukannya bukan karna saya mau tapi karna saya tidak mau disalahkan jika terjadi sesuatu sama kamu. Jangan pernah jatuh cinta apalagi mencintai saya karna saya tidak bisa membalasnya. Teruslah membenci saya karna itu akan lebih baik untuk kamu" Pram meneguk segelas air putih lalu berjalan kembali menuju kamarnya.
Didalam kamarnya, Pram duduk termangun. Ia diam tanpa kata memberi kesan senyap dikamar luasnya. Pikiran Pram mengawan ke masa lalu. Masa lalu yang sangat ingin dia lupakan tapi sangat sulit terjadi.
"Harusnya kamu tidak pernah hadir disini" kata Pram sendu seraya menyentuh dadanya.
Reyna sedikit lagi menyelesaikan pekerjaan rumahnya saat hari beranjak siang. Reyna melihat cuaca diluar yang nampak adem tidak terlalu panas dan juga tidak mendung. Untuk menyegarkan tubuhnya setelah membersihkan rumah, Reynapun mengademkan diri di kolam berenang yang ada dibelakang rumah.
"Wah segar sekali" rasa Reyna begitu setengah badannya masuk ke dalam air. "Kenapa baru sekarang cobain ni kolam" sesal Reyna setelah hampir satu bulan tinggal dirumah Pram.
Reyna yang memang mahir berenang dengan antusiasnya bolak balik menyusuri kolam. Sudah lama sekali Reyna tidak mandi di kolam seperti ini. Terakhir saat dia pergi bersama ayahnya ke wahana permainan air. Dan tanpa Reyna sadari ternyata Pram memperhatikannya dari atas tepatnya dari balkon kamar Pram sendiri. Dari atas Pram seksama memperhatikan gerak-gerik Reyna.
Pram terpikir sesuatu. Iapun meraih jaket dan kunci mobilnya.
"Saya mau pergi" kata Pram yang berdiri tak jauh dari kolam berenang.
Reyna merasa heran. Tumben-tumbenan Pram pamit padanya. Biasa langsung nyelonong pergi disertai pandangan dingin.
"Iya" balas Reyna seadanya.
"Saya mau ke pantai. Saya tunggu 5 menit kalau mau ikut"
Pantai! Sudah lama sekali Reyna menginginkan pantai. Dia sudah beberapa kali menyusun rencana untuk pergi ke pantai tapi selalu gagal karna Reyna tidak tega meninggalkan ayahnya sendiri. Dan kini ayahnya sudah tiada. Mungkin sekarang sudah saatnya ia mewujudkan mimpinya membuat rumah pasir.
"Tunggu....tunggu sebentar 10 menit" sambut Reyna bersemangat. Walaupun curiga pada Pram tapi Reyna tidak peduli yang penting ia bisa menginjak pasir pantai.
Mobil melaju cepat untuk mengejar waktu. Mata Pram fokus kedepan. Namun kali ini mata coklat kekuningan itu sedikit berbeda. Pram tampak sedang memikirkan sesuatu. Reyna menyiratkan Pram seperti sedang ketakutan.
"Dia kenapa? Kenapa pandangannya seperti orang ketakutan gitu?" pikir Reyna dalam hati.
"Hmm apa sebaiknya kita pulang saja" kata Reyna basah-basih.
"Sebentar lagi sampai" intonasi bicara Pram terdengar berat.
Seperti yang Pram bilang jaraknya sudah dekat. Pram pun memarkirkan mobilnya tidak jauh dari sisi pantai.
"Aaahhhh pantai akhirnya" teriak Reyna sangat antusias sambil membentang lebar dua tangannya membiarkan angin pantai menyelinap menyapa setiap sudut tubuhnya.
Pram hanya tersenyum simpul melihat tingkah Reyna yang seperti anak kecil.
"Kamu tidak pernah ke pantai?"
"Pernah tapi masih kecil banget"
Pram dan Reyna berdiri berdampingan memandang birunya lautan. Sesekali Reyna curi pandang kepada Pram. Ia merasa hatinya berdebar tak karuan setiap kali menatap wajah suaminya itu.
"Hmm kenapa kamu membawakku kesini? Tumben. Biasanya kamu bisanya marah-marah doank"
"Saya hanya ingin tahu sesuatu" jawab Pram tanpa melihat Reyna. Mata indahnya tetap fokus dengan bentangan air didepannya.
"Tentang?" sahut Reyna.
"Kamu tidak perlu tahu"
Reyna membuang nafas kesal. Iapun sedikit menjauh dari Pram. Apa lagi yang dilakukan dipantai jika bukan main rumah-rumahan pasir. Reyna mulai mengolah pasir menjadi beberapa menara. Sedangkan Pram masih ditempat yang sama. Ia tak bergeming sedikitpun.
Tiba-tiba saja Pram mengeleng-geleng kepalanya. Ia kembali merasakan hal yang sama.
"Ahh" Pram memijit kuat kepalanya. Namun sakit dikepalanya tidak mau pergi. "Aahhh" teriak Pram frustasi. Ia merasa ada sesuatu memutari kepalanya.
Melihat Pram seperti orang kesakitan, Reyna segera mengehentikan aktivitasnya.
"Pak Pram kamu kenapa?" tanya Reyna panik.
"Sakit....aahh"
"Apanya yang sakit?"
"Kepalaku. Kamu gak bisa lihat...aahh" tampak Pram berusaha melawan rasa sakitnya.
"Dasar orang angkuh. Lagi sakit saja, masih sempat-sempatnya marah" kesal Reyna dalam hati.
"Kamu bisa membantuku?" tanya Pram. Kepalanya semakin sakit. Pram sudah tidak bisa menahannya.
"Iya apa? Aku bisa bantu apa?" walaupun sering bertengkar tapi Reyna juga tidak tega melihat Pram kesakitan seperti sekarang ini. Biar bagaimanapun Pram tetaplah suaminya.
Pram menarik wajah Reyna lalu mendaratkan bibir berisinya dibibir mungil Reyna. Mata Reyna melotot. Iapun bermaksud melepaskan diri dari kecupan Pram namun pria itu justru menariknya lebih dalam membuat Reyna tidak dapat berkutik. Tubuhnya seakan dikunci oleh Pram. Belaian lembut Pram dirambut hitamnya serta angin pantai yang bertiup sepoi membuat Reyna terbawa suasana. Dengan ragu Reyna mulai membalas ciuman Pram.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 41 Episodes
Comments
Rice Btamban
lanjut
2022-06-12
0
Tri Wahyuni
apa Reyna masa lalu nya pram d waktu kecil .atau pram d pantai waktu kecil pernah lihat Reyna mainan pasir dn dia juga mainan pasir dn jatuh cinta dgn Reyna dn Pram jatuh d pantai sampe lupa ingetan nya ...
2022-06-12
1
Juli Mahtin
mampir
2022-05-29
1