Pram mengenang kembali kejadian di kolam semalam. Bagaimana renyahnya tawa reyna, senyum menawannya Reyna juga cantiknya Reyna dalam keadaan basah kuyub. Semua pesona itu membuat Pram senyum-senyum sendiri sambil terus memainkan cincin pernikahannya. Cincin itu tidak pernah Pram pakai kecuali saat ia melakukan tukar cincin dengan Reyna setelah ijab kabul. Tentu saja alasan Pram tidak mau memakai cincin kawinnya karna ia tidak mau ada orang yang tahu kalau ia sudah menikah. Hanya Pram, Reyna, dan pak Sandi yang mengetahui tentang penikahan itu.
"Permisi pak"
Pundak Pram bergedik layaknya orang yang dikejutkan secara tiba-tiba. Ia melirik tak suka pada Diana.
"Ketuk pintu dulu sebelum masuk?" tanya Pram dengan kilat mata tajamnya.
"Hemm tadi saya sudah ketuk pintu pak tapi pak Pram tidak menjawab. Saya pikir pak Pram ketiduran"
"Saya ke kantor untuk bekerja bukan untuk tidur" sambung Pram sewot. "Mana file yang saya minta?"
"Saya sudah kirim ke email pak Pram semalam. Dan di USB ini bentuk file keseluruhannya pak karna yang saya kirim ke email bapak itu ringkasannya saja untuk mempercepat waktu pak Pram" jelas Diana detail. "Saya harap pak Pram segera mempelajari data ini karna satu jam lagi kita akan meeting pak" lanjutnya sedikit khawatir. Dari yang ia tangkap, sepertinya Pram sama sekali belum mempelajari data yang akan jadi referensi meeting hari ini.
"Kamu ngatur saya?"
"Bukan gitu pak maksud saya. Saya hanya tidak ingin pak Pram....."
"Sekarang kamu duduk karna saya butuh penjelasan kamu tentang data ini" perintah Pram menuntut.
Diana menurut dengan senang hati karna memang sudah cukup lama, ia dan Pram tidak ada waktu untuk berdekatan seperti sekarang ini. Apalagi akhir-akhir ini Diana merasa Pram sengaja menjaga jarak darinya.
"Finally" gumam Diana riang. Dengan antusias Diana mengatur posisi duduk di sebelah Pram.
"Siapa suruh kamu duduk disini"
"Terus dimana pak? Saya kan biasanya duduk disini pak"
Pram menarik salah satu sudut bibirnya menciptakan senyum khas yang mematikan. Senyum yang akan membuat hati wanita berdebar saat melihatnya.
"Duduk di depan saya"
Disaat mata Pram sedang fokus menatap layar komputer didepannya, mata Diana justru tertuju pada kotak kecil berwarna merah hati yang ada di seberangnya tidak jauh dari Pram. Dengan lancang Diana meraih kotak kecil itu lalu membukanya. Diana memperhatikan seksama cincin yang sedang dipegangnya.
..."Bentuk dan desainnya seperti cincin kawin tapi ini cincin siapa? Gak mungkin punya pak Pram. Diakan belum nikah" terka Diana dalam hati....
"Ini cincin kawin siapa pak?" tanya Diana tanpa basah basih.
"Saya" jawab Pram refleks.
Diana terperanjat begitu juga Pram.
"Maksudnya ini cincin kawin teman saya" sangkal Pram berusaha tetap tenang agar Diana tidak curiga.
"Kok ada di pak Pram?" Diana tidak percaya dengan jawaban Pram.
"Ketinggalan di mobil saya"
Diana masih belum puas dengan jawaban Pram. Menurutnya ini terlalu janggal. Cincin kawin biasanya dipakai bukan ditinggal di mobil apalagi di mobil orang lain. Namun Diana sudah tahu betul sifat Pram. CEO nya itu paling tidak suka diselidiki tentang masalah pribadinya bahkan sampai sekarang Diana tidak tahu siapa perempuan bernama Tari yang sering Pram sebut dalam mimpi Pram itu.
Meeting hari ini berjalan sangat baik sesuai rencana dan seperti biasa Diana banyak sekali membantu Pram. Diana layaknya tangan kanan Pram yang selalu ada setiap Pram dalam kesulitan terutama dalam hal pekerjaan. Sampai sekarang Diana masih menjadi sekertaris terbaik yang pernah dan sedang bekerja untuk Pram. Itulah yang membuat hubungan Pram dan Diana sangat dekat dan menjalin asmara di luar hubungan pekerjaan. Tapi yang fatalnya bagi Diana, ia terlalu menaruh harapan pada Pram yang notabenenya bukanlah pria yang bisa terikat dalam komitmen. Sampai sekarang Diana masih menunggu kapan Pram akan melamarnya.
"Hmm enak banget" rasa Reyna yang begitu menikmati ice creamnya.
Tama tersenyum simpul sambil menunduk sebentar. Setelah rencana makan malamnya gagal, hari ini akhirnya ia bisa membawak Reyna jalan bersamanya.
"Kok kamu gak beli?"
"Aku tidak terlalu suka ice cream" jawab Tama jujur yang memang tidak suka makan ice cream.
"Ih kok gak suka sih. Padahal ice cream itu enak loh bisa bikin rileks juga. Coba deh nanti ntar kalau kamu lagi sedih atau galau makan ice cream, pasti perasaan kamu akan jadi lebih tenang"
"Emang iya?" sahut Tama.
"Iya. Aku sering coba kok"
"Bearti kamu sering sedih. Memangnya apa yang membuat kamu sedih?" entah kenapa Tama semakin penasaran semua yang menyangkut tentang Reyna. Sejak awal ia sudah tertarik pada gadis polos yang sedang menjilat ice cream di sebelahnya.
Pertanyaan Tama membuat wajah ceria Reyna berubah murung teringat atas kepergian ayahnya juga Pram.
"Banyak sih tapi sekarang aku lagi gak sedih kok"
"Yakin?"
"Yakinlah. Kamu gak lihat ni muka aku lagi happy banget"
"Percaya deh. Oh ya sudah ini kamu mau gak ikut aku...."
"Kemana?" potong Reyna.
"Ntar juga kamu akan tahu. Yang pastinya tempat ini akan buat kamu makin happy"
Reyna mengangguk setuju. Ia penasaran juga. Sepertinya tempat yang Tama maksud sesuai dengan suasana hatinya saat ini.
Seperti yang Tama janjikan setelah Reyna menghabiskan ice creamnya, Tamapun menjalankan mobilnya dengan kecepatan sedang. Ditengah perjalanan keduanya berbincang-bincang tentang apa saja. Ada tawa dan senyum yang terselip di setiap percakapan itu.
"Auwwww" Reyna menggosok-gosok keningnya.
"Maaf...maaf...maaf barusan ada kucing lewat jadi aku injak remnya. Mana sini aku lihat" Tama menarik wajah Reyna lalu meniup lembut kening Reyna yang terbentur. Ada tanda merah disana akibat benturan.
"Masih sakit?" tanya Tama khawatir.
"Lumayan" kata Reyna memicingkan matanya.
Tama melepas seat bealt nya agar lebih dekat pada Reyna. Ia kembali meniup lalu mengosok pelan kening Reyna. Tanpa keduanya sadari, jarak wajah mereka begitu intim. Tama baru menyadari itu saat ia bisa merasakan harum tubuh dan hembusan nafas Reyna yang begitu dekat dengan hidungnya. Ia terhenti sesaat merasakan jantungnya yang berdetak begitu cepat.
"Udah?"
"Sudah" sahut Tama singkat dengan mata tetap tertuju kepada Reyna.
Reyna mengangkat sedikit wajahnya dan langsung berhadapan dengan Tama. Untuk beberapa saat keduanya saling memberi tatapan dalam diam.
"Hmm kita lanjut lagi jalannya" ucap Reyna canggung sekaligus memecah keheningan.
"Tentu saja" balas Tama salah tingkah.
1 jam kemudian....
"Waw bagus banget" puji Reyna takjub melihat keindahan alam yang tersaji di hadapannya.
"Kamu suka?"
"Pastinya. Eh gimana kalau kita main petak umpet?" ajak Reyna antusias. Ia tidak mau melewatkan tempat indah ini begitu saja.
"Petak umpet? Itukan permainan anak-anak"
"Emang iya terus kenapa?"
"Ya gak papa cumankan petak umpet mesti ramai-ramai mainnya biar seru. Inikan cuman kita berdua"
"Ya udah gak papakan. Mau gak?"
Tama mengangguk tanda setuju. Permainan dimulai dengan melakukan aba-aba gunting batu kertas untuk menentukan siapa yang menjaga benteng. Tama kalah dan Reyna segera mencari tempat persembunyian. Tidak butuh waktu lama bagi Tama. Dengan mudah ia dapat menemukan Reyna. Posisi keduanya berubah. Sekarang Tama yang bersembunyi.
Setelah hitungan keduapuluh, Reyna mulai mencari. Ia berlari ke depan ke belakang samping kiri kanan namun Tama belum juga ketemu.
"Huuhh" Reyna mengatur nafasnya. "Dimana dia sembunyi. Susah banget" Reyna kembali mencari dan ia melihat sebuah pohon yang cukup besar. Reyna sangat yakin Tama sembunyi di balik pohon.
Reyna jalan mengendap-endap agar Tama tidak mendengar langkahnya.
"Dorrrr" kejut Reyna.
Tama sangat terkejut karna posisi Reyna ada dibelakangnya. Hal itu membuat Tama spontan menarik tangan Reyna membuat wanita yang berhasil menarik perhatiannya itu menimpa tubuhnya. Reyna ada di atas tubuh atletis Tama. Seperti waktu yang sengaja dihentikan, keduanya terdiam kaku.
Selang berapa detik kemudian, Reyna dengan sigap bangkit. Sedangkan Tama masih di posisi yang sama.
"Lebih baik kita pulang sekarang" ajak Reyna mengatur nafasnya.
"Bisakah kita disini sebentar lagi?"
Reyna mengangguk pelan karna sepertinya Tama juga masih capek apalagi perjalanan yang mereka tempu cukup jauh.
"Berbaringlah disini"
Reyna melirik Tama sebentar. Ia ragu.
"Tenang saja. Aku gak akan ngapa-ngapain kamu kok" ujar Tama menjawab keraguan Reyna.
Reyna setuju. Diapun berbaring di sebelah Tama. Sebenarnya Reyna juga merasa capek karna jujur saja bermain petak umpet cukup menguras energinya yang terbuang karna berlari mencari Tama. Reyna juga cukup percaya Tama pria yang baik.
Keduanya berbincang hangat. Suasana kembali mencair. Tiupan angin yang sepai-sepoi, bunyi dedaunan yang bersentuhan dengan dedaunan lainnya, serta obrolan santainya bersama Tama membuat Reyna tertidur pulas. Perjalanan seperti ini memang sudah lama Reyna nantikan dan ini salah satu impiannya. Tidur bersama alam.
Hari berangsur sore. Sinar matahari menjadi tamaram menandakan senja telah tiba. Namun Reyna belum bangun dari tidurnya. Tama yang sejak tadi terjaga terus memperhatikan wajah Reyna dalam diam. Ia lalu mendekatkan bibirnya ke bibir Reyna yang di olesin lipstik warna merah muda. Tama ingin mencium bibir Reyna namun untungnya pikirannya kembali jernih. Ia tidak mau mengambil kesempatan dalam kesempitan. Jikapun itu akan terjadi, Tama ingin melakukannya atas dasar suka sama suka. Bukan dengan cara yang kotor atau paksaan.
Reyna menggeliat hebat. Persendiannya terasa sangat kaku.
"Sudah bangun. Apa kita harus pulang sekarang?" Tama melirik jam tangannya yang telah berada di angka 16.50 pm
Reyna terperanjat saat melihat sekelilingnya.
"Ini udah mau malam. Kenapa kamu gak bangunin aku?"
"Kamu tidurnya nyenyak banget. Aku tidak tega buat...."
"Udah ayo kita pulang sekarang" potong Reyna sebelum Tama sempat menyelesaikan ucapannya.
...----------------------------...
Begitu mobil berhenti tepat di depan rumah, Reyna segera turun. Ia yakin Pram pasti marah padanya.
"Hemm Tama aku masuk duluan ya. Terima kasih untuk hari ini" disaat Reyna sedang ancang mau berlari, Tama menarik kuat tangan Reyna.
"Hei jangan terlalu panik. Semuanya akan baik-baik saja"
"Kamu tidak tahu pak Pram seperti apa kalau lagi marah" jelas Reyna panik yang terlihat jelas di wajahnya.
Tama memberi senyuman hangat.
"Aku tahu karna aku sudah cukup lama berteman dengan Pram. Aku yang akan jelasin. Dia tidak akan marah sama kamu" Tama ingin mendampingi Reyna untuk menjelaskan pada Pram alasan Reyna pulang malam.
Namun Reyna masih saja terlihat panik. Ia tidak yakin. Tama lalu menempelkan kedua tangannya di wajah Reyna memberikan rasa hangat di wajah Reyna yang dingin.
"Tenang saja. Ada aku"
"Hemmm" dehem Pram yang entah sejak kapan sudah ada di depan pintu. "Darimana kamu?" tanya Pram dingin dengan tatapan menusuk pada Reyna.
"Pram gini..."
"Saya tanya sama Reyna bukan sama kamu" potong Pram mendelik.
"Dengarkan saya dulu...."
"Reyna masuk" perintah Pram mengabaikan Tama.
Dengan patuh Reyna masuk ke rumah. Ia tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya pada dirinya juga Tama.
"Pram tolong jangan marah sama Reyna. Aku yang mengajaknya jalan"
"Kamu harus tahu posisi kamu Tama. Reyna bekerja sama saya jadi izin dulu sama saya jika kamu mau mengajaknya keluar. Saya harap ini yang terakhir kalinya" ucap Pram tegas dan jelas.
Pram juga masuk lalu menutup pintu cukup keras meninggalkan Tama di luar.
Tok tok tok
"Reyna keluar sekarang. Saya mau bicara" panggil Pram nyaring.
"Sebentar aku lagi pakai baju" balas Reyna yang baru selesai mandi.
Reyna buru-buru membuka lemari mencari baju tidurnya sebelum Pram berteriak lagi. Setelah ini ia juga harus masak makan malam.
"Reyna saya masuk"
Krekkk
"Jangan" larang Reyna histeris namun Pram sudah terlanjur masuk.
"Aaahhh" teriak Reyna keras seperti orang ketakutan. Handuk yang menutupi badan Reyna terjatuh di lantai.
Hal itu membuat Pram terperangah. Untuk beberapa detik Pram melihat tubuh Reyna yang tak terbungkus kain sehelaipun lalu segera ia berbalik badan.
"Kamu udah gila ya. Udah di bilangin jangan masuk. Kamu sengajakan. Dasar cabul" maki Reyna sangat kesal. Ia segera meraih handuknya menutupi tubuhnya kembali.
"Udah buruan pakai bajunya. Saya sudah lihat kok. Gak usah sok keras. Saya cium kamu juga mau-mau aja" ucap Pram cengengesan tanpa merasa bersalah. Tadinya ia ingin marah tapi kondisi Reyna tanpa pakain barusan membuatnya sedikit beruntung.
"Ya udah kamu keluar dulu"
"Saya tidak akan keluar. Lagian saya sudah balik badan juga. Saya tidak lihat apa-apa sekarang"
"Hah ini orang benar-benar sudah gila" umpat Reyna dalam hati.
Reyna mengambil pakaiannya lalu pergi ke kamar mandi. Ia tidak akan membuat Pram merasa beruntung untuk yang kedua kalinya.
Di dapur Reyna menyiapkan beberapa bahan untuk dimasak. Malam ini ia akan membuat sop ayam kesukaan Pram. Ini Reyna lakukan agar ia bisa sedikit menetralisir kemarahan Pram. Reyna tahu ia salah karna tidak izin dulu jalan sama Tama.
"Apa yang kamu lakukan sama Tama hari ini?" tanya Pram mulai penyelidikan. Ia duduk di dekat meja makan tak jauh dari Reyna.
"Jalan terus makan"
"Hanya itu?"
Reyna terdiam sesaat.
"Iya"
Jawaban ragu Reyna membuat Pram geram. Ia tidak suka kebohongan.
"Apa kamu berciuman dengannya?" tanya Pram frontal.
Seketika mata Reyna melebar. Ia berbalik badan.
"Maksud kamu?"
"Kurang jelas. Apa lagi yang dilakukan cowok sama cewek dewasa yang jalan berduaan. Pegangan tangan, tatap-tatapan terus ciuman" Pram mengepal buku tangannya.
"Apaan sih kamu. Selalu nuduh aku yang enggak-enggak. Aku capek dengan sikap kamu yang kayak gini" ucap Reyna kecewa. Ia lalu pergi tak menyelesaikan masakannya.
Pram segera mengejar lalu menarik kasar tangan Reyna kemudian mendorong tubuh Reyna ke dinding.
"Jawab saya, benar kamu berciuman dengannya?" wajah Pram terlihat sekali menaham amarahnya.
"Menurut kamu?" tanya Reyna balik yang diiringi senyum misterius dari Pram.
"Kamu semakin berani sekarang. Jangan pernah melakukan ini sama pria lain" larang Pram seraya mendekatkan wajahnya ke bibir gadis belia di hadapannya. Namun Reyna mengelas seolah menolak ciuman yang akan Pram lesatkan.
"Kamu menolakku?"
Reyna diam saja.
"Apa kamu menyukainya?"
"Aku tidak menyukainya" jawab Reyna cepat dan tegas. "Jangan pernah menebak tentang perasaanku. Aku tidak suka" sambungnya serius.
"Lalu?"
Reyna kembali menundukkan wajahnya.
"Jujur aku masih merasa malu"
"Malu kenapa?"
"Itu loh yang kejadian tadi di kamar"
"Kejadian yang mana?" tanya Pram menggoda pura-pura tidak tahu.
"Ih masa sih gak tahu. Itu yang di kamar tadi"
"Yang mana?"
"Ihh yang tadi handuk aku jatuh terus kamu gak lihat aku pakai apapun. Kamu sengajakan pura-pura gak tahu biar aku makin malu" celoteh Reyna bawel. Ia merengut. Wajahnya tampak sangat kesal dengan sikap sok polos Pram.
Pram tersenyum simpul dan semakin menggoda.
"Oh yang itu. Gak usah malu. Aku suka tubuh kamu seksi" bisik Pram tepat didepan telinga Reyna lalu mengedipkan mata kirinya. Hal itu membuat Reyna bergedik geli.
Refleks Reyna mendorong tubuh Pram menjauh darinya.
"Kamu itu ya pikirannya selalu kotor. Jorok tahu gak" Reyna sedikit berlari menaiki anak tangga menuju kamarnya.
Pram pun mengikuti Reyna dari belakang.
"Berhenti" perintah Pram dengan suara menuntutnya.
Pram mengambil dua langkah mensejajarkan dirinya dengan Reyna. Ia menatap lekat wanitanya itu.
"Malam ini bisakah kamu tidur denganku?"
Reyna tertegun. Ia menelan salivanya susah payah.
"Hmm aku..."
Pram memotong dan langsung menerobos dengan kecupan liarnya di bibir Reyna. Ia memandu tubuh Reyna menuju kamarnya tanpa melepaskan pangutannya di bibir Reyna yang mungkin malam ini akan menjadi wanitanya seutuhnya.
Krekkkk
Pram membaringkan pelan tubuh ramping Reyna. Keahlian Pram dalam bercumbu tidak perlu diragukan lagi. Keahlian itu membuat Reyna kewalahan mengimbangi Pram yang sudah di atas level yang berbeda. Tangan Pram mulai bermain, ia berhasil melepaskan satu kancing baju yang Reyna kenakan. Namun Reyna langsung mencegat tangan Pram yang akan membuka kancing selanjutnya.
Pram menatap Reyna penuh tanya.
"Kenapa?" tanya Pram dengan suara beratnya.
Reyna mengatur nafasnya.
"Apa kamu mencintaiku?"
Pram tidak bisa menjawab. Ia hanya menatap lekat sepasang bola mata indah dari wanita yang kini berada di bawahnya.
"Aku tertarik sama kamu" jawab Pram ambigu.
Wajah Reyna berubah kecewa.
"Itu artinya enggak. Aku tidak bisa melakukannya" tolak Reyna.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 41 Episodes
Comments
Yati Yati
tolak ja Reyna jgn mau enk ja ma tama ja
2023-01-01
0
Nurdia Nailaaqila
lanjut torh
2022-06-30
0
Rice Btamban
baik sm Tama Reyna Tama ramah tamah 😁😁
2022-06-12
1