Mobil hitam itu menyusuri jalanan malam yang kelam. Keheningan menyelimuti kebersamaan Pram dan Reyna. Suasana tampak kaku layaknya patung tak bernyawa.
"Hmmm"
"Jangan bicara apapun" sambar Pram sebelum Reyna bicara.
"Maksud aku...."
"Saya tidak mau bahas kejadian tadi" potong Pram lagi. Ia tidak mau Reyna mengunkit soal ciuman mereka dipantai tadi.
"Siapa juga yang mau bahas. Aku cuman mau bilang aku lapar" balas Reyna kesal yang terus-terusan dipotong sama Pram sebelum ia sempat bicara.
Pram pun menghentikan mobilnya di sebuah restoran yang cukup besar. Seketika Reyna menunduk malas. Ia sebenarnya mau makan diwarung pinggiran jalan saja karna menurutnya makanan kaki lima lebih enak dan porsinya lebih banyak. Harganya juga sangat bersahabat dengan kantong.
"Kenapa mukanya melas gitu? Gak suka saya bawak kesini. Mulai sekarang kamu harus bisa menyesuaikan diri dengan kebiasaan saya biar gak bikin saya malu. Ini yang terakhir saya ajak kamu makan sama saya. Saya tidak mau orang lain tahu kalau saya...."
"Kalau kamu sudah menikah. Itukan?"
"Bisa gak suaranya dikecilin. Kalau ada yang dengar gimana? Jangan bikin saya malu"
Haaaaaah
Reyna buang nafas dongkol. Ia bosan sekali dengar semua ucapan Pram yang terus mengulangi kalimat yang sama.
"Ok kalau gitu kamu makan sendiri saja biar kamu gak malu" Reyna berbalik badan meninggalkan Pram sendiri.
Pram mengepalkan tangannya melihat tingkah Reyna. Ngambekan, kekanak-kanakkan, norak, itulah definisi Pram untuk Reyna. Terpaksa Pram menyusul Reyna ke mobil.
"Apa yang kamu lakuin? Katanya mau makan" kata Pram geram seraya menarik keras lengan Reyna.
Reyna langsung menyingkirkan tangan Pram dari lengannya.
"Katanya kamu gak mau malu. Ya udah kamu makan sendiri saja"
"Bisa tidak jangan seperti anak kecil. Sekarang masuk" perintah Pram tegas.
"Gak MAU pak Pram yang terhormat" tolak Reyna yakin.
"Yakin gak mau. Butuh 1 jam lagi sampai ke rumah. Ya sudah kalau gitu kamu tahan saja" ucap Pram santai dengan senyum remehnya.
Kali ini Pram sengaja mengurangi kecepatan laju mobilnya untuk memperlambat waktu. Pram mau mengetes seberapa tahan Reyna dengan perut laparnya.
Reyna melirik Pram tajam. Ia tahu Pram lagi-lagi sedang menguji kesabarannya. Tapi kali ini Reyna janji Pram tidak akan berhasil dengan rencananya. Ia akan berusaha lebih keras menahan rasa laparnya.
"Oh ya aku kan punya roti" gumam Reyna. Ia lalu merogoh tas selempangnya dan benar saja ada sebungkus roti disana. Tak sabar Reyna langsung melahap roti itu.
"Hmm enak banget rotinya. Baunya juga wangi banget. Gigit lagi ah" ucap Reyna sengaja memperagakan cara makan roti untuk membuat Pram kesal. Reyna memutar lidahnya dibibir sebagai isyarat betapa lezat roti yang sedang ia makan. "Yahh rotinya habis. Uhh sekarang sudah kenyang. Perutku udah gak lapar lagi. Tidur ah" lanjut Reyna sebelum memejamkan matanya.
Pram hanya bisa mengumpat dalam hati. Sekarang malah dia yang kelaparan. Mana tidak ada makanan apapun di mobil. Dan sekarang cewek yang membuatnya kesal sedang enakan tidur disampingnya.
"Kok berasa aku yang jadi sopirnya" ucap Pram remang seperti orang sedang berbisik. Sudut bibir kiri Pram tertarik ke atas pertanda ia mendapatkan sebuah ide.
Pram sengaja menginjak kuat pedal gas mobilnya. Hal itu membuat tubuh Reyna terdorong ke depan menyadarkannya dari tidur.
"Aww sakit" ringis Reyna seraya menggosok-gosok keningnya yang terbentur.
Reyna memberi tatapan intimidasi pada Pram. Senyum licik Pram membuat Reyna semakin yakin kalau Pria kejam disampingnya sengaja mengerjainya.
........................................
Tok tok tok
Reyna berjalan kearah pintu namun Pram mencegatnya.
"Biar saya saja yang buka. Kamu buatkan minuman untuk dua orang"
Reyna hanya bisa mengiyakan meskipun sebenarnya ia penasaran.
"Pagi pak Pram" sapa Diana dengan senyum manisnya. Ia lalu mendaratkan kecupan kecil dibibir bos kharismatiknya ini.
Penampilan Diana hari ini seperti biasa sangat menggoda. Bokongnya yang berisi serta dadanya yang menonjol ditambah wajahnya yang cantik disertai body goalsnya pastinya akan membuat pria manapun tergoda.
Hari ini Pram tidak pergi ke kantor karna ia harus mempersiapkan diri untuk pergi ke luar kota selama dua hari untuk bertemu kolega barunya. Dan sudah menjadi rutinitas Diana untuk menyiapkan segala keperluan Pram selama berada di luar kota. Keduanya lalu melakukan pembicaraan mengenai isi kontrak yang akan dilakukan dengan kolega baru nanti.
Selang beberapa menit Reyna tiba dengan membawak dua gelas minuman di atas nampang. Diana memperhatikan seksama wajah Reyna.
"Kayaknya aku pernah lihat kamu deh tapi dimana ya?" Diana coba mengingat. Ia sangat yakin pernah bertemu Reyna.
"Sudahlah gak perlu dipikirin. Gak penting jugakan kamu pernah ketemu dia apa gak" Pram berusaha mengelabui Diana. Ia tidak mau Diana ingat kalau Reyna orang yang sama yang memergoki mereka bercumbu di kafe Doria.
"Lalu dia siapa?" tanya Diana ingin tahu.
"Dia pembantu baru disini. Namanya Reyna"
Bagai disambar petir, Reyna merasa hatinya sangat hancur mendengar jawaban Pram. Tangan Reyna sedikit bergetar saat memindahkan gelas di atas meja. Matanya terasa panas sekali.
"Permisi pak" pamit Reyna dengan suara parau.
Reyna seperti orang linglung. Jalannya tampak goyah.
"Pak kalau gitu saya packing dulu pakaian yang akan pak Pram pakai nanti" kata Diana berlalu ke kamar Pram.
Reyna terpaku tak percaya. Kenapa harus Diana yang menyiapkan pakaian suaminya? Bahkan Reyna tidak pernah di perboleh masuk ke kamar Pram.
Tak berapa lama Pram menyusul Diana ke kamarnya. Sedangkan Reyna hanya bisa meratap perih melihat pemandangan didepan matanya.
"Kenapa dadaku sesak sekali melihat Pram menyusul wanita itu? Aku tidak bisa diam saja" kata Reyna dalam hati.
Di kamar Pram dan Diana meluapkan hasrat, mereka asyik bercumbu. Pram menarik pinggang ramping Diana agar lebih dekat padanya. Kini tidak ada lagi jarak diantara keduanya. Pram mendorong tubuh Diana ke kasur yang di sambut dengan gerakan meliuk Diana. Ia ingin membuat Pram semakin tertarik padanya. Hal itu semakin membuat Pram bernafsu untuk melepas hasratnya pada sekretaris seksinya itu.
Prakkk
Reyna membuka kasar pintu kamar yang berhasil membuat Pram dan Diana berhenti dari aksi erotis itu. Sontak Diana bangkit dan mengancing kemejanya kembali.
"Apa yang kamu lakukan hah?" teriak Pram keras.
"Diana kamu pulang sekarang"
"Tapi pak"
"Saya bilang keluar" bentak Pram kasar dengan sorot mata tajam.
Detak jantung Reyna turun naik. Nafasnya memburu layaknya orang yang baru selesai lari maraton. Matanya merah menandakan kemarahan dan kekesalan sudah dipuncak kepalanya.
"Kenapa tatapan kamu itu? Mau marah sama saya" tanya Pram seraya mendekati Reyna.
Reyna diam dengan tatapan tajam.
"Kenapa diam? Apa mau kamu hah?" tanya Pram lagi dengan intonasi meninggi.
"Kenapa kamu bawak wanita itu kesini? Dengan menjijikkannya kamu membiarkan wanita itu tidur di kasur kamu saat aku masih ada disini"
Pram tersenyum nakal lalu ia tertawa lepas.
"Gak ada yang lucu. Kenapa kamu malah membiarkan wanita itu menyiapkan pakaian untuk kamu? Aku ini is...."
"Karna kamu istri saya. Itukan yang mau kamu bilang. Kamu gak lagi mimpikan? Berapa kali saya bilang jangan berpikir kalau kamu istri saya. Pernikahan kita hanya di atas kertas jadi jangan berlagak kalau kamu istri saya beneran" jelas Pram dengan emosi menggebu.
"Ya...ya aku tahu aku ingat semua yang kamu bilang. Tapi haruskah kamu bilang aku ini pembantu didepan wanita itu?"
"Terus saya harus bilang kamu istri saya. Itu lebih tidak mungkin" celetuk Pram tak peduli dengan protes Reyna.
"Apa?" Reyna terlihat heran dengan ekspresi tak percaya. "Jadi kamu menganggap aku...."
"Ya apa yang kamu pikirkan benar jadi bersikaplah seperti apa yang kamu pikirkan tentang posisi kamu di rumah ini. Jangan bersikap kurang ajar seperti tadi. Kita sudah sepakat untuk tidak mencampuri privasi masing-masing....."
"Terserah kamu mau bilang apa. Tapi aku tidak suka kamu membawak wanita lain ke rumah ini. Aku minta selama aku masih disini jangan pernah membawak wanita manapun apalagi sampai masuk ke kamar kamu" Reyna mengusap airmatanya yang mulai mengaliri pipinya. "Maaf tidak bisa mengantar kamu pergi. Aku harus berangkat kerja sekarang. Hati-hati" sambung Reyna melangkah pergi. Reyna masih menghapus airmatanya yang tidak mau berhenti. Ia bingung kenapa dadanya sangat sesak melihat Pram bercumbu dengan wanita lain. Ia marah sangat marah.
"Kenapa aku masih bertahan? Ayah juga akan mengerti jika aku pergi tapi kenapa aku masih bertahan? Aku harus bagaimana?" gumam Reyna yang tak mengerti dengan kata hatinya. "Apa mungkin aku jatuh cinta dengannya, jatuh cinta dengan suamiku sendiri?" tambah Reyna tak mengerti.
Dari balkon kamarnya, Pram memandangi langkah Reyna yang kian menjauh hingga hilang dari pandangannya. Pram mencerna permintaan Reyna diakhir perdebatan mereka tadi. Pram tidak ingin apa yang dia khawatirkan terjadi.
"Jangan pernah jatuh cinta padaku, Reyna"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 41 Episodes
Comments
Rice Btamban
baik pergi sj rayna buat apa menunggu lk2 seperti itu
2022-06-12
0
Tri Wahyuni
Reyna kmu jangan perjatuh cinta sama Pram ..dia laki2 yg g menghargai kmu dn juga kmu sdh harus pergi dr rmh itu dn kmu bls kn dendam kmu .cari pacar kmu jalan mesra d dpn Pram dn kmu juga bbermesraan d dpn Pram bikin dia cemburu .
2022-06-12
0
Juli Mahtin
masih menyimak..
2022-05-29
1