Aku merindukannya

Rumah megah Pram bagaikan istana tampak semakin sepi tanpa kehadiran pemiliknya. Walaupun saat bersama lebih banyak cekcoknya tapi dari lubuk hati terdalam, Reyna merasa ada sesuatu yang kurang. Pdahal baru satu hari Pram pergi ke luar kota.

Reyna menyandarkan pundaknya dikursi pinggir kolam. Ini salah satu spot favoritnya selain kamar pribadinya. Reyna memiringkan kepalanya kekanan, matanya menatap sayu. Sejak menikah lebih tepatnya sejak ayahnya meninggal, Reyna merasa hari-harinya diselimuti kabut. Pemandangan didepannya tak terlihat tidak jelas. Hatinya terasa kosong tak bertuan. Pikirannya terus berjalan tidak tahu kapan akan berhenti. Ia memikirkan sesuatu yang tak bertujuan. Seperti sekarang ini, Reyna tidak tahu apa yang sebenarnya ia inginkan dalam hidupnya.

Pria yang ia harapkan bisa menjadi sosok pengganti ayahnya hanya bisa menyakitinya. Suami yang ia harapkan bisa menjadi pelipur lara sepeninggalan ayahnya bahkan tak mampu memberikan air untuk menyirami hatinya yang mulai mengering.

"Ayah...aku sangat merindukan ayah. Disini aku sendiri ayah. Nyatanya dia bukan seperti yang ayah pikirkan. Dia tidak melakukan apa yang ayah lakukan" tak terasa mata Reyna berlinang mengasihani diri. Ia begitu merindukan sosok ayahnya yang selalu memberinya pelukan hangat disaat dirinya sedang rapuh seperti sekarang ini.

Reyna berjalan ke ruang tengah, matanya memutar memandang dinding rumah yang tak satupun di hiasi foto pernikahannya dengan Pram. Hatinya semakin meringis perih.

"Satu fotopun gak ada" Reyna mengedip-ngedipkan matanya berusaha mencegah airmata agar tidak keluar lagi. Ia sebenarnya sangat tidak suka menangis karna itu akan membuatnya lemah. "Sepertinya aku terlalu sering menangis" pikir Reyna tak mengerti.

......--------------------------------------......

"Pak Pram tidak perlu khawatir. Kerjasama ini akan sangat menguntungkan. Dan semuanya akan berjalan seperti yang pak Pram inginkan"

"Berapa persen project ini akan berhasil?" tanya Pram serius.

"Saya akan berusaha pak. Saya....."

"Saya mau 100% . Saya tidak suka kegagalan. Jika anda bisa meyakinkan saya maka kerjasama kita akan terjadi" ujar Pram tegas dan menuntut.

"Baik pak, saya pastikan project ini berhasil seperti yang pak Pram inginkan" balasnya yakin.

Kesepakatanpun terjadi diiringi jabat tangan kedua belah pihak.

"Diana siapkan semuanya. Saya mau langsung pulang" suruh Pram pada sekretaris seksinya itu.

"Pak Pram tidak mau makan atau jalan-jalan dulu?" biasanya Pram selalu mengajak Diana berbelanja setiap selesai kerja di luar kota.

"Tidak saya mau langsung pulang" jawab Pram mantap.

Mimik wajah Diana terlihat kecewa. Sebenarnya ia ingin menikmati waktu berdua bersama CEO nya itu. Lebih tepatnya Diana ingin menikmati malam bersama Pram seperti biasanya saat mereka melakukan kerja di luar kota. Diana merasa akhir-akhir ini Pram sedikit berubah. Pram sering mengacuhkannya dan kadang tidak peka padanya.

Waktu baru saja menunjukkan pukul 17.30 saat Pram sampai di rumah. Kondisi rumah tampak senyap seperti tak berpenghuni. Pram lalu menjejaki setiap sudut rumah mencari sosok yang sering membuat pikirannya kacau. Pram lalu berjalan ke ruang dapur dan kini ia tepat berdiri didepan pintu kamar Reyna.

Tok tok tok

Tidak ada jawaban dari dalam.

Tok tok tokkk

Pram coba mengetuk pintu lagi. Hanya ada keheningan. Tidak ada siapapun begitu Pram membuka pintu. Pram pun pergi ke kamarnya untuk beristirahat. Didalam kamarnya Pram bergelut dengan hatinya. Ia merasa kesal karna tidak menyimpan no ponsel Reyna. Dan sekarang ia tidak tahu harus menghubungi siapa untuk mencaritahu keberadaan Reyna. Tak terasa Pram tertidur pulas.

"Tariiiii" Pram tersentak bangun dari tidurnya. Ia mengusap kasar wajahnya. Lagi-lagi Pram memimpikan hal yang sama.

Pram merogoh ponselnya di atas nakas. Waktu telah berada dititik 20.55 . Pram buru-buru menuruni anak tangga melangkah ke kamar Reyna.

Tok tok tokkkk

Masih tidak ada jawaban. Lagi Pram lancang tanpa izin membuka kamar Reyna.

"Kemana dia sudah malam begini?" tak mau terlalu lama berpikir, Pram kembali ke kamarnya mengambil kunci mobil.

Mobil Pram melaju cukup kencang menyusuri jalanan malam yang tampak gemerlap dengan cahaya lampu. Mobilnya berhenti di pekarangan kafe Doria, kafe dimana Doria bekerja. Pram masuk ke dalan kafe. Matanya menyelidik tapi Reyna yang dicarinya tidak ada. Ia lalu bertanya pada waitres yang lain tapi mereka bilang Reyna sudah pulang jam 17.00 tadi. Pram berinisiatif minta no ponsel Reyna pada waitres yang diitanyanya tadi.

Pram pun langsung menelpon Reyna namun tidak aktif.

"Kamu yakin ini no Reyna?" tanya Pram.

Waitres mengangguk yakin.

"Yakin. Aku pernah menelponnya ke no ini"

Pram keluar kafe. Kedua tangannya menentang dipinggang. Ia lalu mengigit bibir bawahnya memikirkan keberadaan Reyna. Khawatir sesuatu terjadi pada istrinya itu. Ia merasa kehilangan jejak Reyna. Tidak ada tempat yang bisa ia datangi karna selama ini ia tidak pernah mencari tahu apapun tentang Reyna.

"Aahhh" teriak Pram kesal pada dirinya sendiri. Ia lalu menelpon satpam rumahnya bertanya apakah Reyna sudah pulang tapi hasilnya nihil.

Pram mulai frustasi saat melirik arloji ditangannya sudah menunjukan jam 09.00 malam.

"Kemana dia? Bikin repot saja" Pram memijit pangkal hidungnya. Matanya sayup. Sebenarnya Pram masih lelah setelah perjalanan bisnis ke luar kota. Pram bahkan tidak tidur sehari sebelum berangkat ke luar kota. Pram sosok yang sangat detail dan perpeksionis dalam bekerja. Ia tidak mau ada kesalahan sedikitpun ataupun informasi yang terlewatkan. Karna itu walaupun ada Diana yang membantunya, Pram tetap mengecek ulang isi file kerjasamanya dengan kolega barunya itu. Pram tidak percaya siapapun, ia hanya percaya pada dirinya sendiri.

Kembali mobil Pram menembus gelapnya malam. Sesekali matanya melihat ke luar mobil. Mungkin saja ada Reyna disana.Tak berapa lama, pak Darmawan satpam yang menjaga rumah Pram menelpon dan memberi tahu Reyna sudah pulang.

Pukul 22.00 pm

Pram bermaksud mengetuk pintu kamar Reyna lagi. Namun niat itu urung dilakukan, ia tidak ingin menganggu Reyna. Pram juga gengsi, ia tidak mau Reyna kepedean kalau sampai Reyna si gadis menyebalkan itu tahu ia mencarinya.

Rintik hujan menyambut pagi. Reyna menggeliat membentangkan tangan meregangkan otot tubuhnya yang terasa kaku. Reyna segera bergegas melanjutkan aktivitas berikutnya setelah selesai mandi. Namun ada yang berbeda, pagi ini wajah Reyna terlihat sedikit pucat. Sorot matanya sayu.

"Aku lapar" keluh Reyna seraya mengelus perut ratanya.

Dan betapa kagetnya Reyna begitu melihat ada Pram di dapur.

"Dia sudah pulang. Kapan?" tanya Reyna dalam hati. "Perasaan semalam belum ada deh" sambungnya.

"Hmmm" dehem Reyna ragu. Sebenarnya ia mau menyapa Pram dan menanyakan kabarnya tapi entah kenapa nyali Reyna selalu ciut setiap melihat wajah dingin suaminya itu. Pram terlalu misterius bagi Reyna.

Reyna meneguk segelas air putih lalu pergi. Ia masih tidak berani menegur Pram yang terlihat sibuk memasak sesuatu.

"Kamu tidak mau sarapan?" tanya Pram yang berhasil membuat Reyna menghentikan langkahnya.

Reyna melihat sekelilingnya. Tidak ada siapapun selain dirinya dan Pram.

"Kamu bicara sama aku?" tanya Reyna tak yakin.

"Sama siapa lagi. Disini cuman ada kita berdua. Saya tidak mungkin bicara sama hantukan" celetuk Pram asal.

Reyna senyum mengulum mendengar ucapan Pram. Ia mengatup bibirnya agar tidak membuat Pram kesal karna tawa kecilnya.

"Duduklah"

"Aku belum lapar" sahut Reyna menolak.

"Saya tahu kamu lapar. Saya mendengar...."

"Saya belum lapar" sambar Reyna cepat.

Pram berbalik badan kemudian berjalan mendekati Reyna. Ia menatap intens wajah Reyna membuat gadis muda didepannya merasa terintimidasi.

"Jangan keras kepala. Makanlah"

"Aku hanya akan makan jika aku mau. Ini tubuhku dan kamu tidak memaksa. Aku pamit kerja dulu" ucap Reyna datar dengan tatapan tak bersemangat.

"Aku masih sangat kecewa dengan kejadian sebelum dia pergi ke luar kota. Ditambah lagi dia tidak pernah memberiku kabar setelahnya. Aku disini menunggunya penuh harap tapi dia sama sekali tidak peduli. Bahkan setelah pulang, dia tidak menanyakan keadaanku" gumam Reyna dalam hati.

Pram membanting sendok. Ia sangat tidak suka penolakan.

"Berhenti" seru Pram keras.

Reyna tidak peduli. Ia terus melangkah mengabaikan perintah suaminya itu. Pram mengukuh buku-buku tangannya. Lagi-lagi Reyna berhasil membangkit amarahnya. Pram sedikit berlari mengejar Reyna lalu menarik kasar tangan mungil Reyna.

"Lepasin tangan aku"

"Kamu pikir kamu siapa hah? Tinggal makan saja. Kenapa harus keras kepala?" ucap Pram kesal.

Ini yang Reyna tidak suka dari Pram. Pria ini selalu memaksanya dan selalu berbuat semaunya.

"Tolong lepasin aku. Sakit" mohon Reyna merasakan sakit dipergelangan tangannya. Cengkraman Pram terlalu kuat.

Wajah Reyna tampak semakin pucat. Ia tidak punya tenaga extra melawan Pram.

"Saya tidak akan lepas sebelum kamu menuruti kemauan saya" balas Pram tetap dengan pendiriannya.

Reyna merasa semakin lemas. Ia lalu terduduk dilantai tanpa tenaga. Hal itu membuat Pram panik.

"Kamu kenapa?" tanya Pram.

Reyna tidak merespon. Matanya mengatup perlahan.

"Pak Pram" kata terakhir Reyna sebelum pingsan.

"Reyna....Reyna...Reyna bangun"

"Aku mendengarnya memanggil namaku. Andai aku bisa. Aku hanya ingin mengatakan padanya kalau aku sangat merindukannya" _Reyna_

Terpopuler

Comments

Tri Wahyuni

Tri Wahyuni

aduh Reyna kmu bandel banget sih ..udah kmu hrs panasin itu s Pram pria dingin dn nyebelin itu dn juga biar dia sdr bhw kmu istri nya walaupun nikah d atas kertas

2022-06-12

2

Rice Btamban

Rice Btamban

lanjut

2022-06-12

0

Aisyah S

Aisyah S

minta lanjutannya .

2022-04-13

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!