Perhatian bukan berarti suka?

Pram membopong tubuh Reyna ke kamar. Ia lalu berlari ke kamarnya dan merogoh ponselnya untuk menelpon dokter pribadinya. Sementara menunggu dokter datang, Pram berinisiatif untuk mengompres kening Reyna. Hanya ini informasi yang Pram tahu sebagai bentuk pertolongan pertama untuk orang yang terserang demam tinggi. Sekitar 20 menit, dokter Erick Primawan tiba.

"Ini hanya demam panas biasa. Dia hanya kelelahan dan terlalu banyak berpikir. Usahakan 2 hari ini dia jangan bekerja dulu supaya tubuhnya kembali fit" papar dokter Erick.

Dokter Erick pun pamit setelah memberi resep obat yang harus ditebus Pram ke Apotek.

"Terima kasih dok"

Pram kembali masuk ke kamar Reyna. Dia duduk tepat disamping Reyna menatap Reyna dalam diam. Matanya berpaling memperhatikan setiap sudut kamar.

"Apa aku terlalu kejam padanya? Kamar ini terlalu kecil" kata Pram dalam hati.

Menjelang siang, Reyna akhirnya sadar dari pingsannya. Mata Reyna menyipit sambil memijit kecil kepalanya yang terasa berat. Reflek bibir Reyna manyun begitu melihat alat kompres dan obat diatas nakas yang berada disamping ranjangnya. Belum selesai Reyna berpikir, tiba-tiba Pram datang.

"Kamu sudah bangun. Sekarang bereskan semua pakaian kamu" perintah Pram pelan.

Reyna tersentak. Matanya yang menyipit tadi kini melotot lebar.

"Maksud kamu? Kamu mau mengusirku?" tanya Reyna tak percaya ternyata Pram lebih kejam dari apa yang ia pikirkan.

"Jangan banyak nanya. Bereskan saja"

"Tapi badanku masih lemas." tolak Reyna pura-pura. "Akukan begini juga karna kamu" sambungnya.

"Gak usah drama. Ok kalau kamu gak mau, biar saya saja yang bereskan"

Pram menurunkan koper yang ada diatas lemari kemudian memasukkan acak pakaian Reyna ke dalam koper. Reyna hanya terpaku melihat aksi Pram. Dia tidak habis pikir Pram begitu tega ingin mengusirnya disaat dirinya baru saja sadar dari pingsan.

Tak lama Pram berbalik badan seraya menenteng pakaian dalam Reyna. Sontak Reyna bangkit dari rebahannya bergerak cepat merebut pakaian dalamnnya dari tangan Pram.

"Apaan sih. Lancang banget pegang-pegang barang orang" celah Reyna kesal dan malu.

"Jadi sekarang kamu sudah tidak lemas lagikan. Bereskan semuanya. Saya tunggu di luar. 5 menit" kata Pram dingin.

Tok tok tok

"Iya bentar. Ihss ribet amat sih" Reyna terus menggerutuk memaki Pram dalam hati selama membereskan barang-barangnya. Ia kesal banget kenapa dulu mau menikah dengan cowok seperti Pram.

Dingin, kejam, tegaan, kaku, selalu berbuat semaunya, suka bikin aturan sendiri. Tidak ada sifat Pram yang Reyna suka. Baginya semua yang ada pada Pram bernilai minus.

"Dan bisa-bisanya aku sempat baper padanya. Sadar Reyna sadar. Dia itu cowok gila. Ahhh" Reyna menyesal frustasi sambil mengacak-acak rambutnya.

Pram hanya tersenyum tipis mendengar semua apa yang Reyna katakan. Reyna tidak menyadari kalau pintu kamarnya sedikit terbuka.

5 menit kemudian....

Reyna berjalan duluan mengacuhkan Pram yang masih bersender di dinding kamarnya. Ia melangkah pasti ke arah pintu keluar utama. Tidak sama sekali berbalik badan. Ia sudah bertekat untuk tidak melihat ke belakang.

"Berhenti" teriak Pram. "Berhenti disitu" lanjutnya.

Reyna tak bergeming.

"Untuk apa aku menurutinya lagi. Dia juga mau mengusirku" pikir Reyna.

"Jangan pergi, Reyna"

Seketika langkah Reyna terhenti. Jantungnya berdetak lebih kencang dari biasanya. Wajahnya terasa panas dan hatinya berdebar tak menentu. Reyna berusaha berpikir jernih bertanya pada diri sendiri. Apakah yang baru didengarnya beneran berasal dari mulut Pram? Reyna berbalik ragu.

"Saya menyuruh kamu membereskan pakaian bukan bearti kamu harus pergi dari sini"

"Lalu?" sahut Reyna cepat.

"Ikuti saya" ajak Pram menaiki anak tangga.

Dengan patuh Reyna mengekor di belakang Pram. Bertanya-tanya apa yang sebenarnya yang akan dilakukan Pram padanya. Keduanya tepat berhenti di depan kamar yang berada cukup jauh dari kamar Reyna terdahulu. Dilantai 2 berdekatan dengan kamar Pram.

"Masuklah"

Reyna berdecak kagum. Kamar itu 3 kali lebih luas dari kamarnya yang ada di lantai bawah. Tempat tidurnya juga besar, ada meja rias yang sudah ia inginkan sejak dulu, ada balkon juga dengan dinding kaca sebagai pembatasnya. Ini benar-benar kamar impiannya.

"Mulai sekarang kamu tidur disini" jelas Pram singkat sebelum berlalu ke kamarnya.

Reyna berbunga-bunga saat ini. Ia menjatuhkan diri dikasur empuk berlapiskan selimut putih. Tidak pernah menyangka impiannya memiliki kamar idaman kini bisa terwujud. Reyna menggoyang-goyangkan kakinya, membentangkan lebar kedua tangannya, kepalanya miring ke kiri kanan sebagai ekspresi bahagianya.

"Empuk sekali. Nyaman sekali" puji Reyna tak henti atas semua fasilitas baru yang didapatnya.

"Oh ya aku lupa bilang makasih padanya" Reyna sedikit menyesal karna sempat berpikir Pram akan mengusirnya dan bersikap kurang ajar tadi.

Tok tok tok

"Ada apa lagi?" tanya Pram malas dengan wajah kantuknya.

"Hmm terima kasih kamar barunya. Aku suka" ucap Reyna dengan muka gemas dan suara manjanya.

"Terus?" sahut Pram.

"Ya cuman mau bilang makasi aja"

"Udahkan. Ganggu tidurku saja" Pram membanting pintu keras kamarnya.

"Tu...."

Hmmm

Reyna membuang nafas dongkol. Ia sebenarnya ingin bicara lebih lama lagi dengan Pram.

...------------------------------------...

Hari ini Reyna kembali bekerja seperti biasanya setelah kemarin sempat cuti dengan alasan sakit. Untungnya Reyna punya bos baik yang tidak terlalu mempermasalahkan keabsenannya kemarin.

"Na kemarin ada yang cari kamu. Cowok tinggi, ganteng banget. Pacar kamu ya?" tanya Mira penasaran. Mira salah satu teman akrab Reyna di kafe Doria.

"Siapa?"

"Nah aku gak tanya namanya. Pokoknya badannya tinggi, dadanya bidang, pundaknya tegap banget, ganteng, pokoknya laki banget dah" jelas Mira antusias menjelaskan detail sosok pria yang mencari Reyna kemarin.

"Apa mungkin? Ahh tapi gak ah" Reyna menepis kecurigaannya. Rasanya tidak mungkin pria yang diceritakan Mira itu Pram. Mana mungkin coba Pram mencarinya.

"Tahu gak Na saking penasarannya, aku sampe ngikutin dia ke mobil dan ternyata....."

"Mobilnya warna apa?" potong Reyna.

"Hitam"

Entah kenapa Reyna semakin yakin kalau orang itu Pram walaupun sebenarnya banyak mobil yang berwarna hitam tapi ciri-ciri yang dipaparkan Mira sangat mengarah ke Pram.

"Pagi pak Pram" sapa Diana menggoda mendekati Pram yang tampak sibuk membaca berkas didepannya.

Diana bermaksud memberi kecupan pagi di bibir Pram namun dengan sigap Pram menghindar.

"Kenapa pak?" tanya Diana heran. Tidak biasanya Pram menolak dirinya.

Pram tersenyum sinis lalu mengalihkan pandangannya pada Diana.

"Kamu pikir kamu siapa? Jangan berharap lebih pada saya. Bagi saya kamu sama saja seperti karyawan yang lainnya" ucap Pram ketus.

"Tapi...kitakan"

"Jangan karna kita pernah tidur bersama lalu kamu berpikir saya milik kamu. Saya milik saya sendiri" tambah Pram tegas.

"Tapi pak...."

"Sekarang kembali bekerja. Saya tidak suka urusan pribadi dibawa-bawa ke kantor. Ngerti"

Diana keluar dengan perasaan marah. Ia tahu Pram tidak pernah serius dengannya dan ia sudah siap jika hari ini datang, hari dimana Pram mencampakkannya. Tapi tetap saja Diana merasa kesal diperlakukan seperti ini oleh bosnya itu.

"Reyna ini gaji kamu bulan ini plus bonusnya" kata Bastian bos Reyna. "Dan mulai bulan depan gaji kamu akan dikirim ke rekening" sambung Bastian yang disambut senyum lebar Reyna.

Reyna menutup mulutnya tak percaya. Ia sama sekali tidak menyangka bisa punya pekerjaan tetap, bos yang baik, apalagi mulai minggu depan semua gajinya akan masuk ke rekening pribadinya.

"Akhirnya setelah sekian lama, aku punya rekening pribadi juga" kata Reyna dalam hati. Ia sangat bahagia sampai ingin berteriak sekarang. Tapi tidak mungkin itu dilakukannya. Bisa-bisa langsung dipecat.

Sebelum pulang ke rumah, Reyna menyempatkan waktu membeli gorengan pinggar jalan favoritnya. Ia akan membawak gorengan itu ke rumah untuk dimakan bersama Pram.

"Tapi apa dia mau ya makan gorengan pinggir jalan seperti ini. Diakan pemilih soal makanan" gumam Reyna ragu. "Ahh yasudahlah kalau dia gak mau, aku makan sendiri saja" lanjut Reyna riang.

Reyna bersenandung kecil sambil menenteng kantong gorengan yang dibelinya tadi. Dan sebentar lagi ia sampai ke rumah. Rasanya tidak sabar bertemu Pram si cowok menyebalkan.

"Semoga saja dia sudah pulang" harap Reyna.

Saking bahagianya, Reyna tidak menyadari ada mobil melaju tak terarah didepannya.

"Aahhh" teriak Reyna nyaring.

Mobil itupun menabrak pohon dibelakang Reyna. Untung saja mobil bergeser arah dan Reyna selamat dari maut.

Reyna bangkit mendekati mobil. Pintu mobil terbuka dan ada sosok pria berbadan tinggi keluar dari mobil yang bagian depannya tampak rusak parah. Pria itu terlihat baik-baik saja dan hanya ada sedikit memar di keningnya.

"Kamu tidak apa-apa?" tanya Reyna khawatir.

"Saya gak papa" balas si pemilik mobil. Ia lalu mamandangi mobil na'as nya.

"Sebaiknya kamu ke rumah sakit. Itu ada memar di kening kamu" saran Reyna.

"Terima kasih" ucap si pria sambil memandang wajah cantik Reyna cukup intens.

"Kamu gak papa kan saya tinggal sendiri. Soalnya saya harus pulang sekarang"

"Tama. Kamu?" Tama menjulurkan tangannya.

"Reyna" keduanya berjabat tangan dengan senyum simpul masing-masing. "Permisi"

...--------------------------------...

Waktu telah berada di angka 19.00 pm tapi Pram belum juga pulang. Reyna menunggu tak sabar sedari petang. Ia sengaja tidak masak dan hanya ingin menghabiskan gorengan yang dibelinya bersama Pram. Dan akhirnya tepat jam 19.30 pm Pram pulang juga. Reyna membiarkan Pram mandi dulu setelah itu baru ia akan mengajak Pram menyantap gorengan dari gaji pertamanya.

Tok tok tok

"Taraaa" ucap Reyna ceria seraya mengankat kantong putih ditangannya.

"Gorengan" balas Pram datar.

"Iya, hari ini aku gajian. Ayo kita habiskan gorengan ini" ajak Reyna penuh semangat.

"Kamu tunggu dipinggir kolam. Saya akan menyusul"

"Lama tidak?" sambar Reyna.

"Cuman sebentar"

Reyna turun duluan sedangkan Pram kembali ke kamarnya mengambil sesuatu.

Detik ke detik terus berjalan...

Dipinggir kolam bersama bintang yang bersinar terang, dua insan yang sudah terikat dalam pernikahan yang suci itu menyantap gorengan yang sudah tidak hangat lagi. Sesekali Reyna melirik Pram. Ia tidak percaya Pram mau makan gorengan yang dibelinya tanpa bertanya ia beli dimana. Ternyata masih banyak yang Reyna tidak tahu tentang Pram. Semakin kesini Reyna semakin penasaran dengam suaminya itu.

"Hmm Mira bilang ada seorang pria mencari aku kemarin dan ciri-ciri yang dia sebut itu mirip dengan...."

"Iya itu saya" potong Pram.

Pram lalu berdiri dan Reyna ikut berdiri juga.

"Kenapa? Apa kamu..."

"Jangan ikuti perasaan kamu. Saya melakukannya karna saya tidak mau disalahkan kalau terjadi sesuatu sama kamu. Saya tidak punya perasaan yang special untuk kamu seperti yang kamu harapkan. Jadi lupakan apa yang sudah terjadi termasuk untuk yang saat ini" Pram berjalan meninggalkan Reyna sendiri dipinggir kolam namun...

"Terus kenapa di pantai kemarin kamu menciumku?" tanya Reyna nyaring. Dadanya sesak. Reyna merasa perasaanya terus dipermainkan oleh Pram. "Kenapa kamu sengaja membuatku bingung?" pipi Reyna terasa panas begitupun dengan matanya.

Pram berbalik lalu mendekati Reyna.

"Saya sudah bilang jangan tertipu dengan perhatian saya. Semua yang saya lakukan karna saya tidak mau disalahkan. Dan soal ciuman itu, kita sudah sepakat untuk tidak membahasnya lagi"

"Tapi sekarang aku ingin membahasnya. Apa sangat mudah bagi kamu melakukan itu?" dada Reyna bergerak naik turun. Nafasnya bergemuruh tak karuan.

Tersirat senyum misterius dari sudut bibir Pram. Senyum yang tidak bisa Reyna artikan.

"Kamu jangan naif. Kamu juga menikmati ciuman itu. Benar, mudah bagi saya melakukan itu. Kamu mau bukti"

Pram maju satu langkah menghapus jarak dirinya dengan gadis polos dihadapannya. Ia lalu menangkup wajah mulus Reyna dengan tangan lebarnya. Menarik sedikit lalu mendaratkan kecupan lembut di bibir ranum Reyna.

Kecupan singkat dan hangat. Pram memberi jarak lagi lalu memperhatikan wajah Reyna yang enggan menatapnya. Pram kembali ingin mencium Reyna namun.....

"Jika yang pertama untuk bukti lalu yang kedua untuk apa?" tanya Reyna serius sebelum Pram menciumnya untuk yang kedua kali. Kali ini Reyna dengan berani menatap dua pasang mata coklat kekuningan milik Pram.

Terpopuler

Comments

Tri Wahyuni

Tri Wahyuni

idih pram sdh mulain berani cium2 Reyna ...

2022-06-18

0

Icon

Icon

seru cerita nya kasihan wanitanya

2022-06-15

1

Rice Btamban

Rice Btamban

tetap semangat Thor

2022-06-12

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!