Pram melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh melewati beberapa mobil di depannya. Tak menghiraukan bunyi nyaring bel mobil yang memberi peringatan padanya. Hanya butuh waktu 10 menit, Pram telah sampai di halaman rumah mewahnya. Ia memanggil kencang, memeriksa setiap sudut rumah namun sehelai rambut Reynapun tak terlihat. Pram menaiki anak tangga memeriksa kamar Reyna, barangkali sosok yang ia cari ada disana namun hasilnya nihil. Kembali Pram mendial nama Reyna di layar ponselnya tapi tetap tidak ada jawaban. Tak jauh dari tempatnya berdiri tepatnya di kasur Reyna, Pram mendapati ponsel Reyna disana. Jadi sejak tadi Pram melakukan hal yang sia-sia. Mau seribu kali menghubungi Reyna tidak akan diangkat.
"Kamu dimana Na? Kemana aku harus cari kamu? Harusnya kamu tunggu aku dulu. Biar aku jelasin semuanya" Pram memainkan jari-jarinya di wajah, mengacak frustasi rambutnya. Kali ini ia merasa Reyna tidak akan memaafkannya lagi. Kesalahannya kali ini terlalu fatal.
Di lain tempat Reyna duduk meringkuh di bawah pohon besar yang baru beberapa bulan yang lalu menjadi tempat favoritnya. Tempat yang akan langsung mengingatkannya pada seorang pria yang selalu berusaha menghiburnya membuatnya bahagia, menghapus airmatanya, dan pria yang selalu siap meminjamkan pundak untuknya bersandar.
"Tama kamu dimana?" isak tangis Reyna belum berhenti. "Aku harus gimana sekarang? Tidak ada yang aku percaya. Aku harus cerita sama siapa? Tama kamu bilang kamu akan selalu ada saat aku membutuhkanmu. Mungkin ini tidak adil untuk kamu tapi sekarang aku butuh kamu. Bisakah sekarang kamu ada disini?" Reyna menangis pilu tidak tahu harus mengadu pada siapa. Tidak tahu apa yang harus dilakukan.
"Bisa"
Seketika Reyna mengankat kepalanya. Ia sangat mengenal suara itu tapi apa mungkin Tama ada disini. Perlahan Reyna menggerakkan ke kiri kepalanya mencari sumber suara itu.
Tidak ada siapapun.
Reyna mengganti arah kepalanya ke kanan namun tidak siapapun juga.
"Aku disini" suara itu kembali hadir.
Mata Reyna melotot tak percaya.
"Tama. Ini beneran kamu?"
"Beneranlah masa hantu" balas Tama santai lalu duduk di sebelah Reyna.
Untuk beberapa detik Reyna memperhatikan seksama wajah Tama. Ia masih belum yakin dengan penglihatannya.
"Jadi kamu beneran menganggap aku hantu?"
"Bukan...bukan gitu. Aku masih gak percaya aja kamu ada disini. Bukannya kamu bilang mau balik ke Amerika"
"Mana mungkin aku ninggalin cewek cengeng sendirian disini" ledek Tama bercanda.
"Aku maksud kamu?"
"Siapa lagi. Setiap kita bertemukan kamu selalu nangis" sahut Tama cepat.
"Issh mana ada gitu. Pertama kali kita ketemu aku gak nangis" sangka Reyna membantah argument Tama.
"Tapi setelah itu kamu selalu nangis" kata Tama dengan suara deepnya.
Tama dan Reyna saling melepas pandang dalam. Siulan angin serta tarian dedaunan menciptakan keheningan yang sejuk antara keduanya. Tampak jelas kerinduan mendalam tersirat dari pancaran bola mata Tama.
"Kenapa kamu tidak pergi ke Amerika?" tanya Reyna ingin tahu.
"Aku disini, di Amerika atau di tempat lain, hasilnya akan sama saja. Tidak mudah membuang perasaan suka pada orang lain. Aku masih menyu..."
"Tama kamu tahu aku tidak mungkin membalas perasaan kamu" potong Reyna yang sudah tahu ujung pembicaraan pria di hadapannya.
"Aku kembali bukan untuk memaksa kamu membalas perasaanku. Aku hanya akan bilang kalau aku masih menyukai kamu. Rasa itu belum berubah sejak pertama kita bertemu"
"Tama aku minta maaf selalu bikin kamu..."
"Sekarang bukan saatnya bahas tentang aku. Kamu bilang butuh aku disini. Jadi apa yang terjadi? Kenapa kamu nangis seperti orang bodoh tadi?" Tama menyudahi pembahasan tentang dirinya karna semakin dibahas maka akan membuatnya terlihat semakin memyedihkan.
Reyna terdiam sesaat coba berpikir ulang. Apakah harus ia ceritakan masalah rumah tangganya pada Tama? Apakah itu keputusan yang tepat? Apalagi saat ini hubungan Tama dan Pram sedang renggang. Bukankah ini akan semakin menambah masalah.
"Tidak perlu cerita jika kamu masih ragu. Aku juga tidak akan memaksa kamu" ingat Tama menjawab keraguan Reyna.
Reyna mengangguk setuju. Inilah yang Reyna suka dari Tama, sosok yang tidak pernah memaksanya dan selalu ada untuknya.
Tetiba saja perut Reyna berbunyi memberi tanda agar di isi sesuatu.
"Go kita cari makan" ajak Tama segera berdiri.
Reynapun menampakkan wajah manjanya sambil memainkan mulutnya membuatnya terlihat sangat menggemaskan. Lagi-lagi hati Tama dibuat berdebar dengan tingkah imut itu.
"Kenapa sih kamu selalu memahami aku?" tanya Reyna terharu.
"Karna aku menyukai kamu" ucapan Tama kembali membuat Reyna mematung. Senyum manisnya seketika hilang berganti wajah muram. "Tidak perlu merasa bersalah. Ayo pergi. Kamu akan kelaparan jika tetap disini" Tama menarik tangan Reyna menuntun wanita yang selalu membuat hatinya berdebar itu mengikutinya.
"Tunggu dulu. Terus motor pak Sandi gimana?"
"Ya tinggal saja disini"
"Kok ditinggal sih. Ntar kalau hilang dicuri orang gimana?" kata Reyna bingung. "Ya udah kalau gitu kamu naik mobil, aku naik motor. Ntar kita ketemu di tempat makan"
"Mana bisa gitu" sahut Tama tak setuju.
"Terus gimana?"
Tidak butuh waktu lama, permasalahanpun selesai. Tama memilih meninggalkan mobilnya lalu naik motor bersama Reyna. Sikap serta ketenangan Tama dalam menyelesaikan masalah semakin membuat Reyna kagum pada temannya itu.
"Walaupun kalian berteman baik tapi sikap kamu dengan Pram sangat berbeda. Kamu salalu bisa membuatku tenang. Kehadiran kamu juga membuatku tidak merasa kesepian. Kamu selalu ada untukku di saat-saat burukku. Terima kasih Tama. Kamu teman terbaik yang pernah aku miliki" ujar Reyna dalam hati.
Waktu terus berjalan dan telah menunjukkan pukul 19.15 pm.
"Terus kamu pulang gimana?"
"Gampang, aku tinggal telpon sopirku buat jemput atau aku bisa naik taksi. Kamu tidak perlu khawatir" jawab Tama tenang.
"Oh gitu. Ya udah kalau gitu selamat malam"
"Malam" balas Tama canggung disertai senyum menawannya.
"Tama tunggu"
Tama berbalik badan.
"Terima kasih untuk hari ini. Lain kali aku yang akan mentraktir kamu makan"
Tama mengangguk dengan senyum yang semakin mengembang. Andai saja Reyna bisa mendengarkan detak jantungnya sekarang yang sedang berdetak kencang layaknya pelari yang baru saja mencapai garis finish.
...---------------------------------------...
Hhmmmmm
Reyna membuang nafas panjang sebelum memasuki rumah. Ia harus menyiapkan diri juga mentalnya untuk apa yang akan terjadi setelah ini.
Perlahan Reyna melangkah menuju kamarnya seraya memperhatikan kondisi rumah yang sepi. Ada sedikit kecewa yang Reyna rasakan.
"Dimana dia? Apa belum pulang?" tanya Reyna membatin.
"Duh Reyna kenapa sih kamu masih mencarinya? Kamu tidak sepenting itu untuknya"
"Hmmmm" dehem Pram nyaring.
Lampu ruang tv menyala menampakkan sosok Pram disana.
"Baru pulang?"
Reyna membisu.
"Kemana saja baru pulang sekarang? Pergi sama siapa?" tanya Pram menyambung sambil berjalan mendekati Reyna yang ada disisi tangga.
Reyna masih diam.
"Kamu tidak mau menjawabku?"
"Bisa gak sih jangan bicara sekarang. Aku capek mau tidur" balas Reyna malas.
Mentari menyapa pagi yang hangat. Langit tampak cerah hari ini padahal waktu baru berjalan di angka 08.00 am.
Krekkk
Tubuh Reyna refleks mundur ke belakang begitu mendapati Pram berdiri di depan pintu kamarnya.
"Astaga. Kamu ngapain sih disitu?"
"Nunggu kamu"
"Ngapain nunggu aku. Gak jelas banget"
"Kita harus bicara..."
"Tentang?" potong Reyna sigap.
"Diana"
"Males" Reyna melewati Pram dengan muka masamnya.
Pram menarik tangan Reyna mendekat lagi padanya.
"Apaan sih narik-narik gini" rontak Reyna tak suka.
"Jika saya tidak melakukan ini, kamu tidak akan mendengarkanku. Itu bukan anak saya"
"Terus yang kamu bilang ke dokter kemarin itu apa? Kamu lupa? Kamu sendiri yang bilang itu anak kamu"
"Saya tidak tahu tapi saya yakin itu bukan anak saya. Percaya sama saya. Saya akan buktikan"
Reyna menghentak keras tanggannya hingga terlepas dari cengkraman Pram.
"Gimana aku bisa percaya sama kamu. Perkataan kamu saja berubah-ubah. Siapa yang bisa percaya?"
"Saya tidak minta pada siapapun. Saya hanya minta sama kamu untuk percaya. Hanya kamu"
Reyna menatap nanar sepasang mata pria di depannya. Ia menangkap ketakutan bersamaan rasa khawatir disana.
"Kamu membuatku bingung. Kamu selalu meminta sesuatu yang tidak masuk akal bagiku. Kamu sangat menyebalkan. Kamu..."
"Saya lapar" sambar Pram ditengah ucapan Reyna.
Hal ini tentu saja semakin membuat Reyna naik pitam. Bagaimana mungkin disaat dirinya sedang menggebu berbicara, sedang mengeluarkan uneg-uneg lalu lawan bicaranya bilang lapar.
"Wah sepertinya dugaanku benar. Kamu punya kepribadian ganda. Brengsekk" Reyna berjalan menuruni anak tangga meninggalkan Pram dengan perasaan marah.
Sedangkan Pram hanya tersenyum kecil melihat kekesalan istrinya itu. Pram sebenarnya tidak lapar. Hanya saja ia tidak tahan mendengar Reyna terus mengomel. Namun kebawelan Reyna itu semakin membuat Pram penasaran.
"Wah sepertinya enak" puji Pram begitu melihat penampilan masakan Reyna.
Reyna melepaskan celemeknya setelah selesai menghidangkan makanan di meja.
"Terus kamu mau kemana?" cegat Pram memegang tangan Reyna.
"Kamar"
"Disini saja temanin saya makan" ajak Pram lembut.
"Jadi aku harus liatin kamu makan gitu?"
"Kamukan juga belum sarapan. Ya udah kita makan bereng"
"Aku belum lapar. Kamukan bukan anak kecil, ngapain pake minta di temanin segala"
"Tetap disini, please"
"Kenapa sih aku mudah banget luluh padanya? Padahal kesalahannya kali ini besar banget. Harusnya aku lebih bar-bar marahnya. Payah banget sih kamu Na" gumam Reyna kesal pada dirinya sendiri.
Reyna memilih duduk bersebrangan dengan Pram. Sesekali Reyna memandangi Pram yang sedang menikmati masakannya. Dan dengan sigap Reyna mengalihkan pandangannya begitu Pram akan menciduknya.
"Dia memang sangat tampan" gumam Reyna kagum dengan paras suaminya itu.
"Nikmati saja. Saya tahu kok kamu ingin sekali melihat wajahku lama-lama"
"Dih pede banget. Hemm kenapa kamu yakin kalau itu bukan anak kamu?" Reyna sebenarnya tidak mau membahasnya lagi tapi ia juga penasaran dengan jawaban Pram.
"Kamu yakin gak bakalan sakit hati dengar jawaban saya?"
"Ngapain harus sakit hati? Katakan saja"
"Saya selalu pakai pengaman setiap kali melakukan itu" jawab Pram jujur.
Seketika Reyna memicingkan matanya mendengar jawaban enteng Pram.
"Kenapa sih kamu jadi cowok brengsek banget?"
"Saya pernah cerita sama kamu" sambung Pram.
"Kapan? Kamu gak pernah cerita" Reyna coba mengingat lagi. "Oh jangan-jangan karna kamu di selingkuhin Tari ya. Kamu sakit hati terus kamu jadi suka mainin cewek"
Pram menghentikan makannya sebentar lalu melanjutkannya lagi.
"Emang sampe segitunya ya kamu trauma karna di selingkuhin?"
"Kamu sendiri kenapa percaya kalau itu bukan anakku?" balas Pram bertanya.
"Siapa yang percaya?"
"Kamu ada disini. Memasak untuk saya. Itu artinya kamu percaya. Apa karna kamu sudah jatuh cinta sama saya?"
Reyna tertegun dengan debaran hati tak menentu. Pertanyaan Pram tak terduga baginya. Itu sama saja seperti guru yang tanpa pengumuman memberikan ulangan harian pada murid-muridnya.
"Kamu sendiri kenapa ngotot banget agar aku percaya sama kamu?"
"Pertanyaan dibalas dengan jawaban bukan dengan pertanyaan lagi. Jika ada yang bertanya maka kamu harus jawab. Gitu aja gak paham"
"Kata-kata itu harusnya buat kamu. Kalau ditanya jawab bukan balik nanya" ucap Reyna membalikkan ucapan Pram.
"Saya belum ada jawaban dari pertanyaan kamu. Kamu?" ujar Pram serius.
"Sama" balas Reyna singkat. "Oh ya kapan kamu akan lanjutin ceritanya"
"Cerita apa?"
"Tentang bagaimana Tari bisa meninggal"
...---------------------------------------...
Pram melepas jas navy nya lalu duduk di kursi kebesarannya lalu menyeruput secangkir teh hangat yang telah di sediakan. Hari ini akan jadi hari yang menyibukkan bagi Pram karna banyak data yang harus ia pelajari. Apalagi sekarang ia belum mendapatkan sekertaris baru pengganti Diana. Sekarang Pram harus menghandlekan beberapa jadwalnya sendiri.
"Permisi pak Pram"
"Ya masuk"
Sosok pria bertubuh tegap memasuki ruangan Pram.
"Ini pak" pria itu menyodorkan amplop coklat.
Pram membuka amplop itu. Matanya seksama memandang satu persatu foto di tangannya.
"Foto ini kapan diambil?"
"3 hari yang lalu pak. Saya mengawasinya dulu sebelum memberikan bukti ini pada pak Pram. Dia cukup intens bertemu dengan pria itu" jelas pria suruhan Pram. "Beberapa kali juga saya melihat dia tidur di rumah pria itu" sambungnya.
Pram mengangah tak percaya. Ternyata selama ini kecurigaannya benar, Diana ada main di belakangnya. Pram merasa bodoh. Bisa-bisanya ia sempat goyah.
"Aku semakin yakin, itu bukan anakku" ucap Pram dalam hati.
"Saya mau bukti yang lebih kuat. Kamu mengertikan maksud saya" pinta Pram dengan sorot mata menuntut.
"Baik pak"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 41 Episodes
Comments
Rice Btamban
lanjutkan Thor
2022-06-12
1
Mira Bae
lanjut thor
2022-05-11
1