Ini Diriku

Pram membuka matanya perlahan mendapati Reyna dihadapannya dalam pelukan hangatnya. Pram memperhatikan wajah polos wanita didepannya itu dari jarak yang sangat dekat bahkan ia bisa merasakan hembusan nafas Reyna. Setiap detail wajah Reyna tak luput dari pantauannya. Bulu mata yang lentik dan panjang, bibir merah muda yang merona, hidung mancung kecil yang indah. Bagaimana mungkin bisa sempurna sedangkan sejak tinggal bersama, Pram belum pernah melihat Reyna melakukan perawatan di salon.

"Cantik" puji Pram seraya memainkan jempolnya di bibir menggoda Reyna.

"Siapa?" sahut Reyna yang tiba-tiba membuka matanya.

Sontak Pram menjadi kikuk layaknya orang yang ketahuan dari persembunyian. Bergerak tak jelas dan canggung. Citra Pram yang dingin seketika hilang dihadapan Reyna.

"Hmm gak...gak bukan...bukan kamu" sangkal Pram grogi.

"Memang siapa yang bilang aku. Aku tanya siapa? Kan kamu bilang cantik sambil liatin wajah aku" kata Reyna menggoda sengaja membuat Pram semakin kikuk. Reyna ingin tahu sampai mana Pram akan bertahan dengan gengsinya itu.

Pram semakin tidak tahan melihat mimik manja Reyna.

"Hah apa dia sengaja memajukan bibirnya untuk menggodaku?" tanya Pram dalam hati. Dan meskipun salah tingkah, mata Pram tak lepas memperhatikan bibir Reyna. Hatinya berdebar.

Reyna mengambil posisi bergerak maju lalu mendaratkan kecupan singkat di bibir Pram yang padat yang diakhiri senyum tipis Reyna.

"Jangan takut. Semalam kita gak ngapa-ngapain kok" Reyna menyingkap selimut yang menutupinya lalu bangkit dari kasur namun dengan sigap Pram menarik Reyna kembali di kasur.

"Saya tidak takut dan tidak takut apapun" jelas Pram dengan sorot mata serius.

"Aku tahu" balas Reyna singkat disertai anggukan mengiyakan. "Keluarlah aku mau mandi" sambungnya bergegas ke kamar mandi.

Pram membuka horden kamarnya. Membuka pintu kaca membiarkan udara segar masuk ke dalam kamarnya. Ia berdiri di pinggir pagar pembatas balkon memejamkan mata merasakan udara pagi yang dingin menembus kulit arinya.

"Mas Pram" Pram tersentak dari lamunannya. Pundaknya bergedik . Suara itu masih menghantuinya. Pram belum bisa melupakannya bahkan setelah waktu berlalu 10 tahun Pram tetap tidak bisa melupakan kejadian na'as itu.

"Andai saja waktu itu aku datang tepat waktu" sesal Pram.

Pram lalu teringat kejadian di pantai saat ia pergi bersama Reyna. Ia teringat bagaimana traumanya hilang dan dirinya menjadi lebih tenang saat mencium Reyna. Begitupun semalam, mimpi buruk tak lagi hadir dalam tidurnya.

Hahhhh

Pram membuang nafas berat lalu mengusap kasar wajahnya. Ia tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi pada dirinya. Kenapa Ia bisa menjadi lebih tenang saat bersama Reyna tepat disaat rasa trauma kembali menyergap dirinya.

Setelah bersiap-siap dengan pakaian kantornya, Pram menuruni anak tangga seraya memperhatikan kondisi rumah yang sepi. Pagi-pagi begini biasanya Reyna ada di dapur memasak sarapan pagi. Ya walaupun Pram juga tidak pernah mau makan masakan Reyna namun biasanya Reyna tetap masak. Pram lalu berjalan ke bagian belakang dan benar saja ia menemukan Reyna di sana.

"Apa yang kamu lakukan?" tanya Pram mendekat.

"Nyiram tanaman" jawab Reyna santai.

"Hmmmm" Pram pura-pura batuk. Ia masih merasa canggung. " Kamu tidak buat sarapan?" sambungnya.

"Aku sudah makan mie instan tadi"

"Lalu saya?"

Seketika Reyna melihat ke arah Pram dengan tatapan aneh.

"Kamukan pernah bilang gak mau makan masakan aku. Ya jadi aku masak buat diri aku sendiri" kata Reyna apa adanya. Baginya tak ada gunanya masak banyak-banyak karna semuanya tidak akan habis ia makan sendiri. Sayang mubazir.

Pram sedikit melonggarkan dasinya.

"Saya lapar. Buatkan saya sarapan" pinta Pram dengan menahan kesalnya.

"Tapi di kulkas gak ada bahan. Aku gak punya uang buat belanja"

"Lalu apa gunanya saya kasih kamu Black Card?" sambar Pram makin kesal.

"Memangnya kartu itu bisa dipakai belanja di pasar tradisional?"

Dengan cekatan Pram melepas dasinya lalu membuka satu kancing kemejanya.

"Memangnya siapa sih yang suruh kamu belanja di pasar tradisional hah? Kamu itu selalu bikin saya kesal"

"Ya aku tahu. Aku pernah kok ke pasar swalayan tapi harga sayurnya mahal-mahal. Lagian sama saja mau di pasar tradisional atau supermarket kualitas juga sama aja. Jadi buat apa ngeluarin duit banyak-banyak" racau Reyna menjelaskan.

Pram merogoh dompetnya lalu memberikan kartu atm kepada Reyna.

"Ini pakai. Nanti saya kirim sandi nya. Kamu bisa beli sayur di pasar tradisional seperti yang kamu mau. Sekarang masakkan saya mie instan" sikap Pram dalam menyelesaikan perdebatan mereka membuat Reyna makin terpesona dengan suami dinginnya itu. Dingin tapi bikin kangen.

"Jadi sekarang kamu sudah mau makan masakan aku?"

"Bisa gak sih gak usah banyak nanya" ucap Pram dengan tatapan dingin seperti biasanya.

Reyna menjawab dengan melingkar ibu jari dan jempolnya seraya memicingkan mata kirinya.

"Kenapa dia semakin menggemaskan?" tanya Pram dalam hati.

......--------------------------------......

"Pak Sandi, Reyna nya ada?"

"Pak Tama. Ada pak, mau saya panggilkan" tawar Sandi.

"Gak usah pak. Boleh saya langsung masuk aja pak?"

Sandi membuka pagar yang menjulang membiarkan Tama masuk bersama mobil mahal berwarna putihnya. Sampai didepan pintu, Tama menekan bel antusias.

"Tama. Kok kamu ada disini?"

"Tadi kebetulan lewat sini jadi sekalian mampir. Oh ya kerjaan kamu sudah selesai belum?" jawab Tama berbohong. Sebenarnya ia sengaja datang untuk mengajak Reyna jalan.

"Sudah. Ini aku mau ke pasar beli sayur"

"Oh ya udah kalau gitu ikut saya saja" ajak Tama berharap Reyna setuju.

"Terus kamu kesini mau nemuin Pram kan. Emmh maksud saya pak Pram. Dia udah berangkat ke kantor"

"Iya tadinya gitu cumankan Pram nya gak ada. Jadi ganti saja nemenin kamu beli sayur" ujar Tama canggung.

"Oh bisa diganti gitu ya" ledek Reyna dengan tawa kecilnya.

"Bisa aja asal niat" balas Tama disertai senyum salah tingkahnya. " Jadi gak beli sayurnya"

"Jadi donk. Bentar ya aku ambil keranjang belanja dulu"

Dipertengahan jalan, Reyna meminta Tama untuk berhenti sebentar. Ia mau menarik uang dari atm yang diberi Pram tadi pagi. Tama merasa curiga dengan status Reyna. Masak pembantu megang kartu atm, narik uang pula sebelum belanja.

Dengan sabar Tama menemani Reyna belanja sayur mayur di pasar tradisional. Tama mengingat kembali kapan terakhir dia pergi ke pasar seperti ini. Rasanya sudah lama sekali. Di Amerika Tama jarang masak dan kalaupun mau masak, Tama belanja bahan di pasar modern.

"Hallo pak Sandi"

"Ya pak ada apa?"

"Reyna dimana ya pak? Saya telpon gak di angkat" tanya Pram melalui telpon.

"Oh bu Reyna pergi belanja ke pasar pak sama pak Tama"

"Tama?"

"Iya pak. Pak Tama yang waktu itu kesini sama bu Reyna"

Pram menutup sambungan telpon lalu memakai kembali jas nya.

"Pak Pram mau kemana?" tanya Diana.

"Saya mau pulang. Oh ya meeting pagi ini ditunda sampai makan siang"

"Tapi pak. Memangnya ada apa pak? Kok pak Pram buru-buru"

"Bukan urusan kamu" jawab Pram ketus yang langsung membuat Diana terdiam.

Pram menekan lama bel mobilnya begitu sampai didepan gerbang rumahnya.

"Reyna...Reyna" panggil Pram keras.

Tak ada jawaban. Kondisi rumah hening. Setelah 10 menit menunggu, akhirnya Reyna pulang juga. Pram buru-buru menghampiri Reyna. Ada Tama disamping Reyna menenteng keranjang belanja yang sudah terisi macam-macam sayuran dan lauk pauk.

"Pak Pram sudah pulang? Kok cepat banget"

"Kenapa memangnya. Ini rumah saya. Terserah saya mau pulang jam berapa" balas Pram dengan mimik wajah yang sulit diartikan. "Tama ngapain kamu disini?" sambungnya ketus seolah tidak tidak suka dengan keberadaan Tama di rumahnya. "Maksudnya saya ini masih pagi, kok kamu sudah ada disini?"

"Hmm tadi aku kesini mau nemuin kamu tapi kamu tidak ada dan kebetulan Reyna mau beli sayur jadi saya tawarin dia tumpangan"

Pram mengangguk pelan seraya melirik Reyna dengan tatapan curiga. Reyna paham betul dengan tatapan Pram yang seperti ini. Itu artinya Pram sedang marah. Tak ingin suasana semakin memanas, Reyna memutuskan pergi ke dapur untuk memasak makan siang.

"Kalau gitu aku pulang dulu" reaksi Pram semakin membuat Tama curiga. Sikap Pram tidak seperti majikan kepada pembantunya tapi lebih ke sikap pria kepada wanitanya.

Setelah memasak, Reyna menyiapkan makanan di atas meja. Tak lama Pram datang.

"Sudah masak?"

"Sudah"

Keduanya makan bersama untuk yang pertama kalinya di rumah. Dan setelah sekian lama akhirnya Pram mau makan masakan Reyna.

"Hmm tadi ngapain kamu sama Tama?" tanya Pram penasaran.

"Belanja sayur"

"Cuman belanja sayur?" tanya Pram menyeledik.

"Kenapa nanya-nanya? Cemburu"

Pram tersenyum tak enak. Ia menghentikan sebentar makannya.

"Siapa yang cemburu? Saya. Jangan ngarep"

"Ya udah kalau gak. Gak usah nanya. Oh ya rencananya nanti malam aku mau jalan sama Tama jadi aku tidak masak buat makan malam. Tapi aku udah masak banyak jadi kamu tinggal panasin aja makanan yang sekarang" beritahu Reyna seraya memasukkan ayam goreng ke dalam mulutnya.

Pram mengigit bibir bawahnya kemudian menghentak sendok garpu ditangannya hingga menimbulkan bunyi nyaring. Hal itu membuat makan Reyna terhenti.

"Saya tidak suka makanan lama. Saya mau makanan baru. Ngerti" kata Pram menekan.

"Tapikan aku udah masak banyak. Sayang kalau harus masak baru lagi. Ini juga bukan makanan lama kok. Kamu biasanyan lembur jadi kamu bisa makan makanan kantor saj...."

"Tapi saya mau makan masakan kamu" sambar Pram sambil memukul meja makan.

Reyna tersentak terdiam mematung. Antara kesal dan terharu. Ia lalu mengelus lembut wajahnya disertai senyum malu-malu. Pipi nya memerah layaknya kepiting rebus.

"Oh jadi kamu suka masakan aku. Enak ya" senyum Reyna menggoda.

"Kata siapa saya suka masakan kamu" sangkal Pram gengsi.

"Oh jadi gak suka masakannya. Suka sama yang masak ya?" tanya Reyna makin menggoda.

"Apaan sih. Pede banget"

"Ok aku akan pergi sama Tama setelah masak makan malam jadi kamu gak perlu khawatir" jelas Reyna agar Pram tidak perlu khawatir dengan makan malamnya.

"Kata siapa kamu boleh pergi. Jangan pergi kemana- mana sampai saya pulang" larang Pram tegas. Ia lalu bangkit dari duduknya dan akan pergi ke kantor lagi.

"Maaf aku akan tetap pergi sama Tama malam ini. Aku sudah janji padanya dan aku orang yang selalu menepati janji" kata Reyna tidak bisa menyanggupi permintaan Pram.

Pram mendekat maju dan terus maju sampai tubuh Reyna menempel di dinding. Bahkan Pram mendekat lagi hingga jarak keduanya hilang. Pram kemudian menempelkan kedua tangannya di dinding membuat Reyna tidak bisa kemana-mana. Mengunci Reyna dalam perangkapnya.

"Lihat saya" suruh Pram dengan suara beratnya.

Reyna menggelengkan kepala.

"Lihat saya sekarang" suara Pram sangat mengintimidasi.

"Aku takut" ungkap Reyna sedikit bergetar.

Pram mengankat pelan wajah Reyna agar melihatnya.

"Kamu menyukai Tama?"

Mata Reyna melebar. Mudah sekali menanyakan hal sensitif seperti itu.

"Maksud kamu?"

"Kamu lebih memilih jalan dengannya daripada di rumah bersamaku. Apa artinya kalau bukan suka"

Reyna menepis tangan Pram dari wajahnya. Reyna merasakan panas di kuping juga wajahnya setiap medengar perkataan Pram. Dadanya terasa sesak dipenuhi kekesalan. Bagaimana mungkin seorang suami menanyakan perasaan istrinya untuk pria lain.

"Kamu selalu menyimpulkan apa yang kamu lihat semaunya. Aku hanya jalan sebentar sama Tama lalu gimana dengan kamu yang dengan sengaja membawak wanita lain masuk ke dalam kamar kamu. Kamu pikir....."

"Jangan samakan saya sama kamu" kata Pram nyaring seraya mengarahkan telunjuk ke wajah Reyna. "Dan jangan sebut nama pria lain di depan saya" lanjutnya dengan tatapan tajam.

Reyna mengankat pundaknya lalu membuang nafas panjang. Memejamkan mata sesaat untuk menurunkan tensi kekesalannya. Rasanya ia ingin sekali mencakar-cakar wajah Pram hingga tak berbentuk.

"Terserah kamu" Reyna melangkah cepat meninggalkan Pram lalu mengunci dirinya di kamar.

Di dalam biliknya, Reyna membaringkan diri menaruh dua tangan dibawah wajahnya sebagai tumpuan. Ia mau tidur agar bisa melupakan semua pertengkarannya dengan Pram. Bukan hanya tubuhnya tapi hati dan pikirannya ikutan lelah dengan semua kejadian sama yang terus berulang.

Arloji yang melingkar di pergelangan tangan Pram baru menunjukkan jam 19.30 pm saat sampai di rumah. Pram berjalan ke dapur mengecek apakah Reyna sudah masak makan malam atau belum.

"Dia tetap masak" gumam Pram.

Namun ia tidak melihat Reyna di dapur padahal masakan Reyna tampak masih panas. Itu artinya Reyna baru selesai masak.

"Atau mungkin dia pergi sama Tama?"

Pram menaiki tangga menuju kamar Reyna dan tidak ada Reyna di sana.

"Jadi dia tetap pergi" rasa kecewa sangat jelas diwajah Pram.

Pram yang baru pulang dari kantor melangkah lelah ke kamarnya. Ia melepas semua atribut yang melekat di tubuhnya lalu berjalan ke arah balkon. Dari ketinggian Pram menangkap sesuatu yang aneh mengapung di kolam berenang.

"Reynaaaaa" teriak Pram. Ia berlari menuruni tangga.

Pram langsung menjeburkan dirinya ke kolam. Dengan sigap menarik tubuh Reyna namun yang terjadi justru....

"Kok kamu disini?" tanya Reyna yang tiba-tiba saja bangun saat Pram mau menolong.

Pram terplongo heran. Menyisir rambutnya dengan jari diikuti mimik kesal tertahan.

"Kamu...kamu ngapain ngapung gitu?" tanya Pram putus-putus.

"Oh itu aku lagi nahan nafas dalam air biar nafanya panjang" jelas Reyna santai. Ia tidak tahu betapa khawatirnya Pram tadi. "Kamu ngapain nyebur ke sini. Mau berenang. Tumben malam-malam" Reyna masih tidak tahu situasi yang sebenarnya.

"Buat apa kamu latihan nafas gitu?" Pram tidak habis pikir dengan kelakuan aneh Reyna.

"Ya buat kalau kita bertengkar lagi, aku bisa lebih keras suaranya dari kamu" canda Reyna dengan senyum khasnya yang menawan.

"Gak lucu" Pram lalu keluar dari kolam dalam keadaan basah kuyup. Ia sangat kesal tapi tidak bisa mengekspresikan kekesalannya. Gengsi kalau harus memberitahu apa yang dilakukannya tadi kalau ia sangat khawatir saat melihat Reyna mengapung di kolam. Pram pikir Reyna bunuh diri.

"Tunggu. Kamu bisa bantuin aku naik"

"Turun bisa. Naik sendiri" tolak Pram masih kesal.

"Please" rengek Reyna manja seraya menjulurkan tangannya.

Dengan malas Pram berbalik badan. Ia menyambut tangan Reyna namun Reyna dengan sengaja menarik kuat tangan Pram hingga terjebur ke kolam.

"Kamu sengaja?"

Reyna membiarkan Pram berkicau agar rasa kesal suaminya itu segera pudar.

"Udah marahnya?"

Pram menarik nafas lalu membuangnya kembali.

"Hmmm"

"Kamu itu lucu kalau lagi khawatir seperti tadi"

Terpopuler

Comments

Rice Btamban

Rice Btamban

semangat Thor 😀😀ada lucu juga Reyna SM Pram

2022-06-12

2

Siska Nuralia

Siska Nuralia

semangat thor, suka bngt sama jalur cerita nya sering² up yyyy

2022-04-22

2

Mira Bae

Mira Bae

Part ini nananano. ada lucunya, ada sedihnya, ada kesalnya. pokoknya makin greget ceritanya. lanjut thor

2022-04-21

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!