Reyna meringkuh di kamarnya. Pandangan jauh namun kosong. Tidak akan terjadi apapun antara dirinya dan Pram. Walaupun saat ini berstatus istri sah dari Arhan Pramana Adyguna namun Reyna tidak mau memberi mahkotanya selama tidak ada cinta disana. Selama ini Reyna berprinsip akan memberikan bagian penting dalam hidupnya pada pria yang mencintainya.
"Sepertinya itu sangat mudah baginya.Tadi hampir saja" gumam Reyna gelisah.
Ia lalu mengacak-acak rambutnya mengusap kasar wajah dinginnya. Sepertinya AC kamarnya terlalu dingin.
"Aduh Reyna kanapa kamu terjebak sama perasaan kamu sendiri sih. Pernikahan ini hanya di atas kertas. Dia selalu mengatakan itu. Harusnya kamu jangan terlalu jauh melangkah. Bodoh banget sih" sesal Reyna frustasi seraya menggelengkan kepalanya berulang membuat rambutnya yang tergerai panjang semakin berantakan.
Dikamarnya Pram tampak seperti orang kebingunan tidak percaya. Baru kali ini ada cewek yang menolaknya. Penolakan ini membuat Pram marah namun juga penasaran. Wanita yang bukan siapa-siapanya saja dengan suka rela mau tidur dengannya tapi Reyna yang berstatus sebagai istrinya secara tegas menolaknya. Pram tidak bisa menerimanya namun ia juga tidak bisa memaksa Reyna untuk bercinta dengannya. Apalagi pertanyaan Reyna sebagai alasan menolaknya kini terus berputar di kepala Pram.
"Apakah kamu mencintaiku?"
Pram semakin tidak mengerti dengan perasaannya sendiri. Baginya sudah tidak ada lagi cinta. Baginya hubungannya bersama wanita hanya sebatas untuk kesenangan saja.
Cinta?
Apa itu cinta?
Terakhir kali Pram benar-benar menginginkan seorang wanita itu 10 tahun yang lalu.
"Pram aku mencintaimu"
"Tari"
Pram bangun dari tidurnya dengan nafas tersengal dan keringat yang mengucur. Kata itu menggema lagi bahkan sekarang semakin sering muncul. Mimpi itu terus datang tanpa permisi.
Jam dinding telah menunjukkan pukul 10.00 am namun Pram masih betah dikamarnya. Biasanya setiap hari minggu Pram selalu olahraga di taman yang tidak jauh dari rumahnya. Hanya lari-lari kecil saja untuk me-refresh pikiran juga tubuhnya setelah lima hari bekerja. Namun akhirnya Pram menyerah juga setelah perutnya terus berkicau minta diisi sesuatu. Walaupun sebenarnya Pram masih malu berhadapan dengan Reyna setelah semalam dirinya ditolak. Pram merasa sedikit gagal sebagai laki-laki padahal selama ini Pram dengan mudah bisa menaklukkan wanita yang ia inginkan. Pram berjalan pelan ke dapur dan telah tersaji makanan di atas meja. Namun Pram tidak melihat Reyna.
Ia lalu menyantap makanan dengan lahap. Setelah selesai makan, Pram merasa ada yang janggal. Biasanya Reyna mondar mandir di sekitarnya membersihkan rumah apalagi ini hari minggu, biasanya semangat Reyna bertambah dua kali lipat di hari libur. Pram kemudian berjalan ke belakang rumah, ke kolam berenang, dan terakhir ke kamar namun Reyna tetap tidak ada.
"Sial. Jangan-jangan dia pergi lagi sama Tama" Pram berlari ke kamarnya meraih ponselnya lalu mendial nama Tama.
📞 Dimana Reyna?
📞Reyna. Apa yang terjadi sama Reyna?
Pram langsung mematikan sambungan telpon. Ia lalu menelpon Reyna namun tidak diangkat. Pram mencoba lagi dan tetap tidak diangkat.
"Kenapa dia tidak mau mengankat telponku?"
Kemudian Pram mengirim Reyna pesan. Selang beberapa menit pesan yang ia kirim sudah centang biru. Itu artinya Reyna sudah membaca pesannya.
"Dimana kamu sekarang? Angkat telponku" pesan Pram pada Reyna.
Kembali hanya centang biru saja tanpa balasan. Nomor Reyna menjadi tidak aktif saat Pram mencoba menelpon kembali.
"Aaahh" teriak Pram kesal. Ini yang tidak Pram suka dari Reyna. Sikap kekanak-kanakkannya.
Reyna duduk sendiri di padang rumput hijau. Tempat yang pernah ia datangi bersama Tama beberapa hari yang lalu. Dibawah pohon besar dimana ia menemukan Tama yang sedang sembunyi. Reyna memandangi dedaunan yang berterbangan serta pepohonan hijau di depannya dengan pikiran yang kacau. Pikirannya tidak lepas dengan wanita yang bernama Tari yang Pram sebut dalam mimpi. Reyna percaya kata yang keluar dibawah alam sadar adalah kata yang keluar dari hati. Reyna yakin Tari wanita yang sangat bearti dalam hidup Pram bukan Diana apalagi dirinya. Dan yang membuat Reyna semakin sakit hati, Pram tidak sengaja menyebut nama Tari saat sedang menciumnya semalam. Pram tidak menyadari hal itu. Itulah kenapa Reyna menolak Pram.
Tama terus mencoba menghubungi Reyna berulang kali tapi hasilnya tetap sama. Ia tidak tahu harus mencari Reyna kemana karna memang belum banyak yang ia ketahui tentang Reyna. Sedangkan Pram kini telah ada didepan rumah ayah Reyna. Ia mengetuk pintu tak sabar namun tidak ada jawaban.
"Selain kesini kemana lagi dia? Mana aku gak tahu lagi siapa saja teman-temannya" Pram melajukan mobilnya ke kafe Doria. Barangkali teman Reyna disana tahu. Dan hasilnya tidak sama saja.
Reyna memejamkan mata mengankat sedikit pundaknya lalu membuang nafas panjang.
"Padahal aku kesini buat lupain kejadian semalam tapi malah semakin ingat hemm" ucap Reyna gondok dengan diri sendiri. Kenapa sulit sekali mengendalikan hati?
"Andai saja sekarang ada Tama disini. Mungkin dia bisa membantuku"
"Apa yang bisa aku bantu?"
Sontak Reyna mendongak. Ia tahu suara itu.
"Tama. Kamu kok...."
"Kaget ya aku bisa tahu kamu disini" lanjut Tama memotong.
Reyna melemparkan senyum khasnya sebentar begitu yang ia pikir benar. Tama ada disini sekarang.
"Iya. Kok bisa?" tanya Reyna heran. Padahal belum lama ia berteman dengan Tama tapi pria itu seakan tahu banyak tentangnya.
"Lagian ngapain Hp pake dimatiin segala bikin orang panik" Tama duduk di sebelah Reyna.
"Lagi mau sendiri saja"
"Jadi aku ganggu ni?"
"Ya gaklah. Kamu dengar sendirikan barusan, aku ngarepnya kamu disini eh dikabulin" derap tawa keduanya serempak menggema diantara pepohonan hijau disekitar mereka.
"Ok sekarang apa yang bisa aku bantu?"
Reyna diam sesaat. Ia memilah kembali apa saja yang mau dikatakan. Tidak mungkin Reyna mengatakan kalau sebenarnya ia istri dari temannya sendiri, Pram. Tidak mungkin juga ia memberitahu kalau pernikahannya tidak sama pernikahan pada umumnya.
Reyna memaling pandangannya dari Tama lalu memandang hamparan luas rerumputan di hadapannya.
"Aku bingung" kata Reyna berat.
"Sebenarnya apa yang sedang berusaha kamu tutupin?"
Bola mata hitam itu mendelik. Semakin takjub dengan pria di sebelahnya.
"Kenapa kamu seakan tahu semua yang aku pikirkan?"
"Kamu mau jawaban jujur?" tanya Tama balik dengan tatapan intens.
Reyna membalas dengan anggukan kepala. Suasana senyap seketika. Hanya desiran angin yang terdengar.
"Karna aku suka sama kamu" ungkap Tama jujur.
Mata Reyna melotot tak percaya. Kemudian langsung berdiri dari duduknya.
"Hmm Tama sepertinya kamu salah paham. Aku gak...gak...maksud aku gak" kata Reyna terbata-bata tak jelas.
"Hei tenang...santai aku suka sama kamu tapi bukan bearti kamu harus balas perasaan aku. Aku gak akan maksa kamu. Dan aku harap kamu tidak menghindari aku setelah ini. Aku mau kita tetap berteman" ini yang Tama takutkan. Ia tidak mau perasaan sukanya membuat Reyna menjauhinya.
Reyna menatap Tama dengan rasa bersalah. Bagaimana caranya ia memberitahu Tama kalau sebenarnya ia sudah menikah. Ia tidak mau memberi Tama harapan. Tapi juga mungkin juga memberitahu Tama rahasianya karna itu akan membuat Pram sangat marah.
"Tama sebaiknya kita pulang saja"
Di perjalanan tak ada suara terdengar. Reyna dan Tama diam seribu bahasa. Tidak ada yang mau membuka pembicaraan. Keduanya tampak canggung dan kikuk. Tama juga cukup kaget dengan reaksi Reyna. Ia pikir semuanya akan berjalan seperti yang dipikirkannya.
"Tama aku tidak mau pulang"
"Lalu?"
"Bisa antarkan aku ke rumah ayahku?"
Mobil Tama memutar arah sesuai pentunjuk dari Reyna. Butuh waktu setengah jam. Mobil Tama berhenti tepat di depan rumah sederhana yang terlihat cukup usang.
Rasa tidak percaya menyelimuti Reyna begitu juga Tama begitu keluar dari mobil. Ada Pram di depan mereka. Pram mendekat dengan kedua tangan dimasukkan ke dalam kantong celananya. Tampak gagah juga menakutkan.
"Apa yang kalian lakukan?" tanya Pram mengintimidasi dengan kilat mata tajam.
Baik Reyna dan Tama hanya diam terpaku.
"Saya tanya apa yang kalian lakukan?" ulang Pram dengan pertanyaan yang sama namun kali ini dengan intonasi suara tinggi dan nyaring.
Tama menarik tangan Reyna lalu menyembunyikan Reyna di belakangnya. Hal itu semakin membuat Pram geram. Ia tidak suka dengan sikap sok pahlawan Tama. Pram mengepal buku-buku tangan bersiap untuk menonjok muka Tama yang menyebalkan.
"Saya rasa kamu terlalu ikut campur urusan pribadi Reyna. Apa salahnya ia jalan sama saya? Bukankah pekerjaannya sudah selesai" Tama menjadi garda terdepan bagi Reyna. Tama tidak ingin Pram berbuat kasar pada Reyna.
Pram menyiratkan senyum mencurigakan. Ucapan Tama terdengar lucu baginya.
"Apanya yang selesai? Jangan sok tahu deh. Kamu itu tidak tahu apa-apa" Prampun menarik keras tangan Reyna.
"Lepaskan Reyna" cegat Tama juga menarik tangan Reyna bagian kiri.
"Kamu yang lepaskan. Dia milik saya" kata Pram tegas.
Reyna terperanjat. Matanya menatap tidak mengerti pada suaminya itu.
"Reyna hanya bekerja di rumah kamu. Jadi Reyna bukan milik kamu. Jangan menyalahgunakan kekuasaan yang kamu punya Arhan Pramana Adyguna" ujar Tama mengingatkan dengan keras.
"Tentu saja Reyna milik saya karna dia istri saya" satu-satunya cara agar Tama menjauhi Reyna dengan memberitahu yang sebenarnya. Itu yang Pram pikirkan.
Reyna dan Pram sama-sama terkejut. Reyna tidak habis pikir kenapa Pram mau membongkar rahasianya padahal dia sendiri yang memperingati Reyna agar tidak memberitahu siapapun tentang pernikahan mereka. Sedangkan Tama terus memandangi Reyna dengan sorot mata tak percaya.
"Apa ini rahasia yang kamu simpan?" tanya Tama dalam hati. Ia sangat kecewa.
"Maafin aku Tama tidak memberitahu semuanya lebih awal. Kamu seharusnya tidak ada dalam situasi ini. Maaf" sesal Reyna dalam hati. Ia sangat merasa bersalah pada Tama.
Pram menuntun Reyna masuk ke dalam mobilnya meninggalkan Tama sendiri yang masih terpaku di tanah. Ia tidak bisa berbuat apa-apa saat Pram membawak Reyna pergi. Karna kini ia sudah kalah telak dari Pram.
Sesampainya di rumah Reyna langsung berjalan ke kamarnya namun Pram mencegat. Ia ingin menyelesaikan masalah diantara mereka malam ini juga.
"Kamu tidak bisa kemana-mana. Kita selesaikan masalah ini dulu"
"Masalah yang mana dulu? Aku tidak tahu saking banyaknya masalah di antara kita" sahut Reyna malas.
"Kenapa kamu pulang bersama Tama? Apa kamu tidur dengannya?"
Reyna melengos kesal. Lagi-lagi Pram tidak bermaksud menyelesaikan masalah tapi justru menambah masalah.
"Kamu tidak akan pernah berubah" cap Reyna yakin. Ia lalu berlari menaiki anak tangga.
Krekk
Pram menutup kembali pintu kamar Reyna.
"Apaan sih kamu. Aku mau masuk"
"Saya belum selesai bicara" sahut Pram bergetar. Ia sudah muak dengan situasi ini.
"Mau bicara apa lagi? Mau tanya apa aku ciuman sama Tama? Apa aku buka baju aku di depan Tama. Kami pikir...."
Pram memukul keras daun pintu kamar membuat Reyna seketika berhenti bicara. Pundak Reyna menciut seperti orang yang menyembunyikan diri dari pencarian. Nafas keduanya memburu.
"Apa susahnya jawab saja"
"Aku tidak mau menjawab pertanyaan yang tidak penting" balas Reyna tertunduk. Matanya mulai terasa panas. "Sekarang aku yang tanya. Siapa Tari?" lanjut Reyna dengan rasa penasaran yang besar.
Pram mengambil posisi tegap kembali. Tentu saja ia kaget darimana Reyna tahu soal Tari.
"Darimana kamu tahu..."
"Pagi tadi aku masuk ke kamar kamu dan kamu terus menyebut nama Tari. Kamu juga menyebut namanya saat kamu menciumku semalam" nafas Reyna semakin tak beraturan. Hatinya sangat kacau sekarang.
"Apa yang kamu lakukan dengan Tama?"
"Tidak terjadi apa-apa antara aku dan Tama. Aku tidak berciuman dengannya. Aku tidak membuka pakaian ku di depannya dan aku tidak tidur dengannya. Kamu puas? Sekarang jawab pertanyaanku" pinta Reyna tak sabar.
Mungkin sudah seharusnya Reyna tahu pikir Pram.
"Tari, dia sangat bearti untukku. Dia wanita yang saya cintai. Ini jujur"
Seperti disambar petir di siang hari. Seketika reyna merasa sekujur tubuhnya sakit. Kaki dan tangannya sedikit bergetar. Hatinya remuk tak bersisa. Netra bening keluar dari sudut mata indahnya. Ia berbalik badan.
Krekkk
Lalu mengunci rapat kamarnya tidak ingin ada yang masuk. Membaringkan tubuh lemasnya di kasur. Memandangi lampu pijar di atas meja dengan tatapan kosong. Bahkan untuk menyingkirkan rambut yang menutupi sebagian wajahnya saja Reyna tidak punya tenaga lagi. Reyna memejamkan matanya lalu membukanya lagi. Ini terjadi berulang kali sampai akhirnya Reyna benar-benar tertidur pulas.
Pagi menjelang bersama sinar matahari yang hangat, udara pagi yang dingin, serta hawa pagi yang sejuk. Reyna melakukan aktivitas seperti biasanya, menyiram tanaman terlebih dahulu lalu lanjut membuat sarapan. Namun hari ini berbeda dari biasanya. Ia tidak bersemangat, fokusnya terpecah.
"Ayo Reyna fokus. Lupakan semuanya dan lakukan seperti biasa. Untuk apa kamu memikirkan pria kejam seperti dia. Move on Reyna move on" Reyna menggeleng kepalanya lalu memijit pelan keningnya. Mengumpulkan fokusnya lagi.
Pagi ini Reyna ingin mencoba memasak Pancake berdasarkan resep yang ia dapat dari internet. Bosan memasak yang itu-itu saja.
"Aduh ini gimana sih biar Pancake nya bulat" Reyna kebingungan membuat bentuk Pancakenya. Berulang kali ia mencoba tapi Pancakenya tidak bisa berbentuk bulat sempurna.
Selang beberapa saat Reyna terperanjat. Ada tangan yang melingkari pinggang rampingnya dari belakang.
"Jangan menoleh. Fokus saja sama Pancake kamu" ucap Pram dengan wangi khasnya. Wangi yang sudah familiar di hidung Reyna.
"Tolong menjauh dariku" Reyna menggapai tangan besar Pram ingin menyingkirkan dari pinggangnya namun tidak semudah itu.
Pram tidak menghiraukan permintaan gadis dalam dekapannya itu dan justru menempelkan wajahnya di pundak Reyna. Dapat Pram rasakan aroma tubuh Reyna yang mampu menenangkan dirinya.
"Semalam saya tidak tidur. Saya terus memantau kamar kamu. Saya takut kamu akan pergi lagi" ujar Pram lembut mendayu.
Tentu saja pengakuan Pram membuat Reyna luluh. Kini ia merasa tidak tega untuk bersikap keras pada suaminya itu.
"Lepasin aku"
"Apa kamu akan pergi jika saya lepaskan?"
"Gak"
"Kalau begitu berbaliklah tanpa melepas tanganku"
Dengan mudah Reyna berbalik tanpa menyingkirkan tangan Pram dari pinggangnya. Dua pasang bola mata itu bertemu. Saling melempar pandangan coba memahami kedalaman hati satu sama lain.
"Sebenarnya kamu orang yang seperti apa? Semakin sulit untuk membaca apa yang sedang kamu pikirkan. Kadang kamu membuat hatiku hancur tapi di lain waktu kamu bisa membuatku terbang melayang merasa wanita yang paling beruntung " ucap Reyna dalam hati.
"Kamu itu aneh"
"Aneh kenapa?" tanya Pram tak mengerti.
"Kamu selalu bersikap seolah tidak pernah terjadi sesuatu setiap kali kita selesai betengkar. Kamu lupa apa yang kamu katakan semalam. Kamu bilang kamu mencintainya. Lalu kenapa kamu tidak mau melepaskanku?" dada Reyna naik turun teratur menunggu apa yang akan Pram katakan.
"Kamu terlalu banyak tanya"
"Jawab atau aku akan pergi"
"Kamu mengancamku?"
"Anggap saja begitu" sahut Reyna cepat.
Pram menarik nafas pendek lalu membuangnya. Matanya begitu intim memandang wajah penasaran Reyna.
"Dia sudah tidak ada di dunia ini"
Pram kembali mengenang kejadian na'as 10 tahun yang lalu.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 41 Episodes
Comments
Nurdia Nailaaqila
lanjut penasaran
2022-06-30
0
Aqilah
akankah pram terus terang sama istrinya
2022-06-27
0
fima12
hmmm..... jadi saingan orang yg sudah meninggal kamu reyna
2022-06-27
1