Reyna menatap kosong pagar beton di depannya. Pagar pembatas antara rumah Pram dengan jalan. Pikiran Reyna mengawang jauh. Banyak yang dipikirkannya tentang hidup juga pernikahannya. Tentang sebenarnya yang ia inginkan, tentang impiannya, juga tentang rasanya. Apakah selamanya harus berjalan seperti ini tanpa kepastian tanpa tujuan yang jelas. Impiannya mendapatkan pekerjaan yang layakpun harus pupus di tengah jalan karna keputusan yang Pram paksakan. Pernikahan yang berlanjut sekedarnya hanya sebuah pernikahan di atas kertas putih tanpa ada rasa di dalamnya. Pram yang masih saja egois ingin menang sendiri. Sudah hampir 6 bulan Reyna tinggal di rumah Pram tapi selama itu juga tidak ada yang berubah. Pram belum bisa menerima Reyna seutuhnya. Janji Pram untuk melupakan cinta masa lalupun hanya bualan belaka. Nyatanya Pram sedikitpun tidak pernah melupakan cintanya itu. Pram masih sangat sensitif bila sedang membahas tentang Tari.
"Bosan sekali. Aku mau kerja lagi tapi itu tidak mungkin. Pram tidak akan mengizinkanku" gumam Reyna mengelah pasrah.
Hmmm
Suara itu membuyarkan pertengkaran batin Reyna. Suara berat nan tegas. Suara khas yang sangat ia kenali.
"Apa yang kamu pikirkan?" Pram melonggarkan dasi lalu membuka kancing kerah kemejanya agar bisa bernafas lebih leluasa.
Pram lalu berjalan ke ruang dapur untuk mengaliri tenggorokannya dengan air dingin. Reyna mengikuti di belakang.
"Kenapa wajah kamu itu? Gak ada semangat" tanya Pram setelah meneguk segelas air putih.
Reyna ragu berbicara. Banyak yang ingin ia sampaikan tapi rasanya moment ini kurang tepat mengingat Pram baru pulang ngantor.
"Kenapa diam? Sakit mulut?"
"Kamu mau makan malam apa?" balas Reyna lembut.
Pram merasa ada yang tidak beres. Tidak biasanya Reyna jadi pendiam gini.
"Steak pakai saos barbeque, pakai kentang wortel. Bisa?" tantang Pram sengaja agar keceriaan Reyna kembali.
"Bisa tapi aku gak jamin rasanya enak" setuju Reyna ragu dengan keahlian masaknya. Selama ini Reyna lebih sering masak makanan lokal saja terutama masakan yang disukai ayahnya. Masakan luar masih asing di lidahnya.
"Masak saja dulu. Kalau tidak enak akan saya buang" ucap Pram sembarang yang terus berusaha memancing amarah Reyna.
Bagi Pram lebih menakutkan melihat Reyna jadi pendiam daripada melihat istri belianya itu ngamuk.
Reyna mulai menyiapkan bahan-bahan steaknya. Gerakan tangan mungil itu berubah lambat begitu menyiapkan bahan saos barbeque untuk steak. Dan berbekal pengetahuan seadanya, Reyna mulai memasak steak beserta pelengkapnya.
Sedangkan dibalik meja berukuran minamalis itu, Pram tampak seksama mengamati gerak-gerik Reyna. Ia dapat merasakan bingung yang Reyna rasakan. Pram juga tahu bahan saos Reyna salah. Tapi Pram enggan memberitahu yang benar karna nyatanya Reyna juga tidak ada inisiatif untuk bertanya.
Tidak ada obrolan dalam acara memasak itu. Baik Reyna maupun Pram sama-sama memilih diam dalam hening.
15 menit kemudian...
"Cobalah" suruh Reyna menyodorkan steak buatannya pada Pram.
Reyna menunggu harap reaksi Pram atas steaknya.
"Gimana rasanya?"
"Saosnya tidak enak. Dagingnya terlalu masak. Wortelnya kurang mateng. Cuman kentang yang lumayan tapi seharusnya kentang ini kamu beri sedikit garam biar ada rasanya" ungkap Pram jujur tanpa membatasi komentarnya. "Ini steak paling buruk yang pernah saya coba. Seperti kata saya tadi, saya akan buang jika tidak enak" lanjut Pram dengan pendapatnya yang tanpa penyaringan itu.
"Jangan dibuang biar aku saja yang makan. Sayang kalau dibuang. Itu sepertinya daging mahal" cegat Reyna saat Pram akan membuang steak buatannya.
Haaaaah
Pram membuang nafas panjang. Ia tidak suka situasi ini.
"Duduk"
Reyna menurut patuh.
"Kamu ada masalah? Cerita biar saya bisa bantu"
"Percuma kamu juga tidak akan paham. Kamu tidak akan bisa membantuku"
Pram mengepal jemarinya menampakkan buku-buku tangannya yang keras. Ia paling tidak suka diremehkan.
"Saya punya segalanya. Uang juga kekuasaan saya punya. Apa yang tidak bisa saya lakukan. Saya bisa melakukan apapun bahkan yang kamu pikir sulit, bisa saya selesaikan" ucap Pram percaya diri.
"Ini bukan tentang uang. Kamu enak bisa kerja tiap hari punya kegiatan lain. Kamu juga bisa berpergian kapanpun kamu mau. Tidak akan ada yang melarang kamu lalu aku...." Reyna tercekat seperti ada yang menarik lidahnya kedalam tidak bisa melanjutkan bicaranya lagi.
"Lalu?" sambung Pram.
"Sudahlah kamu tidak akan mengerti. Aku ke kamar duluan. Ngantuk"
Sepasang retina berwarna abu kekuningan itu memandang dalam gadis yang sedang melangkah pelan menaikki teratur anak tangga. Sampai di puncakpun gadis itu tidak menoleh ke belakang semakin menyisakan tanya di benak Pram. Ia coba menebak lanjutan perkataan Reyna tadi.
"Apa kamu ingin menyerah dengan pernikahan ini?" tanya Pram dalam hati.
Reyna melipatkan tangan di dada menengadahkan kepala melihat banyak bintang yang bersinar gemerlap di langit. Ia sudah sangat bosan dengan situasi. Rasanya seperti berada dalam labirin gelap tak bercahaya. Sulit menemukan jalan keluar dari situasi ini.
Bahu Reyna bergedik begitu mendengar bunyi dari ponselnya yang tergeletak di nakas dekat kasur empuknya.
📞Hallo Tama. Kamu apa kabar?"
"Baik. Kamu?"
"Ada apa nelpon malam gini?" sambung Reyna enggan menjawan pertanyaan Tama.
"Baru jam delapan belum malam. Kamu lagi sedih ya?"
"Kok kamu nanya gitu?" tanya Reyna balik disertai senyum simpul di sudut bibirnya.
"Suara kamu beda"
Reyna terdiam sesaat. Bertanya pada dirinya sendiri.
"Kenapa kamu paham semuanya? Sedangkan Pram tidak" gumam Reyna.
Tok tok tok
📞 Tama udah dulu ya. Nanti kita bicara lagi" sambungan terputus. Reyna segera bangkit dari duduknya menuju daun pintu.
Krekkkk
"Kamu mau tidur di kamarku?" tanya Pram mengajak dengan ekspresi datar.
"Gak. Aku kayaknya lebih nyaman tidur sendiri deh" tolak Reyna yakin.
"Yakin?"
"Yakin"
"Sebenarnya saya mau lanjutin cerita itu tapi sepertinya kamu sudah tidak penasaran lagi" kata Pram ambigu. Ia lalu kembali lagi ke kamarnya.
Sedangkan Reyna tampak masih berpikir maksud kata-kata Pram barusan.
"Cerita yang mana? Apa mungkin tentang Tari ya? Aduh kalau iya aku mau, aku penasaran banget sama lanjutannya tapi masa iya aku harus ngetuk kamarnya terus bilang mau tidur dikamarnya. Aduh jelas-jelas aku udah nolak. Masa tiba-tiba nawarin diri. Ahh gak keren banget. Gak ah gak mau"
6 menit berlalu....
Tok tok tok
"Masuk" ucap Pram tanpa basa basi lagi.
Pram merebahkan dirinya di kasur.
"Sini" suruh Pram seraya menepuk bagian kosong kasur disebelahnya.
"Apa cerita itu soal Tari?"
"Hmmm" angguk Pram mengiyakan. "Berbaring disini"
"Ahh kamu sengajakan menjebakku"
"Kok menjebak?"
"Iya...kamu tahu aku nunggu banget kamu lanjutin cerita itu terus kamu sengaja memaksaku kesini. Kamukan..."
Pram memukul keras nakas yang ada di sisi kasurnya.
"Saya tidak pernah menjebak kamu. Saya juga tidak memaksa kamu. Kamu sendiri yang mengetuk pintu. Apa memaksa? Bukannya ayah kamu yang memaksa saya agar menikahi kamu" Pram kembali menunjukkan sisi minusnya dengan kata-kata pedasnya.
Tak berperasaan dan menyakitkan.
Ucapan seperti inilah yang membuat Reyna ingin lari. Situasi seperti ini sudah terlalu lama ada.
Prakkk
Reyna menutup keras pintu kamar Pram lalu kembali ke kamarnya. Dadanya terasa sesak sekali seperti lubang yang disumbat membuatnya susah menghirup nafas leluasa.
Ia sudah tidak tahan mendengar ayahnya yang sudah tiada terus-terusan dihina.
Denting jam terus berbunyi menciptakan nyanyian seirama dalam kamar yang hening itu. Reyna sudah pulas dalam tidurnya sedangkan Pram masih berjibaku dengan pikirannya.
"Kenapa sakit sekali melihat kamu pergi dengan wajah seperti itu?" gumam Pram.
Pukul 23.15
Pram bangun dari tidurannya. Ia melangkah pasti memasuki kamar Reyna yang bersebelahan dengan kamarnya. Menaikki kasur kemudian merangkul pinggang ramping Reyna yang sedang tidur dalam posisi miring.
Tak lama berselang, Reyna mengganti posisinya berbalik arah. Perlahan Reyna membukanya matanya. Ia menyadari ada sosok lain di depannya.
"Kamu ngapain disini?" Reyna membuka lebar matanya. Barangkali ia sedang bermimpi namun kantuk terlalu mengelayut dimatanya.
"Lanjutkan saja tidurnya. Anggap saja saya tidak ada" kata Pram sambil mengedipkan sepasang matanya memberi isyarat agar Reyna kembali tidur.
"Kamu selalu ada di kepalaku jadi gak mungkin aku menganggap kamu tidak ada"
"Saya pikir kamu tidak pernah memikirkan saya. Saya selalu membuat kamu marah, selalu menyakiti hati kamu..."
Cuppp
Reyna mendaratkan ciuman singkat di bibir Pram dengan mata sedikit tertutup.
"Kamu seharusnya memberiku kado" kata Reyna samar.
"Kado?"
"Iya kado. Kamu pasti tidak tahu kalau hari ini ulang tahunku. Tadinya aku berharap kamu membawakku jalan-jalan tapi lagi-lagi kamu membuatku sedih. Biasanya ayah selalu memasak sop ayam bakso kesukaanku di hari spesialku. Ayah selalu ingat ulang tahunku. Karna itu aku sangat marah jika kamu menghina ayahku. Ahh kamu sangat menyebalkan" hardik Reyna di akhir ucapannya.
Reyna memejamkan matanya lagi. Kesadarannya belum terkumpul penuh. Dan tak terasa Reyna mengeluarkan airmata yang sedari siang ia tahan.
"Maaf...maaf untuk semuanya" ujar Pram tulus. "Aku tidak tahu cara memperbaiki semuanya. Sejak hari itu aku tidak pernah bisa memperbaiki situasi yang seperti ini. Aku terlalu takut. Dan maaf kamu harus kena imbas dari kesalahanku dulu" Pram mengelus lembut pipi Reyna. Menyingkirkan rambut hitam dari wajah gadis di hadapannya.
Pram meraih kembali tubuh langsing Reyna mendekap erat wanitanya itu. Keduanyapun tidur nyenyak dibawah cahaya bulan yang bersinar terang bersama bintang-bintang kecil yang menghiasi langit. Udara malam yang dingin masuk dari pintu kaca pembatas yang terbuka menyirami keduanya dalam melewati malam itu.
Dua insan yang memiliki kekhawatiran serta kebosanan. Dua insan yang sama-sama ingin ada perubahan namun terperangkap dalam ikatan yang mereka anggap hanya sebuah kecelakaan belaka.
"Aku yakin bisa melawan semuanya. Membebaskan aku dan kamu dari labirin memuakkan ini. Hanya saja aku butuh waktu untuk kebebasan itu dan aku mau kamu ada di sisiku" _Pram_
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 41 Episodes
Comments
Tri Wahyuni
pram kmu hrs tau apa yg g d suka Reyna dn juga jaga ucapan mu dgn kata2 ketus dn kasar perempuan itu perlu d perhatikan dn kasi sayang .Reyna akan luluh ..
2022-06-19
0
Rice Btamban
lanjut Thor
2022-06-13
0
R.E
yuk gaes yang uda baca jangan lupa ikutan koment juga ya biar rame biar author juga tau kurangnya dalam penulisan cerita ini. silakan kritik dan sarannya. kritik pedas juga gak papa, akan author terima dengan suka hati. terima kasih yang sudah mampir, like, dan sempatin buat koment👍🙏
2022-05-15
1