Mari Lakukan Bersama

**10 tahun yang lalu.....

"Gimana kalau yang ini?" saran Tari seraya menunjukkan cincin bermata berlian pilihannya.

"Bagus" jawab Pram singkat.

Hati itu Pram dan Tari pergi ke sebuah mall untuk membeli cincin pertunangan mereka. Keduanya sangat antusias dan sudah tidak sabar untuk meresmikan hubungan mereka ke tahap yang lebih serius serta berkomitmen untuk saling menjaga cinta suci yang telah terjalin sedari kedua masih duduk di bangku SMA. Hubungan Pram dan Reyna memang sangat awet. Tidak neko-neko dan tidak terlalu banyak menuntut satu sama lain. Sangat santai dan berjalan apa adanya. Tidak ada yang ditutupi begitu terbuka dan menerima kekurangan masing-masing. Keduanya selalu menekankan agar jangan ada orang lain masuk dalam hubungan mereka. Karna jika itu terjadi, keduanya sepakat untuk menyudahi hubungan kemudian jalan masing-masing. Tidak ada kata maaf untuk kata perselingkuhan.

"Ya udah mbak bungkus yang ini ya" pinta Tari lembut dengan senyum khas menawannya.

Tari adalah gadis lembut, keibuan, cantik tinggi, serta memiliki paras yang rupawan. Body yang aduhai dan bisa menempatkan diri dimanapun berada, mudah beradaftasi, ramah pada siapapun.

"Aku sudah tidak sabar menikahi kamu" wajah Pram tidak bisa membohongi betapa bahagianya ia sekarang. Wanita yang sangat dicintainya tidak lama lagi akan menjadi miliknya seutuhny.

"Aku juga. Aku gak nyangka hubungan kita bisa sejauh ini. Aku kira dulu kamu cuman main-main. Apalagi kamukan cowok idaman di sekolah. Banyak cewek yang antri mau jadi pacar kamu" ujar Tari merasa beruntung karna dirinyalah yang dipilih Pram di antara banyak wanita di luaran sana. "By the way apa sih yang kamu lihat dari aku? Kan banyak cewek yang lebih cantik" lanjutnya penasaran.

Pram menatap seksama calon istrinya itu. Tak pernah bosan Pram melakukan tatapan penuh cinta itu karna memang sebesar itu rasa cinta yang Pram miliki untuk Tari.

"Apa ya?" Pram menarik sudut bibirnya lalu memicingkan mata kirinya. "Semuanya. Semua yang ada sama kamu aku suka" sambungnya apa adanya. Karna jika ditanya spesifik sebenarnya Pram juga bingung. Sejak awal mengenal Tari hatinya sudah terpaut untuk wanitanya itu.

Cincin tunangan sudah dibeli. Persiapan juga sudah hampir rampung 100%. Tinggal menunggu hari H saja. 1 minggu lagi. Pram sangat tidak sabar begitu juga Tari. Sebentar lagi ia akan menjadi istri seorang pengusaha muda kaya raya. Impiannya sedari kecil menikah dengan seorang pangeran yang memiliki istana megah dengan wajah tampan seperti cerita dongeng yang sering ia baca.

"Selamat malam" ucap Pram dilanjutkan kecupan singkat di bibir Tari.

"Selamat malam juga. Kamu hati-hati ya yang pulangnya. Jangan ngebut-ngebut terus kalau sudah sampai kabari aku"

"Iya bawel" walaupun terdengar berisik tapi sebenarnya Pram sangat suka dengan kebawelan calon istrinya itu. Merasa diperhatikan dan dicintai.

Tari juga orang yang selalu mengingatkan Pram untuk makan tepat waktu serta melarang Pram untuk begadang tiap malam. Tari tahu betul kebiasaan Pram kalau sudah bekerja yang bisa lupa segalanya. Itulah kenapa Pram merasa sangat beruntung memiliki Tari di sisinya.

3 hari sebelum bertunangan adalah ulang tahun Tari. Hari itu Pram bermaksud memberi kejutan untuk kekasihnya itu. Pram berulang kali mengusap kasar wajahnya berharap Tari akan suka dengan kado yang ia bawak.

Pram menekan bel apartement Tari. Dan untuk yang ketiga kalinya masih tidak ada jawaban dari dalam. Kebetulan hari ini hari minggu, Pram sangat yakin Tari ada di dalam. Karna biasanya hari minggu adalah hari untuk mereka berdua.

Setelah berpikir cukup, akhirnya Pram memutuskan untuk memasukkan kata sandi apartement. Sebenarnya apartement itu milik Pram. Kedua orangtua Tari sudah meninggal dan Tari hanya tinggal sendirian. Pram merasa tidak tenang melihat Tari yang hidup sendirian di tengah perkampungan yang ramai penduduk. Pram takut ada orang jahat yang akan membuat Tari kesusahan. Karna itu Pram meminta Tari untuk tinggal di apartementnya.

Krekkk

Pram berjalan perlahan agar surprisenya berhasil. Bahkan ia sengaja tidak mengucapkan selamat ulang tahun tepat di jam 00.00 agar rencananya ini berjalan mulus. Walaupun sedikit ragu namun Pram yakin Tari akan suka hadiah yang ia bawak. Kemudian Pram sangat hati-hati membuka kamar yang ditempati Tari.

Pranggg

Layaknya piring kaca yang terjatuh, seperti itulah hati Pram sekarang begitu melihat pemandangan menjijikkan di depannya. Wanita yang dicintainya sedang bercinta dengan pria lain. Tubuh kekar Pram goyah dan hampir terjatuh jika saja Pram tidak berpegangan pada handle pintu. Kakinya bergetar, darahnya mendidih seperti air yang telah direbus untuk waktu yang lama**.

...-------------------------------------...

Reyna terperangah mendengar cerita Pram. Tidak ia sangka dibalik sikap dingin Pram ada luka yang mengangah.

"Lalu kenapa dia meninggal?" Reyna masih penasaran dengan nasib Tari setelahnya.

Pram hanya diam saja dengan sorot mata semakin intim pada Reyna. Ia lalu mengelus lembut wajah Reyna kemudian memainkan jempolnya di bibir ranum milik gadis dalam himpitannya itu.

"Nanti saja" gantung Pram sengaja.

Reyna menepis jari Pram dari bibirnya.

"Apaan sih pakai gantung segala" Reynapun sedikit mendorong Pram agar menjauh darinya agar ia bisa pergi.

Namun Pram menarik keras tubuh langsing Reyna kembali dalam dekapannya. Pram tampak tak ingin jauh-jauh dari Reyna. Ia ingin istri belianya itu ada di sisinya setiap saat.

"Pram apaan sih. Lepasin aku" berontak Reyna.

Pram tidak menggubris permintaan Reyna dan justru mengunci tubuh Reyna dalam pelukannya.

"Sebenarnya apa yang kamu mau dariku?" tanya Reyna mulai tenang.

"Kamu" balas Pram dengan nafas memburu layaknya Singa yang siap menerkam mangsanya. "Biarkan saya memeluk kamu seperti ini" Pram memejamkan matanya menyandarkan kepalanya di pundak Reyna lalu menepuk pelan bagian itu.

Rasanya sudah lama sekali Pram tidak merasakan ketenangan seperti saat ini. Setelah kejadian 10 tahun yang lalu, Pram selalu dirundung rasa bersalah dan khianat yang menyakitkan. Baginya kepergian Tari sudah merubah cara berpikir begitu juga sikapnya.

"Setelah dikhianati, kenapa kamu masih mencintainya? Apa segitu besarnya kamu mencintai wanita itu? Kamu membuatku semakin tidak mengerti Pram" ungkap Reyna dalam hati.

Sebuah mobil putih berhenti tepat di depan pintu masuk rumah Pram.

"Pak Sandi tolong buka pintunya" pinta Tama.

Sandi berjalan mendekat.

"Aduh pak Tama maaf saya gak bisa buka pintu buat bapak. Pak Pram pesan agar jangan membiarkan pak Tama masuk"

"Aku cuman sebentar pak. Aku cuman mau bicara sama Reyna sebentar saja pak" mohon Tama lagi. Ia ingin tahu keadaan Reyna karna dari kemarin ia coba menghubungi, Reyna tidak mau mengankat telponnya dan pesannya juga tidak dibalas. "Atau gak pak Sandi tolong temuin Reyna bilang aku ada disini"

Sandi akhirnya setuju dengan permintaan Tama. Ia merasa iba dengan kegigihan Tama.

Tak lama berselang, Reyna yang Tama tunggu datang.

"Reyna gimana keadaan kamu?"

"Tama kamu ngapain sih masih kesini? Aku kan sudah bilang kamu jangan kesini lagi. Ntar kalau Pram lihat, dia akan marah lagi sama kamu terus kalian berantem lagi" khawatir Reyna. Biar bagaimapun Tama adalah temannya. Reyna tidak tega melihat Tama babak belur dipukuli Pram.

"Reyna sebentar saja. Aku mau bicara sama kamu" pinta Tama penuh harap.

"Tama aku..."

"Reyna ikut denganku sebentar saja, please"

Setelah berpikir cukup lama dan menepiskan segala resiko, Reyna akhirnya mau menerima ajakan Tama. Reyna tahu Pram malam ini lembur di kantor dan Pram tidak akan tahu ia pergi bersama Tama. Hanya sebentar.

Mobil melaju dengan kecepatan sedang. Sepanjang jalan wajah Reyna tampak diselimuti khawatir. Lebih tepatnya ia merasa takut akan ketahuan sama Pram. Setelah hampir setengah jam perjalanan, mobil putih itu berhenti di sebuah taman. Tama menuntun Reyna untuk duduk di sebelahnya.

"Tama apa yang mesti dibicarakan lagi...."

"Banyak" sambar Tama dengan tatapan tajam. "Banyak Reyna" sambungnya.

Reyna terhentak dengan tatapan tajam itu. Jantungnya berdetak lebih kencang.

"Kenapa kamu tega membohongi aku?"

"Aku tidak pernah membohongi kamu" sangkal Reyna tidak terima dengan tuduhan Tama.

"Lalu kenapa kamu tidak menceritakan semuanya?"

"Apa semua kisah hidup aku harus aku ceritakan sama kamu?" balik Reyna melemparkan pertanyaan.

"Jika kamu cerita setidaknya aku bisa membatasi diri aku untuk tidak jatuh cinta sama kamu" ucap Tama disertai suaranya yang bergetar. Wajahnya tampak geram mendengar jawaban enteng Reyna.

Reyna memalingkan wajahnya mengalihkan matanya ke depan. Sejujurnya ia merasa bersalah. Hanya saja ia tidak tahu cara mengunkapkannya. Bagaimanapun ia sudah mematahkan hati seseorang.

"Sekarang kamu sudah tahukan. Jadi aku minta kamu lupakan semuanya. Anggap saja kita tidak pernah bertemu. Setelah ini jika kita bertemu di jalan, aku minta kamu mengabaikanku seperti orang yang tidak saling mengenal" Reyna bangkit dari duduknya. Ia akan pergi.

"Apa kamu bisa melakukannya?" tanya Tama ikut berdiri.

Reyna membisu terpaku di tempatnya. Hatinya ragu sekarang.

"Aku tahu kamu tidak bahagia dengan pernikahan kamu dan..."

"Jangan sok tahu. Aku bahagia dengan pernikahanku" ujar Reyna tanpa membalikkan badannya.

Layaknya angin, Tama menyergap menempelkan tubuhnya pada Reyna dari belakang. Kedua tangan Tama melingkar di pinggang Reyna.

"Tama lepasin aku" Reyna berusaha melepaskan tangan kekar Tama dari pinggangnya namun tentu saja kekuatannya tak sebanding dengan pria yang kini memelukknya erat. "Tama tolong jaga batasan kamu" Reyna tetap berusaha melepaskan diri.

"Sebentar saja biarkan aku melakukan ini. Setelah ini aku akan membiarkan kamu pergi" pinta Tama tulus.

Reyna kembali membisu. Entah kenapa ia merasa tidak terima.

"Aku merasa seperti ditusuk jarum. Terasa sakit sedikit namun mengeluarkan darah. Aku tidak tahu apa yang terjadi denganku? Kenapa tiba-tiba aku merasa sedih?" _Reyna_

Haaahhh

Reyna membuang nafas lega begitu sampai di rumah. Sesuai dengan prediksinya Pram belum pulang. Itu artinya ia aman. Reyna menjatuhkan dirinya di atas kasur. Matanya memandang langit-langit kamar. Ia lalu mengganti posisi meraih remot kontrol lampu kamarnya. Kamar Reynapun berganti-ganti cahaya dari gelap ke terang. Reyna masih memikirkan hal yang sama, apakah setelah ini ia benar-benar tidak akan pernah bertemu Tama lagi?

"Dia bilang akan balik ke Amerika. Itu artinya dia akan menghilang" ucap Reyna samar. "Apa aku akan merindukannya?"

Pram yang baru akan masuk kamarnya melihat pergantian cahaya dari kamar Reyna.

Tok tok tok

"Reyna kamu di dalam?"

Reyna melotot mendengar suara yang sangat di kenalinya itu. Ia segera bangun untuk membukakan pintu.

"Lampu kamar kamu kenapa?"

"Gak papa. Aku cuman iseng kok" jawab Reyna seadanya tak bersemangat. " Oh ya maaf aku gak tahu kamu pulang" sesal Reyna yang tidak menyambut suaminya pulang.

"Minta maaf tapi muka kamu ngeselin gitu"

"Kok ngeselin? Emang muka aku kenapa?" Reyna meraba-raba wajahnya.

"Kaya orang sakit" ledek Pram.

"Ih apaan sih baru pulang udah ngajak berantem" Reyna tidak terima lalu meluncurkan cubitan kecil di perut berotot Pram.

"Aw aw sakit aw sakit banget" kata Pram bohong.

"Dih lemah banget. Gitu aja sakit" ledek Reyna balik.

"Apa kamu bilang saya lemah? Hemm kamu belum coba saja kekuatan saya yang sebenarnya" puji Pram untuk dirinya sendiri dan sekalian memberi kode pada Reyna.

"Udahlah aku tahu apa yang kamu pikirin. Dasar jorok. Pikirannya kesana terus"

"Wajarkan cowok ke cewek mikirnya kesana?" tanya Pram semakin menggoda dengan kedipan mautnya.

"Udah mandi sana. Ntar aku masakin makan malam"

Reyna mendorong Pram agar segera masuk ke kamarnya sendiri.

"Terus kapan?" tanya Pram tak menyerah.

"Kapan-kapan" senyum lebar menghiasi wajah cantik Reyna.

"Kamu sudah salah Reyna. Pramlah pria yang penting untuk kamu dan harus kamu prioritaskan" _Reyna_.

Setelah makan malam Pram dan Reyna balik ke kamarnya masing-masing.

Tok tok tok

"Ada apa lagi sih? Kamu gak tahu ini jam berapa?" wajah Pram tampak kusut dengan rambut berantakannya. Matanya juga setengah terpejam.

Reyna menghidupkan ponsel yang ia bawak. Wajar saja Pram terlihat kesal. Ternyata hampir jam duabelas malam.

"Aku tidak bisa tidur" ujar Reyna.

"Pejamkan saja mata kamu. Tidur saja kok susah"

"Udah tapi tetap gak bisa tidur" sahut Reyna sedikit merengek.

"Lalu?"

Reyna terlihat bingung. Ia malu jika harus mengatakan apa yang ada dalam pikirannya.

Pram menangkap gelagat aneh dari gesture Reyna dan sebenarnya ia sudah paham tapi Pram sengaja mengulur waktu dan mau Reyna sendiri yang memintanya. Pram lalu melipatkan tangannya di dada menunggu Reyna bicara.

"Gak jadilah" Reyna berbalik badan akan kembali ke kamarnya.

"Masuklah" ajak Pram. "Harga diri kamu tinggi banget" lanjut Pram dengan senyum tipisnya.

Reyna menutup pintu kamar lalu berjalan ragu. Di kasur putih itu Pram tampak berbaring nyaman disana. Pria itu memejamkan matanya melanjutkan tidurnya lagi membiarkan Reyna yang terlihat masih ragu.

"Tidur saja di sebelahku. Jika masih ragu kamu bisa keluar" kata Pram dengan mata tertutup.

Haahhh

Reyna membuang nafas panjang kemudian membuka lebar matanya dan meyakinkan dirinya. Ia lalu berbaring di sebelah Pram.

"Aku sangat deg degan. Dan mungkin dia bisa mendengar detak jantungku sekarang. Sekujur tubuhku panas. Sepertinya saat ini aliran darahku tidak teratur. Ini pertama kalinya aku tidur di kamarnya" _Reyna_

Pikiran Reyna mengawan. Ia masih belum bisa tidur. Kemudian tiba-tiba saja Pram berbalik langsung menarik Reyna dalam pelukannya.

"Tidurlah. Ini sudah malam" kata Pram mengeratkan tangannya di pundak Reyna membuat wajah keduanya semakin dekat.

Reyna semakin berdebar. Dadanya menggebu.

"Bisa kamu buka mata kamu?"

"Untuk?"

"Agar aku bisa tidur"

Pram membuka matanya perlahan. Ia memandang dalam pada Reyna begitupun sebaliknya. Hanya ada hembusan nafas dan detak jantung saling bersahutan memenuhi tiap sudut kamar.

"Boleh jujur?" Reyna membuka pembicaraan.

"Apa?"

"Tadi aku pergi dengannya. Dia bilang mencintaiku dan akan menungguku" Reyna mulai bercerita tanpa menyebutkan nama Tama karna Reyna tahu Pram akan marah jika ia menyebut nama pria lain saat sedang bersama.

Pram bereaksi atas pengakuan Reyna. Ia bermaksud melepaskan Reyna dari dekapannya namun....

"Bicaralah tanpa melepas pelukan ini" tahan Reyna.

Pram mengangguk setuju.

"Apa kamu menyukainya?" tanya Pram ingin tahu karna jawaban Reyna akan menentukan tindakan apa yang akan ia lakukan.

"Aku tidak suka kamu menanyakan ini"

"Saya butuh jawaban kamu" obrolan keduanya semakin serius.

"Aku merasa aku tidak perlu menyukainya tapi ini membuatku tidak bisa tidur" jawab Reyna ambigu. Ia marah pada dirinya sendiri. Kenapa ia bisa plin plan begini.

"Lihat saya dan lakukan apa yang mau kamu lakukan"

Reyna melakukan apa yang Pram suruh. Ia memandang Pram cukup lama dengan pikiran terpecah dua.

Tanpa ragu Reyna mencium bibir Pram. Ia ingin pikirannya dipenuhi tentang Pram saja.

Kemudian Pram semakin mengeratkan pelukannya pada Reyna tak akan membiarkan wanitanya itu pergi darinya.

"Reyna, kamu tahu apa yang paling menyakitkan dalam sebuah hubungan? Pengkhianatan. Kamu bisa saja melupakannya dengan mudah jika hubungan berakhir karna ketidakcocokan tapi akan sangat menyakitkan jika hubungan berakhir karna sebuah pengkhianatan. Aku tahu aku yang salah karna sejak awal tidak pernah ada untuk kamu. Aku terlalu larut dengan masalaluku dan mengabaikan kamu lalu membiarkan orang lain masuk tapi aku berjanji akan membuat hati kamu kembali lagi. Mungkin akan lama karna tidak mudah membuang nama yang sudah tertanam di hati. Sama sepertiku yang sampai saat ini masih mengingatnya namun aku akan berusaha sama seperti kamu. Kita akan melakukannya bersama" _Pram_

Terpopuler

Comments

Lastuti Mokodompit

Lastuti Mokodompit

Makin seru thor, makin penasaran deeh.... Lanjutkan

2022-08-28

0

Aqilah

Aqilah

lanjutkan ceritanya karna makin seru

2022-06-27

1

Tri Wahyuni

Tri Wahyuni

iy sdh Pram dn Reyna buka lembaran baru .saling membuka diri bikin kitmitmen jangan saling menyakitin dn saling berhianat ..dh saling terbuka dn saling jujur itu yg utama dlm klga ...

2022-06-19

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!