Harapan dan Kecewa

"Jika yang pertama untuk bukti lalu yang kedua untuk apa?" tanya Reyna serius sebelum Pram menciumnya untuk yang kedua kali. Kali ini Reyna dengan berani menatap dua pasang mata coklat kekuningan milik Pram.

Pram menatap lekat bola mata Reyna seraya mengelus lembut wajah mulus istrinya itu. Begitu intim tak berjarak. Seperti ada sesuatu yang menariknya. Pram tak melepaskan pandangannya.

"Sebenarnya apa yang mau kamu buktikan?" tanya Reyna memecah keheningan.

"Sorot mata itu begitu menyita pikiranku. Disana aku melihat ketakutan. Dia seperti sedang menahan sesuatu dalam waktu yang lama. Dia seakan mengunci dirinya sendiri agar tidak melewati batas yang sudah ia tetapkan sendiri" _Reyna_

"Apa yang sedang kamu sembunyikan?" tambah Reyna menyelidik.

Pram bergedik lalu mengambil satu langkah ke belakang. Wajahnya tampak kebingunan.

"Jangan sok tahu. Kamu tidak tahu apa-apa tentang saya" Pram berlalu berjalan cepat lalu menghilang dibalik pintu.

Di kamarnya berulang kali Pram mengusap kasar wajahnya.

"Apa yang kamu lalukan? Semuanya akan berakhir sama. Jangan memulainya Pram" saran Pram pada dirinya sendiri.

Pram merogoh sesuatu dari kantong celananya yang ternyata sebuah Black Card. Kartu itu sebenarnya ingin dia berikan pada Reyna sebagai imbalan agar Reyna mau berhenti dari pekerjaannya tapi Pram justru terjebak oleh perkataannya sendiri. Ia tidak mengerti, kenapa tadi justru ia menikmati cumbuannya di bibir Reyna. Sesuatu yang sudah lama tidak dirasakannya.

...-----------------------...

"Apa ini?"

"Menurut kamu?"

Reyna bingung kenapa tiba-tiba Pram memberinya kartu kredit tanpa batas padanya.

"Pakai saja jika kamu ingin beli sesuatu. Dan saya minta kamu berhenti dari pekerjaan kamu yang sekarang" pinta Pram serius.

Seketika mata Reyna mendelik heran. Otaknya coba menebak sesuatu yang sedang Pram rencanakan.

"Maksud kamu?"

"Saya rasa sudah sangat jelas. Berhenti bekerja dan gunakan kartu ini sesuka hati kamu"

"Kamu pikir aku akan nuruti permintaan kamu yang aneh ini. Aku suka dengan pekerjaanku dan aku senang beli barang dari uangku sendiri. Sampai kapanpun aku tidak akan pernah lakukan apa yang kamu minta. Dan kita juga sudah sepakat untuk tidak ikut campur urusan masing-masing. Jadi aku harap kamu...."

"Kamu pikir semua hanya tentang kamu saja hah. Kamu tahu siapa saya? Bisa saja nanti kamu keceplosan bilang kamu menikah dengan saya. Itu akan membuat saya malu jika semua orang tahu" potong Pram dengan intonasi menekan seakan setiap perkataannya adalah perintah yang harus dilakukan.

Keadaan keduanya kembali tegang saling beradu argument tidak ada yang mau mengalah. Reyna tetap ingin mempertahankan pekerjaan yang sudah didapatinya dengan susah payah sedangkan Pram tetap dengan pendiriannya, Reyna harus berhenti bekerja. Bagi Reyna ini bukan hanya tentang uang. Ini menyangkut apa yang ia suka, impiannya juga harapannya. Jika ini tentang uang maka Reyna dengan senang hati menerima tawaran Pram.

"Maaf tapi aku tidak bisa" ucap Reyna. " Aku akan berangkat kerja sekarang" pamitnya meninggalkan Pram.

"Berhenti" cegat Pram nyaring. "Bukankah pernikahan ini penting untuk kamu? Buktikan jika memang benar. Lakukan perintah saya" Pram menaruh Black Card di atas meja lalu melangkah pergi dengan setelan jas kantornya.

Reyna terduduk lemas. Kalimat terakhir yang Pram katakan seperti ultimatum untuknya. Lagi-lagi impian yang telah ia harapkan sejak lama harus sirna begitu saja. Padahal sedikit lagi, Reyna akan mengenggam impiannya.

Sepulangnya dari kafe Doria, Reyna hanya terguling malas di kasur empuknya. Ia tak bersemangat setelah pamit dari pekerjaannya. Reyna meringkuh menarik selimutnya ke atas menutupi seluruh tubuhnya dan hanya tersisa kepala saja. Ia menangis sesak meratapi nasib malang yang tiada henti menghampirinya. Sepanjang hari itu, Reyna tidak keluar kamar. Perut kosongnya tak ia hiraukan. Bahkan saat Pram pulangpun tak disambutnya.

Pram melirik kanan kiri memandangi rumah yang tampak hening. Pram lalu meraih Black Card yang ia berikan pada Reyna, masih ditempat yang sama.

Tok tok tok

"Reyna. Kamu didalam?"

Reyna menarik selimut hingga menutupi seluruh tubuhnya agar tidak mendengar suara Pram.

Tok tok tok

Masih tidak ada jawaban dari dalam.

"Apa dia keluar ya?" kemudian Pram mendial nama Reyna dilayar ponselnya untuk memastikan apakah Reyna keluar atau di kamar.

Pram menempelkan kupingnya di pintu kamar Reyna. Samar ia mendengar ponsel berdering.

"Saya tahu kamu didalam. Saya mau kita bicara" pesan Pram pada Reyna.

"Aku sedang tidak mau bicara. Tolong kali ini jangan memaksaku" balas Reyna harap.

Keesokan harinya seperti biasa Pram sudah siap berangkat kerja. Style yang ia gunakan tidak pernah gagal di tubuh atletisnya. Ia akan berangkat ke kantor lebih awal hari ini karna ada meeting pagi. Sedangkan Reyna masih enggan keluar dari kamarnya. Untuk saat ini ia tidak mau bertemu ataupun bicara dengan Pram. Sulit baginya menerima kenyataan kalau ia sudah berhenti dari pekerjaannya. Di rumah Reyna merasa kesepian, merasa sendiri tidak punya teman untuk bercerita. Di rumah Reyna merasa di asingkan dari dunia luar. Dan sekarang Reyna kembali merasa kesepian setelah Pram memaksanya untuk berhenti dari bekerja.

"Pak aku pergi dulu ya"

"Bu Reyna mau kemana? Tuan bilang ibu gak boleh pergi dari rumah" ujar pak Sandi satpam yang menjaga pintu gerbang rumah Pram.

"Aku sudah izin pak sama pak Pram, maksud aku mas Pram" kata Reyna berbohong.

Mendengar itu pak Sandi pun membukakan pintu gerbang membiarkan Reyna pergi.

Hampir satu jam perjalanan akhirnya Reyna sampai juga di sebuah rumah yang sangat dirindukannya. Rumah ayahnya. Reyna melangkah perlahan. Hatinya berdebar bahagia mengingat setiap moment manis bersama ayahnya di rumah sederhana milik ayahnya. Rumah itu penuh debu sekarang dan ada beberapa jendela yang kayunya sudah rapuh. Reyna segera membersihkan rumah untuk menghilangkan debu yang menempel. Setelah membereskan rumah dan mengisi perutnya, Reyna pun berbaring di kasur ayahnya lalu tertidur nyenyak disana. Tak terasa hari beranjak malam namun Reyna tak berniat pulang ke rumah Pram. Baginya disinilah tempatnya di rumah ayahnya.

Reyna memandangi ponselnya yang sejak tadi terus berdering. Panggilan Pram terus ia abaikan.

"Dimana kamu? Kamu tidak sadar ini sudah malam" Pram mengirim pesan pada Reyna.

"Disinilah tempatku. Aku akan tinggal disini. Tolong jangan menelponku lagi" balas Reyna singkat tanpa memberitahu tempat tinggalnya sekarang. Ia pun mematikan ponselnya, khawatir Pram akan menelponnya lagi.

Pram berusaha menghubungi Reyna lagi namun ponsel Reyna sudah tidak aktif.

"Aaaahhhhh" teriak Pram kesal seraya membanting ponselnya. "Selalu begini. Setiap ada masalah kabur. Kekanak-kanakan sekali" tambahnya tak habis pikir dengan sikap Reyna yang seperti anak kecil.

Pram lalu membanting tubuhnya di kasur menutup matanya dengan tangan kanannya. Nafasnya naik turun tak teratur. Pikirannya melayang coba mengingat tempat yang Reyna maksud.

Tok tok tok

Reyna bergegas begitu mendengar pintu rumah diketuk.

"Siapa sih pagi-pagi gini ngetuk pintu?"

Sontak Reyna terkejut begitu pintu dibuka.

"Kamu"

"Apa yang kamu lakukan disini? Ayo pulang" ajak Pram sambil mengenggam lengan Reyna.

Dengan tegas Reyna menyingkirkan tangan Pram darinya.

"Aku tidak mau. Aku lebih suka tinggal disini dan akan tinggal disini" kata Reyna dengan sorot mata yakinnya.

"Jangan keras kepala. Pulang sekarang" paksa Pram menarik keras tangan Reyna.

"Orang-orang disini tidak ada yang tahu kalau kita sudah menikah. Aku akan teriak jika kamu tetap memaksa. Pergi dari sini. Tempat ini tidak cocok untuk orang seperti kamu" ancam Reyna.

"Aku bisa membayar mereka semua dengan uangku untuk tutup mulut. Kamu tidak akan bisa melawanku. Berhenti bersikap sok keras dan pulang sekarang" ucap Pram dingin yang begitu yakin dengan kekuasaan yang dia punya membuatnya mampu melakukan apapun.

Reyna menundukkan wajahnya mengigit bibir bawahnya yang sedikit bergetar. Airmatanya menetes dari sudut matanya.

"Kenapa sih kamu suka sekali memaksakan kehendak kamu? Pernahkan sedikit saja kamu memikirkan apa yang aku mau. Sejak tinggal di rumah kamu, kamu selalu memaksaku untuk melakukan ini melakukan itu" suara Reyna sedikit parau. Airmatanya semakin deras keluar. "Aku tahu kamar pertama yang kamu beri itu kamar untuk pembantu dan aku tahu kamu menyuruhku untuk menyembunyikan pernikahan kita karna level kita berbeda. Tapi haruskah memaksaku untuk melakukan semua yang kamu suruh. Kamu bahkan memaksaku untuk berhenti bekerja. Kamu tahu susah payah aku mendapatkan pekerjaan itu. Itu adalah impianku" lanjutnya terbata-bata.

Reyna menyapu airmatanya dengan jari mungilnya.

Hahhhhhh

Kemudian membuang nafas panjang.

"Aku sudah memutuskan" Reyna menatap lekat sepasang mata pria didepannya. "Aku mau kita cerai" sambungnya Reyna tak terduga.

Pram terjegat sesaat. Terpaku layaknya patung. Lalu tersenyum tipis layaknya kertas, begitu tipis hingga tak terlihat.

"Hanya segini saja" ucap Pram ambigu.

"Maksud kamu?"

"Saya kesini untuk menyelesaikan masalah dan kamu kesini untuk kabur dari masalah. Baiklah, terserah kamu saja" ucap Pram pasrah berlalu pergi tanpa Reyna bersamanya.

Ucapan Pram seperti ujung cerulit yang menembus ulu hatinya. Tepat mengenai sasaran. Reyna berpikir ulang apakah keputusannya sudah benar? Ataukah hanya emosi sesaat.

"Kenapa seakan aku yang salah? Benarkah aku kabur dari masalah?" Reyna menghentak pelan kepalanya di dinding. Ia mulai merasa menyesal dan bimbang. "Tapikan ini juga salahnya, seenaknya saja maksa orang berhenti bekerja. Tapi sepertinya aku sedikit keterlaluan. Masa cuman disuruh berhenti kerja terus aku minta cerai. Padahal sudah sepatutnya tugas seorang istri mematuhi perintah suami. Aahh tau ah. Pusing banget gini" sesal Reyna frustasi. "Aku mau pulang tapi gimana caranya. Masa aku pulang sendiri. Malu banget. Aahh ayah aku harus gimana? Seperti orang bodoh kalau tiba-tiba aku muncul di rumah itu. Tapi masa aku harus nelpon dia terus minta jemput. Aahh gak gak malu-maluin banget. Ntar makin gede kepala tu orang. Merasa kalau dia tidak pernah salah" Reyna masih sangat ragu untuk pulang tapi ia tetap membereskan beberapa pakaian yang ia bawak. Jaga-jaga siapa tahu nanti Pram datang lagi.

Reyna menyesali perkataannya tadi. Sebenarnya ia tidak punya niat untuk bercerai. Itu tidak pernah terpikirkan olehnya tapi entah kenapa kata itu keluar begitu saja. Mungkin tadi ia terlalu terbawah amarah dengan sikap Pram yang tampak tidak merasa salah sama sekali.

"Lagian apa susahnya sih bilang maaf. Bukannya minta maaf tapi ia justru membela dirinya terus. Dan sekarang kenapa aku yang merasa bersalah?" Reyna mengenang kembali tatapan kecewa Pram sebelum pergi. Tatapan yang didalamnya tersimpan harapan. Malam itu berjalan lama bagi Reyna. Ia ingin cepat pagi berharap Pram mengetuk pintu rumah ayahnya untuk mengajaknya pulang.

Namun harapan itu tidak terwujud. Reyna menunggu penuh harap tapi sosok yang ditunggunya tak kunjung tiba. Sampai waktu telah berada di angka 15.00 pm, belum ada tanda-tanda Pram datang. Dengan rasa kecewa Reyna memutuskan untuk pulang sendiri. Reyna tidak tahu apakah Pram akan menerimanya atau justru mengusirnya.

"Aku hanya ingin kembali padanya" Reyna.

Di pinggir jalan Reyna menunggu sabar angkutan jalur ke arah rumah Pram. Tapi setiap angkutan yang ia lambaikan telah penuh dengan penumpang.

Sebuah mobil hitam melaju pelan.

Dari kejauhan Tama seperti mengenal sosok wanita yang berdiri di pinggir jalan. Ia memicingkan matanya memastikan penglihatannya. Mobil Tama pun berhenti tepat di depan Reyna. Dengan antusias Tama menghampiri Reyna setelah yakin kalau Reyna cewek yang menolongnya beberapa hari yang lalu.

"Reyna?"

"Iya. Kamu" Reyna diam sesaat. "Oh kamu pak Tama kan" lanjutnya.

"Tama saja. Sepertinya umur kita tidak terlalu jauh"

"Oh maaf"

"Gak perlu minta maaf juga. Kamu mau kemana?"

"Aku mau pulang cuman dari tadi angkutannya gak ada yang mau berhenti. Semuanya penuh" jelas Reyna seraya menyingkap keringat kecil di pelipisnya. Meskipun sudah jam 4 sore tapi sinar matahari masih bersinar terik.

"Oh ya udah kalau gitu saya antar" tawar Tama.

Sedikit ragu Reyna akhirnya menerima tawaran Tama.

...----------------------------...

Mobil Tama berhenti di depan rumah Pram yang masih terhalang pagar besi menjulang.

"Pak Sandi" panggil Reyna.

Tama membuka pintu mobilnya mendekati Reyna begitu Sandi membukakan pagar.

"Ini rumah kamu?" tanya Pram penasaran.

"Bukan"

"Lalu?"

" Saya kerja disini" jawab Reyna ragu tak ingin memberitahu Tama kalau ia istri dari pemilik rumah.

Tama mengerti arah pembicaraan Reyna. Ia tidak tega menanyakan apakah Reyna disini bekerja sebagai art. Ia tidak mau Reyna tersinggung dengan pertanyaannya.

"Boleh saya ikut masuk?"

"Maaf pak maksud saya Tama. Saya tidak bisa membawak orang lain masuk tanpa izin dari pak Pram"

"Ini rumah Arhan Pramana Adyguna kan?"

Reyna mengangguk mengiyakan.

"Saya temannya tapi kami memang sudah lama tidak bertemu karna saya tinggal di Amerika dan baru kembali 2 minggu yang lalu. Saya yakin Pram gak akan marah" kata Tama meyakinkan Reyna.

"Pak Sandi, pak Pram ada di dalam ya"

"Iya bu"

Pram merasa aneh dengan panggilan Sandi pada Reyna padahal jelas-jelas umur Sandi jauh lebih tua di atas Reyna.

Tok tok tok

"What? Tama. Sejak kapan kamu balik ke Indonesia" Pram tidak percaya Tama teman sepermainannya tiba-tiba ada di rumahnya.

Keduanya melepas rindu dengan pelukan hangat.

"Sebenarnya aku tidak ada rencana datang kesini tapi......."

"Teman kurang ajar" umpat Pram dengan senyum bahagianya. " Terus?"

"Tapi aku ketemu sama orang yang nolongi aku dan ternyata dia kerja disini"

Pram menaruh curiga dan ternyata dugaannya benar begitu Reyna muncul dari balik pintu.

"Reyna terima kasih sudah membawakku kesini. Jangan dimarah ya. Katanya dia takut kamu marah membiarkanku masuk ke sini"

"Tentu saja. Aku tidak akan marah" balas Pram seadanya dengan tatapan intens pada Reyna. Sedangkan Reyna hanya menunduk tidak berani membalas tatapan Pram.

Hmmmm

Dehem Tama canggung melihat Pram dan Reyna.

"Ayo masuk" ajak Pram. Reyna mengekor di belakang Pram.

"Kamu mau minum apa?"

"Air putih"

"Reyna bawakan air putih untuk Tama"

"Iya pak"

2 menit kemudian....

"Sejak kapan lo punya pembantu?"

Langkah Reyna seketika terhenti begitu mendengar pertanyaan Tama. Nyali nya ciut kembali ingin mundur lagi.

Pram memicingkan mata dengan pertanyaan Tama. Ternyata Reyna tidak memberitahu Tama tentang status mereka. Disatu sisi Reyna masih berdiri di belakang kursi yang diduduki Pram dan Tama.

" Baru" jawab Pram singkat.

"Tumben. Biasanya kamu tidak suka orang lain...."

"Terpaksa" potong Pram.

Prangggg

Nakas yang dibawak Reyna terjatuh membuat gelas di atasnya hancur berkeping-keping seperti hatinya yang selalu dengan mudah Pram hancurkan di saat nyalinya mulai kembali.

Tama dengan sigap menghampiri membantu Reyna mengumpulkan serpihan pecahan gelas.

"Jari kamu berdarah"

Tama bermaksud meraih tangan Reyna namun...

"Saya tidak apa-apa. Ini hanya luka kecil" sangkal Reyna tampak acuh dengan darah segar yang mengucur dari sela jarinya.

"Tapi..."

"Tolong jangan perdulikan saya" ucap Reyna tegas dengan tatapan tajam. Baginya Tama sama saja seperti Pram.

Jam 20.00 pm

Tok tok tok

"Reyna kamu sudah tidur" panggil Pram.

Reyna pura-pura tidak mendengar. Ia menutupi habis dirinya dengan selimut. Tapi semakin lama suara Pram semakin nyaring membuatnya tidak bisa tidur.

"Reyna buka pintunya atau saya dobrak. Saya hitung sampai tiga. Satu...dua...ti..."

Pintu terbuka tanpa aba-aba. Hal itu membuat Pram tersungkur masuk kedalam kamar Reyna.

"Aisshh"

"Ngapain kamu duduk di lantai?" tanya Reyna tanpa rasa bersalah. " Bisa diri sendirikan?"

"Kamu sengaja?"

"Sengaja apanya?" tanya Reyna balik bersikap masa bodoh. "Jika tidak penting, tolong keluar dari sini. Aku mau tidur" Reyna kembali menyelimuti tubuhnya lalu memejamkan mata tidak perduli dengan Pram yang terus memandangnya.

"Bangun" perintah Pram.

Reyna menggerakkan pundaknya layaknya orang yang sedang tidur. Ia tidak memperdulikan Pram.

"Gimana jari kamu? Harus diobati biar tidak infeksi" bahkan Reyna tidak perduli dengan Pram yang menenteng kotak P3K. Baginya luka di jarinya tidak seberapa dengan luka yang Pram berikan. Bukan hanya sekali tapi berulang kali.

"Sini jari kamu biar saya obati" tawar Pram lembut. Kemudian Pram meraih tangan Reyna namun dengan kasar Reyna menepis tangan Pram darinya.

Pram meletakkan kotak P3K di meja kemudian naik ke atas kasur menyelinap kedalam selimut memeluk hangat tubuh Reyna dari belakang. Hal itu tentu saja membuat Reyna kaget.

Reflek Reyna mencoba bangkit namun dengan cepat Pram menarik pinggang ramping Reyna memeluk Reyna semakin erat lalu menempelkan wajahnya di pundak Reyna.

Tentu saja tenaga Reyna tidak sebanding dengan tubuh kekar Pram. Melawanpun percuma karna Pram tidak akan melepaskan sesuatu yang ia inginkan.

"Apa yang kamu lakukan?" detak jantung Reyna tak stabil. Ada rasa takut dan nyaman datang bersamaan.

"Malam ini saya mau tidur disini jadi kamu jangan banyak bergerak. Jangan jauh-jauh dari saya" Pram menarik kembali pinggang Reyna agar lebih dekat padanya. Merasakan orama tubuh Reyna. Merasa lebih tenang dengan posisinya dan Reyna saat ini.

"Aku semakin tidak bisa memahaminya. Dia seperti orang yang memiliki kepribadian ganda. Kadang ia bersikap sangat kejam dan kadang dia bisa bersikap hangat seperti sekarang ini" _Reyna_

Dua insan yang selalu beda pendapat itu tertidur nyenyak tanpa batas. Bahkan pelukan keduanya begitu intim saling merasakan kenyamanan satu sama lain.

Terpopuler

Comments

Tri Wahyuni

Tri Wahyuni

sebenar nya pram dh mulai cinta sama Reyna begitupun Reyna sdh juga mulai cinta sama pram cuman saling egois saling g mau ngakuin saling gengsi ...

2022-06-18

1

Rice Btamban

Rice Btamban

lanjutkan Thor

2022-06-12

0

Mira Bae

Mira Bae

lanjut kilat thor. semangat nulis thor

2022-04-19

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!