CH 18 : Konflik Dengan Para Tetua

"Apa yang terjadi pada Bibi Xuanyi dan Nenekku?" tanya Evan.

"Sebaiknya kamu melihatnya sendiri. Aku akan mengantarmu untuk melihat mereka!" ujar Tetua Xianyi.

Kemudian dengan perasaan khawatir bercampur penasaran, Evan pun setuju untuk mengikuti Tetua Xianyi untuk melihat keadaan Bibi Xuanyi dan Pemimpin Sekte.

Beberapa saat kemudian akhirnya Evan dan Tetua Xianyi sampai ke tempat tinggal Bibi Xuanyi.

Di sana tampak Evan dan Tetua Xianyi yang berdiri tepat di depan pintu kamar tempat Bibi Xuanyi mengurung diri.

"Ibu mertuamu ada di dalam sana. Sejak mendapat kabar kematian suaminya dan kejadian diculiknya Ruyin dan Yuna, kondisi mental Ibu mertuamu menjadi sedikit tidak baik. Dia terus mengurung dirinya di dalam kamar. Kamu cobalah masuk dan bicara padanya!" ujar Tetua Xianyi.

Kemudian tanpa mengetuk pintu Evan membuka pintu kamar dengan perlahan.

Di dalam kamar, Evan melihat Bibi Xuanyi yang hanya duduk diam sambil melamun dengan mata yang sembab dan kosong.

"Bibi....." Evan mencoba memanggil dengan lembut.

Namun Bibi Xuanyi tak menjawab dan hanya tetap diam dan melamun.

Melihat Bibi Xuanyi tetap diam dan melamun dengan tatapan kosongnya, kemudian Evan mencoba untuk berjalan menghampiri Bibi Xuanyi.

Dengan langkah kakinya yang tak bersuara, Evan berjalan mendekati Bibi Xuanyi dan kemudian duduk berlutut di hadapannya.

"Bibi maafkan aku yang tidak bisa menjaga Ruyin. Sebagai suaminya aku merasa sangat menyesal karena gagal menjaganya. Aku sungguh minta maaf!" ucap Evan menundukkan kepalanya dengan perasaan bersalah di hadapan Bibi Xuanyi.

Evan yang berlutut dan menundukkan kepalanya kemudian merasakan sentuhan tangan yang lembut menyentuh kepalanya.

"Evan berjanjilah pada Bibi bawa kembali Ruyin dan Yuna dengan selamat!" pinta Bibi Xuanyi sembari menangis menatap Evan.

"Baik, Evan berjanji!" jawab Evan tanpa mengangkat wajahnya.

Setelah Bibi Xuanyi mengatakan permintaannya kepada Evan, kemudian Evan pun bangkit berdiri dan berjalan keluar meninggalkan kamar Bibi Xuanyi.

Di luar kamar, Evan bertemu kembali dengan Tetua Xianyi yang sedang menunggunya di depan pintu kamar.

"Sekarang, ayo kita ke tempat Nenek!" ajak Evan.

Tetua Xianyi mengangguk pelan dan dengan senang hati mengantar Evan ke Kediaman Pemimpin Sekte.

Beberapa saat kemudian Evan dan Tetua Xianyi pun sampai di tempat tujuan mereka.

Melihat banyak Para Tetua dan murid utama yang sedang berjaga di Kediaman Pemimpin Sekte, Evan merasa heran dan mengerutkan keningnya.

Sebaliknya, Para Tetua dan murid utama merasa sangat terkejut saat melihat Tetua Xianyi yang datang membawa Evan bersamanya.

Sesuatu yang sangat familiar di rasakan oleh Evan dari tatapan mata Para Tetua yang ditujukan kepadanya. Yah, itu adalah tatapan penuh kebencian.

"Tetua Pedang (Xianyi), bagaimana bisa kamu membawa pecundang sampah ini kemari? Sekarang suasana di Sekte sedang dalam keadaan kacau. Apa kamu ingin menambah kekacauan dengan membawa pecundang sampah ini kemari?" ujar Tetua Penegak Hukum dengan tatapan benci menatap Evan.

"Benar sekali. Walaupun sampah ini adalah cucu dari Pemimpin Sekte, dia sama sekali tidak pantas berada di sini!" sambung Tetua Obat ikut menghina Evan.

Evan yang mendengar hinaan tersebut tersenyum sinis.

"Heh, apakah ini adalah Sekte Puncak Dewi Putih yang dipimpin oleh Nenekku? Mengapa banyak sekali Anjing yang menggonggong disini?" ujar Evan sembari tersenyum remeh kepada mereka.

Mendengar perkataan yang diucapkan oleh Evan, seketika membuat Tetua Penegak Hukum dan Tetua Obat merasa sangat marah dan kesal.

"Kau bajingan...... Sebaiknya kau segera meminta maaf dan menarik kata-katamu kembali sebelum kami membunuhmu!" ujar Tetua Penegak Hukum mengancam Evan dengan penuh amarah.

"Hah, sungguh....menarik. Sudah cukup lama sejak terakhir kali aku diancam oleh seseorang seperti ini. Dan sekarang aku malah diancam oleh kalian, para Anjing Tua. Jangan hanya berbicara saja, Jika kalian memiliki kemampuan maka majulah dan bunuh aku!" kata Evan menantang mereka dengan sombong.

"Dasar kau, bocah arogan yang tidak punya sopan santun. Aku sebagai Tetua Penegak Hukum akan menggantikan Pemimpin Sekte untuk memberikan hukuman padamu!" ucap Tetua Penegak Hukum menyerang Evan.

Akan tetapi dengan sangat mudahnya Evan menghentikan serangan Tetua Penegak Hukum dan menangkap pergelangan tangannya.

Melihat Evan dengan sangat mudah menghentikan serangan dari Tetua Penegak Hukum, seketika membuat Tetua Xianyi dan Para Tetua lainnya merasa sangat terkejut.

"Inikah kekuatan dari seorang Tetua? Sungguh sangat lemah!" ucap Evan meremehkan.

*Dia menahan serangan ku? Bagaimana mungkin?* batin Tetua Penegak Hukum merasa sangat terkejut dengan Evan yang mampu menahan serangannya.

Kemudian dengan mengerahkan kekuatannya, Tetua Penegak Hukum mencoba melepaskan pergelangan tangannya dari cengkraman tangan Evan.

Namun seberapa keras Tetua Penegak Hukum mencoba melepaskan diri, ia sama sekali tidak dapat melepaskan pergelangan tangannya dari cengkraman tangan Evan.

*Aku sudah mengerahkan hampir seluruh tenagaku, tetapi dia masih tetap tidak bergeming? Seberapa kuat tenaga sampah ini?* batin Tetua Penegak Hukum benar-benar merasa sangat terkejut.

"Kau, lepaskan tanganku!" pinta Tetua Penegak Hukum dengan kasar.

"Apakah kau pikir, saat kau menyuruhku lepas, maka aku akan melepaskannya? Bodoh sekali!" ucap Evan segera mengeratkan cengkraman-nya dan meremukkan pergelangan tangan Tetua Penegak Hukum.

Seketika Tetua Penegak merasa sangat kesakitan dan jatuh berlutut di hadapan Evan yang masih mencengkram erat pergelangan tangannya.

Melihat Evan yang mampu membuat Tetua Penegak Hukum jatuh berlutut, Tetua Xianyi dan Para Tetua lainnya benar-benar merasa sangat terkejut.

"Kau, cepat lepaskan tanganku!" pinta Tetua Penegak Hukum sembari merintih kesakitan.

"Oh, bukankah tadi kau merasa sangat hebat? Mengapa sekarang berlutut di hadapanku?" ujar Evan merendahkan.

"Evan, kau jangan bersikap keterlaluan. Cepat lepaskan tangan Tetua Penegak Hukum, kalau tidak kami tidak akan bersikap segan padamu!" ucap Tetua Obat mengancam Evan.

"Hahahaha...., sungguh konyol. Sejak aku datang kesini, apakah kalian pernah bersikap segan padaku?" ujar Evan sembari melirik tajam mereka sembari mengeluarkan niat membunuh.

Melihat dan merasakan niat membunuh Evan yang sangat kuat, seketika Para Tetua langsung gemetar ketakutan.

*Ka...., kami gemetar?* batin Tetua Obat merasa terkejut dengan reaksi tubuhnya.

Melihat mata Evan yang dipenuhi aura kematian sungguh membuat Para Tetua gemetar ketakutan.

Di saat itu Para Tetua baru tahu kalau Evan yang saat ini berada di hadapan mereka bukanlah Evan yang dulu mereka kenal.

Di bawah tekanan niat membunuh milik Evan, Para Tetua menyadari bahwa kekuatan Evan telah berada jauh di atas mereka.

Kemudian Di tengah konflik antara Evan dengan Para Tetua, Tetua Xianyi dengan cepat menghentikan Evan.

"Evan, cukup! Aku membawamu ke sini untuk melihat keadaan Nenekmu. Jika kita tidak segera bertindak, takutnya sesuatu yang lebih buruk akan terjadi pada Nenekmu. Kamu tidak usah memperdulikan apa yang dikatakan oleh Para Tetua," ujar Tetua Xianyi mencoba menghentikan tindakan Evan.

"Kalian juga, sebagai Para Senior dan Tetua Sekte Puncak Dewi Putih, kalian seharusnya dapat memberi contoh yang baik untuk Para Junior, bukan mencari masalah!" lanjut Tetua Xianyi menegur Para Tetua.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

...****************...

...****************...

...****************...

Terpopuler

Comments

Carlo R

Carlo R

udah tua bukan makin bijaksana malah makin suka ngerendahin orang lain

2022-08-31

2

Reymundo Hidayat

Reymundo Hidayat

gas

2022-08-14

1

y@y@

y@y@

👍🏻👍🏼👍🏻👍🏼👍🏻

2022-07-19

1

lihat semua
Episodes

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!