Tujuh hari kemudian di Istana Kerajaan.
Evan yang sedang mengerjakan tumpukan dokumen di ruang kerjanya dihampiri oleh Qiu Shen.
"Ada apa Qiu Shen?" tanya Evan.
"Lapor Tuan Jenderal! Di luar, prajurit utusan Komandan Sea Lin datang menyampaikan pesan!" jawab Qiu Shen.
"Apa yang disampaikannya?" tanya Evan lagi.
"Besok siang, rombongan Komandan Sea Lin sampai ke Ibukota Kerajaan."
"Bagus! Ada lagi?"
"Ada satu pesan lagi, dan ini pesan dari Nyonya Pertama. Nyonya berkata, Tuan Jenderal tidak perlu mengadakan pesta sambutan untuk menyambut kedatangan mereka. Tuan Jenderal cukup menyambut kedatangan mereka dengan cara yang sederhana saja!" jawab Qiu Shen menyampaikan pesan dari Ririn.
"Baiklah, aku mengerti. Kamu boleh pergi!" kata Evan pada Qiu Shen.
Setelah menyampaikan dua pesan tersebut kepada Evan, kemudian Qiu Shen segera pergi meninggalkan ruang kerja tempat Evan berada.
******
Keesokan harinya di halaman Istana.
Evan dan yang lainnya menyambut kedatangan Rombongan Sea Lin yang baru tiba di Istana Kerajaan.
Di saat rombongan kereta kuda sudah berhenti, Ririn dan yang lainnya segera turun dari kereta kuda.
Gu Mei yang merasa sangat bahagia segera turun dari kereta kuda dan berlari menghampiri Evan.
Dengan penuh kerinduan dan air mata bahagia Gu Mei langsung memeluk tubuh Evan dengan sangat erat.
"Evan...... terima kasih...." ucap Gu Mei menangis bahagia.
"Kamu tidak perlu berterima kasih. Aku adalah calon suamimu, sudah jadi kewajiban ku untuk membantumu membalas dendam atas kematian Ayahmu!" ujar Evan membalas pelukan Gu Mei dengan hangat.
Dengan adanya pelukan hangat dari Evan, Gu Mei segera berhenti menangis dan menghapus air matanya.
Setelah Evan dan Gu Mei saling melepaskan pelukan hangat mereka, Evan segera menghampiri Para Istrinya yang baru turun dari kereta kuda.
Melihat Para Istrinya baik-baik saja, terutama Ririn dan Nan Ruyu yang sedang hamil, Evan merasa sangat senang dan bahagia.
Kemudian dengan penuh kerinduan dan kasih sayang, Evan memeluk Ririn dan Nan Ruyu dengan penuh kehangatan.
"Ririn, Nan Ruyu. Aku sangat merindukan kalian" ucap Evan penuh kerinduan.
Namun disisi lain, Cao Cao merasa sangat terkejut saat melihat Qiu Nia Lan turun dari kereta kuda.
"Nia Lan!" panggil Cao Cao segera menghampiri Qiu Nia Lan.
Qiu Nia Lan menoleh ke arah Cao Cao yang sedang berlari menghampiri dirinya.
"Kamu, ikut pindah kesini?" tanya Cao Cao pada Qiu Nia Lan.
"Yah..., aku ikut pindah kesini!" jawab Qiu Nia Lan mengangguk cepat. "Kenapa, apakah kamu tidak senang aku pindah kesini?" lanjut Qiu Nia Lan bertanya.
"Mana mungkin aku tidak senang. Aku sangat senang melihat kamu pindah kesini." kata Cao Cao merasa sangat senang dan gembira.
"Begitukah?"
"Yah Tentu saja!" kata Cao Cao tersenyum senang. "Qiu Nia Lan, ayo ikut aku!" ajak Cao Cao menarik tangan Qiu Nia Lan.
"Kemana?" tanya Qiu Nia Lan merasa heran.
"Aku akan membawamu berkeliling Istana!" jawab Cao Cao sembari tersenyum.
Namun tiba-tiba Qiu Nia Lan menarik dan melepaskan tangannya dari genggaman tangan Cao Cao.
Cao Cao yang melihat itu merasa terkejut dan heran.
"Ada apa?" tanya Cao Cao.
"Aku capek..... Bisakah kamu menggendongku?" pinta Qiu Nia Lan.
Mendengar itu Cao Cao tersenyum dan segera membungkuk membelakangi Qiu Nia Lan.
"Ayo...." kata Cao Cao sembari tersenyum kepada Qiu Nia Lan yang berdiri di belakangnya.
Melihat itu, Qiu Nia Lan tersenyum dan segera naik ke punggung Cao Cao yang sudah membungkuk dihadapannya.
Setelah Qiu Nia Lan naik ke atas punggungnya, Cao Cao bangkit berdiri dan berjalan pergi meninggalkan Evan dan yang lainnya.
"Cao Cao, kamu membawa Qiu Nia Lan kemana?" tanya Evan yang melihat kelakuan adik laki-lakinya.
"Aku akan membawa calon istriku berkeliling Istana. Kakak tenang saja, aku tidak akan membawa calon istriku pergi jauh-jauh!" jawab Cao Cao tanpa menoleh ke arah Evan yang berada cukup jauh di belakangnya.
"Aku tidak salah dengar bukan?" tanya Evan pada orang-orang di sekitarnya.
"Kamu tidak salah dengar suamiku. Adik laki-lakimu itu memanggil Qiu Nia Lan dengan sebutan Calon Istrinya" kata Ririn menjawab Evan.
"Bocah ini sudah mulai tidak beres" gumam Evan merasa ada yang tidak wajar dengan kelakuan Cao Cao.
"Sai!" panggil Evan.
"Saya, Tuan Jenderal!" jawab Sai yang berada tak jauh dari Evan.
"Kamu awasi kedua bocah itu. Jangan biarkan mereka melakukan hal-hal yang tidak sewajarnya mereka lakukan." perintah Evan pada Sai.
"Baik, Tuan Jenderal!" kata Sai menerima perintah yang diberikan oleh Evan kepadanya.
Sesaat Sai ingin melangkah pergi, Sai melirik sekilas ke arah Hua Qing Qing yang saat itu sedang melihat ke Evan yang sedang dikelilingi oleh para istrinya.
Melihat itu, Sai tersenyum dan kemudian mengalihkan pandangannya dari Hua Qing Qing.
Namun saat Sai baru saja mengalihkan pandangannya, kemudian Hua Qing Qing menoleh dan melihat ke arahnya.
Hua Qing Qing terus melihat ke arah Sai, dengan harapan Sai akan berbalik dan menoleh ke arahnya.
Namun apa yang diharapkan oleh Hua Qing Qing tidak terjadi.
Tanpa menoleh, Sai segera pergi untuk menjalankan tugas yang diberikan oleh Evan kepadanya.
Melihat Sai telah pergi tanpa menoleh ke arahnya, Hua Qing Qing tersenyum kecewa dengan menundukkan pandangannya.
Karena para rombongan sudah lelah dalam perjalanan menuju ke Ibukota Kerajaan, Evan segera menyuruh mereka semua untuk pergi beristirahat.
Satu persatu semua orang pergi meninggalkan halaman Istana Kerajaan dan menuju ke tempat tinggal mereka masing-masing.
******
Sore hari di jalanan utama Ibukota Kerajaan, tampak Cao Cao dan Qiu Nia Lan yang sedang jalan-jalan santai dengan beberapa makanan manis di tangan mereka.
Sambil bergandengan tangan, Cao Cao dan Qiu Nia Lan bercanda ria di sepanjang jalan pulang menuju Istana Kerajaan.
"Cao Cao, kamu cobalah punyaku. Rasanya manis sekali!" kata Qiu Nia Lan memberikan Cao Cao permen yang sudah dijilatnya.
"Apakah boleh?" tanya Cao Cao sedikit ragu.
"Kenapa tidak boleh? Aku belinya juga pakai uang kamu!" kata Qiu Nia Lan.
"Bukan itu masalahnya. Tapi......."
"Mau tidak?" Qiu Nia Lan sedikit memaksa dengan senyumannya.
"Baiklah, aku mau!" dengan senang hati Cao Cao memasukkan permen milik Qiu Nia Lan ke dalam mulutnya.
"Bagaimana, enak bukan?" tanya Qiu Nia Lan dengan sangat polosnya.
"Yah, enak sekali!" ucap Cao Cao menyembunyikan wajahnya yang merona.
Sementara itu tak jauh di belakang Cao Cao dan Qiu Nia Lan, tampak Sai yang sedang mengikuti mereka dengan perasaan jengkel.
*Sial, aku benar-benar dikalahkan oleh seorang bocah!* batin Sai sangat terpukul.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...****************...
...****************...
...****************...
...****************...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 44 Episodes
Comments
Melgisha Rafa
llwoolWes
2022-07-05
1
Zuhendra
haha yg sabar sai 😅😅
2022-06-25
0
faisal aja
mantaap... thor.....👍👍👍
2022-06-02
0