Eka menatap Madya dengan sejuta rasa yang tak dapat diartikan. Mbah Author sendiri malas mengartikan karena ... sejuta? Satu novel tidak akan selesai. (Tapi lumayan sih buat kejar kata).
"Dia itu beda dengan mantan waktu SMA. Yang kemarin ini lebih dalem. Beda umur beda kedalaman rasa."
"Bahahah ...." Sekali lagi Madya kelepasan. Dia merasa lucu dengan cinta-cintaan pada usia muda seperti ini. Dia telah melalui semuanya.
"Ketawa lagi kamu! Keluar sana!"
"Ampun, Mas. Aku cuma mau bilang kalau kamu bakal ketemu orang yang tepat yang bakal kamu nikahin. Orangnya baik, pengertian, cantik, dan ibu yang baik banget buat anakmu nanti."
"Bisa nggak kalau orang itu Intan?"
Oh, nama mantannya Intan. (Madya).
"Ehm ... Mbak Intan ya baik, tapi bukan dia yang bakal nemenin hidup Mas Eka nanti. Eh, udah berapa lama putus sama Mbak Intan?"
"Sebulan yang lalu. Kan kamu lihat sendiri aku pulang sambil marah-marah waktu itu."
"Terus sekarang kamu ngajak balikan?"
Eka mengangguk. "Tadi aku lihat dia dideketin cowok lain. Aku cemburu banget. Ternyata aku belum ikhlas. Terus aku telpon, aku SMS ngajak balikan, dia nggak mau."
"Lhah, kamu kok ngajak balikan lewat SMS sama telpon? Datengin dong."
"Dia diajak ketemuan aja nggak mau."
"Pas kamu lihat dia dideketin sama cowok lain, nggak langsung samperin?"
"Dia terus pergi tadi. Cuma lihat sekelebat."
Madya turun dari kursi kemudian duduk di samping Eka. Dia menepuk bahu kakak laki-lakinya itu.
Meski aku ngerasa ini lucu karena udah pernah ngalamin semua, bagi mereka ini adalah masalah serius. Semua orang menghadapi level masalahnya sendiri-sendiri. Bagi anak-anak 5 tahun, rebutan makanan adalah masalah serius. Bagi anak SD kelas 1, rebutan pensil adalah masalah serius. (Madya).
"Sabar ya, Mas."
"Iya ... aku sabar kok. Kadang ngerasa kayaknya enak jadi kamu, belum pernah pacaran sama sekali. Berarti, kamu belum pernah ngerasain sakitnya diputus."
"What the helll!"
Ish, ngumpat pake bahasa linggis. Dia jadi aneh, udah didukunin pun nggak sembuh malah tambah parah. Apa jangan-jangan dia kena cuci otak? (Eka).
Eka tak menjawab umpatan Madya. Dia hanya memandangi adiknya dengan satu alis terangkat (sebenarnya ingin mengangkat kedua alis, tapi kurang keren memperlihatkan kelihaian otot wajah).
"Eh ... bener ding, emang aku belum pernah pacaran. Tapi begini, Mas, aku juga ngerasain suka sama orang. Dan ketika orang itu ternyata nggak suka sama aku, aku juga patah hati kayak yang kamu rasain sekarang."
"Itu sih sekedar kasih tak sampai. Lebih sakit patah hati yang kayak aku gini, pernah pacaran, pernah dalem perasaannya terus udahan."
"Hah! Iya, iya! Mas Eka adalah orang paling menderita di dunia ini, dan orang yang paling tersakiti di dunia ini. You win [Kamu menang]!"
Madya kemudian meninggalkan Eka. Gagal sudah acara penghiburan yang diminta Bu Sriyani. Dia tidak tahan dengan orang yang merasa dirinya adalah orang yang paling tersakiti.
Madya ke kamar, menutup pintu ruangan itu rapat-rapat. 2 orang kini sedang dia pikirkan. Yang pertama adalah siswa tampan pendiam sang calon dokter masa depan, Daniel. Yang kedua adalah kakaknya sendiri, Eka.
Dia belum mampu mendefinisikan apa yang sedang ia cemaskan saat ini. Ponsel Si Emen-nya berbunyi. Seseorang menelpon. Tidak perlu menebak siapa yang menelpon karena namanya tertera di layar.
📞"Halo, Madya, kamu nggak apa-apa?"
Tiba-tiba mata Madya mengeluarkan air mata harunya. Asa sangat mengkhawatirkan Madya setiap kali ada tanda-tanda Yeni akan mengerjainya. Lebih terharu lagi, 18 tahun ke depan, dia tetap menjadi tempat Madya berbagi saat hidupnya sedang kurang beruntung. []
Bersambung ....
***
Hey hey hey, ini nih, simbah mau referensiin novel kece badai di entun judulnya HIDDEN BABY. Penulisnya adalah daun teh pilihan, pucuk pucuk pucukkkkk yaitu Teh Ijo. Hyuk, cekibrot bekicot.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 97 Episodes
Comments
Nok Lina
aku kesepian , aku bahkan ga punya kawan thor😞
2024-02-19
0
sasri
😘😘
2022-09-27
0
NAZERA ZIAN
hahaha, mbk othor ada2 saja...
2022-08-06
1