"Madya, Bu."
"Kemarin habis diobatin bukannya sembuh kok malah makin parah gini?"
"Makin parah gimana sih, Bu?"
"Ya kamu jadi aneh."
"Aneh gimana? Aku pake baju lengkap, nggak pake plastik kresek buat baju. Ngomongku juga biasa aja, nggak tiba-tiba pake dead language."
"Nah tuh, mulai lagi kan anehnya. Apa itu det lenguej? Bapak di mana tadi? Pasti dia juga bakal jantungan lihat kamu kayak gini!"
"Bapak udah berangkat kerja, Bu. Kan udah jam segini."
"Oh iya. Tuh, Mami sampai lupa jam kerja bapakmu."
"Ibu bukan Mami. Bu ... dengerin aku sebentar aja."
Madya memegangi kedua bahu Bu Sriyani. "Tolong lihat aku, Bu!"
Sejenak Bu Sriyani memandangi anak keduanya itu. Dia melihat rambut indah terurai, wajah ayu yang jarang ditampakkan, wangi harum tubuh yang jarang dia hirup.
"Aku mirip artis nggak, Bu?"
"Hah! Tuh, kan!"
"Eit eit ... lihat aku, Bu! Dibanding kemarin-kemarin, hari ini aku gimana?"
"Kamu cantik. Lebih cantik sekarang."
"Apa Ibu nggak seneng punya anak cantik?"
"Se-seneng sih."
"Apa Ibu tahu kalau penampilanku sebelum ini termasuk cupu dan sangat ndeso?"
Bu Sriyani menggeleng. Menurutnya, penampilan Madya biasa saja, tidak istimewa tapi juga tidak buruk rupa.
"Begini, Bu. Aku merasa nggak percaya diri dengan penampilan sebelumnya. Dan aku sering jadi sasaran bully temen-temenku di sekolah?"
"Bully? Apa itu?"
Akh, istilah bully belum ngetrend dekade ini. (Madya).
"Bully itu apa ya, ehm ... rundung. Diolok-olok, diejek sampai mentalku down. Di sekolah, aku cuma dijadiin bahan tertawaan."
Sekali lagi Bu Sriyani merasa asing dengan segala istilah yang digunakan oleh Madya. Ketenangan Madya dalam berbicara juga membuat ibunya merasa sedang berbicara dengan wanita berusia tidak jauh darinya.
"Ibu nggak usah khawatir, aku tetap Madya anak Ibu. Kan aku nggak aneh-aneh, nggak ngerokok, nggak narkoboy, tetep masuk sekolah, tetep pulang tepat waktu."
Perlahan Bu Sriyani tenang. Madya benar. Selain penampilan dan cara bicara yang sedikit berubah, gadis di hadapannya ini masih Madya, anaknya.
"Kamu ... diolok-olok di sekolah?"
Madya duduk untuk menyantap sarapan pagi sembari mengangguk pelan. Bu Sriyani turut duduk.
"Kenapa nggak bilang sama Ibu?"
Madya tersenyum kecut. "Dulu aku belum dewasa mikirnya, masih muda banget, nggak tahu musti gimana. Dan aku pikir, ngomong sama Ibu cuma bakal bikin khawatir."
Eh, keceplosan. (Madya).
"Dulu? Maksudnya ...."
Belum sempat Ibu bertanya semakin jauh, Eka bergabung bersama mereka di ruang makan.
"Wueh, siapa ini?"
Eka memandangi Madya dari ujung rambut hingga ujung jempol kaki yang sudah tertutup sepatu. Adiknya berubah menjadi cantik dan wangi. Sebelumnya Madya tidak pernah menggunakan deodorant.
Sekarang pun belum memakai obat ketek yang ber-zargon 'setia setiap saat', tapi sudah menggunakan bedak tawas ditambah bibit parfum 2-ribuan.
"Cantik banget adikku. Jangan lupa kemarin utang 2 ribu buat modalin kecantikan kamu."
"Iya, tenang aja. Aku catet, Mas."
***
SMA Pioneer
Madya telah berada di depan sekolah. Dia memandangi papan nama sekolahnya.
Kenapa dulu aku bisa sekolah di tempat bagus ini? Coba aku sekolah di SMA biasa aja. Mungkin nasibku nggak bakal jadi bahan bully-an. (Madya).
Beberapa siswa yang melewatinya memandang takjub. Tidak banyak yang menyadari dia adalah Madya.
"Madya! Astaga! Ini beneran kamu?" Asa yang baru saja datang merasa takjub dengan makhluk di depannya ini.
Sedikit terkejut bertemu Asa versi muda, Madya tersenyum manis dan percaya diri. Iya lah, gadis berjiwa 35 tahun itu kini tahu bagaimana bersikap.
"Bukan! Kenalkan, aku Song Hye Kyo."
"Ahahah ... bisa aja kamu!"
Hampir aja bilang Moon Ga Young. Kamu nggak bakal kenal siapa itu Moon Ga Young sampai 15 tahun ke depan. (Madya). []
Bersambung ...
***
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 97 Episodes
Comments
yeyen melia😍😍
iya lh kan emang madya
2023-01-28
0
sasri
bisa aja si madya
2022-09-25
0
NAZERA ZIAN
ceritanya bikin senyam senyum sendiri, hampir dibilang gila aku thor. 🤭
2022-08-06
1