Beberapa bulan kemudian
Dengan mobil bekas pakai yang belum lama dibelinya, Madya mengunjungi sebuah rumah singgah. Rumah singgah itu diperuntukkan bagi ibu-ibu muda yang hamil tanpa rencana yang ingin menyelamatkan anaknya.
Tak sulit ditebak, di dalam rumah singgah itu terdapat banyak wanita muda yang perutnya sedang melendung. Namun, dia tidak mengunjungi para ibu muda itu karena tidak kenal.
Dia mengunjungi sahabat sekaligus saudara iparnya yang mendirikan rumah singgah mulia tersebut.
"Asa ... kangen." Madya memeluk sahabatnya itu sembari mengumbar kalimat kerinduan.
"Hayah, kangen apaan, kita kan ketemu kalau ada acara keluarga besar."
"Tapi ketemu kayak gini kan jarang."
"Eh, mobil baru nih ye. Jendes semakin di depan. Nadila nggak diajak?"
"Enggak, aku lagi pengen me time aja."
Mereka duduk di teras kamar Asa. Rumah singgah itu merupakan bekas vila sehingga tatanan dan suasananya estetik.
"Radisa mana?" Madya menanyakan anak Asa yang berusia 9 bulan.
"Tidur."
Asa menyuguhkan teh SariMambu, teh bermerk paling terkenal di negeri anonim ini. Madya menghirup aroma teh itu seraya memejamkan mata.
"Hidup emang kadang nggak ketebak ya, As."
Asa melirik jengah ke arah Madya mendengar panggilan khasnya disebutkan. Hanya Madya satu-satunya orang yang memanggilnya 'As'. Tidak mengapa sebenarnya karena itu adalah bagian depan namanya.
Dia hanya takut jika orang lain mendengar, mereka akan salah kaprah mengira namanya Asbak, Asbun atau malah Asu.
"Iya, aku masih inget waktu SMA kamu itu cupu hihihi." Asa tertawa kecil mengingat wajah culun Madya saat SMA.
"Sekarang aku cakep, kan?"
"Banget. Apalagi sekarang menyandang status jendes. Tahu sendiri kalau janda semakin di depan."
"Ini berkat kamu juga, As. Kan kamu yang ngajarin make up."
"Aku kan cuma mengawali. Selanjutnya, kamu udah banyak belajar dari tutorial di Kowetube."
Tiba-tiba Madya berdiri.
"As, aku kok kebelet gini. Padahal baru nyeruput dikit teh buatanmu. Jangan-jangan kadaluarsa ya?"
"Heh, ngarang aja! Ini teh SariMambu, teh nomer wahid seantero negara ini!"
"Iya, tapi tanggalnya kamu lihat enggak?"
"Lihat, lah! Udah sana masuk ke kamarku, ngelewatin tempat tidur, nah pojokkan situ toilet kamarku. Tapi jangan berisik, awas kalau sampai Radisa bangun!"
"Anterin dong!"
"Nggak akh, mau ngeteh."
Madya memasuki kamar Asa yang baru pertama kali dimasukinya. Sudah beberapa kali dia datang ke rumah singgah ini. Terakhir kali adalah saat Radisa, anak Asa, lahir.
Namun, baru sekali ini dia blusukan hingga ke dalam kamar pribadi Asa. Sebelumnya, acara perayaan kelahiran anak sahabat sekaligus saudara iparnya itu diselenggarakan di aula utama.
Dengan mengendap-endap dia menggunakan toilet. Sebisa mungkin dia meminimalisir suara kucuran pembuangan alami makhluk hidup yang akan membuat badan lebih enteng itu.
Selesai membuang air dalam dari dalam raganya, dia keluar dari toilet. Matanya menangkap bayangan seorang bayi berumur 9 bulan sedang tertidur dengan posisi tangan dan kaki terbuka maksimal.
"Akh, bayi ... lucu banget tidurnya," batinnya gemas.
Madya melihat ke sekeliling ruangan kecil itu.
Sungguh seperti kamar vila, karena memang bekas vila. Kecil. Namun, jika para penghuni ingin berkumpul, mereka bisa menggunakan aula.
Kayaknya damai banget hidup di sini. Bisa bantu banyak orang. (Madya).
Pandangan matanya kini beralih ke atas meja yang terdapat foto pernikahan Asa dengan Dion suaminya.
"Beruntung banget kamu dapet Dion. Dan nggak nyangka akhirnya kamu nikah sama Dion meski untuk dapet anak, kamu musti nunggu 9 tahun."
Madya mengingat bagaimana dirinya berperan serta dalam pertemuan Asa dengan suaminya. Madya Dui Brata mempunyai kakak laki-laki bernama Arsa Eka Brata atau biasa dia panggil Mas Eka.
Eka menikah dengan istrinya yang bernama Deolinda. Deolinda merupakan kakak dari Dion. Jadi, Madya dengan Dion adalah saudara ipar.
Asa masuk ke dalam kamar.
"Oh ... kirain pingsan atau kenapa. Pipis aja lama," kata Asa sembari mengelus dadanya.
"Kamu beruntung banget dapat suami kayak Mas Dion."
"Ini juga berkat jasa kamu, Mad. Karena kamu minta aku ngerias di nikahan kakakmu dengan kakak mas Dion, aku sama dia bisa ketemu."
Ya, berkat Madya yang merekomendasikan sahabatnya itu sebagai MUA, Asa dan Dion bertemu untuk pertama kali kemudian menjalin hubungan.
Ringkasan kekerabatan mereka adalah kakak Madya yang bernama Arsa Eka Brata menikah dengan Deolinda (kakak Dion), kemudian Dion menikah dengan Asa, sahabatnya. Maka kini Madya dan Asa adalah saudara ipar agak jauh. Ruwet, bukan?
Madya meletakkan foto pernikahan Asa dan Dion kemudian mengambil sebuah undangan pernikahan berwarna ungu di sebelahnya. Matanya terbelalak membaca nama yang tertera di sana.
'Usman Heriawan', mantan suaminya.[]
Bersambung ...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 97 Episodes
Comments
yeyen melia😍😍
nyimak
2023-01-27
0
sasri
🤗🤗🤭
2022-09-23
0
NAZERA ZIAN
hahaha, betul jg tuh...
2022-08-05
1