"Anu, gini lho, kalau saya belain dikira ikut campur urusan pribadi."
Madya menatap kasir itu tak percaya. Mungkinkah hati nurani sudah lenyap sehingga orang-orang diam saja melihatnya di-bully?
Atau, Yeni terlalu pintar sehingga adegan-adegan pembullyan seakan seperti candaan?
"Kalau sampai membahayakan orang lain, apa Kakak akan tetep diem aja?"
"Ya enggak, kalau sampai taraf itu, saya bakal panggil polisi."
"Apa polisi bakal secepat itu datengnya? Sebelum mereka dateng, Kakak biarin orang di-bully?"
Kok jadi aku yang kena, sih? Dasar anak-anak jaman sekarung ... eh, sekarang. (Kasir).
Kasir itu menghela napasnya kasar. "Begini, Dik. Anak SMA yang sering sama Adik ke sini itu bilang kalau kalian itu BFF. Jadi, saya percaya aja kalau yang kalian lakukan itu ya buat seru-seruan aja."
"Hah? BBF? Boys Before Flower?"
"Apaan tuh? BFF itu Best Friend Forever."
Astaga, aku lupa kalau drama Korea Boys Before Flower itu baru launching tahun 2009. Mereka mana ngerti sekarang. (Madya).
"Best Friend Forever? Dia bilang gitu?"
Kasir itu mengangguk. "Baru sekarang ini saya nyadar kalau Adik ternyata mau menghindar, gitu ya? Berarti aslinya Adik nggak terima dicanda-candain, kan?"
Madya mengangguk. "Terus terang saya lupa yang kemarin-kemarin itu ngapain aja. Tapi, untuk yang hari ini bakal keterlaluan banget."
"Tahu dari mana?"
"Dari ... pokoknya saya udah tahu."
Nggak mungkin aku bilang aku datang dari masa depan dan tahu semua yang terjadi hari ini. (Madya).
Madya segera keluar melalui pintu samping yang biasa digunakan oleh para pegawai. Dia memutari gedung kafe yang lumayan besar itu untuk mencapai bagian depan.
Saat berada di sisi samping kafe, dia mengintip geng Yeni yang rupanya telah bersiap dengan amunisi mereka yaitu tepung terigu jamuran dan telur busuk.
Kalau aku kembali ke masa lalu, seharusnya ini saat yang tepat untuk balas dendam. Ish kayak sinetron ikan terbang. (Madya).
Madya tersenyum saat di otaknya terlintas ide yang sangat brilian untuk membuat geng itu kapok mengerjai orang lain. Dia merogoh tas dan meraih ponsel untuk merekam segala perangai kumpulan siswa kurang kerjaan itu.
Dia mengangkat ponselnya dan siap memencet tombol hingga dia menyadari bahwa ....
Bajilak! Handphone-ku Si Emen C45 mana ada kameranya. (Madya).
Tak ada yang bisa dia lakukan. Ponsel pada jaman itu belum secanggih 2 dekade setelah itu.
Kecewa yang teramat sangat dirasakan wanita bertubuh gadis muda itu. Dia beranjak dari sana dengan sedikit mengendap-endap agar tidak ketahuan oleh Yeni dan teman-temannya.
Madya berjalan menyusuri jalan besar. Tiba-tiba sebuah sepeda motor berhenti di dekatnya.
Pemuda yang menumpangi sepeda motor itu mengulungkan helm kepada Madya.
"Kok jalan sampai sini, sih? Kenapa nggak nunggu aku aja di sana?"
Mata Madya terbelalak melihat pemuda yang ternyata adalah kakak laki-lakinya itu. "Mas Eka!"
Madya memekik histeris sembari memeluk kakaknya itu. Dia melepas pelukan kemudian mengamati wajah kinclong kakaknya versi muda.
"Mas Eka ganteng banget nggak ada keriput, nggak ada uban."
"Hey hey, kamu kenapa sih?"
"Eheheh, nggak apa-apa, Mas. Cuma kangen aja lama nggak ketemu."
"Lama nggak ketemu gimana? Tiap hari ketemu kok!"
"Oh, ahahahah! Aku lagi embuh. Eh, kok Mas Eka bisa tahu aku di sini?"
Eka semakin heran dengan kelakuan adiknya itu. "Gimana sih? Katanya disuruh jemput agak siang di Kafe Melan. Ini lho SMS-mu tadi pagi."
"Ahahah, iya ... maaf, aku lupa."
Madya mengenakan helm kemudian membonceng motor Eka.
"Udah siap pulang?" tanya Eka memastikan posisi Madya sudah beres jok belakang motornya agar tidak menggelundung.
"Nggak! Kita nggak pulang. Kita ke mall!"
"Hah? Ke mall?" []
Bersambung ....
***
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 97 Episodes
Comments
sasri
🤗🤗🤗🤗
2022-09-23
0
Noer Soeryantie
berharap emang bener kembali ke masa sma ya.. jangan sampe nanti pas sadar madya cuma mmiiimmmpppiiii🤣🤣🤣🤣
2022-06-04
0
langitsenja
critanya menarikkk seruuu fav dari awal, slalu like hadiah n lanjut vote🥰🤗
2022-05-05
1