"Ada tiga."
Kali ini Madya yang agak terkejut dengan jawaban paranormal itu.
Bener ada tiga. Dia betulan sakti atau kebetulan bener ya? (Madya).
"Kira-kira siapa yang jadi presiden, Mbah? Sama dengan yang sekarang, atau ganti."
"Ga-ganti, dong! Kita kana udah masa reformasi. Setelah ini presiden nggak ada yang mimpin lebih dari satu periode."
Kena! Ternyata yang tadi cuma kebetulan aja bener. Padahal presiden incumbent [yang sedang menjabat] bakal mimpin dua periode. Eraku udah cerai aja presidennya mimpin dua periode. (Madya).
Persiapan tungku dan kemenyan telah usai. Asap sudah mengepul disertai aroma kemenyan yang menggetarkan banyak makhluk tak kasat mata.
Madya sampai bingung sendiri, ini adalah ritual mengusir atau justru mengundang makhluk halus?
Bulu kuduknya mulai berdiri. Namun, dia diam saja dari pada mengeluarkan argumen yang membuatnya tambah terlihat dewasa.
Paranormal itu melafalkan mantra-mantra dengan artikulasi tidak begitu jelas. Madya masih saja memandangi si Mbah Dukun dengan pandangan menyipit disertai perasaan geli.
Semua rasa geli dan penasarannya itu berganti menjadi perasaan ngeri saat sang dukun mengambil sebuah botol air mineral dari dalam tasnya.
"Mbah, jangan sembur, saya nggak mau!"
Bu Sriyani belum merespon. Dia masih terpaku melihat ritual sang dukun.
"Bu, tadi janjinya nggak pake acara sembur-semburan!" rengek Madya.
Bu Sriyani turut panik, tapi demi pengobatan agar Madya segera bebas dari keanehan, dia menenangkan. "Tenang, Mad! Kalau emang harus gitu buat sembuh, biarin aja. Tahan, ya!"
Dukun itu memandangi ibu dan anak di hadapannya dengan tatapan bengong.
"Ini air minum saya, Dik. Saya haus," kata Mbah Dukun sembari meneguk air mineral terkenal ber-merk Akuasu tersebut.
"Oh, maaf, saya lupa belum buat minum. Sebentar saya buatkan."
"Nggak apa-apa, Bu. Nggak usah repot-repot."
"Nggak repot kok."
"Okelah kalau nggak repot, sekalian cemilan ya."
Bu Sriyani bergegas ke belakang.
"Fyuh, untung nggak pake sembur-semburan."
"Itu metode lawas, Dik. Jangan kuatir."
Dukun itu kembali merapal mantra. Dia mengangkat tungku kemudian meniupkan asapnya ke depan wajah Madya.
"Uhuk ... uhuk."
Nggak disembur sih, tapi kalau gini hampir sama kayak orang ngerokok. Paru-paruku, woy! Mana bau menyan. (Madya).
Bu Sriyani telah kembali ke ruang tamu untuk menyajikan minuman dan cemilan. Mbah Dukun melakukan gerakan seperti sedang mencabut paku dari kepala Madya.
Madya memutar bola matanya ke atas.
Ngapain sih ini, emang di kepalaku ada pakunya? (Madya).
"Sudah selesai. Udah saya usir makhluk yang nempel anak Ibu. Terus ini bunga-bungaan untuk mandi."
"Oh, terima kasih sekali, Mbah atas jasanya." Bu Sriyani mengeluarkan amplop dari sakunya untuk diberikan kepada Mbah Dukun.
"Sama-sama, Bu."
Kemudian Mbah Dukun duduk kembali untuk menikmati minuman dan cemilan.
***
Pagi hari
Madya bersiap untuk sekolah. Semalam dia sudah merenung untuk menerima keadaan ini dengan lapang dada. Dia juga melakukan terapi mata mandiri agar setelah ini, kacamatanya bisa ditinggalkan.
Hari ini, dia merubah penampilan agar tidak lagi cupu. Dengan modal alas bedak Sarisyantik dan bedak Marini dia berhasil mengubah tone wajahnya menjadi rata.
Sedikit perona pipi yang dia ambil dari kamar sang ibu sudah stays on di pipi. Sapuan lipstick pink tipis telah dia gunakan.
Kemampuan make-up Madya memang telah mengikuti standard Korea yang sedang happening di tahun 2020-an. Tak lupa rambutnya digerai agar terlihat indah.
Selesai berdandan, dia keluar dari kamar dengan tas selempang di bahu.
"Madya, Eka, ayo sarapan dulu sebelum berangk-" Ibu terkejut melihat gadis di hadapannya yang tampak cantik jelita. "Ma-ma-ma ...." []
Bersambung ....
***
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 97 Episodes
Comments
sasri
😱😱😱
2022-09-25
0
Antusias Mu
panggilannya Mad anat sih, diya kek biar syantik
2022-05-29
1
👑🇷🇦🇹🇺 ᵗʸᵖᵒ
pingsan gak tuh 😂😂
2022-04-07
0