Lelaki yang sedang membaca itu menoleh ke arah Madya. Terlihat pipi Daniel memerah seperti sehabis terkena raket tenis. Mungkin saja memang terkena raket tenis, atau bisa juga raket nyamuk yang mendapat bonus setrum.
"Pipi kamu kenapa?"
Daniel tidak menjawab, hanya tersungging senyuman kaku dari bibirnya.
Sebuah ingatan kecil tentang Daniel mampir ke pikiran Madya meski tidak rinci.
"Apa kamu habis dipukulin?"
"Just slap [Hanya tamparan]," jawab Daniel.
Akh, ngomong sama Daniel kayak ngomong sama bule. Dasar anak jenius! Untung aku udah versi mbok-mbok, kalau masih versi lawas mana ngerti apa itu 'slap'. (Madya).
"Ehm ... kamu mau laporin ke guru BK [Bimbingan Konseling]? Aku cariin ya kalau masih ada di sekolah."
"Nggak usah," jawab Daniel.
Terdengar gemericik air dari kamar mandi siswa laki-laki di dekat gudang itu. Keluar seorang siswa satu kelas mereka berdua. Siswa itu adalah dia yang saat ulangan kimia tadi mencolek-colek Daniel, dia pikir punggung Daniel itu sambel cocol.
Wajah siswa itu justru lebih bonyok di bagian mata, bengkak.
"Waduh!" Madya terkejut. "Disengat tawon?" tanyanya.
"Dipukul sama nih orang," kata siswa bengal itu sembari menunjuk Daniel.
Madya menoleh ke arah Daniel. Rasanya mustahil Daniel melakukan itu.
"Aku cuma bales," sanggah Daniel.
Tante-tante di dalam raga gadis 17 tahun itu sekarang mengerti kenapa pipi Daniel tampak seperti bakpau habis diteplek. Ternyata dia ditampar. Lucunya, dia membalas dan yang dibalas lebih parah wajahnya.
Hampir saja Madya tertawa. "Pppfffttt ...."
"Kamu ngetawain aku?" tanya siswa yang terlihat bengal itu.
"Enggak tuh, aku lagi inget serial Friends jadi ketawa."
"Ha? Friends?"
"Iya, kenapa? Kamu nggak pernah nonton? Itu kan ada sejak tahun 1994."
Siswa yang matanya sedang melendung itu tampak kebingungan. Madya sudah berusaha keras tidak keceplosan dengan tontonan masa depan, tapi tampaknya belum begitu berhasil.
"Niel, awas kamu!"
Kali ini Madya tidak bisa menahan tawa. "Buwahahah. Kamu nggak lihat mukamu? Lebih parah. Masak, kamu malah ngancem Daniel?"
"Gggrrrrmmm ...." Siswa itu mengeram, kemudian beralih kepada Daniel. "Kita belum selesai, Niel!" ancamnya sembari pergi dari sana.
Setelah tidak tampak wujud dari siswa bengal itu, Madya bisa menginterogasi Daniel dengan aman meski jawabannya mungkin hanya anggukan, gelengan atau kata dengan suku kata sedikit.
"Dia yang nampar kamu?"
Daniel mengangguk.
"Terus kamu bales? Itu mata dia bengkak karena kamu pukul?"
Daniel mengangguk lagi.
"Jadi kita nggak bisa lapor ke guru BK karena nanti malah kamu yang kena ya?" tanya Madya memastikan sembari tersenyum ironis.
Ya kali yang menyerang malah kalah dan dengan tidak tahu malunya masih mengancam. Ancaman itu seperti kepompong yang sudah ditinggalkan ulatnya, kosong dan letoy.
"Eh, kenapa kamu nggak langsung pulang?"
"Dia tadi minta ditunggu."
"Astaga, polos banget kamu, Niel. Eh, nama dia siapa sih?"
Nama? Bukannya kita bertiga sekelas? (Daniel).
Meski tidak begitu kenal dengan yang lain, Daniel hafal 40 nama penghuni kelas 2 C. Tidak ada satu huruf pun luput dari ingatan lelaki itu.
Sembari mengernyit keheranan, dia menjawab, "Ehm ... Zul, Zulfikar."
"Kenapa kamu ditampar? Kalian emang saling benci? Atau ... oh, rebutan cewek?"
"Karena aku nggak kasih contekan."
Akh ... jujur banget. Coba aku tadi nggak dapet contekan dari meja, aku pasti minta contekan juga sama kamu calon dokter ganteng. (Madya).
"Ya udah, sekarang kamu pulang deh! Nanti dicariin sama orang tua kamu. Lain kali kalau ada kejadian kayak gini, segera lapor aja ke guru BK biar si Zul dibimbing." Tanpa sadar, Madya mengeluarkan nasihat ala tante-tante.
Lelaki itu kemudian pergi dari sana. Entah mengapa lelaki tampan yang jarang terekspos itu menurut dengan apa yang dikatakan teman-temannya.
Diminta menunggu, dia menunggu. Diminta pulang, dia pulang.
Tapi meski nurut, dia bukan orang yang bisa diinjak juga. Buktinya dia malah nonjok si Zul. Dia jauh lebih baik dari aku versi lama. Aku dulu cuma bisa nangis, nggak bisa ngelawan. (Madya).
Mereka berdua sama-sama korban pem-bully-an. Namun, keadaannya berbeda. Daniel bisa melawan sedangkan Madya versi lama tidak mampu berbuat apa-apa. []
Bersambung ....
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 97 Episodes
Comments
sasri
kangen daniel 🤗😊😊
2022-09-27
0
YaNaa Putra Umagap
kali aj jodoh yg tertunda kan... 🤣
2022-04-30
3