"Bisa aja, Ka. Kemarin Parmin dari desa sebelah juga habis kerasukan."
"Nanti harus kita panggilin orang pinter, Bu."
Ibu mengangguk setuju. Dia menelpon paman Madya untuk menanyakan orang pintar yang biasa dipanggil untuk menyembuhkan orang kesurupan.
***
Sore hari
Seorang bapak-bapak setengah baya dengan ikat kepala datang ke kediaman Madya sekeluarga. Dia adalah paranormal yang dipanggil untuk mengobati Madya.
"Bu, siapa bapak-bapak itu?" tanya Madya saat bapak itu berjalan dari halaman menuju pintu masuk rumah.
"Dia yang bakal ngobatin kamu."
"Aku? Aku sakit apa?"
Madya berpikir keras memutar ingatan pada 18 tahun silam. Seingatnya, dia tidak memiliki penyakit apa pun.
"Sekarang, kamu masuk dulu ke kamar. Nanti Ibu panggil kalau udah waktunya keluar. Ya!"
Bu Sriyani mendorong tubuh Madya untuk memasuki kamar. Dia perlu berbicara 4 mata dengan sang paranormal tanpa didengar oleh Madya.
Namun, siapa yang tidak penasaran? Sudah pasti Madya akan mencuri dengar. (Pastilah!)
Samar-samar, Madya mendengar ucapan ibunya.
"Begini, Mbah Dukun, anak saya terkena sawan. Dari tadi siang ngomongnya ngelantur sana-sini."
"Saya sudah menerawang sedari tadi memang di sini ada hawa nggak enak."
"Jadi, menurut Mbah, anak saya memang diikutin makhluk halus?"
"Iya, Bu. Anak Ibu memang sedang ketempelan!"
Ketempelan sticker kali! Ngawur banget. (Madya).
"Terus ngobatinnya gimana, Mbah?"
"Serahkan sama saya, Bu! Kalau saya bocorin rahasianya, nanti situ nggak jadi pake jasa saya dong."
"Ahahah, maksud saya, apa nanti bakal dipegang-pegang? Karena anak saya kan anak gadis, saya nggak mau kalau kenapa-kenapa."
"Tenang, saya bukan yang seperti di berita-berita itu. Saya jujur."
Jujur apaan, dia bilang aku ketempelan aja udah bohong! Tapi bener sih, tadi aku emang ketempelan ulet. (Madya).
"Kalau gitu, saya panggil anaknya keluar sekarang, ya."
Paranormal itu mengangguk.
Madya digandeng ibunya ke ruang tamu untuk diobati. Kini Madya duduk berhadap-hadapan dengan sang paranormal.
Madya menatap bapak itu dalam-dalam. Dia juga menyipitkan matanya, penasaran. Sembari paranormal itu mengeluarkan tungku, arang, kemenyan dan bunga-bungaan, Madya mengajukan beberapa pertanyaan.
"Mbah Dukun, Anda sakti, ya?"
"Ohohoh, bukan saya yang bilang begitu, tapi orang-orang. Karena mereka memaksa ya saya terima kalau dikatakan sakti."
Merendah untuk meroket, hah? Roketnya bablas ke bulan nggak usah balik, Mbah. (Madya).
"Eh, Mbah, bisa melihat masa depan, kan? Saya mau tanya, 5 tahun lagi, yang jadi presiden siapa?"
"Kenapa tanya-tanya presiden?"
"Ya pengen tahu aja, Mbah. Tapi ya nggak apa-apa kalau emang Mbah Dukun nggak tahu apa yang akan terjadi 5 tahun mendatang," katanya dengan intonasi dibuat sedemikian rupa sehingga terdengar mempertanyakan reputasi sang paranormal.
Bu Sriyani pun sedikit bereaksi. Dia mengernyitkan dahinya, menunjukkan ekspresi seolah berkata secara implisit bahwa 'oh, elu nggak sehebat yang dikatakan orang-orang.'
Madya bahagia menyaksikan situasi ini. Paranormal itu kelimpungan melihat tatapan Bu Sriyani.
"O-oh, begini. Oke, Simbah jawab nanti. Jawabnya nggak bisa sembarangan, butuh penerawangan."
"Oh, jadi kalau ngeramal gitu pake perhitungan ya, Mbah? Itu ngeramal atau memprediksi? Bukannya kalau orang bisa lihat masa depan itu spontan, ya?"
Ealah, susahnya cari makan malah ditanya yang susah-susah. Milih jadi dukun biar nggak usah ujian CPNS malah ditanyain beginian. (Mbah Dukun).
"Ya udah, Simbah jawab sekarang. Yang pasti, presiden periode setelah ini adalah seorang warga negara yang baik."
Madya semakin menyipit. "Pemilu 2009 nanti ada berapa calon pasangan?"
Sembari tangannya memasukkan arang ke tungku, mata paranormal itu melotot. Madya menantikan jawaban dari sang paranormal.
"Ehm ...." []
Bersambung ....
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 97 Episodes
Comments
Nyai Suketi
Bkn ktmpln stiker tp ktmpln hansaplas kan abis kejedut stir mobil td 😂😂😂
2024-02-06
0
Sri Haryati
hahahaha🤣🤣🤣🤣
2023-03-11
1
sasri
😅😅😅😅
2022-09-25
0