Bel istirahat pertama berbunyi.
Otak Madya belum mampu mengingat sejarah dua anak lelaki di kelasnya itu. Namun, dia sangat yakin ada sesuatu di antara mereka yang pasti bukan bromance.
Bel sekolah berbunyi, tanda waktu istirahat pertama telah tiba. Siswa-siswa menghambur keluar dari kelas menuju kantin untuk mengisi perut mereka.
Asa mendatangi Madya di kelas 2 C.
"Hey ... Mad, kok melongo gitu?"
Madya menengok ke arah Asa. Dia masih agak shock dengan ulangan kimia yang baru saja dikerjakannya dengan sangat ngawur.
Semua memang diisi dengan rumus rapi. Namun, penempatannya sungguh sangat diragukan.
"Aku lagi shock banget karena tadi ulangan kimia."
Asa kemudian duduk di samping Madya. Mata pandangan penuh selidik, dia memperhatikan Madya dari ujung rambut hingga ujung kaki.
Seragam yang digunakan tidak berbeda dari biasanya. Sepatunya pun begitu, lusuh dan kusam. Asa kini memperhatikan riasan di wajah Madya.
"Kamu ngapain sih ngelihatin aku kayak gitu? Kan aku jadi ngeri."
"Aku penasaran banget sama perubahan kamu. Kayaknya nggak banyak printilan yang diubah, tapi kamu bisa kelihatan lain banget."
"Itulah kekuatan make up."
Asa masih mengernyit memperhatikan wajah Madya.
Kacamata! Dia sekarang nggak pake kacamata! Bukan karena make up! (Asa).
"Bo'ong akh! Kamu nggak kayak pake make up, kok! Mungkin kamu lain karena nggak pake kacamata aja."
"Enggak, aku pake make up."
Mata Asa masih belum begitu menangkap di mana make up yang Madya maksud. Madya memandang ke atas di mana ada cicak menempel di langit-langit.
Sembari sedikit membuka mulut, dia terlihat sedang menunggu cicak itu mengeluarkan produknya.
Ingatannya pun kembali ke tahun-tahun 2004-an di mana model riasan di negeri wakanda masih tebal.
"Begini ya, As, ini namanya make up flawless. Jadi nggak menor."
"Flawless? Merk apa itu?"
"Itu maksudnya riasan tipis kayak nggak pake. Natural gitu lho."
Asa manggut-manggut mengerti. Madya tersenyum melihat sahabatnya yang beberapa tahun mendatang akan menjadi seorang make up artist (seniman make up) yang hebat.
"Kamu pake merk apa sih?"
"Ikh ... kepo."
"Ha? Kepo?"
"Ahahahah, maksudnya kamu itu pengen tahuuu aja."
"Ehm ... flawless ya?"
Asa bergumam sembari mencatat di ponselnya. Madya mengintip ponsel jadul lipat milik sahabatnya itu. Belum ada aplikasi note di ponsel yang ber-operating system symbian itu sehingga dia mencatat di draft SMS.
Tak henti bibir Madya melengkung menyaksikan sahabat yang di kemudian hari akan menjadi saudara ipar itu. Plus, dia juga akan menjadi MUA hebat.
"Kenapa sih senyum-senyum? Eh, aku lupa belum nanya. Kemarin itu kamu ke mana?"
"Aku kemarin ke Kafe Melan."
"Terus, kamu diapain sama si Iney?"
Iney? Oh, kami dulu nyebut Yeni dengan mirror code. Ahahaha lucu juga kami. (Madya).
Tanpa sadar tawa Madya terlepas.
"Ikh, ditanyain malah ketawa!"
"Maaf maaf, habisnya kita masih SMA tapi udah pinter pake mirror code. Sekalian pake sandi atau simbol-simbol satanic."
Kekeh Madya masih terdengar saat dia berbicara. Lawan bicara di sampingnya kini memasuki alam kebingungan. Madya belum berhasil beradaptasi dengan kehidupan SMA-nya.
Tetap saja wawasan janda berumur 35 yang telah melanglang buana itu terbawa.
"Simbol?"
"Ahahah ... lupain, kembali ke topik. Mereka aslinya mau ngerjain aku pake telur busuk sama tepung jamuran, tapi aku kabur lewat pintu samping."
"Buwahahah, berarti gagal dong? Akhirnya kamu bisa menghindar. Terus, buku tugas kamu yang udah lonyot itu gimana?"
Madya berpikir keras tentang buku tugas yang dimaksud sembari melihat ke sekeliling kelas. Perlahan memori tata ruang dan adegan para murid di sana berkelebat di kepala Madya.
Sama persis dengan waktu dulu. Aku tinggal ngikutin alur. (Madya).
"Menurut kamu gimana?"
"Menurutku, kita salin semua tugas dari awal. Kalau enggak, kamu bakal kehilangan nilai tugas harian."
Madya mengangguk. Dia akan mengikuti apa yang sudah digariskan di kehidupannya itu.
Yeni dan 3 siswa yang sering mengikutinya kembali ke dalam kelas setelah mengisi perut di kantin. Mereka mendatangi Madya.
"Mad, nanti pulang sekolah, kita ketemu di belakang gedung sekolah ya."
"Oke!"
Setelah mendapatkan jawaban dari Madya, Yeni dan teman-temannya kembali ke tempat duduk mereka.
"Mad, kamu gemblung? Kenapa nggak ngasih alasan buat ngehindar? Pokoknya nanti aku ikut!" bisik Asa. []
Bersambung ....
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 97 Episodes
Comments
sasri
🤗🤗
2022-09-25
1
Yanti
akhirnya up juga 😁
apa yang akan terjadi di belakang gedung sekolah 🤔🤔🤔
2022-04-11
1
👑🇷🇦🇹🇺 ᵗʸᵖᵒ
akhirnya up juga 😊
2022-04-10
1