Madya memejamkan mata. Meski peristiwa minta maaf dari Yeni tidak terjadi karena perubahan kejadian kemarin, kejadian selain itu tetap berjalan.
Ini adalah salah satunya.
Dahulu, saat Yeni mengatainya dengan nama hewan berkaki empat yang suka menjulurkan lidah itu, dia hanya diam. Dia malah memberikan tempat duduknya untuk Yeni waktu itu.
Kini, jangan harap!
"Wah, kamu ngatain aku anjing. Temen-temen, kalian denger?"
Madya bertanya pada teman-teman di dekatnya yang mendengar umpatan Yeni. Semua murid itu mengangguk ragu.
Yeni tiba-tiba merasa sedikit malu akan ucapan kasarnya.
"Yen, kamu itu seharusnya belajar. Plus, kalau kamu ngarepin aku ngasih tempat duduk ke kamu, harusnya kamu bersikap baik. Lebih bagus lagi kalau kamu nyembah-nyembah."
Eh eh, vangsat nih cupu. (Yeni).
Yeni menatap Madya dengan mata melotot. Madya tak tahan dengan adu pandang tak berfaedah itu. Dia pun meniup mata Yeni.
"Fuh ... kedip!"
"Kamu gitu sekarang? Udah nggak temen sama aku?"
"Sejak kapan kita temen? Dari dulu ...."
Ucapan Madya harus terhenti karena Pak Marjoto masuk kembali ke kelas setelah mengambil soal ulangan kimia. Yeni terpaksa mengambil tempat duduk di belakang.
Madya tersenyum sinis sembari memandangi papan tulis kosong di hadapannya. Dia selalu mendapat tempat duduk paling depan bukan karena keinginannya.
Dia selalu mengalah dengan teman-teman yang lain yang tak ingin terlalu dekat berinteraksi dengan guru. Siswa di bangku depan biasanya menjadi sasaran empun untuk menjawab berbagai pertanyaan dari guru.
Kecuali Pak Marjoto yang gemar nge-tem di barisan belakang jika sedang mengadakan ulangan. Pak Marjoto, guru bergelar insinyur yang tersasar menjadi seorang guru itu memang sangat unik.
Dari gelarnya, dia sebenarnya tidak berkeinginan menjadi guru. Namun, dia menambah pendidikan akta 4 agar bisa mengajar. Banyak rumor mengatakan bahwa dia adalah ilmuwan gagal.
Dengan celana sedikit cutbray-nya, Pak Marjoto mendekati Madya untuk memberikan soal. Sejenak, guru itu menatap Madya. Matanya sangat jujur memindai pencitraan berbeda dari muridnya ini.
Setelah berhasil mengidentifikasi, dia berjalan ke meja lain untuk memberikan soal. Pak Marjoto tidak begitu peduli pada perubahan penampilan.
Madya memelototi soal ulangan di depannya. Dia masih ingat beberapa rumus kimia. Hanya saja, untuk apa rumus itu, dia tidak tahu. Yah, sama juga bohong.
Dia menengok ke bangku di barisan ke dua. Seorang siswa pendiam yang sangat tampan dan cerdas berada di sisi paling kiri.
Itu Daniel, kan? Dia si siswa tampan pendiam. Ehm ... kayaknya dia nggak sampai lulus sekolah di sini. (Madya).
Di belakang siswa tampan tapi pendiam itu ada seorang siswa yang terlihat bandel. Posisi kedua siswa itu membuat perasaan Madya tidak enak.
Namun, dia belum dapat mengingat secara pasti peristiwa apa yang terjadi hari itu.
***
Ulangan berjalan dengan sangat tidak lancar. Madya beruntung karena di mejanya terdapat coretan rumus yang mungkin ditulis oleh kakak kelas terdahulu. Atau mungkin Pak Marjoto yang menulis rumus di bangku untuk membantu para siswa.
Sepertinya mustahil. Guru kimia bertitel insinyur itu lebih bahagia melihat murid-murid kesulitan menjawab soal.
Meski Madya tidak begitu mengerti penempatan rumusnya untuk soal nomor berapa, dia berharap ada jawaban yang kebetulan benar.
Madya kembali menengok ke siswa tampan nan cerdas di barisan kedua itu. Beberapa kali Daniel dicolek oleh siswa di belakangnya.
Dapat dipastikan siswa bengal di belakangnya itu sedang meminta contekkan. Tidak mungkin sedang meminta tanda tangan karena Daniel bukan artis.
Kok perasaanku nggak enak ya lihat dua murid cowok itu? (Madya). []
Bersambung ....
***
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 97 Episodes
Comments
sasri
🙇🙇🙇
2022-09-25
0