"Sssttt ... tenang aja, aku bisa atasin kok."
"Atasin apanya! Kamu selalu ngelarang aku ikut campur, tapi hari berikutnya kamu bawa tali sambil nangis-nangis."
"Ahahaha ... sekarang aku serius. Mana bisa anak 17 tahun bully tante-tante."
"Ha?"
Keceplosan lagi. (Madya).
Habis berubah penampilannya, sikapnya juga agak berubah sih Madya ini. Apa kecantikan juga ngubah sifat ya? (Asa).
Madya menengok ke arah lelaki tampan pendiam di kelas itu yang tak beranjak dari tempat duduknya sama sekali. Lelaki itu sibuk membaca komik Slam Dunk.
"Mad, nanti sore main ke rumahku ya," ajak Asa.
Madya tak menjawab. Ia terbengong melihat Daniel di baris ke dua sebelah kiri-belakangnya.
"Madya! Kok bengong sih?"
"Eh ... maaf."
Asa melihat arah pandang Madya dan menemukan sesosok siswa lelaki tampan yang jarang dia lihat. "Wuih, itu si kutu buku, kan? Ganteng tapi baca melulu," bisik Asa.
Madya mengangguk ragu.
"Kamu suka sama dia?"
Madya menggeleng mantap. Ya, bukan suka yang dia rasa. Hanya saja, ada sesuatu yang aneh dengan lelaki tersebut. Dahi Madya mengernyit.
"Kalau suka, bilang aja! Siapa tahu dia mau jadi pacar kamu. Kayaknya dia nggak pernah jalan sama cewek deh."
Dalam ingatannya yang dalam, akhirnya Madya mengingat siapa itu Daniel di masa depan. Daniel akan menjadi seorang dokter spesialis jantung yang sangat berprestasi di bidangnya.
Bahkan, dia berteman dengan Dion, suami Asa di masa depan. Daniel, Dion dan beberapa temannya yang mendirikan rumah singgah yang sering dikunjungi Madya.
Oh, aku inget dia sekarang. Lucu banget, Asa sekarang bahkan nggak tahu kalau cowok itu bakal akrab sama dia. Tapi, emang banyak yang nggak kenal sama Daniel, sih. Dia nggak pernah muncul di ruang publik. (Madya).
***
Bel pulang SMA Pioneer berbunyi nyaring. Itu adalah tanda pengusiran seluruh siswa sekolah itu. Para siswa menghambur keluar kecuali beberapa orang yang masih ingin singgah di sekolah. Barangkali ingin menginap.
Salah satu orang itu adalah Madya yang sedang adaptasi dan merasa jetlag parah akan perjalanan besar dalam hidupnya. Plus, dia sedang akan dirundung oleh Yeni dan kawan-kawan.
Dalam ingatannya, tidak ada peristiwa pem-bully-an hari ini. Namun, mengingat kemarin pem-bully-an atas dirinya telah gagal, maka hari ini mungkin adalah siaran tundanya.
Kita lihat, apa bisa dia bully tante-tante yang umurnya 2 kali lipat umurnya. Habis ini, aku mau mediasi sama orang tua para begundal itu biar pada insyaf. (Madya).
Yeni dan 3 orang lainnya mendatangi Madya. "Ke belakang sekolah sekarang, yuk, Mad!"
Madya mengangguk.
Dia mengikuti 4 siswa yang sering merundungnya menuju ke belakang sekolah. Meski menuruti kemauan Yeni, Madya tetap menjaga jarak aman.
Ada kemungkinan orang-orang itu membawa perkakas kemarin yaitu telur busuk dan tepung yang sudah jamuran yang mungkin sudah menjadi tempat tinggal pinjal.
Madya berjalan agak di belakang mereka berempat sembari mencuri dengar apa yang mereka katakan. Namun, nihil. Mereka tidak mungkin membocorkan rencana di depan target.
Sesampainya di belakang sekolah, Yeni dan gengnya berdiri melingkari Madya. Jika hal ini terjadi pada Madya muda versi lama, dia akan pasrah saja.
"Yeni, Indria, Nola, Monik, kalian mau apa?"
"Hahaha ...." Tak ada jawaban dengan kata-kata lugas, mereka malah berlomba-lomba tertawa.
"Kalian mau ceplokin aku pake telur busuk sama tepung, ya?" Madya bertanya dengan frontal.
Pertanyaannya bukan tanpa sebab, dia mendengar suara krasak-krusuk dari plastik kresek di tangan monik dan Nola yang berdiri di belakangnya.[]
Bersambung ....
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 97 Episodes
Comments
langitsenja
wkwkkkk mo gandir y madya🤣😂💦
2022-05-05
0
Paulina H. Alamsyah Asir
Daniel si Ironman, suaminya Karen si Black Widow😂
2022-04-17
1
👑🇷🇦🇹🇺 ᵗʸᵖᵒ
jiah gantung. aku suka gantungin cerita. ternyata seperti ini rasanya 😭😭 sumprit gak enak banget
2022-04-11
3