5. Di Mana Aku?

Madya membelokkan mobilnya ke sebuah stasiun pengisian bahan bakar. Itulah satu-satunya tempat yang dapat menyelamatkan dirinya dari mengompol.

Dia memasuki toilet wanita. Dia pun mengeluarkan apa yang seharusnya dikeluarkan di sana. Rasa lega menjalari tubuh yang tadinya gemetaran menahan hasrat.

"Akhirnya, lega juga."

Setelah menyelesaikan urusan perseniannya, dia keluar untuk mencuci tangannya di wastafel. Dia memandangi wajahnya yang terdapat tambahan riasan di dahinya.

Dahinya memar seperti dioleskan perona pipi. Dia memandangi sekeliling dan baru menyadari bahwa dia sendiri di toilet umum itu.

Dia merasakan hasrat ingin pipis itu muncul kembali.

Akh, beser. Tapi nggak apa-apa, mumpung masih di toilet umum. (Madya).

Madya masuk kembali ke dalam bilik yang sama. Tiba-tiba, rasa pusing menggelayuti kepalanya. Pandangan matanya mengabur.

Telinganya terasa ditutup dengan sumpalan kaos kaki bekas sehingga tidak dapat mendengar apa pun lagi. Pandangannya menghitam.

Kenapa ini? Aduh gawat kalau pingsan di toilet. Bakal ada yang nemuin aku nggak nanti? (Madya).

"Tol--"

Baru Madya berusaha untuk berteriak, ketidaksadaran mencomot start sehingga tidak sempat keluar teriakkan dari mulutnya.

***

Madya bangun dari pingsannya di toilet. Sungguh tidak keren pingsan di toilet.

"Bener kan nggak ada yang nolong. Bangun, bangun sendiri. Kampret!"

Dia keluar dari toilet itu menuju wastafel untuk membasuh wajahnya.

"Aaarrrggghhh ...," teriaknya.

Betapa terkejutnya dia melihat wajah dan penampilannya yang berubah seperti saat masih SMA. Dia mengerjapkan matanya berkali-kali.

"Apa aku masih pingsan?" Dia menampari pipinya sendiri. "Aw ... sakit."

Dalam kaca itu terpampang pencitraan Madya saat masih SMA yang cupu dengan kacamata tebal dan rambut kuncir tingginya.

Apa aku gila? Apa aku berhalusinasi? Kayaknya musti ke psikiater deh. (Madya).

Sekian lama memandangi diri sendiri di depan cermin tak mengubah sedikit pun penampilannya. Dia berharap kembali seperti semula. Namun, penampilannya tetap saja seperti itu.

Entah halusinasi atau apa namanya, tapi lumayan lah aku ngerasa pipiku kenyal lagi. Nggak perlu pake krim anti-aging. (Madya).

Dia terlalu lelah memikirkan apa yang terjadi karena pikirannya sedang memikirkan pernikahan Usman dengan mantan baby sitter-nya sendiri.

Madya keluar dari toilet itu. Shock kembali menjalari raga dan pikirannya dengan lebih dahsyat.

Badannya bergetar menyaksikan dia tidak lagi berada di SPBU melainkan di sebuah kafe.

Ka-kafe? Aku pingsan berapa hari di toilet sampe SPBU direnovasi jadi kafe aja aku nggak bangun. (Madya).

Dengan bingung dia menyaksikan sekeliling.

Aneh. Kok baju orang-orangnya aneh? Apa SPBU ini dibangun jadi kafe konsep vintage gitu? (Madya).

Pelan-pelan dia melangkah. Dia melihat mesin kasir yang masih manual.

Mesin kasirnya kok kayak jaman dulu? Kok kayak nggak asing sih tempat ini? (Madya).

Seorang waitress menyenggolnya.

"Eh, maaf."

"Eh, saya yang minta maaf."

Lhoh, ini kan mantan waitress kafe yang dulu ... tunggu-tunggu, ini kafe yang waktu jaman dulu. (Madya).

Sedikit demi sedikit, Madya memahami apa yang sedang dialaminya. Dia kembali meraba-badannya sendiri terutama di bagian siku.

Dia memiliki luka dengan keloid cukup tebal di area itu karena sebuah kecelakaan motor yang dia alami saat masa kuliah.

Sikuku bersih, mana lukaku? Apa aku .... (Madya).

Takut-takut Madya menyimpulkan bahwa dirinya kembali ke masa lalu.

Apa iya aku kembali ke masa lalu? (Madya).

Madya kembali mengamati sekitarnya. Ia berusaha mencari apa yang bisa membuktikan hipotesa ngawurnya tersebut.

Aku harus perhatiin apa biar yakin? Handphone! (Madya).

Dia melirik ponsel yang digunakan oleh orang-orang yang berada di kafe itu.

Hah? Handphone lipet? Terus itu, handphone ketupat dari Nokiyem! Eh, handphone kepala doraemon, merknya Mobilola. Astaga! (Madya).

Madya berjalan ke arah kasir dan bertanya.

"Ma-mas, presiden kita sekarang siapa?"

Ish, nih bocah pake seragam sekolah kok nggak tahu siapa presiden negara sendiri. Di sekolah tidur kayaknya. (Kasir).

Dengan ekspresi wajah yang aneh dan geli, kasir itu menjawab pertanyaan.

"Pak Yudayana."

"Hah! Bukan Pak Jono Wijoyo alias Jono Wi?"

"Siapa itu?"

"Ehm, kalau kementrian pendidikan. Mentrinya siapa?"

"Maksudnya apa, Dik? Maksudnya departemen pendidikan? Itu mentrinya kalau nggak salah Abdul Khalik Anjar. Saya juga nggak hafal-hafal banget. Kan Adik yang lagi pelajarin itu. Adik pasti lebih hafal."

"Bukannya Nardi Maskarim?"

"Siapa sih itu, Dik? Saya nggak kenal sama nama-nama yang Adik sebutin tadi."

"Oh, ya udah."

Madya pun duduk di sebuah kursi di sana. Tergeletak sebuah surat kabar di kursi itu membuatnya gemetar untuk mengambilnya. Dia membaca pojok kanan atas surat kabar itu.

Apa? 2004? (Madya). []

Bersambung ....

Terpopuler

Comments

sasri

sasri

2004 🤦🤦🤦

2022-09-23

0

Gita Purbasari

Gita Purbasari

2004 baru lulus sekolah

2022-08-29

2

Ida Ardiansyah

Ida Ardiansyah

2004, my elder son was born

2022-07-06

1

lihat semua
Episodes
1 1. Perceraian
2 2. Terkejut
3 3. Aku Kenal Wanita Itu
4 4. Berandai Bersama Sahabat
5 5. Di Mana Aku?
6 6. Tukang Bully
7 7. Peristiwa Menyakitkan
8 8. Selamat Dari Pembullyan
9 9. Belanja Di ... Bukan Mall
10 10. Diobati
11 11. Berubah
12 12. Aku Tetap Madya
13 13. Masuk Sekolah
14 14. Ulangan Kimia
15 15. Mengikuti Alur Sejarah
16 16. Di Belakang Sekolah
17 17. Ceplok Telur Terjadi Lagi
18 18. Sama-sama Korban Rundungan
19 19. Ada Hati Yang Patah
20 20. Level Masalah Yang Berbeda
21 21. Berwasiat
22 22. Nilai dan Ranking
23 23. Bingung Dengan Keadaan
24 24. Terlambat
25 25. Sengaja/Tidak Sengaja
26 26. Complication
27 27. Menjenguk Daniel
28 28. Mempertahankan Alur
29 29. Kelas Dansa
30 30. Semua Orang Membenciku
31 31. Conversation Wizard
32 32. Mengungkapkan
33 33. Bercerita
34 34. Pertimbangan
35 35. Mencari Cara
36 36. Abu Sang Penyelamat
37 37. Latihan Dansa
38 38. Calon Mantu?
39 39. Sepertinya Dia Tahu
40 40. A Genius Is Born
41 41. Teman Tak Tahu Diri
42 42. Mendapat Pencerahan
43 43. Mendatangi Saksi
44 44. Mission Not Accomplished
45 45. Langkah Berikutnya
46 46. Menyerahkan Foto
47 Pengumuman
48 47. Balada Kehormatan
49 48. Adik Madya
50 49. Dijenguk
51 PENGUMUMAN
52 50. Mungkinkah?
53 51. Latihan Terakhir
54 52. Jangan Khawatirkan Yang Belum Terjadi
55 53. Ujian Laendler Dan Ujian Hati
56 54. Dipanggil Guru BK
57 55. Dikejar Zulfikar
58 56. Ditilang?
59 57. Dikejar Zulfikar (part 2)
60 58. Zulfikar Tahu Semuanya
61 59. Kukecewa
62 60. Dibawa Ke Mana?
63 61. Dilema
64 62. Jalan Buntu
65 63. Permintaan Eka
66 64. Kejutan Sebelum Latihan Debat
67 65. Aku Suka Kamu Suka
68 66. Daniel's Farewell Party
69 67. Bahagia Itu ....
70 68. Dua Bodyguard
71 69. Lomba Debat
72 70. Usman
73 71. Kepergian Daniel Dari Sekolah
74 72. Berkisah
75 73. Putus Atau Terus
76 74. Alarm Yang Berbunyi
77 75. Menggagalkan Pernikahan Eka
78 76. Mendatangi Elsa
79 77. Menjenguk Adik Daniel
80 78. Apakah Mereka?
81 79. Pertama Kali Merasa Tak Nyaman
82 80. Madeleine
83 81. Konsekuensi Setiap Kejadian
84 82. Pingsan
85 83. Titik Agak Terang
86 84. Attempting To Back To The Future
87 85. Guru Spiritual
88 86. Belum Rela?
89 87. Sebuah List
90 88. Relakan Semua
91 89. It Works, Doesn't It?
92 90. Hati Senang Walaupun Tak Punya Uang
93 91. Sekolah Baru Nadila
94 92. A New Life (THE END)
95 EXTRA PART
96 Closure
97 novel baru: PENCARIAN CINTA CEO AROGAN
Episodes

Updated 97 Episodes

1
1. Perceraian
2
2. Terkejut
3
3. Aku Kenal Wanita Itu
4
4. Berandai Bersama Sahabat
5
5. Di Mana Aku?
6
6. Tukang Bully
7
7. Peristiwa Menyakitkan
8
8. Selamat Dari Pembullyan
9
9. Belanja Di ... Bukan Mall
10
10. Diobati
11
11. Berubah
12
12. Aku Tetap Madya
13
13. Masuk Sekolah
14
14. Ulangan Kimia
15
15. Mengikuti Alur Sejarah
16
16. Di Belakang Sekolah
17
17. Ceplok Telur Terjadi Lagi
18
18. Sama-sama Korban Rundungan
19
19. Ada Hati Yang Patah
20
20. Level Masalah Yang Berbeda
21
21. Berwasiat
22
22. Nilai dan Ranking
23
23. Bingung Dengan Keadaan
24
24. Terlambat
25
25. Sengaja/Tidak Sengaja
26
26. Complication
27
27. Menjenguk Daniel
28
28. Mempertahankan Alur
29
29. Kelas Dansa
30
30. Semua Orang Membenciku
31
31. Conversation Wizard
32
32. Mengungkapkan
33
33. Bercerita
34
34. Pertimbangan
35
35. Mencari Cara
36
36. Abu Sang Penyelamat
37
37. Latihan Dansa
38
38. Calon Mantu?
39
39. Sepertinya Dia Tahu
40
40. A Genius Is Born
41
41. Teman Tak Tahu Diri
42
42. Mendapat Pencerahan
43
43. Mendatangi Saksi
44
44. Mission Not Accomplished
45
45. Langkah Berikutnya
46
46. Menyerahkan Foto
47
Pengumuman
48
47. Balada Kehormatan
49
48. Adik Madya
50
49. Dijenguk
51
PENGUMUMAN
52
50. Mungkinkah?
53
51. Latihan Terakhir
54
52. Jangan Khawatirkan Yang Belum Terjadi
55
53. Ujian Laendler Dan Ujian Hati
56
54. Dipanggil Guru BK
57
55. Dikejar Zulfikar
58
56. Ditilang?
59
57. Dikejar Zulfikar (part 2)
60
58. Zulfikar Tahu Semuanya
61
59. Kukecewa
62
60. Dibawa Ke Mana?
63
61. Dilema
64
62. Jalan Buntu
65
63. Permintaan Eka
66
64. Kejutan Sebelum Latihan Debat
67
65. Aku Suka Kamu Suka
68
66. Daniel's Farewell Party
69
67. Bahagia Itu ....
70
68. Dua Bodyguard
71
69. Lomba Debat
72
70. Usman
73
71. Kepergian Daniel Dari Sekolah
74
72. Berkisah
75
73. Putus Atau Terus
76
74. Alarm Yang Berbunyi
77
75. Menggagalkan Pernikahan Eka
78
76. Mendatangi Elsa
79
77. Menjenguk Adik Daniel
80
78. Apakah Mereka?
81
79. Pertama Kali Merasa Tak Nyaman
82
80. Madeleine
83
81. Konsekuensi Setiap Kejadian
84
82. Pingsan
85
83. Titik Agak Terang
86
84. Attempting To Back To The Future
87
85. Guru Spiritual
88
86. Belum Rela?
89
87. Sebuah List
90
88. Relakan Semua
91
89. It Works, Doesn't It?
92
90. Hati Senang Walaupun Tak Punya Uang
93
91. Sekolah Baru Nadila
94
92. A New Life (THE END)
95
EXTRA PART
96
Closure
97
novel baru: PENCARIAN CINTA CEO AROGAN

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!