Madya membelokkan mobilnya ke sebuah stasiun pengisian bahan bakar. Itulah satu-satunya tempat yang dapat menyelamatkan dirinya dari mengompol.
Dia memasuki toilet wanita. Dia pun mengeluarkan apa yang seharusnya dikeluarkan di sana. Rasa lega menjalari tubuh yang tadinya gemetaran menahan hasrat.
"Akhirnya, lega juga."
Setelah menyelesaikan urusan perseniannya, dia keluar untuk mencuci tangannya di wastafel. Dia memandangi wajahnya yang terdapat tambahan riasan di dahinya.
Dahinya memar seperti dioleskan perona pipi. Dia memandangi sekeliling dan baru menyadari bahwa dia sendiri di toilet umum itu.
Dia merasakan hasrat ingin pipis itu muncul kembali.
Akh, beser. Tapi nggak apa-apa, mumpung masih di toilet umum. (Madya).
Madya masuk kembali ke dalam bilik yang sama. Tiba-tiba, rasa pusing menggelayuti kepalanya. Pandangan matanya mengabur.
Telinganya terasa ditutup dengan sumpalan kaos kaki bekas sehingga tidak dapat mendengar apa pun lagi. Pandangannya menghitam.
Kenapa ini? Aduh gawat kalau pingsan di toilet. Bakal ada yang nemuin aku nggak nanti? (Madya).
"Tol--"
Baru Madya berusaha untuk berteriak, ketidaksadaran mencomot start sehingga tidak sempat keluar teriakkan dari mulutnya.
***
Madya bangun dari pingsannya di toilet. Sungguh tidak keren pingsan di toilet.
"Bener kan nggak ada yang nolong. Bangun, bangun sendiri. Kampret!"
Dia keluar dari toilet itu menuju wastafel untuk membasuh wajahnya.
"Aaarrrggghhh ...," teriaknya.
Betapa terkejutnya dia melihat wajah dan penampilannya yang berubah seperti saat masih SMA. Dia mengerjapkan matanya berkali-kali.
"Apa aku masih pingsan?" Dia menampari pipinya sendiri. "Aw ... sakit."
Dalam kaca itu terpampang pencitraan Madya saat masih SMA yang cupu dengan kacamata tebal dan rambut kuncir tingginya.
Apa aku gila? Apa aku berhalusinasi? Kayaknya musti ke psikiater deh. (Madya).
Sekian lama memandangi diri sendiri di depan cermin tak mengubah sedikit pun penampilannya. Dia berharap kembali seperti semula. Namun, penampilannya tetap saja seperti itu.
Entah halusinasi atau apa namanya, tapi lumayan lah aku ngerasa pipiku kenyal lagi. Nggak perlu pake krim anti-aging. (Madya).
Dia terlalu lelah memikirkan apa yang terjadi karena pikirannya sedang memikirkan pernikahan Usman dengan mantan baby sitter-nya sendiri.
Madya keluar dari toilet itu. Shock kembali menjalari raga dan pikirannya dengan lebih dahsyat.
Badannya bergetar menyaksikan dia tidak lagi berada di SPBU melainkan di sebuah kafe.
Ka-kafe? Aku pingsan berapa hari di toilet sampe SPBU direnovasi jadi kafe aja aku nggak bangun. (Madya).
Dengan bingung dia menyaksikan sekeliling.
Aneh. Kok baju orang-orangnya aneh? Apa SPBU ini dibangun jadi kafe konsep vintage gitu? (Madya).
Pelan-pelan dia melangkah. Dia melihat mesin kasir yang masih manual.
Mesin kasirnya kok kayak jaman dulu? Kok kayak nggak asing sih tempat ini? (Madya).
Seorang waitress menyenggolnya.
"Eh, maaf."
"Eh, saya yang minta maaf."
Lhoh, ini kan mantan waitress kafe yang dulu ... tunggu-tunggu, ini kafe yang waktu jaman dulu. (Madya).
Sedikit demi sedikit, Madya memahami apa yang sedang dialaminya. Dia kembali meraba-badannya sendiri terutama di bagian siku.
Dia memiliki luka dengan keloid cukup tebal di area itu karena sebuah kecelakaan motor yang dia alami saat masa kuliah.
Sikuku bersih, mana lukaku? Apa aku .... (Madya).
Takut-takut Madya menyimpulkan bahwa dirinya kembali ke masa lalu.
Apa iya aku kembali ke masa lalu? (Madya).
Madya kembali mengamati sekitarnya. Ia berusaha mencari apa yang bisa membuktikan hipotesa ngawurnya tersebut.
Aku harus perhatiin apa biar yakin? Handphone! (Madya).
Dia melirik ponsel yang digunakan oleh orang-orang yang berada di kafe itu.
Hah? Handphone lipet? Terus itu, handphone ketupat dari Nokiyem! Eh, handphone kepala doraemon, merknya Mobilola. Astaga! (Madya).
Madya berjalan ke arah kasir dan bertanya.
"Ma-mas, presiden kita sekarang siapa?"
Ish, nih bocah pake seragam sekolah kok nggak tahu siapa presiden negara sendiri. Di sekolah tidur kayaknya. (Kasir).
Dengan ekspresi wajah yang aneh dan geli, kasir itu menjawab pertanyaan.
"Pak Yudayana."
"Hah! Bukan Pak Jono Wijoyo alias Jono Wi?"
"Siapa itu?"
"Ehm, kalau kementrian pendidikan. Mentrinya siapa?"
"Maksudnya apa, Dik? Maksudnya departemen pendidikan? Itu mentrinya kalau nggak salah Abdul Khalik Anjar. Saya juga nggak hafal-hafal banget. Kan Adik yang lagi pelajarin itu. Adik pasti lebih hafal."
"Bukannya Nardi Maskarim?"
"Siapa sih itu, Dik? Saya nggak kenal sama nama-nama yang Adik sebutin tadi."
"Oh, ya udah."
Madya pun duduk di sebuah kursi di sana. Tergeletak sebuah surat kabar di kursi itu membuatnya gemetar untuk mengambilnya. Dia membaca pojok kanan atas surat kabar itu.
Apa? 2004? (Madya). []
Bersambung ....
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 97 Episodes
Comments
sasri
2004 🤦🤦🤦
2022-09-23
0
Gita Purbasari
2004 baru lulus sekolah
2022-08-29
2
Ida Ardiansyah
2004, my elder son was born
2022-07-06
1