Mata Glory yang tadinya terpejam segera terbuka dan tersenyum cerah. Aksa yang tadinya tersenyum menatap wajah damai adiknya mendadak datar dan kesal.
" Makan aja cepet...! " Kepala Glory dijitak oleh Aksa tapi malah dibalas kekehan oleh Glory.
Glory menerimanya dengan semangat.”Makasih abang-abang tamvannn.”Ujarnya sembari menelan liurnya yang terasa banyak di mulut Dava dan Rangga menatapnya diam dalam tatapan rumit beda dengan yang lain menatapnya gemas.
Sedangkan Dimas dan Jay memalingkan wajahnya merasa pipi mereka berkedut menahan senyum malu akibat dibilang tamvan oleh Glory.
Glory segera memakan mienya dengan cepat, rasanya sangat enak, ia pun menatap sang kakak. Ia tak mempedulikan siapapun kecuali makanannya dan kakaknya.
”Abang sudah makan? Enak banget cicip bang.”Ujarnya menawarkan.
Aksa segera mengangguk memakan mie dari tawaran Glory.
“Ih jangan banyak-banyak kan Nana bilang cicip bukan makan. Kalo perlu kuahnya aja.”Ujar Glory mendengus menatap sang kakak memakan mie miliknya sangat banyak. Hampir setengah habis padahal baru satu tegukan.
Aksa mendengarnya mendelik.” Abang belum makan Na.,”Ujarnya.
Glory menghela nafas berdehem. Aksa tersenyum memakan mie Glory dengan cepat dalam porsi banyak. Glory menatapnya muram dan tak terima. Namun tetap makan saat Aksa menyuapinya. Sebenarnya Glory tu tidak suka berbagi makanan tapi bukan berarti dia pelit kok.
“Sa kalian beneran adik kakak?” Tanya Dimas dengan pelan.
Glory menatapnya mengangguk dan Aksa menelan makannya.” Kenapa? Gue terlalu deket sama dia? Dih pikiran kalian kuno, emang harus pacaran doang harus deket kayak gini? Seharusnya itu memang deket sama adik bukan sama orang lain. Bahagiakan adik dulu baru orang asing jangan kebalik...”Ujarnya dengan ketus.
Rangga terdiam merasa tersindir. Glory menatap Dimas mengangguk.”Kita tu udah bareng sejak kecil, jadi yah gimana yah ngomongnya. Nana sekolah disini aja karena ada bang Aksa, kalo dikampung tu Pipi sama Bubun sibuk dikebun jadi Nana kesepian, banyak yang ganggu juga kalo ada bang Aksa tu banyak yang segan jadi nggak ada yang ganggu Nana.”Ujar Glory jujur.
" Pipi sama Bubun??" Tanya Gadis yang sedari tadi diam bingung.
" Itu panggilan buat Mak sama bapak gua di kampung.."jawabnya malas, Bukan Glory yang jawab tapi Aksa . Glory mengangguk semangat.
“Jadi loe orang susah Sa? Tinggal dikampung tapi kok loe bisa beli mobil dan rumah? Wajar aja loe ga pernah cerita tentang bonyok loe...”celetuk Jay.
“ Loe pikir orang desa susah semua? Orang yang kerja di kebun miskin semua?”Ketus Aksa tak terima.
“Tanah keluarga gue berhektar-hektar , ada kebun jeruk, kebun melon, kebun teh, kebun sayur, terus kami punya sapi perah dan penginapan, jadi plis jangan katrok. Bukan cuma orang kota doang yang kaya. Orang desa malah lebih banyak asetnya.”Ujarnya sinis.
“Tapi biasanya kan memang gitu. Rata-rata kismin...”Gumam Dimas.
“Nggak juga. Orang desa malah nggak ada pengemisnya dan punya rumah buat tempat tinggal meksipun kecil, nggak kayak dikota yang banyak pengemis dan tidur di jalanan.”Ujar Glory pelan sembari menghela nafas.
Jay dan Dimas mengangguk si. “Gue pikir loe boong kalo dari desa Sa. Soalnya cara loe ngomong, mobil, rumah, duit jajan loe cukup gede dari orang desa biasanya.”Ujarnya meringis.
Aksa menghela nafas.”Jajan gue bahkan setengah dari jajan Glory.”Gumamnya, Glory cengengesan. “Tapi masih aja minta sama gue jajannya. Kesel banget.”Gumam Aksa lanjut ingin menjambak rambut adiknya tapi tidak tega.
Glory tersenyum polos.”Kan kata Nana tadi. Jadi abang harus berguna.” Ujarnya. Semua terkekeh melihat wajah Aksa yang masam, beda dengan Rangga, ia merasa wajah Glory familiar, ia teringat adiknya yang sudah meninggal? atau siapa?
Gadis yang dari tadi diam menatap Glory iri, entah apa yang ia irikan tapi terlihat wajahnya yang murung, di sisinya lelaki yang sedari tadi diam tersenyum tipis melihat Aksa yang banyak bicara saat bersama Glory, Aksa itu biasanya paling pendiam sekali ngomong sangat ketus. Tapi lihat sekarang? Dia cerewet meski ucapannya tetap kasar dan ketus.
Dilain sisi gadis yang sedari tadi di balik gorden dimana tempat Glory ribut dan juga dijenguk menahan isaknya dalam diam, ia sakit tapi tidak ada yang peduli. Bahkan lebih parah dari dia sosok asing di sana...
Ia menahan wajahnya dengan bantal supaya isaknya tak terdengar, rasanya sangat sakit. Kamu terlihat memiliki semuanya padahal kamu hanya sendiri tanpa ada tujuan dan apa yang bisa dibanggakan. Rasa ingin mati sangat besar tetapi harapan bahagianya juga gak kalah besar .
Sampai kapan harapan menjadi tunjangan hidup dalam penderitaan ini?
...----------------...
...----------------...
“Nana kok kamu nggak masak?”Tanya Aksa sebal saat melihat meja makan kosong dimalam hari.
Glory disana tersenyum dengan polos "Kan Abang tau Nana nggak bisa masak.”Ujar Glory menghela nafas sejujurnya dia bisa tetapi jika dia bisa nanti keluarganya malah bertanya-tanya kenapa dia bisa masak, jiwa aslinya dulu ia selalu masak untuk dirinya dan keluarga tetapi beda didunia ini, ia selalu dimanjakan dan tidak pernah menjenguk dapur.. bahkan tidak pernah mencuci piring sebab mereka punya pembantu dirumah dan orang tua yang melarangnya untuk kelelahan.
Aksa menghela nafas pelan baru ingat.”Kamu laper nggak?” Tanyanya, Glory mengangguk pelan,
“Ambil jaket kamu kita makan diluar saja sembari jalan-jalan. Kamu pasti belum pernah kan.”Ujarnya.
“Wah....”Gumam Glory mengangguk, ia segera mengambil jaket dan segera kembali. Dengan celana jins pendek nya tadi lah menampilkan kaki jenjangnya saat ini malah tertutup dengan jaket yang ia kenakan sebab kebesaran.
“Loh kok makek jaket gue?”Teriak Aksa kesal.
Glory mengerjab polos dengan memainkan lengan bajunya yang kebesaran.”Anu, Glory males keatas tadi liat di meja tamu jadi pakek ini aja. Lagian bagus.”Jaket berwarna merah itu.
“Tapi itu udah abang pakek dua hari, nanti kuman dek, pakek yang baru aja.”Aksa menghela nafas.
Glory menggeleng. "Nggak apa apa bang. Lagian kan abang pakeknya Cuma buat pulang pergi sekolah. Ayok bang Glorry nggak sabar.” Ujar Glory. Aksa menghela nafas dalam menghilangkan rasa kesalnya mengangguk memilih pergi.
Dunia malam ditengah kota itu sangat berbeda dengan malam di desa, didesa yang Glory tempati biasanya tidak banyak mobil, bahkan suara jangkrik masih sangat terdengar jelas, disini? Bangunan besar penuh dengan lampu yang bersorak, belum lagi suara klakson mobil dan motor bersahut-sahut. Glory di buat kagum oleh keadaan malam di kota.
Mereka memilih menggunakan motor menuju tempat makannya Aksa biasa. Glory diam saja menurut sembari memeluk sang kakak menatap lingkungannya.”Kakak tidak pusing? Nana pusing denger berisik kayak gini.”Ujar Glory berdecap.
Aksa terdiam sejenak mendengarnya, ia sangat tau Glorry yang tidak bisa suara yang berisik terlalu lama, ia akan mudah mual, sakit kepala hingga pingsan. Ia juga tidak bisa panas terlalu lama jika tidak ia akan jatuh sakit saat itu juga.
“Sebentar yah, kamu sabar peluk abang kenceng-kenceng nanti jatuh.” Aksa mengeratkan tangan Glory diperutnya mengusap tangan itu. Glory menurut memeluknya erat menatap kedepan sembari mengerjab menetralkan dirinya supaya tidak pusing. Tak berselang lama motornya mereka pun sampai disalah satu tempat makan, tempat makan yang tidak bisa dikatakan mewah namun tidak juga dikatakan sederhana.
”Kita makan nasi yah, tadi di sekolah kamu tidak makan nasi.”Ujar Aksa turun lalu berjongkok didepan adiknya.”Biar abang gendong. “Ujarnya. Glory menghela nafas menaiki punggung sang kakak, menyandarkan kepalanya.
“Maaf yah abang. Nana nyusahin terus.”Ujar Glory lemah. Sejujurnya Glory tidak mau memiliki tubuh yang lemah begini, dia sudah konsul kepada dokter sedari kecil tentang penyakitnya ini tapi tetap tidak ada yang menemukan penyakitnya.
Aksa berdehem. “ Mangkanya jangan sakit. Kalo sakit abang yang pusing.”Ujarnya lirih. ia merasa senang Glory manja, yang ia tidak suka Glory yang lemah.
Aksa dan Glory memasuki restoran itu dalam diam tapi ada banyak yang menatap keduanya dengan banyak pandangan terlebih pada Glorry yang digendong Aksa penuh binar. “ Nana tutup mukanya.” Tegas Aksa berbisik.
Glory paham pun menyembunyikan wajahnya dipunggung aksa. Aksa menghela nafas kesal, sedari dulu adiknya selalu diminati oleh banyak orang tanpa ia bertindak sekalipun.
Rasanya Aksa tak ikhlas Glory di sukai banyak orang....
.
.
.
Heppy reading, jangan lupa tinggalkan jejak yah!
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 114 Episodes
Comments
Anisa Zahra
tapi cocok dh mereka berasa waw gimana gtu
2023-05-26
3
Anisa Zahra
ehk tapi Abang gua jg skrg baik bgt KLO gue mau pergi slalu d anter jemput y Karna dia tau gue anak stay at home jdi takut nyasar KLO skalinya keluar😃
2023-05-26
0
Anisa Zahra
ikh pengen bgt punya Abang k gtu
2023-05-26
0