Wajah Crystal bersemu merah saat menatap Ryan yang sedang memakai kemejanya.
"Kenapa?" tanya Ryan, merasa di perhatikan ia pun menoleh kearah Crystal.
"Tidak," jawab Crystal tersipu, lalu ia mengusak rambutnya yang basah dengan handuk kecil di tangannya. Crystal memejamkan matanya erat dan tersenyum tipis saat mengingat percintaan panasnya yang beberapa saat lalu terjadi.
"Ryan, ehm." Crystal sepertinya ragu untuk mengucapkan perkataanya.
"Iya?" Ryan berjalan mendekat setelah selesai memakai pakaiannya, lalu ia mengambil handuk kecil yang ada di tangan Crystal kemudian ia mengeringkan rambut Crystal dengan lembut.
Crystal sampai tertegun ketika melihat Ryan memperlakukannya dengan sangat lembut.
"Ada apa? Kenapa diam, katakan saja isi hatimu," ucap Ryan, tanpa menatap wajah Crystal karena saat ini dirinya tengah fokus mengeringkan rambut Crystal. "Rambutmu sangat indah sekali, dan sangat berkilau," puji Ryan, lalu mengambil beberapa helaian rambut kemudian ia menghirup aroma shampo dari rambut indah itu. Sepertinya Ryan sangat menyukai rambut Crystal yang hitam berkilau.
"Iya, sudah bawaan lahir," jawab Crystal asal, karena saat ini dilanda kegugupan yang luar biasa.
Ryan meletakkan handuknya di tepian termpat tidur dengan kasar, dan ia juga melepaskan helaian rambut itu dengan kasar juga.
Kenapa mukanya jadi kesal begitu? Batin Crystal ketika melihat wajah Ryan kesal dan sedikit memanyunkan bibirnya, sebal.
"Kamu nggak bisa di ajak romatis ya!" ketus Ryan, lalu mendudukan diri di samping Crystal.
Eh
Crystal terkejut saat mendengar perkataan Ryan namun sesaat kemudian ia tersenyum.
Bilang dong kalau mau romantisan, dasar kenebo kering. Kenapa dia jadi lucu begitu sih? Seperti anak TK yang tidak boleh membeli Es krim oleh ibunya. Bain Crystal terkekeh geli.
"Tadi kamu mau bilang apa?" tanya Ryan, menoleh kearah Crystal yang duduk di sisi kirinya.
"Oh itu, aku ehm itu, kita sudah begini," ucap Crystal ambigu seraya menyatukan kedua tangannya dan menggerakannya bersamaan.
"Lalu?"
"Kok lalu? Nanti kalau aku hamidun bagaimana?!" kesal Crystal, karena melihat respon Ryan yang teramat santai.
"Kalau hamil ya selanjutnya melahirkan," jawab Ryan, semakin membuat Crystal kesal bukan main.
"Dasar tidak peka!!" sungut Crystal, lalu beranjak dari duduknya, tapi gerakannya tertahan saat Ryan menarik tangannya hingga dirinya jatuh ke pangkuan Ryan.
"Lepas!" sentak Crystal, memberontak dari pelukan pria tersebut.
"Kamu marah?" Ryan mengeratkan pelukannya, lalu mengecup pipi Crystal dari samping. "Memangnya kenapa jika kamu hamil? Aku akan bertanggung jawab dan aku akan meminta ijin kepada Tuan dan Nyonya Fadaei untuk menikahimu," jelas Ryan.
Crystal terdiam dan juga terkejut ketika Ryan bilang akan menikahinya. "Benarkah?" tanya Crystal, memastikan.
"Iya," jawab Ryan pasti. Bibir Crystal tersenyum cerah ketika mendengar jawaban Ryan dan spontan langsung memeluk tubuh kekar itu.
"Jangan memancingku lagi," ucap Ryan, ketika mendapat pelukan hangat dari gadis cantik itu. "Ayo kita pulang." Ryan menurunkan Crystal dari pangkuannya.
"Aku tidak mau pulang, aku takut di marahi Papi dan Daddy," cicit Crystal lalu duduk di pangkuan Ryan lagi.
"Makanya jangan nakal!" kesal Ryan, mencubit hidung mancung Crystal dengan lembut lalu mengecup bibir seksih itu sekilas.
"Siapa yang membuatku seperti ini?" ketus Crystal, melirik tajam Ryan.
"Oke, aku yang salah." Ryan lebih baik mengalah. "Sekarang menurutlah dan kita pulang," bujuk Ryan lagi, dan akhirnya Crystal mengangguk setuju.
*
*
*
Di ruang tamu
"Huuuuu, basah ya rambutnya?" bisik Caramel di dekat telinga Crystal, ketika melihat rambut Ryan basah.
"Apaan sih, Lo!" ketus Crystal, lalu menutup mata Caramel dengan telapak tangannya saat melihat Ryan sedang menenggak minuman kaleng dengan gaya yang sangat keren. Jangkun Ryan naik turun seiring ia menenggak minuman tersebut dan ada beberapa bulir dari minuman tersebut menetes di lehernya, membuat siapa pun yang melihatnya akan tergoda.
"Gila, lihat jangkunnya naik turun saja sudah membuat gue basah," ucap Caramel, langsung mendapat pukulan keras dari Crystal.
"Sakit tahu!" gerutu Caramel, mengusap kepalanya yang terasa sakit.
"Lagian mesum! Dasar otak sela*ngkangan!" umpat Crystal.
"Huh, pelit banget sih lo! Cuma lihat doang, nggak nyicipin. Eh btw, berapa ronde tadi? Lo sama dia hampir tiga jam loh di dalam kamar." Caramel berbicara sangat pelan, namum Crystal masih mendengarnya.
"Menurut lo berapa ronde?" Crystal balik bertanya dan menaikan salah satu alisnya, menatap wajah temannya yang omes.
"Kalau dari eksperi wajah lo sih, satu ronde tapi long time," tebak Caramel dan Crystal menganggukan kepala.
"Ih, dahsyat banget, apa nggak kebas tuh memeyo lo?" tanya Caramel tidak berfilter, membuat Crystal kesal, lalu membungkam bibir temannya itu dengan telapak tangannya.
Setelah numpang ber uh ah ria dan numpang minum, Ryan dan Crystal akhirnya pulang meninggalkan Caramel yang menggerutu kesal.
*
*
"Ryan, aku heran kenapa kamu bisa menemukanku?" tanya Crystal, menoleh kearah Ryan yang sedang fokus menyetir mobil.
"Kamu ini bodoh atau apa? bukankah sejak awal sudah aku bilang jika akan terus mengawasimu dan kedua temanmu itu, karena status kalian masih menjadi saksi," jelas Ryan, membuat Crystal merutuki dirinya, karena ia melupakan hal tersebut.
Mau lari kelubang semut juga pasti akan di temukan sama dia. Batin Crystal.
"Ehm dan satu lagi, bolehkah aku mengetahui semua tentangmu?" tanya Crystal hati-hati. "Maksudku, agar kita mengenal satu sama lain."
"Bukankah kita sudah kenal satu sama lain, bahkan lebih dari itu?" tanya Ryan tersenyum tipis, menatap Crystal sesaat.
"CK!" Crystal hanya berdecak kesal, menanggapi Ryan.
"Boleh tentu saja boleh, apa yang ingin kamu ketahui, hem?" tanya Ryan, tangannya terulur untuk mengusap kepala Crystal dengan lembut.
"Kehidupanmu, keluargamu, tempat tinggalmu, namamu dan semua tentangmu," jawab Crystal antusias.
"Oke, keluargaku sudah tidak ada sejak 5 tahun yang lalu, aku anak tunggal," jawab Ryan tersenyum, malah membuat Crystal merasa bersalah. "Maaf, tidak seharusnya aku menanyakannya," ucap Crystal penuh sesal.
"Tidak apa, kamu berhak tahu semuanya," jawab Ryan. "Aku tinggal di salah satu apartement di kawasan xx." Crystal menganggukan kepalanya dan takjub karena Ryan adalah pria yang tangguh dan sanggup hidup sendirian tanpa keluarga di sampingnya.
"Dan namaku, Aaron Ryan," lanjut Ryan, membuat Crystal membulatkan mulutnya.
"Jadi pria yang di restoran itu, mengenalmu?" pekik Crystal dan menggelengkan kepalanya berulang kali.
"Iya!" jawab Ryan tegas, lalu menambah laju kecepatan mobilnya.
"Ryan, pelankan mobilnya!" Crystal ketakutan.
"Shitt!" umpat Ryan, dan menambah kecepatan mobilnya lagi.
"Ryan!!!" pekik Crystal, wajahnya sudah pucat pasi.
"Diamlah Crys! dibelakang ada yang mengikuti kita!" ucap Ryan.
Crystal menoleh kebelakang dan ternyata benar jika ada beberapa mobil hitam yang mengikutinya.
Rahang Ryan mengeras. Aku tidak akan membiarkan kalian menyakitinya! batin Ryan sangat geram.
Jangan lupa kasih dukungannya dengan cara tekan favorite, like, vote,komentar, dan kasih Gift seikhlasnya😘
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 163 Episodes
Comments
Lhina Bright
astaga punya tmn kaya caramel seru banget deeeeeh rasanya, /Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/
2024-08-11
1
Ernadina 86
Caramel gesrek😂😂😂😂
2024-03-25
1
Pia Palinrungi
siapa sebenarnya mereka kok incarannya cystal, bersyukur bareng sm bodygard tersayang🤣🤣🤣🤣🤣
2023-08-18
1