Mendengar Crystal pergi dari rumah, membuat Xander murka.
"Kenapa cucuku bisa pergi dari rumah!" tanya Xander kepada Devan dan Raya.
"Daddy, ini salah Safira yang kelepasan bicara," sela Safira, kemudian ia menjelaskan semuanya kepada Xander dan Jeje.
"Maaf," cicit Safira, menyesalinya.
"Tidak sayang, ini bukan salahmu," ucap Jeje, lalu memeluk cucunya sesaat.
"Kenapa kalian semua harus menyembunyikan semua ini dari Crystal? Aku tidak habis pikir dengan pikiran kalian!" Jeje menatap tajam Xander dan Devan bergantian. Apalagi ponsel Crystal tidak bida di hubungi, membuat seluruh keluarganya semakin khawatir.
"Honey, dengarkan penjelasanku dulu. Ryan melakukan semua ini karena misinya sangat rahasia dan kami tidak bisa menyalahi aturannya, selain itu nyawa Crystal juga dalam bahaya, karena temannya yang bernama Kendro itu mengincar Crystal," jelas Xander dengan sangat lembut, agar istrinya tidak murka.
"Maksudnya mengincar nyawa Crystal?!" tanya Jeje, terkejut bukan main.
"Iya," jawab Devan, menundukan kepalanya dan memijat pelipisnya yang terasa pusing.
"Maka dari itu, Ryan selalu mengikuti kemana pun ia pergi dan sekaligus mengawasi gerak-gerik Kendro. Ryan tidak bekerja sendiri, ada beberapa anggotanya yang membantunya untuk mengawasi pergerakan Kendro," jelas Devan.
"Kamu tahu dari mana?" tanya Jeje.
"Sebelumnya Ryan mendatangi kami, Mam. Dan menjelaskan semuanya dari identitas dirinya dan tujuannya sebenarnya." Raya menjawab pertanyaan ibu sambungnya.
"Ya ampun! Lalu bagaimana sekarang? Cucuku hilang dan tidak tahu keberadaannya?" Jeje tidak kuasa menahan tangisnya.
"Sayang, sudah jangan menangis. 4 J sedang mencari keberadaan Crystal, kita berdoa saja jika Crystal akan baik-baik saja di luar sana." Xander menghampiri istrinya lalu memeluk istrinya, memberikan ketenangan.
"Aku akan menghubungi Kak Caramel dan Kak Cindy." Safira beranjak dan mengambil ponselnya di kamarnya.
"Aku akan menghubungi Ryan." Devan mengambil ponselnya yang ada di saku jasnya.
"Kenapa kalian tidak mengecek GPS mobil Crystal?" ucap Jeje.
"Oh, iya!" pekik Devan dan Xander bersamaan, karena saking paniknya mereka tidak berpikir sampai kesana.
Kemudian Devan mengurungkan niatnya untuk menghubungi Ryan dan beralih mengecek GPS mobil Crystal dari ponselnya.
"Kenapa mobilnya berada di luar kota?" Devan mengerutkan keningnya, dan memperlihat ponselnya kepada Xander.
"Kerahkan anak buahmu, Van!" tegas Xander, lalu beranjak dan di ikuti oleh Devan, berjalan keluar rumah.
Tidak berselang lama, Safira kembali keruang keluarga dengan wajah lesu. "Bagaimana?" tanya Jeje.
"Kak Crystal tidak ada di tempat Kak Cara dan Kak Cindy," ucap Safira, rasa bersalah semakin menyelimuti hatinya.
"Kakak pasti sangat kecewa karena merasa di bohongi," lanjut Safira, menangkup wajahnya frustasi.
"Daddy, Papi dan 4 J sedang mencari keberadaan Crystal, kita berdoa semoga Crystal cepat di temukan," ucap Raya, memeluk putrinya.
*
*
*
Disisi lain, tepatnya di sebuah ruangan yang lumayan gelap, ada seorang pria gagah dan tampan sedang mengintrogasi seorang pria yang duduk di hadapannya dengan keadaan tangan yang terborgol.
Dan ada beberapa sipir yang berdiri disana untuk berjaga.
"Katakan dimana jaringanmu tesebar?!" tegas Pria itu dan terdengar sangat mengerikan.
"Aku tidak akan mengatakannya!"
Ryan sangat murka lalu menarik rambut Kendro dengan sangat kuat, hingga pria itu meringis kesakitan.
"Katakan dimana!! Apa kamu tahu hukuman yang akan kamu terima adalah hukuman seumur hidup atau hukuman mati! Lebih baik kamu mengatakannya dari pada kamu menderita sendiri!" desis Ryan tajam dan penuh penekanan, nafas memburu bertanda jika dirinya saat ini sangat emosi, karena pria yang di hadapannya ini tetap bungkam.
"Aku harap kamu kooperatif dan katakan dimana saja jaringanmu tersebar!" tegas Ryan lagi menatap tajam pria itu.
Kendro menelan ludahnya dengan kasar, kemudian ia pun mengatakan dimana saja jaringannya tersebar.
"Aku sudah mengatakan semuanya kepadamu! Satu hal yang aku minta kepadamu adalah jaga dan lindungi Crystal karena nyawanya saat ini dalam bahaya," pinta Kendro dengan nafas yang tersengal.
Ryan terdiam, lalu melepaskan tarikan rambut itu dengan kasar.
"Masukan lagi dia kedalam Sel!" titah Ryan, kepada sipir yang ada disana.
"Baik, Pak!"
*
*
Ryan melepaskan sarung tangannya dan membuangnya ketempat sampah, kemudian ia berjalan menuju ruang rapat dan meminta seluruh anggotanya berkumpul disana, kemudian ia menjelaskan rencana-rencana untuk melakukan penggerebekan dan penangkapan jaringan obat-obatan terlarang yang lokasinya sudah di beritahukan oleh tersangka Kendro.
Karena lokasinya ada di beberapa titik yang tersebar di wilayah tersebut, ia pun membagi timnya menjadi 4 bagian dimana sau tim terdiri dari 5 orang.
"Pergerakan kalian harus penuh kehati-hatian, dan utamakan keselamatan!" tegas Ryan.
"Siap, Pak!" sahut mereka kompak.
"Persiapkan diri kalian! dan kita harus bergerak cepat!" tegas Ryan lagi.
"Siap laksanakan!" kemudian mereka semua membubarkan diri untuk mempersiapkan diri mereka untuk berperang.
Sedangkan Ryan langsung berjalan menuju ruangannya. Ia mengambil rompi anti peluru lalu memakainya, dan ia juga mengambil senjata api dan mengambil peluru cadangan, untuk bekalnya berperang.
Tok
Tok
Pintu diketuk dari luar, dan Ryan mempersilahkan masuk.
"Permisi, Pak. Saya ingin melaporkan jika gadis yang bernama Crystal hilang dalam pengawasan kami," salah satu anggota polisi yang di tugaskan menjaga Crystal kehilangan jejak.
"CK." Ryan berdecak kesal, lalu ia mengambil ponselnya. "Dia sudah ada di tempat yang aman," jawab Ryan, lalu meletakan ponselnya lagi.
"Baik, Pak, saya permisi," pamitnya, dan Ryan mengangguk pelan.
"Dasar gadis nakal! Awas saja jika aku sudah menyelesaikan kasus ini, aku akan menghukummu tanpa ampun!" kesal Ryan.
Lagi-lagi Ryan harus mengesampingkan urusan pribadinya, demi tugas negara.
Maka dari itu, di usianya yang sudah 30 tahun dirinya masih sendiri, jangankan memikirkan untuk berkencan untuk bersantai saja ia tidak punya waktu. Hidupnya penuh kerumitan dengan segala kasus-kasus kejahatan yang semakin merajarela.
Walau begitu ia tidak pernah mengeluh, karena ia sangat mencintai pekerjaannya.
Kasihan ya, babang Ryan makanya dia dingin banget kayak es cream, walau dingin tetap ada manis-manisnya. 🤣🤣
*
*
Sementara itu seorang gadis sedang memakan kuaci dengan santai diatas sofa, ia tidak memikirkan keluarganya yang sedang panik mencarinya. Selain memakan kuaci, ia juga sedang menceritakan masalahnya kepada pemilik rumah.
"Jadi lo sudah nggak virgin lagi dong?" tanyanya.
"Ya lah, sudah jebol!" sahut Crystal ketus, untuk menutupi rasa kecewa dan sakit hatinya.
"Terus enak nggak?" tanyanya lagi.
"Sakit banget pas di awalnya tapi lama kelamaan enak beud," jawab Crystal. Ia menjadi mengingat malam panasnya bersama Ryan.
"Buyungnya pasti gede dan kuat? secara Ryan 'kan tinggi besar," ucapnya cekikikan sendiri, matanya menatap langit-langit sembari membayangkan pisang tanduk yang panjang dan besar.
"Kalau itu rahasia!" ketus Crystal.
"Terus dia muntahinnya di dalam apa diluar? apa dia pakai pengaman? Nanti kalau kamu tekdung bagaimana?"
DEG
Jantung Crystal langsung berdetak tidak beraturan.
Jangan lupa kasih dukunganya ya Gaes, dengan cara tekan favorit, like, vote, komentar, dan kasih gift semampu kalian aja🥰🥰❤
Makasih semuanya❤
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 163 Episodes
Comments
Dyah Oktina
iya....tp ngak juga ngerusak crystal...apa kamu sdh jatuh cinta & takut kehilangan crys jd kamu rusak ya.. biar dia ngak bisa pergi dari kamu..
2024-11-23
0
Ki Ki
nah iya baru ngeh dia hahahah
2025-02-24
0
Dyah Oktina
nah... pd ngak sadar kan... krn pertama jd pd keenakan ya.. waduh..
2024-11-23
0