Didalam sebuah kamar yang hanya bercahaya lampu temaram, ada sepasang manusia sedang berpelukan. Sang wanita menghembuskan nafasnya berulang kali lalu menggigit bibir bawahnya dengan kuat. Sedangkan sang pria, mengusap punggung polos wanita itu dengan lembut. Deru nafas keduanya masih memburu akibat percintaan panas yang beberapa saat lalu terjadi.
"Crys," suara bariton itu memanggilnya.
"Hem?" Hanya deheman saja yang keluar dari bibir manisnya. Lalu ia mendongak menatap Ryan.
"Apapun yang terjadi kedepannya tetap percaya kepadaku dan jangan pernah pergi dari tempatmu," ucap Ryan, mengusap rambut Crystal dengan lembut.
"Kamu sedang menyatakan cinta kepadaku?" tanya Crystal.
"Aku bukanlah pria romantis yang dengan mudah mengatakan cinta, tapi anggap saja begitu. Karena tempatmu sekarang ada disni." Ryan menunjuk dadanya. "Kamu paham?" Crystal mengangguk, karena ia sudah memberikan hal yang paling berharganya kepada Ryan.
Dan Ryan merasa sangat bersalah karena tidak bisa menahan dirinya, hingga merenggut kesucian Crystal, walaupun keduanya melakukannya dengan sadar.
"Aku pikir, kamu penyuka sesama jenis," cicit Crystal, menaikan selimutnya yang sedikit melorot dan memegangnya dengan erat.
"Dasar gadis bodoh!" Ryan menuding kening Crystal dengan jari telunjuknya, membuat gadis itu memundurkan kepalanya.
"Aku normal dan kamu sudah merasakannya, bukan?" Ryan tersenyum menatap Crsytal, membuat gadis itu terperangah, karena Ryan terlihat sangat tampan jika sedang tersenyum.
"Ah, iya," Crystal menjadi salah tingkah.
"Apa kamu menyesal?" tanya Ryan. Crystal terdiam membisu dan ia tidak tahu apa yang ia rasakan saat ini, karena dengan mudahnya ia menyerahkan kesuciaannya kepada Bodyguardnya yang super hot itu.
"Aku, tidak tahu," jawab Crystal, membuat Ryan menghela nafasnya lalu ia mencium kening Crystal dengan dalam.
Crystal membeku di tempat karena sikap Ryan sekarang berbeda 180 derajat, memperlakukannya lebih manis dan juga lembut tidak seperti biasanya yang terlihat arogant dan dingin.
"Tidur." ucap Ryan, lalu menarik Crystal lebih mendekat lagi dan meletakkan lengannya di bawah leher Crystal, lalu ia memeluk tubuh ramping itu dengan erat.
Crystal masih terdiam, tapi karena tubuhnya sangat lelah ia pun mulai memejamkan matanya dan menelusupkan wajahnya di dada bidang Ryan, tercium wangi maskulin yang membuat Crystal tenang dan akhirnya membuatnya terlelap.
Pagi hari telah tiba.
Crystal tersentak kaget, saat ia mendengar suara ketukan pintu dari luar kamar. Ia mendudukan diri, menatap sebelahnya dan ternyata Ryan sudah tidak ada di sebelahnya.
"Huh," Crystal mengusap wajahnya dengan kasar, lalu ia beranjak dari tempat tidur dengan melilitkan selimut ketubuhnya yang masih polos.
"Crys!!!" teriak Raya dari luar kamar di iringi gedoran pintu sangat kuat.
"Iya!!" balas Crystal berteriak, dan berjalan menuju kamar mandi dengan langkah yang tertatih.
Tidak berselang lama, ia sudah selesai membersihkan diri dan bersiap untuk kekampus.
Crystal menatap tempat tidur yang terlihat acak-acakan dan ada bercak darah kesuciannya di permukaan sprei berwarna putih itu.
Lalu ia segera membereskan tempat tidur dan melepaskan sprei yang kotor itu dan menggantinya dengan yang baru, lalu ia menyembunyikan Sprei yang kotor itu di dalam lemari dan berniat untuk mencucinya nanti.
*
*
*
"Pagi," sapa Crystal saat sudah di meja makan, ia memperhatikan sekelilingnya, biasanya Ryan akan sarapan bersama di meja makan.
"Makan sarapanmu, Crys," tegur Devan, lalu menenggak susunya hingga tandas.
"Ehm, Pi. Ryan mana?" tanya Crystal ragu.
"Kenapa? Kamu biasanya tidak pernah menanyakannya?" tanya Devan, penuh selidik.
"Em, itu—"
"Ryan di pindah tugaskan ketempat lain!" potong Devan, tanpa menoleh.
Deg
Jantung Crystal berdetak dengan cepat, lalu ia meletakkan sendok dan garpu yang sudah ia pegang dengan lesu. Matanya berkaca-kaca namun sebisa mungkin ia menahannya.
"Aku harus segera berangkat ke kampus," ucap Crystal tidak bersemangat, lalu beranjak dari duduknya.
"Crys makan sarapannya dulu," tegur Raya.
"Iya, Kak. Nanti Kakak lapar lagi," sambung Safira.
Tapi Crystal tidak memperdulikan ucapan Ibu dan adiknya.
Hatinya kecewa dan juga merasa sangat sakit.
Kenapa kamu pergi? Kenapa? Dan kenapa tidak memberi tahuku? Ingin rasanya Crystal menjerit dan menangis sekuatnya.
Crystal saat ini sudah di dalam mobilnya, ia mengambil ponselnya untuk menghubungi Ryan tapi nihil ponsel Ryan tidak bisa di hubungi.
Tapi ia terdiam sejenak, dan mengingat perkataan Ryan tadi malam, "Apapun yang terjadi kedepannya tetap percaya kepadaku dan jangan pernah pergi dari tempatmu."
"Apa ini yang kamu maksud? Sebenarnya kamu siapa?" Crystal bertanya-tanya dalam benaknya.
Karena identitas Ryan masih sangat misterius dan lebih parahnya lagi, ia menyerahkan kesuciannya kepada pria itu. Tapi, ia berusaha menguatkan diri dan berusaha percaya kepada Ryan, jika pria itu tidak akan meninggalkannya.
Tidak ingin berlarut dengan permasalahan yang ada, ia segera melajukan mobilnya menuju kampus.
*
*
*
Sampai di kampus, Crystal segera keluar dari mobil dan ia melihat kedua temannya terlihat panik.
"Hai, kalian sedang apa? dan kenapa wajah kalian paniik?" tanya Crystal kepada Cindy dan Caramel yang sepertinya sengaja menunggunya.
"Kendro, Lek!" Cindy semakin panik.
"Kenapa dengan tuh bocah?" tanya Crystal.
"Dia ditangkap polisi!" ucap Caramel pelan
"What!!!" pekik Crystal terkejut. "Kenapa bisa?"
"Sudah pokoknya kita harus secepatnya ke kantor polisi sekarang, karena kita diminta untuk menjadi saksi." Cindy memperlihatkan surat dari kepolisian kepada Crystal.
"Ini tidak mungkin!" Crystal menggeleng pelan, tidak percaya dengan kenyataan yang ada, saat membaca surat itu. Kemudian ia segera memasuki mobilnya lagi dan diikuti dua temannya menuju kantor polisi.
Sampai di kantor polisi
"Pak teman saya, itu adalah orang baik, mana mungkin melakukan hal tersebut," bela Crystal kepada salah satu polisi yang mengintrogasinya.
"Sudah ada bukti kuat dan memang teman anda yang bernama Kendro itu adalah Bandar obat-obatan terlarang," jelas polisi tersebut.
"Nanti kalian akan dites urine dan akan menjalani beberapa pemeriksaan, jika kalian terbukti bekerja sama dengan tersangka atau terbukti memakai obat-obatan terlarang, maka kalian akan kami tahan."
Tentu hal tersebut membuat ketiga gadis itu tercengang dan juga ketakutan, walau begitu mereka tetap mematuhi peraturan yang ada.
"Bagaimana hasilnya?" tanya suara bariton itu, saat memasuki ruangan pemeriksaan.
Kepala Crystal yang tertuduk, kini mendongak dan menoleh kesumber suara itu.
"Ryan?" gumam Crystal, menatap nanar pria tampan dan gagah yang seolah tidak mengenalinya.
"Kami sedang menunggu hasil tes urine, Pak." jawab Pria berseragam polisi itu berdiri dan memberi hormat kepada Ryan.
Apa maksud semua ini? Jadi dia menyamar. mendekatiku hanya untuk mengintai Kendro? Batin Crystal penuh kekecewaan.
"Crys, itu bukannya Ryan?" bisik Carmel.
"Hem, biar aku yang menangani kasus ini!" tegas Ryan.
"Tapi, Pak— Baiklah," ucap polisi itu pada akhirnya, saat mendapat tatapan tajam dari atasannya.
**Terkejutkan kalian semua. 😆😆
Padahal di bab sebelumnya emak dah kasih clue loh siapa Ryan sebenarnya, 😆**
Jangan lupa dukung karya Emak ya, dengan cara tekan favorite, like, vote, komentar dan hadiah semampunya aja, nanti emak akan mengusahakan untuk doble up setiap harinya. 😘😘🥰
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 163 Episodes
Comments
Dyah Oktina
waduh...kla hamil gemana kamu crsy... ih ryan juga.. main trobos perawan crsy.. terus d tinggal... gegana lah mantan gadisnya devan... 😔😢😠
2024-11-23
1
Lhina Bright
waktu bicara ditaman belakang rmhnya kan, waktu itu Devan bcr bilang bgmn sdh ada petunjuk/ hasil sama Ryan.
2024-08-11
1
Mary Bella
mantap crtanya Thor...
2024-01-24
0