Hari-hari Crystal benar-benar sangat membosankan, sudah dua minggu lebih ia di kawal oleh Ryan.
Ryan seperti anak itik yang terus mengikuti induknya kemana pun dan di mana pun Crystal pergi Ryan selalu ada di belakangnya.
Seperti saat ini, Ryan sedang menunggu di luar kelas Crystal, ia menunggu sembari memainkan ponselnya, entah apa yang sedang ia kerjakan tapi pria itu terlihat sangat serius. Dan selama itu juga Ryan menjadi perbincangan kaum hawa di seluruh kampus tersebut, karena ketampanan dan sikapnya yang tegas, dingin dan tidak mudah tersentuh membuat para gadis disana tergila-gila dengannya.
"Gila ya, Ryan benar-benar totalitas." Caramel berucap pelan, sembari melirik Ryan yang berdiri di dekat pintu.
"Gue penasaran dengan bayaran yang dia terima, sampai segitu totalitasnya." Cindy menimpali.
"Hem, hidup gue sudah nggak berwarna, lihat pakaian gue saja diatur olehnya," keluh Crystal sembari menarik sweater kedodoran yang ia kenakan. "Bukan fashionku sekali. Guys help me," pinta Crystal lalu membenamkan wajahnya di mejanya dengan frustasi.
"Eh, Bulek! Bagaimana kalau lo membuatnya jatuh cinta," saran Ken.
"Gila lo Ndro!" pekik Crystal tertahan, menggeleng tidak setuju dengan saran temannya.
"Biasa saja kali, nggak usah sebut nama asli gue!" kesal Ken, memutar kedua bola matanya dengan malas.
"Dih, nama lo 'kan memang Kendro! Apa salahnya?" sahut Cindy.
"Nama keren gue 'kan Ken, jadi nggak usah di jabarin nama panjangnya," sahut Ken kesal.
"Yeh, sok gahul!" Caramel menimpuk kepala Ken dengan buku.
Brak
"Yang di belakang kenapa ribut!!" Dosen menggebrak white board dengan keras.
"Ken kentut, Pak. Bau!" sahut Caramel beralasan, sembari mengibaskan telapak tangannya di depan hidung.
"Ken! jangan kebiasaan memberi racun kepada teman-temanmu, kebelakang sana buang ampas dulu," balas Dosen, lalu melanjutkan menjelaskan materi pembelajaran.
"Gue mulu yang jadi korban!" sungut Ken, walau begitu ia beranjak, kesempatan untuk nongkrong di kantin.😆
*
*
*
Tidak terasa kelas Crystal telah usia dan waktu sudah menujukan jam 1 siang. Perut Crystal keroncongan dan begitu pula dengan perut Ryan, karena keduanya telah melewatkan makan siang.
"Mau makan dimana?" tanya Ryan tanpa menoleh, karena sedang fokus menyetir mobil.
"Terserah!" ketus Crystal, juga tanpa menoleh karena ia sedang memikirkan saran temannya.
Apa aku harus meluluhkan hatinya yang dingin itu? Hih, tapi jika di coba tidak ada salahnya bukan?
Walau akan sedikit sulit, karena dia sepertinya tidak menyukai wanita.
Masih teringat di benak Crystal, saat Ryan mengusap lengannya dengan sapu tangan ketika dirinya memegang tangan pria itu. Crystal berkesimpulan jika Ryan tidak tertarik dengan wanita.
Mobil yang di kendarai Ryan, terparkir rapih di depan restoran mewah. Crystal mengernyit heran dan menoleh ke Ryan yang sedang melepaskan seatbealtnya.
"Kenapa di restoran mewah?" tanya Crystal, ia tidak memegang kartu kredit atau black cardnya karena di sita oleh Devan selama dua bulan. Bukan tanpa sebab Devan menyita fasilitas putrinya, karena beberapa waktu yang lalu Crystal berusaha untuk kabur dari rumah.
"Saya punya uang untuk membayar makanan itu, jadi jangan khawatir," jawab Ryan, lalu segera keluar dari mobil dan di ikuti oleh Crystal.
"Ryan, disini makanannya mahal-mahal. Aku tidak ingin berakhir mencuci piring di belakang sana," ucap Crystal, ketika melihat buku menu.
"Anda meremehkan saya, Nona?" Ryan menatap tajam Crystal yang duduk bersebrangan dengannya.
"Eh, bukan maksudku seperti itu. Baiklah aku akan pesan." Crystal pada akhirnya memesan menu makanan yang paling murah di restoran tersebut.
"Hanya ini?" tanya Ryan, Crystal mengangguk pelan.
Ryan tersenyum tipis, kemudian memanggil pelayan, menyerahkan pesanannya sekaligus membayarnya.
Tidak berselang lama pesanan mereka datang, kemudian mereka memakan dengan tenang.
"Tuan Aaron?" panggil seorang pria yang memakai pakaian formal.
Crystal menoleh dan menatap sekelilingnya. Tapi mata pria itu tertuju pada Ryan.
"Maaf anda salah orang," ucap Ryan, lalu berdiri dan menarik tangan Crystal.
"Ryan, aku belum selesai makan," kesal Crystal, berusaha melepaskan tangan Ryan yang mencengkram lengannya erat.
"Nanti kita makan ditempat lain," paksa Ryan.
"Tapi, siapa pria ini? Dan kenapa dia memanggilmu Aaron?" tanya Crystal, melirik pria tampan yang berdiri tidak jauh dari mereka.
"Saya tidak mungkin salah orang, apa anda lupa dengan saya? Oh apakah ini kekasih anda?" tanya Pria itu tersenyum smirk dan ingin menyentuh pipi Crystal.
Bugh
"Jangan lancang!" Ryan memberikan bogem mentah kepada pria itu, yang akan menyentuh Crystal. Hingga membuat pria itu terhuyung kebelakang.
Crystal tekejut bukan main ketika melihat Ryan memberikan bogem kepada pria itu.
"Ryan, sudah! Ayo kita pergi!" Crystal melerai agar tidak terjadi keributan disana.
Crystal menarik badan besar Ryan hingga keluar dari restoran tersebut.
*
*
*
"Siapa pria tadi? Dan kenapa memanggilmu Aaron?" tanya Crystal, saat sudah di dalam mobil.
"Salah orang," jawah Ryan, dan mulai menyalakan mesin mobil.
Salah orang? Tidak mungkin!
Aku harus mencari tahu. Dia pasti menyembunyikan sesuatu.
"Apa tanganmu terluka?" tanya Crystal, ingin menarik tangan kanan Ryan.
"Tidak!" jawab Ryan singkat, dan menepis kasar tangan Crystal.
"Ya ampun! Aku ingin membalas kebaikanmu karena sudah menolongku dari tangan jahat tadi," kesal Crystal, saat mendapat penolakan dari Ryan.
"Sudah kawajiban saya melindungi anda. Dan saya tidak suka di sentuh!" tegas Ryan, membuat Crystal berdecak kesal.
"Apa kamu mempunyai penyakit? Atau kamu penyuka sesama jenis?" tanya Crystal beruntun dan menatap pria yang duduk di balik stir mobil dengan intens. Tapi Ryan tidak menjawab satupun pertanyaannya, malah pria itu terkesan sangat cuek dan mengabaikannya.
Ya ampun, dia ini manusia atau batu sih? Geram Crystal dalam hati.
Hem, tapi menarik sekali. Mata Crystal menyipit dan tersenyum penuh arti. Ia merasa tertantang untuk meluluhkan hari Ryan, karena baru kali ini ada pria yang tidak tertarik dengan pesonannya.
"Ehm, Ryan?" panggil Crystal.
"Hem," hanya berdehem saja.
"Ck! Bisa tidak sih kamu itu jangan terlalu kaku," sungut Crystal. "Dan juga jangan berbicara formal denganku, santai saja." lanjut Crystal di iringi kekehan kesal.
"Iya," jawab Ryan, singkat dan datar.
Astaga! Ini orang bukan sih? Crystal menggeram kesal di dalam hati.
Sabar ... Sabar ....
"Ryan, kalau boleh tahu berapa umurmu?" tanya Crystal lagi.
"Tidak sopan jika seorang wanita menanyakan umur seorang pria!" jawaban Ryan, membuat Crystal ingin mencekik leher pria tersebut.
"Hih, aku 'kan hanya ingin tahu, soalnya kamu itu kelihatan sangat tua," cibir Crystal, langsung mendapat lirikan tajam.
Glek
Crystal menelan ludahnya dengan kasar, kemudian memalingkan wajahnya kearah kiri, menatap jalanan kota.
Gila itu matanya tajam banget. Batin Crystal.
Jantungnya sudah berdetak tidak karuan.
Jangan lupa kasih dukungannya ya, tekan favorite, vote, like, komentar dan kasih gift.
Di kasih bonus visual lagi, kurang baik apa coba, emak kalian ini. Tapi bayar pakai like!! Awas kalau ndak!
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 163 Episodes
Comments
Jessica Sinting
visualnya kok gak terlihat ya?
2024-12-20
0
Lhina Bright
🤣🤣🤣🤣🤣 sabar ken...
2024-08-11
0
Novano Asih
😀😀😀kena batunya Ken
2024-04-24
0