"Cara!! Ada tamu!" seru Crystal, ketika mendengar bel rumah bunyi.
"Ck, lo sana yang buka!" ketusnya, sembari memainkan ponselnya di sofa ruang tamu.
"Heh! Jablay! Lo yang deket pintu, bergerak dikit kek!" jawab Crystal, di ambang pintu kamar tamu yang tidak jauh dari sana.
"Dasar teman kurang asam!" maki Caramel, meletakkan ponselnya dengan kasar di sofa, barulah ia beranjak untuk membuka pintu.
Ceklek
Caramel membuka pintu dengan malas, namun matanya terbuka dengan lebar saat tahu siapa yang ada di balik pintu tersebut.
"Oh, hai. He heee." Caramel, menutup sedikit pintunya lagi, karena saat ini dirinya hanya memakai tang top dan hot pant.
"Di mana dia?" suara bariton itu terdengar datar dan dingin.
"Ada di dalam," jawab Caramel.
"Sebentar, tunggu disini," ucap Caramel, lalu berlari kedalam kamarnya dan segera memakai pakaian yang lebih layak.
Ah, mampus lo Crys! Batin Caramel, sembari memakai pakaiannya. Tidak berselang lama, ia bergegas kedepan lagi dan mempersilahkan Ryan masuk kedalam rumahnya.
"Silahkan duduk, Pak. Mau minum apa?" Cara bersikap manis dan sangat sopan.
"Tidak perlu, saya hanya ingin menemuinya," jawab Ryan datar.
Mata Caramel menatap dada bidang yang kekar dan berbulu itu tanpa berkedip, dan ia menelan ludahnya berulang kali.
Gila, bulunya bikin ngiler. Beruntung banget Crystal di bobokin sama Pak Pol. Batin Caramel.
Ryan menjetikkan jarinya di depan wajah Caramel, hingga membuat gadis itu terperanjat kaget.
"Eh, iya?" Caramel gelagapan.
"Saya ingin menemuinya," ucap Ryan lagi, mengendarkan pandangannya di setiap sudut rumah mewah itu.
"Ya, silahkan. Dia ada di dalam sana." Caramel menunjuk pintu kamar yang bercat putih.
"Oke," jawab Ryan, tanpa permisi lalu menuju kamar tersebut.
"Ayo pasang telinga dengan baik, apakah nanti ada suara erangan dan desaahan dari dalam sana? Uh ya ampun, kenapa aku menjadi panas begini?" keluh Caramel, mengipasi wajahnya dengan kedua telapak tangannya, kemudian ia bergegas menuju kamarnya sendiri.
*
*
*
*
Tok
Tok
Ryan mengetuk pintu dengan pelan, Crystal yang sedang merebahkan dirinya diatas tempat tidur sembari memainkan ponselnya berdecak kesal saat mendengar suara ketukan pintu dari luar kamarnya.
"Cara apaan sih? Biasanya juga langsung masuk aja, nggak tahu apa dia itu kalau gue lagi males gerak," gerutu Crystal, lalu beranjak dan membuka pintu kamarnya.
Ceklek
Mata Crystal membola sempurna, ketika melihat sosok tampan sedang menatapnya dengan datar dan dingin.
Cystal menelan ludahnya dengan kasar, dan tiba-tiba bayangan percintaan panasnya dengan Ryan melintas di benaknya, dan secara bersamaan rasa sakit hatinya pun menyeruak kembali.
"Lo kenapa bisa disini?" tanya Crystal dingin, dan menatap tajam Ryan.
"Sudah puas main petak umpetnya?" Ryan balik bertanya, membuat Crystal menggeram kesal.
"Bukan urusan lo!" umpat Crystal. "Pergi lo dari sini!" usir Crystal, mendorong dada bidang Ryan kuat, namun pria itu tetap bertahan di posisinya.
Rasa sakit hati dan kecewa menjadi satu, sehingga membuat dadanya menjadi terasa sangat sesak. Bahkan ia sudah tidak mampu menahan laju air matanya. Ia terlalu sakit saat menatap wajah Ryan.
"Bukankah sudah aku bilang jika kamu hanya perlu percaya padaku apapun yang terjadi dan tetap berdiri di tempatmu!" tegas Ryan, lalu menggenggang tangan Crystal dengan lembut, namun Crystal segera menarik tanganya.
"Omong kosong apa yang kamu ucapkan, hah! haruskah aku tetap bertahan disaat kamu sudah mengambil semuanya lalu pergi begitu saja dan lebih parahnya lagi kamu membohongiku?! Bukan hanya kamu saja, tapi seluruh keluargaku juga membohongiku!" Crystal menatap nanar pria yang ada di depannya itu.
"Crys!"
"Tidak, kamu tidak salah, disini aku yang salah karena aku wanita murahan yang dengan mudahnya menyerahkan hal berhargaku untuk pria asing sepertimu! Menjijikan sekali bukan?" Air mata Crystal terus menetes di pipinya, sekuat tenaga ia menahan agar kuat tapi tetap saja dirinya lemah, tidak sanggup untuk menampung semuanya lagi, terlalu sesak dan sangat menyakitkan dihatinya.
Greb
Ryan tidak tahan lagi jika melihat Crystal menangis seperti itu, ia langsung menarik Crystal kedalam pelukannya.
"Kamu bukan murahan, aku yang salah karena tidak bisa menahan diriku, maaf," ucap Ryan, mengecup pucuk kepala Crystal dengan dalam.
Bagaimana gadis itu berbicara hal menyakitkan seperti itu? Nyatanya jika dirinya lah pria pertama untuk gadis itu.
Hati Ryan terasa tercubit, ketika mendengar ucapan Crystal.
Crystal menumpahkan tangisnya di pelukan Ryan, ia tidak memperdulikan air mata membasahi dada bidang itu.
Ryan membiarkan Crystal menangis sepuasnya di pelukannya. Setelah Crystal tenang, Ryan mengurai pelukan itu dan menangkup wajah Crystal.
"Sudah puas menangis?" tanya Ryan, menghapus air mata Crystal dengan lembut.
Crystal tidak menjawab, membuat Ryan menghembuskan nafasnya pelan.
"Sekarang dengarkan penjelasanku, dan dengarkan baik-baik dengan telingamu itu," ucap Ryan, lalu menarik Crystal kedalam kamar dan mendudukan gadis itu dipinggiran tempat tidur, sedangkan Ryan berlutut di depan Crystal seraya menggenggam tangan itu dengan lembut dan menatap Crystal dengan lembut juga, hingga membuat hati gadis itu tersentuh.
"Aku minta maaf jika telah membohongimu, aku melakukannya ini karena missi untuk menangkap Kendro. Karena missi ini bersifat rahasia, jadi aku tidak bisa memberitahumu terlebih kamu berteman dengan Kendro, kamu pasti paham maksudku?" jelas Ryan, dan Crystal menganggukkan kepalanya pelan.
"Dan setelah selesai percintaan kita, aku meninggalkanmu karena aku mendapatkan kabar dari salah satu anggotaku yang mengawasi pergerakan Kendro jika pria itu sedang lengah, dan dari situ aku memerintahkan untuk melakukan penangkapan saat itu juga," jelas Ryan lagi.
"Aku tidak bermaksud untuk meninggalkanmu, tapi karena tugas negara yang tidak bisa ditinggalkan dan aku harus mengesampingkan urusan pribadiku dan memprioritaskan pekerjaanku, aku harap kamu mengerti," ucap Ryan, dan Crystal mengangguk mengerti.
"Kamu paham sekarang?" tanya Ryan.
"Iya," jawab Crystal pelan.
"Inilah sebabnya juga Tuan Fadaei melarangku jatuh cinta denganmu," ucap Ryan, membuat Crystal tercengang dan sekarang ia mengerti alasan Ryan selalu menjaga jarak dan tidak ingin ia sentuh.
"Jadi kamu sudah jatuh cinta denganku?" tanya Crystal, penuh selidik.
Ryan tidak menjawab melainkan ia bangkit dan menarik tengkuk Crystal lalu mencium dan mellumat bibir itu dengan lembut.
Mata Crystal membola namun hanya sesaat, karena ia langsung memejamkan matanya dan menikmati ciuman lembut itu dan ia pun membalas sesapan dan lumattan yang di berikan oleh Ryan.
Kenapa aku menjadi lemah begini? dan jantung ini kenapa terus berdetak dengan cepat saat berdekatan dengannya? Batin Crystal, ingin menolak tapi tubuhnya berkata lain.
Perlahan Ryan mendorong tubuh Crystal hingga terlentang diatas tempat tidur, dengan keadaan bibir yang masih bertaut.
Dan selanjutnya yang terjadi antara keduanya itu adalah..
Bersambung🤪
Jahara deh aku, suka gantung kayak jemuran, wk wk wkk
Jangan lupa kasih dukungan dengan cara tekan favorite, vote, like, komentar dan gift semampu kalian aja, yang penting ikhlas biar berkah😚
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 163 Episodes
Comments
Dyah Oktina
adalah................... jeng...jeng.. 🤭
2024-11-23
0
Mary Bella
hihihi...gantungan baju
2024-01-24
1
Pia Palinrungi
thor apa vote bs digantung jg yah🤣🤣🤣🤣🤣🤣
2023-08-18
1