"Terus dia muntahinnya di dalam apa diluar? apa dia pakai pengaman? Nanti kalau kamu tekdung bagaimana?"
DEG
Jantung Crystal langsung berdetak tidak beraturan, ketika mendengar ucapan pemilik rumah itu. Lidahnya mendadak kelu bahkan untuk menelan ludahnya sendiri saja ia kesulitan.
"Kenapa lo diam?" tanyanya kepada Crystal, yang terlihat diam membisu. "Jadi Ryan mengeluarkannya di dalam?"
Crystal menoleh dan mengangguk pelan, seraya menarik sambutnya asal.
"Ya, ampun! Seharusnya lo itu bermain aman!" kesalnya.
Plak
Saking kesalya dengan Crystal, ia memukul paha Crystal dengan kuat, hingga membekas cap lima jari.
"Bagaimana mau bermain aman? Jika hal itu terjadi begitu saja dan lebih parahnya lagi, dia melakukannya sampai dua kali," cicit Crystal, sembari mengelus pahanya yang terasa panas dan perih.
Menggeleng pelan sembari mengumpati Crystal yang terlewat bodoh. "Apa kalian melakukannya dengan sadar?"
"Ya, kami melakukannya dengan sadar," jawab Crystal, menundukan kepalanya yang terasa pening.
"Oh! My God! Tidak ada unsur paksaan, jadi kalian melakukannya karena sama-sama mau? Benar bukan?" Crystal mengangguk pelan sebagai jawaban.
"Minta tanggung jawab kepadanya! Mana tahu benih premium Ryan sudah menjadi kecambah!" ucapnya menasehati. "Kalau gue jadi lo, gue akan menjerat Ryan dan tidak akan melepaskannya barang sedetik pun, bahkan gue rela jika Ryan menyemburkan benihnya di rahim gue sebanyak mungkin," ucapnya memanasi Crystal.
"Dasar jablay!!" umpat Crystal, beranjak menuju kamarnya untuk memikirkan nasehat dan perkataan pemilik rumah itu.
"Cemburu bilang, Bos!" ucapnya tergelak.
"Tidak akan!" sahut Crystal ketus.
*
*
*
Sementara itu Xander, Devan, beserta anak buahnya sudah sampai di lokasi dimana Mobil Crystal berada tepatnya di sebuah penitipan mobil, tempatnya tidak jauh dari Villa Xander yang ada di bogor.
"Siapa yang membawa mobil ini kesini?" tanya Devan kepada penjaga parkiran yang ada disana, sembari menunjuk mobil mewah berwarna Pink dan berkarakter hellokity.
Penjaga parkiran itu nampak berpikir sejenak, karena banyak mobil yang di titipkan disana membuatnya harus berpikir keras.
Xander berdecak kesal, lalu merogoh dompetnya dan mengambil uang lima lembar ratusan ribu dan memberikannya kepada penjaga parkiran itu.
"Nah, saya baru mengingatnya. Jika yang mengantarkan mobil ini adalah seorang pria, memakai hodie dan memakai masker," jawab penjaga parkir tersebut, saat sudah menerima uang tersebut.
"Lalu?" tanya Devan lagi, menatap sebal penjaga parkir tersebut, yang ternyata mata duitan.
"Dia cuma bilang kalau menitipkan mobil disini sampai batas waktu yang tidak di tentukan," jawabnya.
"Apa ada CCTV disini?" tanya Xander, sembari memperhatikan setiap sudut bangunan tua itu.
"Sayangnya tidak ada mister, walau begitu penjagaan disini sangat ketat dan aman," jawabnya lagi.
Xander dan Devan, mendesah resah karena tidak menemukan titik temu dimana Crystal berada.
"Ini pasti ulah putrimu yang super nakal itu!" geram Xander. "Dasar kancil!" umpat Xander.
"Dia juga keturuanmu!" jawab Devan ketus.
Sedangkan Xander memutar kedua bola matanya dengan malas.
"Kami permisi, jika yang mengantarkan mobil ini datang, tolong hubungi nomer ini," Devan memberikan kartu namanya dan diterima oleh penjaga parkir tersebut.
"Baik, mister," ucapnya.
"Aku yakin jika Crystal tidak ada di daerah sini, sepertinya Crystal sengaja melarikan diri, tapi kenapa? tidak mungkin jika hanya karena identiitas Ryan, membuatnya seperti ini," ucap Xander dan di angguki Devan. Saat ini mereka sudah berada di dalam mobil, dan bersiap untuk kembali ke kota.
"Apa terjadi sesuatu diantara mereka? Secara kamar mereka berdekatan dan kamu pasti apa yang ada didalam pikiranku?" Xander berucap sembari menoleh kesamping, menatap menantunya dengan intens.
"Tidak, itu tidak mungkin terjadi, mereka sudah dewasa harusnya sudah tahu batasannya," jawab Devan, menggeleng pelan seraya mengusap wajahnya dengan kasar.
"Justru karena mereka sudah dewasa dan jiwa muda mereka menggebu. Semoga yang ada dipikiranku ini salah." Xander berusaha menepis segala pemikiran buruk yang ada di kepalanya, begitu pula dengan Devan melakukan hal sama.
*
*
*
Disisi lain Ryan sedang menjalankan tugasnya dan melakukan penggerebekan di salah satu titik lokasi jaringan pengedar obat-obatan terlarang, tepatnya di sebuah rumah tua yang ada di pinngiran kota tersebut. Sedangkan di titik lainnya dan berbeda wilayah di jalankan oleh Timnya yang sudah ia bentuk sebelumnya.
Para pelaku yang berjumlah 10 orang memberontak dan tidak kooperatif berusaha melawan dan ada yang akan melarikan diri, hingga membuat Ryan Tim melakukan tidakan tegas, yaitu melayangkan timah panas di salah satu kaki para pelaku.
Ryan mengejar salah satu pelaku yang melarikan diri kearah perkampungan yang ada disana.
"Berhenti!" teriak Ryan, terus mengejar dan melayangkan tembakan peringatan keudara berulang kali, hingga membuat ketakutan para warga kampung.
Bugh
Akhirnya Ryan dapat mengejar dan langsung menerjang punggung pelaku tersebut dengan tendangannya, dan membuat pelaku tersungkur ketanah.
Para warga yang menyaksikan itu, langsung bersembunyi di dalam rumah, mengunci pintu dengan rapat karena katakutan.
"Kena kau!" Ryan menodongkan senjata apinya, ia mengeluarkan borgol dari kantong celananya kemudian ia memborgol pelaku tersebut.
"Lepaskan saya pak! Saya punya dua istri dan empat anak yang harus sayang nafkahi," ucapnya dengan nada melas.
"Simpan alasanmu dan katakan kepada hakim nanti!" tegas Ryan lalu menarik kerah baju pelaku tersebut, agar pria itu berdiri.
Sampai du rumah tua itu, Ryan langsung memasukan pelaku tersebut kedalam mobil tahanan.
"Hah." Ryan menghembuskan nafasnya dengan kasar, lalu ia membuka kemejanya berserta rompi anti peluru yang ia kenakan.
"Minum, Pak," ucap salah satu anggotanya, menyodorkan sebotol air mineral.
"Terimakasih," ucap Ryan, lalu menerima botol tersebut lalu menenggaknya hingga tandas. Hal seperti ini sering ia alami, kelelahan karena mengejar penjahat yang melarikan diri.
"Terimakasih atas kerja keras kalian, aku bangga dengan kalian semua," ucap Ryan, menepuk pundak salah satu anggotanya, membuat para anggotanya tersipu karena mendapat pujian dari atasannya.
"Kalian bawa para pelaku yang terluka ke Rumah sakit untuk di obati dan yang cidera ringan segera bawa ke kantor agar secepatnya di tindak lanjuti!" tegas Ryan.
"Siap, Pak!" jawab mereka kompak.
"Aku ada urusan mendadak dan mungkin tidak kembali ke kantor," ucap Ryan, lalu memakai kemejanya dan segera memasuki mobilnya.
"Baik, Pak dan hati-hati dijalan," ucap mereka kompak, segera memasuki mobil dan melesatkan mobil tahanan tersebut.
Sedangkan Ryan tersenyum tipis, lalu menjalankan mobilnya ke suatu tempat.
Tidak berselang lama, ia sampai di depan rumah mewah dan ia turun dari dalam mobil, lalu menoleh ke kanan dimana adalah satu anggota kepolisian yang berjaga tidak jauh dari sana.
"Aman," ucap anggota polisi itu dengan bahasa isyarat, dan Ryan mengangguk pelan.
Jangan lupa dukung terus karya Emak ya, dengan cara tekan favorite, vote, like,komentar dan kasih gift semampu kalian,🥰🥰😘😘😘
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 163 Episodes
Comments
karin Ke
aahhh,, kabur apaan loee crystal 😁😁
Ryan msh nemuu 🤣🤣
2024-03-08
1
༄ⁱᵐ᭄✿ΛLєKƬΉΛ࿐🌴 🍉
bambaaaaannnngg.... dasaaarrrr... mata duitan.... !!! 😝😝
2023-11-08
2
Pia Palinrungi
wah apakah tempat yg didatangi crystal itu kawanan ryan makin seru nihh
2023-08-18
0