******
"Zi... kamu di sini?"
"Hmm... " jawab Zico dengan suara serak. Bibirnya sedikit menyunggingkan senyum. Zafrina menggeser tubuhnya dan merebahkan kepalanya di pangkuan Zico.
Zafrina menghadap ke perut Zico dan ia melingkarkan tangannya di pinggang suaminya itu. Zafrina menenggelamkan wajahnya di perut Zico.
"Apa kamu baik-baik saja?" tanya Zico. Zafrina mengangguk dan menarik nafas dalam-dalam. Ia menghirup aroma tubuh Zico yang menenangkan lalu perlahan Zafrina membalikkan tubuhnya. Mata keduanya bersirobo Zafrina tersenyum samar, dia bisa melihat mata Zico yang memerah.
"Aku baik-baik saja, Zi. Jangan khawatir."
"Maaf, karena aku tidak ada di saat kamu membutuhkanku," lirih Zico, tangan Zafrina terulur membelai rahang Zico yang ditumbuhi bulu-bulu halus. Zico menangkap jemari Zafrina dan mengecupnya berulang-ulang.
"Kamu tidak perlu merasa bersalah. Aku yang salah karena tidak menunggumu pulang terlebih dahulu," ujar Zafrina, dia tahu bagaimana watak Zico jika menyangkut keselamatannya. Pria itu akan berubah melow dan mudah panik.
"Kamu mau tinggal di sini atau pulang?" tanya Zico sambil membelai rambut Zafrina.
"Aku mau pulang. Jika aku tetap di sini, mama pasti akan khawatir."
Zico mengangkat tubuh Zafrina keluar dari kamar. Zafrina menyembunyikan wajahnya di dada Zico tangannya mengalung di leher pemuda itu.
Zafa dan Dominic langsung sigap berdiri. Sedangkan Zico tidak ada niatan menurunkan sang istri.
"Aku akan membawanya pulang," kata Zico.
"Besok aku akan memasukkan 3 orang ku ke mansionmu agar mereka bisa mengawal Zafrina jika berpergian."
"Tidak perlu, aku yang akan mengatur keselamatannya."
"Suka atau tidak aku dan papa sudah sepakat akan hal itu," Zafa berkata dengan nada yang sedikit meninggi.
Zafrina tahu kakaknya sangat mengkhawatirkan dirinya. Gadis itu mengangkat kepalanya lalu menatap Zafa dengan sendu.
"Bisakah ini dibahas nanti saja. Aku ingin segera pulang, Kak." Zafa akhirnya mengalah saat melihat tatapan mata adiknya itu.
Dominic membantu Zico membukakan pintu apartemen milik Zafa. Sesampainya di depan lift, Zafrina meronta ingin turun. Dia malu pada Dominic yang sejak tadi terus menatap mereka.
Zico pun akhirnya menyerah dan menurunkan Zafrina tepat saat pintu lift terbuka. Ketiganya masuk ke dalam.
"Ina, bagaimana caramu menghindari penguntit itu?" Dominic ingin mendengar sendiri bagaimana Zafrina beraksi. Tadi saat dirinya bertanya-tanya pada Zafa, dia bahkan diperlihatkan foto mobil kedua penguntit itu dengan dua kaca depan yang retak dan keempat ban depan dari dua mobil itu kempes.
"Memangnya kenapa?"
"Aku penasaran saja, kata kakakmu tidak hanya satu mobil yang mengikuti tetapi ada 2."
"Zico pun pada akhirnya menjadi ikut penasaran. Tapi denting lift yang tiba di basemen membuat semua mengalihkan pandangannya ke depan.
Mereka bertiga keluar dan melewati mobil yang tadi Zafrina pakai. Zico berhenti sejenak, tangannya kembali terkepal.
"Aku akan membuat perhitungan dengan mereka nanti." Zafrina melingkarkan tangannya di lengan Zico dan menariknya. Dia tidak mau Zico sampai terbawa emosi lagi.
"Ayo... aku lapar." Zico mengikuti langkah istrinya, dengan wajah masam. Pria itu membukakan pintu untuk Zafrina.
Zico dan dominic bertukar posisi. Zico yang mengemudi sementara Dominic duduk di belakang.
"Antar aku kembali ke kampus. Aku harus mengambil mobilku," kata Dominic, Zico hanya mengangguk. Zafrina memilih diam, karena kondisinya yang sedang menstruasi membuat moodnya kurang bagus.
"Aku tidak menyangka, kalian pada akhirnya menikah."
"Aku juga tidak. Aku pikir kita bertiga akan menjadi sahabat sampai tua," kata Zafrina menyahuti ucapan Dominic.
Zico melirik Zafrina kesal. "Aku tidak akan biarkan itu terjadi. Aku akan menikahimu sebelum kamu tua."
Dominic tertawa mendengar jawaban Zico. Zafrina hanya mampu membuang pandangannya dengan wajah yang bersemu merah.
Ketiga sahabat itu tiba di kampus mereka. Dominic turun dan mengambil mobilnya sementara Zico dan Zafrina langsung pergi mencari restoran karena Zafrina sudah merasa sangat lapar.
"Zi, aku rasa orang-orang yang menyerang itu."
"Aku akan mengurusnya."
"Dengarkan aku dulu, Zi." Zico menepikan mobilnya, dia menatap mata Zafrina lembut. kedua tangannya menahan kedua pipi gadis itu.
"Bisakah kamu tidak terlalu memikirkan hal ini. Aku akan mengatasinya. Aku tidak mau kehilanganmu. Cukup aku kehilangan mama, aku tidak mau kehilanganmu. Mama pergi meninggalkan aku dan papa karena terlalu banyak berpikir, percayalah padaku aku akan melindungimu, melindungi anak-anak kita nanti. Cukup cintai aku dan jangan pernah pergi dariku."
Zafrina mengangguk, dia tersihir dengan tatapan mata Zico. Zafrina mengulurkan tangannya ia menangkup kedua pipi Zico lalu membenamkan satu kecupan hangat di bibir pemuda itu.
Dalam jarak yang hanya 5 centi Zafrina tersenyum, "Aku mencintaimu, aku tidak akan pernah meninggalkanmu kecuali itu kehendak yang maha kuasa. Aku hanya ingin kamu selalu melibatkan aku dalam hal apapun. Jadi jangan sembunyikan apapun dariku."
Zico mengusap pipi Zafrina dan mengangguk. Keduanya lalu saling melempar senyum. Zico kembali menjalankan mobilnya dan berhenti di drive thru sebuah restoran cepat saji.
"Aku mau burger dan kentang goreng. Double cheese, Zi."
"Aku tahu itu, Inna."
Setelah menyerahkan kartu debit nya dan menerima pesanannya Zafrina justru malah cemberut.
"Ada apa dengan bibirmu itu?"
"Kenapa air mineral? kenapa bukan cola?"
"Inna, kamu sedang dalam periode. Jika aku memberimu cola, perutmu pasti akan bermasalah lagi," Zico mengusap kepala Zafrina.
"Baiklah, lain kali belikan aku cola."
"Hmm... tentu saja. Tapi setelah kamu selesai periode."
"Terima kasih, Zi."
"Bisakah kita merubah nama panggilan kita. Kita ini suami istri bukan? aku ingin seperti mamai papimu atau mama papamu."
"Nanti saja kita pikirkan. Sekarang aku mau makan."
Zafrina mengeluarkan burger dari brown paper dan mulai menggigitnya. Zico tersenyum melihat cara makan gadis itu.
"Zi, aku rasa mereka hanya seorang amatiran," kata Zafrina seraya mengunyah burger-nya.
"Dari mana kamu tahu?"
"Aku sempat berhenti sesaat, sebelum aku menembaki mobil mereka. Jika mereka profesional bukankah mereka akan keluar dan menembakku?"
"Lain kali jangan lakukan hal yang berbahaya lagi, nanti aku akan memerintahkan orang ku untuk mengawalmu."
"Aku bukan putri presiden. Kenapa harus ada pengawal?"
"Kamu adalah wanita ku yang sangat berharga. Aku tidak akan membiarkan orang lain melukaimu, bahkan menyentuhmu seujung kuku pun."
"Kenapa dari dulu kamu tidak bersikap seperti ini? kamu lebih sering membuatku kesal," protes Zafrina. Zico tersenyum menanggapinya.
"Jawab, Zi.. !" seru Zafrina.
"Itu karena aku suka melihat wajahmu saat cemberut. Kamu tampak sangat menggemaskan."
Pipi Zafrina langsung memerah. Dia mengalihkan perhatiannya pada burger yang ada di tangannya.
"Gombal.... "
Zico terkekeh melihat wajah Zafrina yang tampak malu-malu setelah dipuji oleh Ziko.
🌹🌹🌹🌹🌹🌹
Senin nih guys, boleh lah kasih vote untuk mereka
Sambil nunggu trio Z, mampir juga yuk di karya teman aku.
Judul : Pacarku Seorang Merman Tampan
author : Syochan
Kalau mampir jangan boomlike ya, tapi di baca beneran. Karena boomlike merugikan penulis.
*Boomlike : memberi like tanpa membaca karyanya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 104 Episodes
Comments
sherly
sweet banget sih kalian buat gemesss
2023-10-25
1
Novika Riyanti
😂😂😂😅😅😅
2022-08-18
1
Novianti Ratnasari
aku terhayut
2022-08-11
1