******
Zico melajukan mobilnya dengan kencang. Tidak tahu kenapa, dia sangat merasa terganggu dengan obrolan antara Zafa dan Papi Rian. Zico menginjak rem mendadak, hampir saja dirinya menabrak pembatas jalan karena melamun. Zico memukul stirnya dengan keras kemudian ia menelungkupkan wajahnya di atas stir.
"Bagaimana jika uncle Rian serius ingin menjodohkan Zafrina dan Marvel?" gumam Zico frustasi.
Di sisi lain, Zafrina mulai tersadar seraya menyebut nama Zico berulang kali. Senyum papi Rian dan Zafa terbit. Mana kala Zafrina membuka kelopak matanya dengan perlahan.
"Sayang, akhirnya kamu sadar," Rian mendekati ranjang putrinya. Berulang kali Rian membelai rambut Zafrina.
"Zico dimana, Papi?" lirih Zafrina nyaris hampir seperti bisikan.
"Zico sedang pergi sebentar, ada hal penting yang harus ia urus." Zafrina terdiam, sesaat otaknya sedang mengisi daya. Ingatannya masih sedikit kacau. Namun sekelebat lintasan bayangan ciuman antara dirinya dan Zico kembali memenuhi otaknya.
"Apa yang sudah aku lakukan?" batin Zafrina merutuki kebodohannya.
Zafa yang duduk di sebelah Zafrina kini terus mengusap kepala sang adik. Zafa juga sudah mengirim pesan pada mama Dian, jika Zafrina baik-baik saja. Zafa terpaksa berbohong agar mamanya tidak terlalu mengkhawatirkan kondisi Zafrina.
"Aku mau pulang, Papi," ujar Zafrina.
"Besok, ya, sekarang Inna istirahat dulu di sini. Papi dan kakak kamu akan jaga kamu." Rian mengusap tangan Zafrina yang terbalut infus. Sungguh tidak ada yang lebih menyakiti hati seorang ayah kalau melihat putrinya terbaring lemah seperti itu.
Zafrina hanya bisa mengangguk lemah. Tak berapa lama dia kembali terpejam.. Zafa berpindah tempat, ia beralih duduk di sofa, ini sudah pukul 2 dini hari dan matanya sangat mengantuk. Sementara Rian masih setia duduk di tepi brankar Zafrina.
Zico tiba di klub membawa amarah yang terakumulasi. Marah karena Fred berusaha memiliki Zafrina dengan cara kotor. Marah karena dia tidak bisa jujur tentang perasaannya pada Zafrina dan yang lebih membuatnya kesal. Andai saja tidak ada kejadian ini mungkin Zafrina tidak akan pernah dijodohkan dengan Marvel.
Dominic adalah pemilik klub itu. Makanya dia bebas melakukan apapun di sana termasuk menyekap kedelapan orang yang tadi membuat keributan dengan Zico.
"Dimana mereka? apa orang suruhan uncle Rian belum sampai?"
"Belum, apa yang akan kamu lakukan?" tanya Dominic begitu melihat tatapan mata Zico yang penuh dengan kemurkaan.
"Gara-gara para bede*bah itu uncle Rian berniat mengirim Inna ke Indonesia. Bahkan uncle juga akan menjodohkan Inna dengan anak temannya. Zico sudah sangat hapal dimana Dominic biasa menyekap orang-orang yang berbuat onar di klubnya itu. Dia langsung berjalan menuju ke sana dan membuka pintunya secara kasar.
Dominic hanya bisa diam melihat kemarahan Zico. Karena pemuda itu tidak akan bisa dihentikan sebelum puas melampiaskan kemarahannya. Zico menarik Fred lalu menghajarnya berkali-kali Fred yang memang sudah babak belur hanya diam tanpa melawan.
Dominic mencekal lengan Zico saat ia melihat Fred sudah tidak sadarkan diri. "Stop it... !! Kamu bisa membunuhnya."
Zico melepaskan cengkraman tangannya pada kerah baju Fred. Pria itu seketika jatuh menimpa 2 orang temannya yang ketakutan. Beberapa orang lainnya sudah berada di pojokan ruangan karena takut melihat kemarahan Zico.
"Calm down, man." Dominic masih terus berusaha menenangkan Zico. Tiba-tiba beberapa orang suruhan Rian masuk bersama seorang bartender kepercayaan Dominic.
"Tuan muda Zico... "
"Bawa mereka! Lakukan apapun yang kalian suka. Jika perlu cincang saja tubuhnya dan berikan pada piranha peliharaan Raiden."
Orang-orang yang disekap itu hanya membulatkan matanya mendengar penuturan Zico. Tak butuh waktu lama kedelapan orang itu sudah dimasukkan dalam mobil box melalui pintu lain. Zico duduk di meja bartender sambil terus mencengkeram rambutnya.
Dominic duduk di samping Zico dan menepuk pundak Zico pelan. Dia dapat merasakan kegalauan yang dirasakan oleh Zico. Namun Dominic ingin memberi waktu pada Zico sejenak sehingga dia memilih diam dan duduk sambil menyesap wine kesukaannya. Dominic menyalakan rokok dan menghisapnya dalam lalu menghembuskan asapnya, sesekali jemarinya menggulirkan layar ponsel nya untuk mengatasi kejenuhan.
"Apa yang harus aku lakukan?" desis Zico kemudian.
"Aku akan memberimu saran, tapi aku ingin bertanya dulu. Apa kamu bersungguh-sungguh mencintainya?"
"Apa kamu pikir aku bercanda?" Zico memberikan tatapan tajam pada Dominic. Namun pemuda itu hanya tersenyum tipis melihat kemarahan Zico yang sepertinya masih belum tuntas.
"Uncle Leo dan uncle Rian itu bersahabat sejak dulu 'kan? Jika aku jadi dirimu, aku akan meminta ayahmu itu untuk melamar Zafrina."
"Tapi pernikahan bukan sesuatu yang main-main."
"Siapa bilang aku memintamu mempermainkan ikatan suci itu. Justru aku disini aku ingin kamu bisa terus bersama Zafrina."
"Tapi.... " Zico tampak berpikir. Ada keraguan di hatinya namun dia tidak tahu mengapa. Dia telah lama menyimpan rasa untuk Zafrina. Bahkan ketika dia memacari beberapa teman wanitanya, itu semata-mata hanya untuk mengalihkan perasaannya pada sahabat baiknya itu.
"Pikirkan baik-baik atau kamu akan kehilangan dia." Dominic kembali menyesap winenya. Zico tampaknya sedang berpikir keras, tangannya tak henti-hentinya mengetuk² meja. Namun sejurus kemudian Zico mengusap wajahnya kasar. Jujur saat ini pernikahan tidak ada dalam rencana hidupnya. Dia dan Zafrina baru saja menyelesaikan skripsi mereka. Bukankah terlalu buru² jika dia menginginkan sebuah pernikahan. Tapi jika tidak segera bertindak maka Zafrina akan menjadi milik orang lain.
Di rumah sakit, Zafrina membuka matanya. Entah mengapa bayangan ciuman tadi bersama Zico membuatnya galau. Dia hanya pura-pura tidur agar papi dan Zafa segera terlelap. Papi Rian tidur di ranjang khusus penunggu sementara Zafa terlelap di sofa.
"Mama, aku rindu. Aku ingin pulang saja. Di sini aku tidak bahagia. Hatiku sakit sekali, mah," lirih Zafrina.
Keesokan harinya Zafrina sudah diperbolehkan pulang. Dengan kerja sama antara Zafa dan papi Rian, Zafrina akhirnya pulang dengan dijemput oleh Zico. Pemuda itu datang dengan baju yang masih sama dengan yang dia kenakan kemarin.
"Apa kamu tidak pulang semalam?"
"Aku sibuk membereskan kekacauan di klub Dominic."
"Zi, maafkan aku."
"Memangnya kamu salah apa?"
"Karena kemarin aku membentakmu, dan maaf untuk ciuman semalam." Zafrina menundukkan wajahnya, Zico menatap Zafrina dan lalu menghembuskan nafas panjangnya. Dia mendekati gadis itu lalu mengangkat dagu Zafrina.
"Tidak ada yang salah. Kamu tidak perlu merasa bersalah seperti itu. Aku tahu, kemarin itu bukan sesuatu yang kamu sengaja."
Tanpa sadar Zafrina memejamkan matanya dan menggigit bibirnya yang seksi. Dia kembali teringat percakapan antara dirinya dan juga papi Rian dan Zafa. Sepertinya memang dirinya perlu menjauhi Zico agar perasaan cinta yang tumbuh di hatinya tak semakin besar.
"Ayo kita pulang." Zico mengacak rambut Zafrina untuk mengurangi debaran di hatinya melihat pose Zafrina yang terlampau seksi. Zico menuntun Zafrina meskipun sebenarnya gadis itu enggan. Tapi seperti biasa, Zafrina sulit menolak dia hanya diam mengikuti kemana pun langkah Zico membawanya.
🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
guys cerita ini ga akan terlalu panjang seperti pendahulunya. Ikuti terus kisah mereka. Jangan lupa like komen dan Vote kalian. Mau kasih mawar, kasih kopi juga boleh.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 104 Episodes
Comments
sherly
emang ribet sih kalo dr awalnya sahabatan... pdhl sama2 Suka tp sulit banget buat bilang " aku suka kamu" hahahha so iya banget deh gue
2023-10-25
1
Nur Lizza
benar yg di ktakn domic zi suruh papimu mrlamar ina
2022-07-29
1
Yuni MamaRizky
yg pnting menarik thorrr
2022-05-24
1