*******
Zico Pov
Melihatnya terlelap dengan damai seperti ini membuatku kembali berpikir, akankah aku bisa kehilangan dia? membayangkannya saja aku tidak akan sanggup. Dia bagaikan udara yang selalu aku perlukan untuk terus bernafas dan bertahan hidup.
Perlahan ku angkat tubuhnya yang langsing namun tampak berisi di beberapa bagian yang menonjol. Entah mengapa setiap bersama dirinya otak ini perlu di bersihkan dari pikiran kotor. Dia bahkan tidak sadar sama sekali jika aku memindahkannya ke atas ranjangku.
Jujur saja, hanya dia satu-satunya perempuan yang sering berbaring di atas ranjangku. Karena aku tidak pernah membawa deretan para mantanku ke rumah.
"Eugh... " Sejenak aku berhenti bergerak, bahkan aku menahan nafas saat Zafrina melenguh karena mungkin merasakan pergerakanku dan membuat tidurnya terganggu. Tapi untunglah dia tetap terlelap.
Aku mencoba menarik kepalanya agar memakai lenganku untuk alas kepalanya. Tapi dia justru mengikis jarak dan memeluk tubuhku. Tanpa sadar, karena sentuhan Zafrina pangkal paha ku seperti ada aliran listrik yang membangkitkan tiangku hingga tegak menjulang. Namun sebisa mungkin aku meredamnya.
Tidak akan ku biarkan aktifitas tiang listrik ku mengganggu kenyamanan gadisku. Aku pun perlahan mulai merasa kantuk dan akhirnya tertidur. Kami tidur dalam keadaan saling berpelukan, dan aku saat ini bertelanjang dada. Tiada hal yang lebih membuatku bahagia saat ini kecuali keberadaannya.
"Zico... apa yang kamu lakukan?" Seketika mata ini terbuka lebar begitu mendengar suara papa. Dan hal yang lebih mengejutkan lagi adalah keberadaan uncle Rian.
Aku bergerak sedikit kesamping untuk memberi ruang pada gadisku. Dia masih tampak kebingungan. Tapi sepertinya dia malu menatapku.
"Kenapa aku bisa pindah di tempat tidur ini?" itu yang pertama kali terdengar dari bibirnya yang merah itu. Lucu sih, tidak ada sedikitpun keterkejutan dari wajahnya, justru wajah polosnya yang kebingungan.
Memang sejak awal kami berteman dia sering sekali berada di kamarku ini hanya untuk sekedar menggangguku atau rebahan hingga akhirnya ketiduran.
Melihat tatapan papa dan uncle Rian, pasti sebentar lagi aku dan gadisku akan di sidang oleh mereka. Benar saja dugaanku, tak perlu waktu lama papa sudah kembali bicara.
"Zico kenakan bajumu lalu datang ke ruang kerja papa dan ajak Zafrina juga."
Zafrina tampaknya sedikit takut mendengar suara papa yang terdengar sangat tegas. "Apa papi dan uncle marah?"
Mendengar pertanyaan lugu keluar dari bibirnya membuatku ingin tertawa. Jujur saja aku tidak merasa terintimidasi dengan tatapan tajam mereka. Tapi aku justru siap menghadapi keduanya setelah berpikir semalaman. Tapi pertanyaan Zafrina benar-benar membuatku semakin menginginkannya.
"Suatu saat kamu akan tahu bagaimana rasanya melihat putrimu kedapatan tidur bersama seorang pria." Hanya itu yang bisa aku katakan padanya, namun dia malah mendelik kesal dan memukul lenganku.
"Jangan bicara sembarangan, aku tidak akan biarkan itu terjadi."
"Ya seperti itulah perasaan papimu sekarang. Dia pasti sangat kesal padaku karena aku tidur denganmu."
"Tapi kita tidak melakukan apapun, Zi."
"Jangan khawatir, semuanya akan baik-baik saja, Inna." Aku segera beranjak mengambil kaos dan lalu mengajaknya keluar. Sejak tadi tanpa sadar dia terus menggenggam tanganku. Dan itu benar-benar membuat hatiku merasa nyaman.
Saat kami masuk ke ruang kerja papa, tatapan keduanya masih sama, namun aku sudah bertekad apapun yang akan terjadi aku akan menjadikan Inna milikku seutuhnya.
"Duduk...!! Apa yang kalian lakukan tadi?" suara papa menggelegar, aku melirik Inna sesaat. Dia tampak pucat, entah karena suara papa atau karena memang kondisinya masih belum sepenuhnya membaik.
Drama apa lagi yang akan papa buat kali ini? Dia tampaknya marah, tapi tidak yang benar-benar marah. Karena setiap papa marah sungguhan dia pasti akan mengeluarkan pistolnya dan mengarahkannya ke kepalaku seperti yang sudah-sudah.
Aku pun memilih menjawab pertanyaan papa dengan santai. "Papa lihat sendiri kan, kami hanya tidur," jawabku.
"Ini tidak bisa dibiarkan, kalian harus menikah."
Seketika netra ini melirik Zafrina yang sejak tadi hanya diam menunduk wajahnya terlihat sangat syok.
"Papi... "
"Benar kata uncle Leo, sayang. Kamu harus menikah dengan Zico."
"Tapi kenapa, papi?" wajah Zafrina tampak sangat tidak terima. Apa itu artinya dia tidak ada rasa sama sekali terhadapku?
"Sayang, mengertilah posisi papi sekarang ini. Jika kejadian ini sampai diketahui papa dan mamamu bisa saja mereka mencabut ijin papi untuk merawat dan bertemu kamu." Ayah dan anak itu tampak bersitegang. Zafrina beberapa kali memijat pelipisnya.
"Papi, Inna bersumpah kalau Inna dan Zi tidak melakukan apapun."
"Mau bagaimana pun kalian tetap harus menikah." Kali ini aku setuju dengan uncle Rian.
"Aku akan menikahimu, Inna," batinku.
"Inna akan bicara pada papa Gerry mengenai ini, tapi jangan salahkan Inna kalau papi sampai kehilangan hak bertemu denganku."
Kenapa responnya seperti itu? apa dia benar-benar tidak menyukaiku? kenapa rasanya sakit sekali. Apakah seperti ini rasanya di tolak?
"Apakah aku terlalu tidak pantas untuk kamu pertimbangkan?" Aku mencengkeram tangan Zafrina saat dia berjalan melewatiku, ingin rasanya ku tarik tubuhnya dan membenamkan gadis ini ke dalam dekapan ku.
"Kamu pikirkan saja dulu matang-matang. Jangan gegabah mengambil keputusan, Zi. Ini bukan perkara layak atau tidak. Ini menyangkut masa depan kita berdua dan sebuah ikatan suci. Aku hanya ingin menikah dan punya pasangan sekali dalam seumur hidup."
Apa yang harus aku pikirkan. Sejak dulu memang hanya kamu yang aku inginkan, Inna. Tidak tahukah kamu? Rasanya aku ingin meneriakkan semua isi hatiku. Jawabannya terlalu ambigu. Apakah dia memiliki perasaan yang sama denganku atau tidak. Saat dia benar-benar melangkah keluar, entah kenapa aku semakin takut kehilangannya. Dengan gusar aku menyusulnya.
Tidak ada hal lain yang ku inginkan selain dia, ya, hanya Inna yang aku inginkan tidak ada yang lainnya. Ku tarik bahunya tak butuh berpikir ku cium bibirnya yang begitu menggoda itu. Aku bisa merasakan tubuhnya menegang, namun tak lama kemudian dia membalas ciumanku dengan lembut.
Ini hal yang paling membahagiakan untukku. Namun saat ciuman itu terurai uncle Rian langsung menarik Zafrina dan mencercaku dengan berbagai pertanyaan. Dengan keyakinan yang pasti aku pun menjawab.
"Aku akan menikahi Inna, ada tidaknya masalah hari ini, aku memang berniat untuk melamarnya. Karena aku tidak bisa jauh darinya."
Ku rasa itu jawaban yang cukup relevan. Melihat Zafrina menunduk malu, aku semakin tahu jika dia sebenarnya memiliki perasaan yang sama dengan ku. setelah mereka pergi, papa menepuk pundakku dan tersenyum.
"Selamat kamu melewati ujian pertama. Ujian kedua dan ketiga mungkin akan lebih sulit dari ini."
Mendengar ucapan papa membuatku tersenyum kaku. Ya tentu saja akan semakin sulit apalagi menghadapi papa Gerry. Bisa kubayangkan kesulitan yang nantinya akan aku hadapi.
🌹🌹🌹🌹🌹🌹
Hai semua, jangan lupa kasih rate untuk karya ini yang masih belum tahu caranya itu yang author lingkari
Beri rate ⭐⭐⭐⭐⭐ dan komentar terbaik kalian.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 104 Episodes
Comments
Lusia Wulandari
begitu seharusnya laki laki.... punya pendirian....semoga tidak berpaling hati.... Zico pertahankan cintamu pada Inna....bikin readers termehek-mehek dgn cerita cintamu....
2022-08-25
2
Nur Lizza
semangat ziko
2022-07-29
1
Dwi setya Iriana
harus berani zico menghadap zafa dan papa gery.
2022-04-28
2