*******
Zafrina dan Zico berada di ruang makan. Mereka sedang makan siang yang tertunda. Zafrina sempat merasa canggung tapi mengingat pesan mama dan maminya membuat gadis itu dengan sendirinya bergerak menyiapkan makanan untuk Zico.
"Inna, biarkan para pelayan yang melayani Zico," kata papa Leo.
"Zico suamiku, pah, tidak ada yang lebih berhak melayaninya selain aku," Jawab Zafrina. Bahkan gadis itu mengangkat tangannya saat seorang pelayan yang terbilang masih muda ingin menuang air minum untuk pria itu.
"Tapi Zico sudah biasa dilayani pelayan," sanggah papa Leo.
"Itu dulu, sebelum kami menikah. Setelah menikah, sudah jadi kewajiban Inna melayani suami. Begitu juga mengenai urusan perut."
"Pah, sudah lah. Kita ini mau makan, kenapa papa ribut sekali," Zico mendengus kesal pada papanya.
"Bukan begitu, Papa hanya tidak mau nanti papi dan papanya mengira kita tidak memperlakukan dirinya dengan baik," Jawab Leo. Zafrina tersenyum seraya menggeleng.
"Justru kalau Ina tidak melakukan ini, mama dan mami pasti akan memarahiku, Pah. Itu artinya mereka belum mendidikku dengan benar jika aku mengabaikan suamiku."
Zico tersenyum penuh kemenangan mendengar jawaban cerdas dari istrinya. Dia mengusap kepala Zafrina saat gadis itu menunduk menuangkan air minum untuknya.
"Terima kasih," kata Zico lembut.
Inna duduk di kursinya. Awalnya dia ingin melayani papa Zico tapi ternyata seorang pelayan sudah lebih dulu menyiapkannya. Ketiganya makan dengan tenang, hanya denting sendok yang beradu yang terdengar. Mama dan papa Zico berpisah saat Zico berusia 10 tahun. Setelah perpisahan itu mama Zico menikah lagi dengan pria berkebangsaan Inggris. Sedang papa Leo memilih hidup sendiri membesarkan Zico.
Ada alasan khusus kenapa kedua orang tua Zico berpisah. Itu karena status papa Leo yang seorang mafia. Sehingga mama Zico selalu merasa hidupnya tidak tenang. Dan puncaknya saat Zico berusia 10 tahun, kediaman mereka di serang orang, dan mama Zico terkena 2 tembakan. Karena tidak tahan lagi akhirnya mama Zico memilih berpisah dengan papanya. Zico yang saat itu sudah bisa menentukan pilihan memilih sang ayah sebagai walinya.
Acara makan sore itu pun telah selesai. Zafrina dan Zico masuk ke kamar Zico setelah sebelumnya berpamitan pada Leo yang masih menikmati kudapan sorenya.
"Zi, bisa kita bicara sebentar?" Zico duduk di samping Zafrina, tatapan matanya begitu menghanyutkan. Hingga kadang membuat Zafrina merasa tenggelam di dalamnya.
"Ada apa? kenapa kamu gelisah, hmm?"
"Zi, maaf jika keluargaku terlalu menekanmu." Zafrina menggigit bibir bawahnya, Sejak tadi dia sudah berusaha mengumpulkan keberanian untuk bernegosiasi dengan Zico.
"Apa kamu melihatku tampak terpaksa melakukannya?" tanya Zico seraya tersenyum.
"No, tapi aku merasa ini terlalu cepat dan buru². Bukankah itu tidak baik?"
Zico tahu Zafrina masih begitu terkejut dengan semua kejadian yang baru-baru ini menimpanya. Terlebih pernikahan mereka. Zico kembali menyunggingkan senyumnya, Lalu membelai pipi Zafrina yang bersemu merah.
"Jika aku berkata aku sudah jatuh cinta padamu sejak awal apa kamu akan percaya?"
"Tidak mungkin... " Zafrina menatap Zico tak percaya.
"Tapi nyatanya itulah yang aku rasa. Sejak pertemuan kedua kita, kamu bagai sumbu magnet bagiku. Sejauh mana pun diriku pergi, aku pasti akan kembali padamu."
"Jangan mengatakan omong kosong, Zi. Aku ingin kita bicara serius."
"Tatap mataku, Ina, rasakan sendiri apakah aku sedang membual atau aku berkata jujur padamu
Kamu paling tahu itu." Zafrina menatap kedua bola mata Zico. Tidak ada kebohongan di mata pria di depannya itu. Tapi mungkinkah?
"Tapi kamu... " Zafrina belum selesai melanjutkan kata-katanya, saat Zico tiba-tiba menyambar bibir Zafrina dan melu*matnya lembut.
"I love you, Inna. I love you from yesterday, right now, tomorrow and forever." Desis Zico, kening keduanya saling menyatu, dan hidung mereka pun masih saling bersentuhan.
"Tapi, kamu dan .... "
"Aku dan semua wanita-wanita itu hanya menjalin hubungan palsu. Aku hanya ingin mengetes seberapa kamu akan cemburu. Tapi bukannya kamu yang cemburu, malah kamu selalu mencari mangsa lain, dan aku tidak suka hal itu. Makanya saat kamu sering pendekatan dengan pria lain aku selalu mengatakan jika aku putus dengan pacar-pacarku."
"Kenapa kamu jahat sekali."
"Aku hanya tidak ingin mutiara berhargaku di ganggu orang. Apalagi orang-orang yang tidak berguna. Jangan berharap itu akan terjadi. Jadi jangan pernah mengatakan jika aku terpaksa melakukan semua ini. Karena jika boleh jujur ini adalah momen yang paling membahagiakan untukku meskipun pernikahan kita hanya dilakukan di rumah sakit."
Zafrina menghambur memeluk Zico. "Terima kasih," bisik Zafrina.
Zico tersenyum dan mengusap puncak kepala Zafrina. Ini adalah keputusan terbaik dalam hidupnya. Dia tidak akan menyesali menikah di usia muda. Dia berharap bisa menua bersama dengan gadis pujaan hatinya ini.
"Sekarang mandilah, dan bersihkan dirimu. Kamu perlu beristirahat setelah ini," ujar Zico, Zafrina mengangguk lalu mengurai pelukannya. Ia menatap Zico sesaat dan mengusap rahang pria itu.
"I love you too... "
Setelah mengatakan itu, Zafrina menutup wajahnya karena malu, ia lalu berlari ke kamar mandi.
Setelah Zafrina masuk dan mengunci pintunya, Zico segera merogoh ponselnya dan menghubungi anak buah Rian.
Zico : ["Bagaimana? apa papa sudah menghubungi kalian?"]
Pablo : ["Tuan meminta kita untuk melepas mereka semua. I-itu atas permintaan nona muda."]
Setelah mendapat laporan dari Pablo, Zico langsung mematikan teleponnya. Zico memejamkan matanya, tangannya terkepal erat. Satu kata yang dapat menggambarkan suasana hatinya saat ini, kesal.
Zafrina keluar dari kamar mandi dengan memakai handuk kimono, ia berjalan mendekati Zico dan memeluknya dari belakang. Aroma shampoo dan sabun langsung terhirup oleh pria itu, Zico membalikkan badannya dan mendekap Zafrina erat.
"Kenapa kamu melepas para berandalan itu?"
Zafrina mengangkat wajahnya, dia menatap kedua bola mata Zico. Senyum lembut Zafrina mengembang.
"Karena aku tidak mau memperumit masalah ini. Beberapa dari mereka anak para pejabat di kota ini. Sementara aku hanyalah seorang imigran."
"Lalu kenapa?" tanya Zico datar.
"Zi, mereka bisa saja melakukan hal yang buruk."
"Aku akan melindungimu, kamu hanya perlu mengandalkanku."
"Aku memang hanya mengandalkanmu, kak Zafa juga papi sebagai cadangannya." Zafrina mencubit hidung Zico.
"Lain kali biarkan hal-hal remeh semacam ini menjadi urusanku. Kau hanya perlu nikmati saja hidupmu dan menjalaninya dengan bahagia. Selebihnya serahkan semua padaku.
"Tapi, Zi. Mengenai itu.... " Sejenak Zafrina menunduk malu, wajahnya memerah semerah tomat.
Zico tahu apa yang Zafrina khawatirkan. Dia tersenyum dan menangkup kedua pipi Zafrina. Tatapan mata keduanya beradu, Zafrina menggigit bibir bawahnya karena cemas.
"Kita jalani saja dan ikuti alur. Aku tidak akan memaksamu untuk yang satu itu. Tapi jangan terlalu lama memikirkannya juga. Karena aku juga.... " Zico menjeda ucapannya lalu mendekatkan bibirnya di samping telinga Zafrina. "Hanyalah laki-laki normal biasa."
🌹🌹🌹🌹🌹🌹
Sory ya guys, aku kemarin libur karena ada masalah keluarga. Maaf baru bisa up.
**Sambil nunggu author up. Bolehlah mampir ke karya bestie ku yang lain ya, dijamin tidak kalas seru.
Judul karya : The Ugly Duckling
Penulis : Black Rose**
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 104 Episodes
Comments
Femmy Femmy
zafrina Agresif juga😁
2024-08-07
1
❤️⃟Wᵃf🤎⃟ꪶꫝ🍾⃝ͩDᷞᴇͧᴡᷡɪͣ𝐀⃝🥀ᴳ᯳
tega sekali kak emma emang.. zico dna zafrina emang terlalu.. memgumbar aura sweet sweet an dan mesra mesraan di depan readers tercinta ini... sungguh gk kuat aku tuhh.. 🙈🙈🙈😑😑😑😑
😝😝😝
..
2023-09-07
0
Nur Lizza
lnjut
2022-07-30
1