******
Sesampainya di rumah sakit, Zafrina dan Zico langsung ke ruangan mama Dian. Zafrina mengecup kening mamanya. Sementara Zico memilih bergabung dengan papa Gerry dan juga Zafa. Marvel tidak tampak batang hidungnya di sana. Pria itu sedang menjalankan misi dari Gerry sebelum pulang ke Indonesia.
"Kenapa kamu kembali lagi ke sini sayang."
"Lalu Inna harus kemana, Mah?"
"Maksud mama, kalian baru saja menikah. Sebaiknya kan kalian menjalin komunikasi. Kedepannya mau bagaimana."
"Ish... mama, Inna itu masih canggung."
"Kenapa sayang?"
"Ya, pokoknya gitu." Zafrina tampak malu-malu membahas hal itu di depan mama Dian.
Gerry memandang ke arah istrinya. Dia menangkap kode yang di lempar istrinya. Hanya dengan isyarat mata saja, Gerry tahu apa yang istrinya mau.
"Zico, Zafa kita bicara sambil ngopi di luar, papa bosan. Ada yang ingin papa tanyakan." Zafa dan Zico mengikuti papa Gerry keluar.
Zafrina bernafas lega saat ketiga pria itu keluar dari ruang perawatan mamanya. Dian tersenyum melihat tingkah putrinya.
"Katakan ada apa, Sayang?"
"Ehm, itu mengenai.... " Zafrina menjeda ucapannya sesaat dengan wajah yang begitu merah. Rasanya malu membicarakan hal itu dengan mamanya tapi bagaimana pun juga dia awam mengenai hal itu.
"Apa ini mengenai kewajibanmu sebagai seorang istri?" tebak Dian. Melihat putrinya diam dengan wajah memerah membuat Dian tahu arah pembicaraan mereka.
Zafrina mengangguk sambil tersenyum malu. Dia berharap ibunya bisa memberikan solusi untuk yang satu itu.
"Ketika seorang laki-laki sudah menikahimu maka kalian berdua harus sama-sama saling memenuhi hak dan kewajiban. Suami wajib mengayomi, melindungi dan menggauli istri. Dan sebagai gantinya, sebagai seorang istri memiliki kewajiban menuruti semua perintah suami termasuk harus mau digauli kapan pun suami mau. Ina boleh menolak jika memang dalam kondisi yang tidak memungkinkan. Seperti saat kamu sedang menstruasi, atau sedang sakit."
"Tapi Ina ragu, Mah."
"Cepat atau lambat kamu akan melewati semuanya, Sayang. Mau sekarang atau nanti sama saja."
"Ina takut hubungan ini tidak akan bertahan lama, Mah."
Alis Dian mengerut saat mendengar kerisauan putrinya. Apa ada yang tidak dia ketahui mengenai hubungan putrinya dan Zico.
"Kenapa kamu bilang begitu, sayang?"
"Kami masih terlalu muda, mama."
"Usia muda bukan jadi batasan untuk menikah. Zico terlihat begitu bertanggung jawab padamu. Apa lagi yang kamu ragukan, sayang? Maafkan mama, Inna. Mama yang memaksa kamu hingga terjebak dalam situasi seperti ini," kata Dian dengan mata berkaca-kaca.
Zafrina menatap ibunya penuh rasa bersalah, bukan itu maksudnya. "Mah, mama jangan sedih."
"Mama merasa bersalah padamu, sayang. Mam terlalu bersemangat. Karena menurut mama hanya Zico yang bisa menjagamu disini. Papi Rian memiliki kesibukan dan ada istri juga kedua adikmu. Sementara papa juga sama sibuknya, kakak kamu juga begitu. Mama hanya akan merasa tenang jika kamu ada yang menjaga disini. Andai dulu Inna memilih tinggal di Indonesia bersama mama dan papa mungkin sekarang mama tidak akan memaksamu menikah, Sayang. Di sana kita punya banyak saudara yang bisa kita andalkan."
"Maafkan Inna, mama. Inna janji akan mempertahankan hubungan ini, bagaimana pun caranya."
Dian memeluk putri pertamanya, senyum tipis terbit dari bibirnya, dia tahu Zafrina tidak akan mungkin mengecewakan dirinya. Dian melakukan semua ini karena dia selalu kepikiran mengenai putri pertamanya itu. Meskipun Zafrina punya kemampuan bela diri tapi tidak menutup kemungkinan suatu saat ada masanya dia memerlukan sosok yang bisa melindungi dirinya.
"Dalam memulai sebuah pernikahan, kepercayaan dan kejujuran bisa menjadi landasan agar hubungan kamu dan Zico tetap bisa kuat. Saling terbuka, jika masalah jangan hanya di pendam sendiri. Karena itu pasti akan menyisakan penyesalan. Seperti yang dulu di alami mama."
Zafrina mengangguk, dia tahu bagaimana dulu kondisi mama Dian, dari cerita neneknya, bahkan saat itu Zafrina sampai menangis saat neneknya menceritakan jika mama Dian hampir meninggal karena baby blues sindrom.
Sementara kedua wanita itu membicarakan tentang begitu banyak hak dan kewajiban sebagai suami istri. Lain halnya dengan Zafa, Zico dan Gerry. Mereka justru terlibat pembicaraan yang serius. Gerry mengatakan jika menurut instingnya suatu hari entah itu walikota sendiri atau putranya akan kembali berulah, dia meminta Zafa dan Zico untuk selalu waspada dan mengetatkan pengawasan pada Zafrina. Terlepas nanti putrinya akan suka atau tidak.
"Papa percayakan Inna pada kalian. Syukur-syukur kalau Zico dan Zafrina mau tinggal di Indonesia. Jadi papa tidak perlu terlalu khawatir pada kalian."
"Nanti akan Zico bicarakan dengan Inna, pah. Lagipula sekarang Zico memegang kuasa White Tiger, Zico tidak bisa sembarangan mengambil keputusan."
"Sebenarnya itu juga yang menjadi pertimbangan papa sebelum menikahkan kalian. Tapi mengingat Zafrina yang sepertinya tidak masalah dengan posisimu, papa yakin jika putri papa itu lebih tahu resikonya ketimbang papa."
Zico dan Zafa terdiam. Mereka mengangguk setuju membenarkan ucapan papa Gerry. Karena bagaimana pun juga Zafrina tumbuh di lingkungan papi Rian yang juga seorang ketua mafia.
"Papa, hanya berharap tidak ada lagi kabar buruk seperti kemarin. Kondisi mama mungkin sekarang sudah membaik, tapi kemarin dokter mengatakan jika mungkin saja bisa terjadi serangan jantung yang lebih parah dari kemarin."
"Papa tenang saja, jangan terlalu dipikirkan," ujar Zafa. Ketiganya lalu menyeruput kopi mereka secara bersamaan.
Ketiga pria itu kembali ke ruangannya. Mama Dian terlelap sedangkan Zafrina duduk di sofa sambil berselancar di dunia maya.
"Tapi barusan dokter visit dan memberi mama obat, jadi mama tidur."
"Tidak apa-apa, sayang, itu bagus. Mama kamu jadi bisa istirahat."
"Kata dokter tadi sebenarnya mama sudah diijinkan pulang, tapi karena tekanan darah mama masih rendah, dokter bilang akan observasi dulu sampai besok."
"Baiklah, sekarang kalian pulanglah. Biar papa yang menjaga mama kalian."
Zafa dan Zafrina mengangguk. Sementara Zico hanya ikut saja bagaimana istrinya. Setelah berpamitan pada papa Gerry dan mencium kening mama Dian. Zafa dan Zafrina pulang, Zico hanya bersalaman dengan papa Gerry.
Zafrina terus diam memikirkan semua petuah mamanya. Dia akan berusaha sebaik mungkin menjadi istri yang baik untuk Zico. Akan dia buktikan jika dia bisa menjaga rumah tangganya meskipun mereka menikah secara tiba-tiba.
"Apa yang sedang kamu pikirkan?"
Zafrina menoleh lalu tersenyum pada Zico. "Memikirkan masa depan rumah tangga kita."
Zico sejenak menoleh terkejut lalu kembali fokus ke depan, karena dia sedang menyupir. "Masa depan yang seperti apa yang kamu inginkan, Inna?"
"Itu lah yang sampai sekarang masih menjadi pertanyaan untukku. Aku hanya berharap meskipun mendadak nikah tapi pernikahan kita akan awet seperti mama dan papa, atau mami papi.
🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
Hai guys, like, komen dan giftnya jangan lupa ya.
Author juga membawa kisah dari sohib author neh. Mampir ya, sembari menunggu karya ini up. karena udah pasti slow sekali
Judul : Romansa Dokter Ganteng dan Pelayan Cafe
author : Isti Sahaburu
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 104 Episodes
Comments
Qaisaa Nazarudin
Whaatt terlalu muda??! Emang nya umur Zafrina dan Zico berapa??udah kuliah kan??wajar2 saja..Apanya yg terlalu muda,mau nunggu umur 30an baru nikah??🤦🏻♀️🤦🏻♀️
2023-01-03
2
Novianti Ratnasari
oke nanti mampir
2022-08-10
1
Nur Lizza
semoga bhgi sll
2022-07-30
0