*******
Rian menghubungi ponsel Zico. Dia tahu pasti, putra sahabatnya itu pasti saat ini bersama Zafrina. Meskipun jam hampir menunjukkan pukul 12 dini hari. Zico merasakan getar di saku celananya. Tapi dia tidak bisa mengambil ponselnya karena saat ini sedang fokus menyetir. Tak berapa lama mobil yang di bawa Zico tiba di rumah sakit. Dia langsung keluar dan mengangkat tubuh Zafrina lagi.
Zico meletakkan Zafrina di atas pembaringan dan seorang dokter paruh baya menyambutnya. Zico menerangkan sedikit apa yang terjadi pada Zafrina sebelumnya. Dokter senior itu pun mengangguk.
"Biar saya periksa dulu. Ada kemungkinan alkohol yang dia minum bercampur dengan obat perang*sang dan nona ini alergi dengan salah satu komposisi obat."
Dokter mengambil sampel darah Zafrina dan meminta seorang perawat untuk mengantarkannya ke lab. Ponsel Zico kembali bergetar. Dia lekas keluar untuk melihat siapa yang menghubunginya.
"Uncle Rian..." Zico segera mengangkat panggilan dari papi Zafrina itu.
"Halo, uncle."
"Apa Zafrina bersamamu? apa dia baik-baik saja?" Zico terdiam mendengar pertanyaan dari papi Rian. Dia tidak menyangka sepertinya papi Zafrina itu memiliki ikatan batin yang kuat pada putrinya.
"Zico, apa kamu masih di sana?"
"Uncle, saat ini aku dan Inna sedang ada di rumah sakit. Tadi dia pergi dengan temannya. Sepertinya mereka mencampur sesuatu pada minuman Inna, saat ini dia tidak sadarkan diri. Dokter baru memeriksanya."
"Apaaa...?" Zico menjauhkan ponselnya saat mendengar suara teriakan kemarahan Rian. Dia yakin setelah ini Fred dan teman-temannya akan merasakan pembalasan dari papi Rian.
"Rumah sakit mana? aku akan segera ke sana. Kamu harus memberitahu uncle semuanya. Uncle akan hancurkan siapa pun yang berani berniat buruk pada putriku."
Setelah menjawab semua pertanyaan Rian, Zico mematikan sambungannya karena dokter telah keluar dari ruangan pemeriksaan. Dia pun segera mendekati dokter itu.
"Bagaimana, Dokter?"
"Seperti yang saya kira, dia alergi pada kandungan obat perang*sang yang tertelan bersamaan dengan alkohol. Beruntung anda secepatnya membawanya kesini. Jika tidak bisa saja dia mengalami kematian karena gagal jantung. Saya sudah memberinya obat. Berharap saja nanti dia segera sadar." Dokter itu menepuk bahu Zico, setelah itu dia berlalu. Zafrina pun kini sudah di pindahkan di ruang perawatan.
Zico menghubungi Dominic dan meminta pria itu untuk mengurus kedelapan orang pembuat onar itu termasuk Fred.
Rian tiba di sana bersamaan dengan Zafa. Ternyata kedua pengawal Zafrina sudah melaporkan kejadiannya pada pemuda tersebut. Dari raut wajah Zafa dan papi Rian. Tampak jelas gurat kekhawatiran tergambar di wajah kedua pria itu. Zico yang sedang duduk di samping ranjang Zafrina seketika menoleh saat melihat pintu terbuka.
"Siapa pelakunya?"
"Tenanglah, uncle. Temanku sedang mengurusnya."
"Bagaimana bisa ini terjadi?" entah papi Zafrina itu bertanya pada siapa namun ucapan Rian selanjutnya membuat Zico dan Zafa tahu siapa yang ditanya. "Orang-orangmu kurang cekatan."
Zafa menunduk, jujur saja dia pun mengkhawatirkan adiknya itu. Dia merasa sangat bersalah karena telah kecolongan. Rian menatap Zafa lalu menghembuskan nafasnya kasar.
"Aku tidak sedang menyalahkanmu Zafa, andai saja papamu tidak menghubungiku karena seharian mamamu terus mengkhawatirkan Zafrina. Aku tidak akan pernah tahu. Mungkin saran papamu dulu ada benarnya. Aku akan mengirim adikmu pulang ke Indonesia."
DEG!!
Jantung Zico seketika berdebar gaduh. Dia menoleh menatap Zafrina yang masih terpejam. Tiba-tiba dia merasa seperti ada yang menghujam hatinya. Zico mengakui jika dia telah lama menyimpan rasa pada Zafrina. Tapi dia takut jika suatu saat hubungan baik mereka retak karena rasa cintanya. Tapi kini hubungan persahabatan mereka pun terancam jika sampai Zafrina benar-benar dibawa ke Indonesia.
"Kita tanyakan itu pada Inna nanti, Uncle. Karena bagaimanapun usianya sudah cukup matang untuk mengambil keputusan sendiri. Sekarang yang terpenting Inna sadar dulu." Zafa duduk di tepi brankar Zafrina. Dengan lembut dia mengusap rambut Zafrina.
"Maafkan aku, Uncle. Aku tidak menjaga Inna dengan baik." Wajah Zico tampak sangat menyesal. Meskipun awalnya dia sempat kesal pada Zafrina.
"Ini bukan salahmu. Mungkin memang ini sudah menjadi takdir putriku. Bilang pada temanmu, sebentar lagi akan ada orang-orangku yang akan menjemput para pembuat onar itu."
"Baiklah, Uncle." Zico akhirnya keluar dari ruang perawatan Zafrina untuk menghubungi Dominic.
"Dom, uncle Rian mengirim orang-orangnya untuk membawa kedelapan orang itu."
"Tapi, Fred adalah anak seorang petinggi."
"Aku tidak peduli itu, Dom. Meskipun uncle atau Zafa tidak bertindak maka aku yang akan bertindak. Beraninya dia melakukan semua itu pada gadisku."
"Jadi, Zafrina sekarang adalah gadismu?" suara Dominic terdengar seperti sebuah sindiran bagi Zico. Pemuda itu mendengus kesal.
"Tutup mulutmu! Lakukan saja apa yang aku minta. Nanti aku akan memberimu imbalan yang pantas." Zico tersenyum miring. Dia akan membalas cibiran Dominic dengan cara halus.
Zico menutup sambungannya. Dia berjalan ke kamar Zafrina, tapi saat dirinya akan membuka pintu, Zico mendengar pembicaraan papi Rian dan Zafa. Dia memutuskan bersandar di tembok dan menguping pembicaraan mereka.
"Bagaimana menurutmu? Sepertinya aku akan berunding dengan papa dan mamamu mengenai ini. Setidaknya saat di Indonesia Zafrina ada yang menjaganya. Jika mereka bertunangan dulu uncle rasa Zafrina tidak akan menolak."
"Tapi, uncle... aku tidak yakin kalau putra paman Diego akan setuju."
"Marvel pasti setuju. Kamu pernah melihatnya dulu saat Zafrina SMP saat dia diserempet orang. Marvel tampak sangat cemas pada Zafrina."
"Tapi itu dulu, Uncle."
"Uncle tidak akan tenang jika hanya memakai bodyguard biasa. Kita tidak akan tahu bagaimana nanti di sana?"
"Kita pikirkan nanti saja, Uncle. Belum tentu Inna juga mau."
Zico hanya dapat memejamkan matanya mendengar bahwa Zafrina akan dijodohkan dengan orang lain. Tangan Zico terkepal dan jujur saja hatinya sangat sakit mendengar itu.
Zico menarik nafas sebentar lalu menghembuskan nafasnya pelan. Berulang kali dia melakukan itu untuk meredam emosinya, setelah itu Zico membuka pintu ruangan Zafrina.
"Uncle, Zafa, aku harus kembali ke klub," ujar Zico. Rian mengangguk dan sejenak memindai wajah Zico. Namun pemuda itu memilih membuang pandangan ke arah lain.
"Zi... " desis Zafrina. Netra Zico sesaat menatap Zafrina yang sepertinya hanya mengigau saja. Dia menundukkan kepalanya sebentar lalu pergi.
Zafa dan papi Rian saling tatap lalu tersenyum. Sebenarnya percakapan yang baru saja terlontar dari keduanya hanya sebuah pancingan untuk membuat Zico berani mengambil keputusan. Karena baik Zafa maupun papi Rian tahu jika sebenarnya keduanya saling ada ketertarikan namun Zico berusaha menyembunyikan perasaannya begitu juga Zafrina.
"Besok aku akan minta Diego untuk menyuruh Marvel kemari. Dia pasti setuju untuk membantu uncle."
"Baiklah, silahkan uncle atur saja."
🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
Kasian ya Zico cuma kena prank.
Jangan lupa like komen dan gift kalian y. Sisihkan vote tiap senin juga untuk Zafrina dan Zico.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 104 Episodes
Comments
annis
nama depan nya Z semua.. kdang bikin bingug..
2024-05-21
1
Oi Min
pancen jluk di thuthuk disik kok Zico
2023-09-12
0
StAr 1086
ternyata prank buat zico....
2023-08-24
0