******
Zafrina masih terisak di pelukan Dian hingga membuat alis Gerry terangkat tinggi. Kini kedua keluarga sudah berkumpul di ruang keluarga milik mansion Rian.
"Sebenarnya ada apa ini? apa yang terjadi?" tanya Gerry datar. Rian sudah ketar-ketir. Bukannya takut yang bagaimana tapi takut jika Gerry akan mencabut ijin bertemu putrinya.
Dian menatap Gerry tajam lalu menggelengkan kepalanya. Velia dan Rian duduk berhadapan dengan Dian sementara Gerry dan Zafa ada di samping Dian namun berada di sofa yang lain.
"Inna, Sayang, apa yang terjadi padamu?"
"Papi, jahat sama aku, Mah." Rian terbelalak kaget begitu juga dengan yang lainnya. Kini semua mata mengarah pada Rian. Tatapan tajam Gerry membuat ayah tiga anak itu susah menelan salivanya.
"Begini.... "
"Papi menyuruhku dan Zi menikah, Papa." Zafrina langsung memotong ucapan Rian, Gerry semakin tajam mengunci Rian. Sontak wajah Rian semakin pucat pasi.
"A-apa...? tapi kenapa sayang?" Dian melirik Rian, sorot matanya menandakan ketidaksukaan pada suami pertamanya itu.
"Sayang, biar papi menjelaskan dulu pada papa dan mamamu."
Marvel sejak tadi menatap Zafrina dengan tatapan yang sulit diartikan. Apalagi mendengar saat Zafrina berkata menikah. Rasanya seperti ada bunyi sesuatu yang patah dari dalam dadanya.
"Penjelasan apa? apa ada yang tidak kami ketahui selama ini?" tanya Gerry gusar.
"Pah, papa dengarkan dulu, biar uncle cerita dulu."
Gerry lalu menatap Zafa, pemuda itu memilih membuang wajahnya karena tidak berani membalas tatapan mata papanya.
"Apa kamu juga mengetahui sesuatu yang tidak kami ketahui, Zafa?"
"Ehem.. biarkan aku bicara dulu. Kalian diamlah!" ujar Rian kesal. Gerry dan Zafa seketika terdiam. Dian hanya geleng kepala melihat tingkah suaminya. Zafrina menggigit bibir bawahnya tanpa berani melirik papinya.
"Jadi begini, dua hari yang lalu, putri kita ini pergi ke klub seperti biasa yang kita ketahui, klub selalu identik dengan alkohol."
"Langsung saja ke intinya, kamu terlalu bertele-tele," ujar Gerry.
"Putri kita hampir jadi korban kejahilan temannya, beruntunnya Zico bisa dengan cepat menyelamatkannya. Dan lagi kemarin dia sempat masuk rumah sakit karena ternyata dia alergi dengan komposisi obat perang*sang yang tercampur alkohol.
Dian seketika mengurai pelukannya dan menatap sendu putrinya. Namun tak berselang lama dia kembali memeluk Zafrina. Rasanya dia benar-benar tidak akan sanggup jika sampai sesuatu yang buruk menimpa salah satu anaknya.
"Kita pulang saja ke Indonesia, Sayang. Jangan di sini. Mama tidak akan sanggup jika terjadi sesuatu yang buruk sama kamu," ujar Dian terisak.
"Tidak bisa, dia tidak akan pulang sebelum menyelesaikan masalah yang lainnya." Rian tiba-tiba menyahut disaat momen penuh keharuan itu.
"Kenapa tidak bisa? kamu tidak becus menjaga putriku. Aku akan membawanya pulang," sahut Gerry.
"Dia tidak bisa pulang, sebelum menikah dengan Zico." Velia sejak tadi hanya diam tidak berani bersuara. Dia hanya menjadi penonton saja.
"Pernikahan bukan sesuatu yang bisa dipaksakan." Suara Gerry kembali meninggi.
"Papi, Inna mohon." Zafrina menggelengkan kepalanya. Dia takut kondisi mamanya akan drop.
"Uncle.... " Zafa menggelengkan kepalanya.
"Apa ada hal lain lagi yang tidak kami ketahui?" tanya Gerry. Suaranya melemah saat melihat wajah pucat istrinya.
"Zafrina kemarin.... "
"Papi, cukup!! kalau papi masih terus berbicara. Ina sendiri yang akan pastikan kalau seterusnya Inna akan pergi dan tidak akan mau kenal dengan papi." Zafrina tidak tahu lagi apa yang harus dia perbuat untuk menghentikan pembicaraan ini selain mengancam papinya.
Namun tanpa di duga oleh gadis itu Zico dan papanya datang ke sana. Keduanya langsung bergabung dan ikut dalam pembicaraan serius itu.
"Maaf uncle, maaf aunty. Awalnya aku ke sini ingin bicara pada uncle Rian. Tapi berhubung kalian di sini, Zico sekalian meminta restu kalian dengan sangat, aku menginginkan Zafrina untuk menjadi istriku."
"Zi... " Zafrina mendelik kesal.
"Kenapa? apa kamu tidak mau menikah denganku?"
"Tunggu dulu, aku sebenarnya masih tidak mengerti kenapa ini seperti terlalu dipaksakan. Apa ada yang terlewatkan?" Gerry mengernyit bingung.
"Tidak ada, Pah." Zafrina menyahut.
"Zafa... apa kamu tahu sesuatu yang tidak kami ketahui?"
Zafa kembali melirik ke arah Rian. Dia tidak menyangka suasananya akan semakin kacau. Jika tahu akan seperti ini akhirnya dia akan memilih untuk tidak ikut campur masalah percintaan adiknya.
"Karena Inna dan Zico kedapatan tidur bersama kemarin," jawab Rian cepat. Namun jawaban itu justru membuat suasana semakin kacau. Dian terengah-engah menyentuh dada kirinya. Apa yang dia pikirkan terlalu jauh pikiran buruknya membuat kondisinya langsung drop. Dian pun akhirnya jatuh pingsan.
"Mama.... " Pekik Zafrina. Semua menoleh ke arah Zafrina dan Dian. Gerry langsung berdiri dan mengangkat tubuh istrinya.
"Marvel, kita ke rumah sakit sekarang," teriak Gerry seraya mengangkat tubuh Dian. Gerry tidak bisa memikirkan apapun, saat ini yang ada di pikirannya hanya kondisi Dian. Zafa mengikuti papanya. Dia pun juga mengkhawatirkan kondisi mamanya saat ini.
"Papa, mama.... " Zafrina menangis menutup kedua wajahnya. Zico langsung memeluk Zafrina.
"Ayo, kita harus mengikuti papa kamu." Zafrina membuka tangannya dan mengangguk. Keduanya berjalan bergandengan meninggalkan papi Rian, mami Velia dan Leo.
"Honey, kamu sepertinya sudah keterlaluan. Ibu mana yang bisa terima mendengar putrinya tidur dengan seorang laki-laki. Meskipun sebenarnya mereka tidak melakukan apa-apa, tapi kata tidur bersama itu sudah mengarah ke perbuatan yang tidak baik," tutur Velia. Rian hanya menunduk saja. Tidak terbesit sedikit pun pikiran ke arah sana.
"Ayo kita susul mereka. Tanyakan pada Zafa mereka di rumah sakit mana," sambung Velia. Wanita cantik itu meninggalkan suaminya yang termenung. Leo hanya diam, dia sendiri pun tidak tahu harus berbuat apa dan tidak memiliki solusi atas kejadian yang terjadi barusan.
Gerry tiba di rumah sakit terdekat. Seorang perawat laki-laki membantu mendorong brankar, dengan cekatan, pemuda itu membantu Gerry membetulkan posisi Dian. Sembari berjalan mengikuti brankar Dian, Gerry menceritakan kondisi Dian.
"Kami akan menanganinya, semoga nyonya baik-baik saja." Gerry terduduk di kursi dengan wajah lesu. Zafa duduk di samping papanya dengan raut wajah menyesal.
"Papa... " Zafa memberanikan diri berbicara pada Gerry.
"Ada apa?" meskipun sedikit kecewa tapi dia tidak bisa mengabaikan putranya begitu saja.
"Maafkan Zafa, Pah. Zafa bukan menutup-nutupi masalah ini Tapi ini yang Zafa takutkan. Mama akan drop mendengar apa yang terjadi pada Zafrina di sini.".
"Setidaknya beritahu papa, papa pasti akan berusaha membantu kamu dan uncle Rian untuk menyampaikannya pada mama kalian."
Zafa seketika langsung menunduk semakin menyadari kesalahannya. Gerry tersenyum tipis dia benar-benar tidak bisa memarahi putranya. Pada akhirnya Gerry hanya menepuk bahu Zafa.
"Do'akan yang terbaik untuk mama kamu."
🌹🌹🌹🌹🌹🌹
Hai guys author mau promosikan karya dari teman author neh. Di jamin kalian dibikin ikut dag dig dug bacanya.
**Judul : Dendam
Karya : nazwa talita
Setelah disiksa, dikhianati, dan dibuang di suatu tempat dalam keadaan tak bernyawa, Gendis bertekad mengubah takdir demi membalas dendam pada Arga Demian, pria tampan berhati iblis yang pernah menjadi kekasih rahasianya.
Akankah Gendis berhasil membalaskan dendam dan sakit hati pada pria yang selama ini terus bersemayam di hatinya? Ataukah dia justru kembali terjebak dan terjerat pada pesona Arga Demian dan kembali menjatuhkan hatinya pada pria itu**?
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 104 Episodes
Comments
Femmy Femmy
keadaan genting😁
2024-08-07
1
Femmy Femmy
Rian g bisa.berkutik🤣
2024-08-07
0
Femmy Femmy
wahh Rian terima saja hukuman mu🤣
2024-08-07
0