******
"Ini tidak boleh terjadi. Kalian sudah melanggar kode etik persahabatan. Kalian harus segera dinikahkan," ujar papa Leo lagi.
JEDER!!
Bak tersambar petir, Zafrina seketika mengangkat wajahnya. Matanya seketika berembun. Ia merasa tak melakukan apapun yang menyimpang. Zafrina melempar tatapan matanya pada papi-nya, namun seolah mengikuti permainan Leo, Rian justru membuang wajah. Dia tidak tega melihat putri nya yang merasa tertekan. Tapi dia tahu perasaan Zafrina pada Zico seperti apa."
"Papi... "
"Benar kata uncle Leo, Sayang. Kamu harus menikah dengan Zico."
"Tapi kenapa, Papi?"
"Sayang, mengertilah posisi papi sekarang ini. Jika kejadian ini sampai diketahui papa dan mamamu bisa saja mereka mencabut ijin papi untuk merawat dan bertemu kamu." Zafrina terdiam sesaat. Wajahnya bahkan tak berani menoleh kearah Zico, yang bersandar pasrah tanpa ada niatan untuk menyangkal permintaan konyol kedua pria paruh baya di hadapannya itu.
"Papi, Inna bersumpah kalau Inna dan Zi tidak melakukan apapun." Zafrina memijit pelipisnya yang terasa berdenyut.
"Mau bagaimana pun, kalian tetap harus menikah," pungkas Rian final tak ingin dibantah. Kejadian ini seperti sebuah jalan agar Zico dan putrinya bisa bersatu.
Zafrina memejamkan matanya perlahan. Sungguh lelah dengan drama baru yang dibuat oleh papinya dan uncle Leo. Kepalanya semakin terasa berdenyut sakit. Dia bangkit berdiri dan lalu menoleh ke arah dua pria paruh baya itu.
"Inna akan bicara pada papa Gerry mengenai ini, tapi jangan salahkan Inna kalau papi sampai kehilangan hak bertemu denganku." Rian membulatkan mata tak percaya, gadis kecilnya berani mengancamnya. Namun belum sempat membalas ucapan putrinya, Zafrina berdiri.
Gadis itu berjalan gontai melewati Zico yang masih diam tanpa kata. Namun saat kakinya melangkah di sisi sofa tangan Zico menahan Zafrina.
"Apakah aku terlalu tidak pantas untuk kamu pertimbangkan?" Zafrina menatap pergelangan tangannya yang dicekal oleh Zico. Wajahnya terangkat menatap lekat mata Zico.
Zafrina tersenyum lemah. Jujur saja, dia akan sangat senang jika menikah dengan Zico. Tapi tidak dengan jalur pemaksaan seperti ini. Ini lebih kepada dirinya dituduh berbuat sesuatu yang tidak dia lakukan tapi harus mengakui jika dirinya bersalah.
"Kamu pikirkan saja dulu matang-matang. Jangan gegabah mengambil keputusan, Zi. Ini bukan perkara layak atau tidak. Ini menyangkut masa depan kita berdua dan sebuah ikatan suci. Aku hanya ingin menikah dan punya pasangan sekali dalam seumur hidup."
Zafrina menepis cengkeraman Zico dengan tangan kirinya lembut. lalu ia melenggang pergi dari ruang kerja Leo. Rian dan Leo hanya saling pandang. Jujur Rian sendiri sekarang jadi bimbang dengan rencananya saat melihat wajah putus asa putri kesayangannya.
Zico terdiam sambil mengusap wajahnya kasar. Dia lalu melirik papi Rian dan juga papanya. Seketika Zico memantapkan langkahnya untuk mengejar Zafrina. Ia tidak akan diam lagi. Akan dia buat Zafrina mau menerima pernikahan ini.
Zafrina sudah berada di ambang pintu, saat Zico menarik bahu Zafrina hingga tubuh gadis itu berputar dan membentur dadanya. Gadis itu terkejut dengan perlakuan Zico. Tak sampai di sana saja Zico tiba-tiba mengangkat dagu Zafrina dan mencium bibir gadis itu. Ciuman Zico terasa begitu lembut di bibir Zafrina. Tanpa sadar Zafrina memejamkan matanya dan mengalungkan tangannya di leher Zico.
Keduanya seakan lupa daratan saling memagut tanpa mempedulikan dua pria paruh baya yang mematung di depan pintu ruang kerja papa Zico.
Rian mengepalkan tangannya, ia hendak mendekati Zico. Menurutnya Zico sudah kurang ajar berani mencium putri kesayangannya. Tapi Leo buru-buru menahan tangan Rian.
"Kau seperti tumbuh di hutan saja. Ini negara barat, hal itu lumrah. Bahkan tingkahmu dulu lebih parah dari putraku 'kan?" tegur Leo saat Rian sudah hampir melangkah mendekati Zico dan Zafrina.
Zico menarik wajahnya, sesaat semburat merah menghiasi wajah Zafrina, gadis itu menunduk malu tapi jelas-jelas tidak ada penolakan darinya.
"Kenapa wajahmu kamu sembunyikan?" Zico berusaha mengangkat dagu Zafrina tapi kemesraan itu harus terhenti karena jiwa posesif Rian meronta-ronta. Rian menarik putrinya dan menyembunyikan Zafrina dibelakang tubuhnya.
"Beritahu dulu keputusanmu. Jangan asal mencium putriku."
"Papi.... "
"Diam, Inna. Ini urusan antar lelaki." Zafrina menatap Zico, pria itu masih bersikap tenang tanpa merasa terimidasi.
"Aku yakin Uncle pasti tahu jawabannya."
"Aku butuh kepastian bukannya tebak-tebakan denganmu," sarkas Rian.
"Aku akan menikahi Inna, ada tidaknya masalah hari ini, aku memang berniat untuk melamarnya. Karena aku tidak bisa jauh darinya."
Zafrina yang mendengar setiap kata yang keluar dari bibir Zico menutup mulutnya. Rasa haru tiba-tiba menyeruak memenuhi rongga hatinya, Zafrina seketika melupakan drama yang baru saja terjadi di ruang kerja papa Zico. Ia kini sudah berlinang air mata. Karena Papi Zafrina diam dan tidak memberi respon ucapannya, Zico kini dengan berani menarik tangan Zafrina hingga Zafrina bergeser ke depan.
"Aku tidak tahu apa keputusan yang aku ambil ini benar atau salah, yang aku tahu, aku tidak ingin kehilanganmu, Inna. Jangan pernah pergi dariku," tutur Zico lembut sambil menggenggam jemari Zafrina.
"Pikirkan saja dulu, Jangan terburu-buru, Zi. Aku bisa mengatakan pada mama dan papa. Kita tidak akan dipaksa menikah.
"Aku akan lebih kecewa lagi jika kamu sampai dimiliki oleh orang lain seperti kata papi-mu.
Air mata Zafrina semakin deras mengalir, Zico mengusapnya lembut dan perlahan. Senyum tipis tergambar di bibir Zico. Tapi lagi-lagi Rian menghancurkan momen indah itu. Dia menarik Zafrina lagi.
"Masih ada satu hal lagi yang harus kamu lakukan."
"Apa lagi, Uncle?"
"Kamu belum meminta restu kakak Zafrina dan papanya. Jika kamu memang benar-benar serius temui mereka."
"Baiklah, Uncle, aku akan menemui mereka nanti."
Leo geleng kepala. Dia tak menyangka dengan cepat putranya akan menyanggupi permintaan konyolnya dan Rian tanpa berpikir panjang. Ia semakin yakin jika putranya sungguh mencintai sahabatnya itu.
Rian membawa pulang Zafrina. tanpa berpamitan pada Leo maupun Zico sebagai tuan rumah. Kini papi Rian dan Zafrina sudah duduk di mobil. Rian menyetir mobilnya sambil berdiam diri, Tadinya dia sudah yakin ingin menjodohkan anaknya dan Zico. Tapi sekarang dirinya yang jadi tidak suka karena Zafrina sepertinya sangat mencintai Zico. Bukankah dengan nanti menikahkan Zafrina sama saja dia kehilangan cinta dari putrinya.
"Apa yang sedang papi pikirkan?"
"Inna, jika kamu keberatan dengan pernikahan itu, katakan saja pada papi, maka papi akan batalkan," Zafrina justru terkekeh mendengar ucapan Rian. Ia tahu kemana arah pembicaraan itu selanjutnya. mengenai kekhawatiran terbesar papinya.
"Papi kenapa jadi labil begini?"
"Bukan begitu. Papi hanya ingin yang terbaik untuk kamu."
"Asal papi tahu, rasa sayang dan cinta Inna pada papi lebih besar sedikit dari pada rasa sayang dan rasa cintaku untuk Zico."
"Hei, kenapa sedikit? papi maunya banyak."
"Tentu saja hanya sedikit, karena papi harus berbagi dengan kakak dan papa Gerry."
Rian mendengus kesal. Selalu saja seperti itu jawaban putrinya. Tapi dia senang karena Zafrina terlihat sudah segar tidak seperti semalam, meskipun wajahnya masih terlihat sembab tapi raut kebahagiaan terpancar di wajah putrinya.
🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
Tsay... jangan lupa birukan jempolnya, kasih komen dan Vote kalian gift juga boleh. Terima kasih untuk kalian yang sudah setia menemani author dari awal. Love kalian semua 🥰🥰
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 104 Episodes
Comments
Femmy Femmy
akhirnya beteluan akan dinikahkan😃
2024-08-06
1
Femmy Femmy
kejadiannya seperti papi Rian dan mami Veli yang di ketangkap warga🤣
2024-08-06
0
Muawanah
hmmm....
next bc aahhh...dah aku ksh secangkir ☕ nieh kak
2023-09-15
2