*******
Freddy kembali dengan wajah babak belur, tidak hanya seorang diri namun juga bersama temannya yang lain membuat Tuan Eden marah besar. Dia berteriak dan menanyai satu per satu teman Fred. Sebagai orang terpandang di kota ini membuat harga dirinya merasa terinjak-injak.
"Katakan siapa orangnya?"
"Di-dia... Zico Dawson."
"Dawson?" pikiran Eden mulai bekerja. Jangan bilang putranya berurusan dengan putra dari Leo Dawson ketua mafia White tiger itu.
"Apa dia putra Leo Dawson?" tanya Tuan Eden.
"I-iya ayah," jawab Fred ketakutan. Tanpa di duga Fred langsung ditampar oleh sang ayah.
"Apa kau du*ngu atau kau terlalu bodoh, hah? kenapa membuat masalah dengan mereka?"
"Aku tidak membuat masalah dengannya, dia yang merebut kekasihku." Tuan Eden menoleh menatap putranya dalam.
"Kekasihmu?"
"I-ya ayah, dia merebut kekasihku," dusta Fred. Nyatanya dirinya dan Zafrina hanyalah berteman.
"Baiklah, karena dia yang memulai duluan. Kita akan membalasnya, jangan sampai mereka berani menginjak harga diriku. Aku seorang Walikota, bagaimana bisa putraku di permalukan seperti ini." Tuan Eden tersenyum licik. Fred dan yang lain hanya bisa diam.
..........
"Zafa, sekarang ceritakan pada papa, apa yang sebenarnya terjadi pada adikmu?"
"Saat itu Ina pergi bersama temannya Fred, putra dari walikota. Dia pergi ke sebuah klub katanya ada acara di sana. Zafa juga sudah meminta dua orang untuk mengawal Ina, Pah. Di sana juga ada Zico. Aku pikir tidak akan ada kejadian seperti itu. Tapi aku salah, Mereka memberi Zafrina minuman yang sudah di campur dengan obat perang*sang. Dari sanalah masalah timbul. Zafrina pingsan, saat di bawa ke rumah sakit, dokter bilang jika Ina alergi dengan kandungan di obat itu. Zico mengurus Ina dengan baik. Ya malangnya karena terlalu lelah mengurus Ina mereka berdua malah tertidur di kamar Zico. Bertepatan dengan uncle Rian yang bertamu ke sana."
Gerry terdiam, namun dari sorot matanya sarat akan kemarahan yang memuncak. Mendengar putrinya hampir menjadi korban pelecehan. Zafa dapat melihat itu.
"Apa Rian sudah mengurus anak walikota itu?"
"Sudah papa, tapi Ina meminta uncle Rian untuk melepaskannya. Karena dia putra dari walikota, pasti nanti akan berdampak karena kita hanya seorang imigran."
"Kamu pastikan saja orang-orang mu bekerja dengan baik untuk menjaga adikmu. Sementara Marvel biar di sini menjadi pengawal Zafrina."
"Papa, jangan tega begitu dengan Marvel," Ujar Zafa tak terima. Gerry menatap Marvel, ia baru ingat dengan romansa cinta segi tiga antara Marvel, Zafrina dan Zico.
"Hmm... baiklah nanti akan papa usahakan mencari kandidat lain yang bisa menjaga adikmu."
"Saya tidak masalah, tuan. Tujuan saya bekerja di sini untuk mengabdi pada tuan sekeluarga."
"Tidak, biarkan yang lain yang bekerja. Kamu ikut pulang ke Indonesia untuk menjaga Zayana saja."
Karena posisi Gerry membelakangi Marvel, pemuda itu tidak tahu jika Gerry mengedipkan sebelah matanya pada Zafa, ayah dan anak itu kembali berkonspirasi.
"Sudahlah Vel, jaga Zayana saja," timpal Zafa.
Marvel akhirnya mengangguk saja mendapat perintah menjaga putri kedua dari keluarga Ardana itu. Toh bekerja di mana pun sama saja menurutnya.
..........
Sementara itu kedua sahabat yang kini berstatus suami istri itu sedang bersiap menuju ke rumah sakit. Zafrina awalnya tidak mau merepotkan Zico tapi pria itu berkeras untuk mengantarkannya.
"Apa kamu sudah siap, Inna?" Zafrina yang ada di ruang Walk in closet segera keluar saat mendengar panggilan suaminya itu.
"Sudah.... " ujar Zafrina, Zico yang awalnya sedang duduk di ranjang dan bermain ponsel langsung seketika mengangkat kepalanya. Pemuda itu terpaku melihat istrinya yang terlihat lebih cantik dari biasanya.
"Apa kamu perlu berdandan seperti ini?" Zico mendekati istrinya dan mengikis jarak diantara keduanya.
Zafrina yang belum paham arti tatapan Zico menunduk melihat penampilannya. Rasanya tidak ada yang berlebihan dari apa yang dia kenaka apalagi riasan. Dia hanya memakai bedak dan lipgloss karena memang warna bibir Zafrina sudah merah.
"Apa ada yang salah?" tanya Zafrina. Zico mengangguk seraya menarik pinggang gadis itu dengan sebelah tangannya.
"Kamu terlalu cantik, Inna. Tidak bisakah malam ini kita di rumah saja. Aku akan mengajarimu cara menjadi istri yang menyenangkan," kata Zico, matanya telah berkabut, rasanya ingin segera menerkam mangsanya.
"Istri yang menyenangkan?" Zafrina yang pada dasarnya belum pernah berpacaran, ia merasa sedikit bingung dengan konotasi kata menyenangkan. Apa dirinya terlihat tidak menyenangkan sekarang ini?
"Iya, apa kamu mau tahu caranya?" Zico membelai pipi Zafrina dengan lembut.
"Apa sekarang aku terlihat tidak menyenangkan?" Mendengar pertanyaan lugu yang keluar dari bibir Zafrina membuat Zico seketika menepuk keningnya. Dia lupa berbicara dengan siapa sekarang. Zafrina bukanlah seperti para gadis sewaannya. Dia gadis yang sangat menjunjung tinggi adat ketimuran meskipun telah lama tinggal di luar negri.
Zafrina adalah gadis yang tidak akan terpengaruh pergaulan dunia luar meskipun hampir 4 tahun tinggal di sana. Hal itulah yang tentu saja membuat Zico sangat menyukai Zafrina. Gadis itu tetap dengan keluguan dan kepolosannya.
"Bukan kamu tidak menyenangkan, Sweetie. Tapi aku ingin mengajarimu about a making baby." Wajah Zafrina seketika memerah bahkan telinganya pun ikut memerah karena malu mendengar ucapan Zico."
Zafrina menepuk dada Zico yang terbalut outfit dari brand G*cci. Pemuda itu langsung terkekeh melihat reaksi Zafrina.
"Ayo lah, kita sudah sama-sama dewasa. Sudah saatnya kamu belajar," bujuk Zico.
"Aku tahu, tapi tidak sekarang. Aku butuh keberanian untuk itu."
"Apa kamu pikir ini uji nyali? ini adalah sesuatu yang enak. Apa lagi sekarang kita sudah sah."
"Berhenti bicara sembarangan, Zi. Atau lebih baik aku ke rumah sakit sendirian saja," Zafrina merengut kesal. Candaan Zico berhasil membuat jantungnya berdebar kencang. Dan dia yakin Zico dapat mendengar suara detak jantungnya yang seperti genderang di tabuh.
Zico tersenyum penuh arti pada Zafrina, dia lalu mengecup kening gadis itu dan kemudian menggandeng tangan Zafrina keluar dari kamar.
Keduanya kini sudah melaju menuju rumah sakit, tempat dimana mama Zafrina di rawat. Zafrina memilih membuang wajahnya kesamping, dia masih malu mendengar candaan Zico tadi.
"Apa kamu marah padaku, Inna?" Zafrina langsung menoleh pada Zico.
"Marah? marah untuk apa, Zi?"
"Karena tadi... "
"Zi, aku mohon jangan bahas itu lagi," potong Zafrina dengan wajah kembali memerah. "Aku tahu itu adalah kewajibanku juga. Tapi bisakah tidak di bahas sekarang?"
"Baiklah, aku kira kamu marah."
"Untuk apa aku marah. Kamu suamiku. Kamu yang paling berhak atas tubuhku. Kecuali kalau kamu membahasnya dengan wanita lain, sudah pasti aku marah."
"Tidak ada yang lain, Inna, hanya kamu."
🌹🌹🌹🌹🌹🌹
Ditunggu Vote, like dan komennya ya, mau kasih mawar dan kopi juga di Terima.
Nih author punya rekomendasi karya dari teman online author.
Judul : Ibu ijinkan aku bahagia
penulis : Sutihat Basti Wibowo
Kisah ini tidak kalah mengharu biru. Mampir ya!!
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 104 Episodes
Comments
Femmy Femmy
🤣🤣🤣
2024-08-07
1
Femmy Femmy
Marvel bertemu jodohnya dengan Zayana saja🤭
2024-08-07
0
Oi Min
apa Marvel mau di jodohin ma Ana.....??? tp jgn ketahuan pa.... pelan2 aja deketin mereka. takutnya Marvel Terima Ana karna merasa itu tugasnya, bukan cinta. kan Marvel masih mencintai Ina..... jadi biarkan cinta tumbuh di hati mereka dg sendiri nya
2023-09-13
0