******
Di Universitas, Zico sama sekali tidak sadar jika ponselnya mati. Dia sibuk menyusun tugas-tugas yang diberikan Profesor Anderson kepadanya. Pikirannya sejak tadi tidak tenang. Tapi dia tetap harus bersikap profesional.
Pukul 2 siang pekerjaannya baru selesai, Zico mengambil ponselnya dan berniat menghubungi istrinya tapi ternyata ponselnya mati.
Seorang gadis cantik dengan mata berwarna abu-abu menghampiri pemuda itu. Gadis itu memeluk tubuh Zico dari belakang.
"Zico, i miss you," bisik gadis itu. Zico sesaat memejamkan matanya, dia lalu dengan kasar melepas tangan gadis itu yang melingkar di perutnya.
"But, i am not," ujar Zico datar.
"Zico... "
"Menjauhlah dariku Anastasya! Aku sudah berulang kali mengingatkanmu."
"Tapi aku benar-benar merindukanmu."
"Kita bahkan tidak pernah memiliki hubungan apapun sebelumnya. Jadi jangan mengarang."
"Tapi aku benar-benar tulus mencintaimu, Zico."
"Simpan omong kosongmu itu, aku tidak membutuhkannya." Zico berjalan meninggalkan Anastasya, mantan pacar sewaannya.
"Apa kau menolakku karena gadis itu?"
"Apa hebatnya dia dibandingkan aku yang lebih segalanya darinya?" ucapan Anastasya sungguh membuat Zico marah. Dia berbalik dan berjalan dengan cepat. Zico mencengkeram pipi Anastasya dengan kuat.
"Jangan bandingkan gadisku dengan wanita kotor sepertimu. Kau tidak lebih hanya seorang ja*lang kesepian."
"Kurang ajar, aku sudah korbankan semua demi kamu, Zico," ucap Anastasya terbata.
"Apa aku pernah memintamu? Kau datang sendiri padaku dan menawarkan diri. Aku bahkan membayarmu dasar ja*lang si*alan," Pekik Zico. Beruntung lorong itu cukup sepi di siang hari. Jadi tidak ada orang yang berlalu lalang di sana.
Zico menghempas wajah Anastasya dengan kasar. Dia hendak beranjak meninggalkan gadis itu namun kemudian urung. Dia kembali menatap tajam gadis itu.
"Ku peringatkan padamu, jangan sekali-kali kau menjelekkan Zafrina. Jika sekali lagi aku mendengar kata-kata buruk terlontar dari mulutmu mengenai kekasihku, akan ku buat kau selamanya tidak lagi bisa bersuara."
Setelah mengatakan semua hal itu Zico bergegas pergi dari sana. Anastasya menatap Zico dengan mata memerah, pipinya juga merah bekas cengkeraman tangan Zico. Hatinya sungguh sakit dengan perlakuan Zico. Ia tak menyangka pria itu akan berbuat sekasar itu hanya untuk membela Zafrina.
Zico berjalan cepat hingga tepukan di bahunya mengejutkannya. Zico menoleh sesaat namun kembali tak acuh dan berjalan menuju mobilnya.
"Ada apa dengan wajahmu. Kamu terlihat semakin tua jika alismu berkerut seperti itu," ujar Dominic mencoba mensejajarkan langkahnya.
"Hariku benar-benar buruk," jawab Zico tanpa menatap sahabatnya itu.
"Ada apa lagi dude?" tanya Dominic penasaran.
"Ponselku ternyata mati, Aku meninggalkan Inna di rumah, dia pasti sangat kesal sekarang. Dominic lalu mengeluarkan ponselnya dan menghubungi nomor Zafrina.
Dering pertama, panggilan Dominic langsung diangkat namun bukan suara Zafrina yang terdengar melainkan suara kakaknya.
"Ada apa, Dom?"
"Kenapa ponsel Ina ada padamu, Zaf?"
Zico yang mendengar Dominic menyebut mana istrinya langsung berhenti. Dia berbalik dan mendekati Dominic. Pemuda itu tersenyum miring melihat Zico yang tampaknya sangat penasaran. Dominic lantas menyalakan speaker ponselnya.
"Ina sedang beristirahat, apa kamu sedang bersama Zico sekarang?"
"Ya, seperti itu lah, ponsel Zico mati sekarang. Maka dari itu aku menghubungi Ina."
"Katakan pada Zico untuk datang ke apartemenku. Zafrina ada di sini. Tadi dia hampir celaka. Ada orang tidak di kenal menyerangnya saat dalam perjalanan."
Mendengar hal itu Zico dan Dominic sama-sama mengumpat. Keduanya berlari ke mobil Zico.
"Biar aku yang menyetir. Kita bisa celaka jika kamu yang mengemudi." Dominic merebut kunci mobil Zico. Dia duduk di balik kemudi.
Zico hanya diam dengan pikiran yang berkecamuk. Cemas, marah, dan kecewa. Ia kecewa pada dirinya sendiri, karena tidak ada di saat gadisnya kesulitan.
"Tenanglah, jika Inna ada di apartemen kakaknya itu artinya dia baik-baik saja."
"Aku merasa menjadi suami yang tidak berguna," Gumam Zico. Dominic yang mendengar ucapan Zico seketika menginjak rem mobil Zico dalam-dalam. Mobil seketika berhenti mendadak. Beruntung mereka melewati jalan yang tidak terlalu padat.
Tubuh Zico tersentak ke depan. Matanya menatap Dominic tajam. "Apa kamu ingin membunuhku?"
"Maaf, dude. Aku hanya terkejut mendengar ucapanmu barusan."
"Ucapan yang mana?"
"Suami...?"
"Nanti di sana akan aku ceritakan. Sekarang bergegaslah. Aku benar-benar tidak tenang."
Dominic kembali menjalankan mobil Zico hingga tak lama keduanya sampai di parkiran mobil basemen. Zico keluar terlebih dahulu. Dia melihat mobil sport-nya terparkir di sana. Zico menatap mobilnya sesaat. Saat melihat bodi yang penyok dan goresan yang cukup banyak di mobilnya dia menggeram kesal. Tangannya terkepal kuat. Dominic yang ada di samping Zico hanya bisa menenangkan sahabatnya dengan menepuk bahu Zico.
"Ayo, bukankah kau ingin segera bertemu Inna?"
Zico dan Dominic akhirnya berjalan ke lift, keduanya sama-sama diam dengan pemikirannya masing-masing.
Zico menekan bel pintu unit apartemen Zafa. Tidak butuh waktu lama kakak iparnya itu sudah berdiri di depan pintu dan membukakannya untuk kedua pemuda itu.
"Dimana Ina?"
"Dia baru saja tertidur. Jangan mengganggunya. Sebaiknya kita bicara dulu," kata Zafa dengan wajah serius.
Zico dan Dominic akhirnya mengikuti Zafa. Zafa duduk di hadapan Zico dan Dominic.
"Bagaimana ceritanya? siapa yang berniat mencelakai Ina?" tanya Zico tidak sabaran.
"Tenanglah, dude." Dominic kembali menenangkan sahabatnya itu.
"Bagaimana aku bisa tenang, istriku hampir celaka," ujar Zico.
"Anak buahku baru mencaritahu pemilik plat nomor kedua mobil penguntit itu. Beruntung mereka meninggalkan mobil mereka di jalan jadi kita lebih mudah melacak siapa mereka."
"Apa Inna terluka?"
"Beruntungnya tidak, tapi tadi dia sempat lemas, mungkin karena syok. Apalagi yang membuntuti dirinya tidak hanya satu melainkan dua mobil."
"Aku akan menghabisi mereka yang berani mengusik istriku."
"Tenangkan dirimu. Jika sudah tenang, baru kamu temui Inna."
Zico menarik nafas panjang berulangkali. Hingga dia merasa jauh lebih tenang dia pun akhirnya beranjak dari duduknya dan pergi menemui Zafrina.
Dominic yang masih penasaran dengan pernikahan Zico dan Zafrina akhirnya memilih mengorek informasi dari kakak Zafrina itu.
Sementara itu Zico duduk di tepi ranjang. Dia menatap wajah Zafrina yang terlelap dengan perasaan bersalah.
"Maafkan aku, Inna," Desis Zico. Tangannya terulur membelai rambut Zafrina. Sudut mata Zico basah karena dia merasa tidak becus menjadi suami untuk Zafrina. Zafrina perlahan membuka kelopak matanya, Zico segera mengusap air matanya. Dia tidak boleh terlihat lemah di depan Zafrina.
"Zi... kamu di sini?"
"Hmm... " jawab Zico dengan suara serak. Bibirnya sedikit menyunggingkan senyum. Zafrina menggeser tubuhnya dan merebahkan kepalanya di pangkuan Zico.
🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
Hai, author mau promosi karya teman author lainnya nih. Mampir ya!!
Judul karya : My crazy lady
author : R. Angela.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 104 Episodes
Comments
kalea rizuky
zico. udah tidur. kah ma. anastasia
2024-03-13
1
sherly
jd penasaran Zico nih sewa jalang2 tu hanya buat jd pacar sewaan aja apa skalian dipakai? KL kyk gt kasianlan Inna dpt brg bekas jalang...
2023-10-25
0
Qaisaa Nazarudin
Makanya jgn terlalu suka main wanita,menggali lubang sendiri namanya..
2023-01-03
1