Mataku tak berhenti memandangi isi dari bingkisan misterius itu. Mataku terus memilah Milah beberapa benda yang menurutku bisa menjadi benang merah atas kekalutan di rumah terkutuk itu. Sepucuk surat tak lupa terselip di antara barang yang masih kupilin. Di dalamnya tak banyak hanya ada secarik kertas, beberapa lembar foto, kalung dengan bandul aneh yang menurutku indah walau tak terlalu penting, dan ini yang heran. Kenapa bisa ada sepucuk pistol dengan magasin penuh serta ucapan, 'gunakanlah jika kau merasa terdesak'. Ini Pistol milik ayah!
Beberapa lembar foto dan catatan yang aku butuhkan sudah di tangan namun, aku masih bingung kenapa ayah meninggalkanku sepucuk benda berbahaya ini. Iya ayah memang punya pistol revolver jenis Smith & wesson, tentu saja dengan ijin resmi dan dulu ayah tak pernah memperlihatkan pada siapapun. Dia pandai untuk menyembunyikan tapi kadang juga ia membersihkan benda yang nampak menjadi kesayangannya tersebut. Mencegah dari karat dan debu. Namun karena aku sangat penasaran jadi aku curi-curi kesempatan untuk bisa melihat dari dekat atau barang bisa menyentuh senjata yang di gunakan di film-film laga kesukaanku. Sekarang malah berada erat di genggamanku. Apa se-berbahaya itu kah di tempat ini?
Barang-barang yang kudapatkan semakin meyakinkan diriku kalo yang kuhadapi bukanlah sembarang. Semakin tertantang pula jiwa mudaku. Aku yang memang menyukai detektif-detektifan sekaligus juga menyukai tantangan. Di tambah tak mungkin ayah memberikan pistolnya padaku yang masih amatir menembak. Memang aku pernah belajar beberapa kali waktu di ajak berburu dengan ayah namun apakah aku bisa memburu sesuatu yang memburuku kali ini. Kita lihat saja Nanti!.
Segera aku menyembunyikan benda yang awam di lihat orang biasa tersebut di punggungku menyelipkannya disana. Sebelum ayu datang dan melihatku lari ketakutan memegang benda berbahaya seperti ini.
"Hey, apa kamu udah baikan?", Tanya ayu di ambang pintu.
"Eh udah yu, berkat kamu aku udah agak enakan. makasih ya.", jawabku.
Ayu mulai mendekatiku dan duduk di tepi ranjang. Spontan ku tekuk kakiku untuk memberinya ruang untuk duduk nyaman. Terlihat sepertinya kali ini kecemasan sedang menguasai hatinya.
"Kamu, mau kembali ke rumah itu?,". Tanya ayu.
"Entahlah aku nggak tau. Kayaknya aku belum siap. Nggak ada yang bisa ku percaya saat ini !,". Jawabku tegas.
"Termasuk ayu???,". Sergah ayu. Terlihat Buliran kristal bening mulai mengalir membasahi pipinya. Aku hanya diam menanggapi pertanyaannya.
"Apa kau juga termasuk dalang dari semua ini?!,". Ucapku dengan penuh penekanan di setiap katanya.
Ayu hanya menggeleng kepala pelan mendengarku sedikit berapi-api.
"Baguslah,". Ujarku lirih.
Aku bangkit dan mencoba berjalan keluar dengan meraba-raba pegangan di sekelilingku. Aku hanya ingin mencari udara segar. Ayu yang melihatku reflek untuk memegangiku setengah memapahku keluar dari kamarnya. Makasih ayu, aku sangat berharap semoga kamu bukan musuh dalam selimut. Kami berjalan beriringan dan terduduk di sofa ruang tamu.
"Aku nggak bisa menahanmu disini lebih lama putra. Bagaimanapun kamu bukan suami ayu. Dan dengan kamu disini lama-lama ayu takut menimbulkan fitnah dan pikiran buruk warga sekitar." Ayu menjelaskan dengan tatapan nanar.
"Kamu benar yu,". Ucapku membenarkan.
Lantas kemana aku harus bersembunyi untuk sementara waktu ini. Sebelum aku benar-benar siap untuk mengahadapi dalang di balik semuanya. Apa iya aku harus jadi gelandangan. Duh!
"Gimana kalo kamu numpang di sepupu ayu dulu sementara.". Ujar Ayu memberi solusi.
Tangannya kirinya menyentuh pipiku lembut. Aku sedikit tersentak dengan sentuhannya. Namun tak juga menolak dengan rezeki. Hehehe
"Udah nggak panas,". Lirihnya.
"Yaudah nanti aku anterin kesana. Rumahnya nggak jauh kok paling sekitar 100 meter dari rumah ayu.". Lanjutnya.
"Oke nanti anter aku kesana ya, kita pergi sehabis Dzuhur,". Kataku sembari bersandar di sofa empuk milik ayu. Terasa Masih Sedikit berkunang kunang kepalaku rasanya.
"Yaudah ayu mau pergi ke warung dulu ya mau beli sayur sama keperluan yang lain,". Tukas ayu.
"Iya yu, hati-hati ya. Atau kamu mau aku anterin?", Ucapku tersenyum dengan tulus padanya.
"Hehehehe putra putra, orang warungnya cuma di sebelah rumah tuh. Masa mau di anter. Huuu,". Jawab ayu dengan melempar senyum yang tak kalah manis.
"Hehehe mana ku tahu kalo sebelah rumahmu ada warung.", Jawabku.
"Yaudah yaudah ayu pergi dulu, assalamualaikum,". Tukas ayu sembari melambaikan tangan kepadaku.
"Waalaikumsalam,". Jawabku membalas salamnya.
Setelah kurasa ayu sudah meninggalkanku sendiri, kucoba memejamkan mata lagi. Sungguh pusingnya kepalaku hari ini mengalahkan pusingnya jadi presiden. Lebih baik aku tidur sebentar siapa tau agak mendingan.
Angin tiba-tiba saja berembus masuk melalui celah celah rumah. Hawa dingin kembali memenuhi ruangan ini seperti menyalakan lima AC dalam satu ruangan . Aku menggigil sebisa mungkin aku bersilang tangan mencoba menyingkirkan rasa dingin di tubuhku. Ku tengok ke luar rumah melalui jendela. Astaga! Bahkan di luar panas menyengat bahkan anak-anak bermain begitu gembiranya bermandikan sinar matahari. kenapa disini begitu dingin. Ada yang tak beres!
Kali ini aku Mencoba untuk bangkit setidaknya aku ingin terkena sedikit matahari untuk menghangatkan tubuhku. Dan ketika ingin beranjak. Tiba-tiba sebuah tangan hitam mencengkeram lengan kiriku. Tangan keriput kurus dengan kulit hitam, sekilas mirip dengan ranting kayunya saking kurusnya. Aku tersentak dan langsung memandangi si empunya tangan. Dan tak ku duga. Sebuah wajah nampak tak asing bagiku dengan kulit wajah senada dengan kulit tangannya tadi di tambah rambut putih kumal yang acak-acakan. Namun tak membuatku lupa dengan wajahnya. Itu almarhumah nenek Tari!
Terkejut diriku serasa jantungku hampir berhenti berdetak melihat pemandangan yang membuatku seperti patung dengan cucuran keringat seperti hujan badai. Ku beranikan diri lagi melihatnya dan meronta supaya cepat terlepas dari cengkeraman tangannya yang terasa panas di lenganku. Sekilas wajah hitamnya terlihat sendu. Hingga sepersekian detik dia seakan kali ini mengunci tubuhku, rasanya seperti di lilit oleh hal tak kasat mata. Sebuah bisikan halus nan lirih mengalun bagai rintihan di telingaku, bisikan dengan nada penuh amarah penyesalan dan keputusasaan.
Simbah di belenggu Imah!
"Hahh!!!!"
Seketika aku terbangun dari lelapku di sofa dengan kaki yang selonjoran. Keringat seperti tanpa henti membasahi bajuku. Ku lihat nampaknya ayu belum pulang. Ini mimpi yang nampak nyata. Aku bahkan masih merasa seketika semua tekanan yang kurasakan hilang. Suhu ruangan kembali normal. Tak ada lagi sosok hitam dengan bau kabel terbakar di sampingku dan mencengkram lengan kiriku. Semua masih kurasakan dengan detail. Apakah ini benar-benar mimpi saja atau ada maksut tertentu dari almarhum nenek tari menemui ku ?
Bersambung...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 91 Episodes
Comments
🐾🐾🎯Chandra Dewi♐🐾🐾
mungkin mbah tari hanya ingin menyampaikan pesan kepada putra lewat mimpi, kalau arwahnya tidak bisa kembali kepada sang pencipta karena dibelenggu oleh kekuatan jahat nyi dasimah..
2022-05-31
2
Kak Ya
mantaabb 👍👍💪💪🤠
salam dari "santri pilihan"😁🙏
2022-05-19
0