Pagi kini telah kembali tiba, Suara Kokok ayam menandakan telah di mulainya hari baru. Tetes embun masih lekat menempel di dedaunan, sang mentari pun sepertinya masih malu-malu untuk beranjak.
Kini aku terbangun di sebuah ruangan yang asing bagiku. Sepertinya ini sebuah kamar. Ya aku terbangun di sebuah Ruangan kamar bercat hijau dengan banyak dekorasi boneka berbagai bentuk. Aku terbaring di atas kasur dengan sprei bergambar bunga-bunga, wangi kamar ini cukup familiar dengan hidungku. Ternyata aku pingsan tak jelas apa yang membuatku pingsan. Aku hanya samar-samar mengingatnya. Aku coba untuk bangun namun, kepalaku masih sangat berat untuk beranjak dari peraduanku.
Ceklekk krtttt
Pintu terbuka, mungkin saja dia pemilik kamar ini. Siapapun dia aku berterimakasih padanya karena sudah menolongku. Hingga pintu itu terbuka lebar dan memperlihatkan sosok wanita dengan wajah manisnya membawa nampan berisi baskom dan selembar handuk kecil. Ayu! Aku hampir tak mengenalinya karena kini ia tak memakai jilbab seperti biasanya. Dengan rambut terurai sebahu dan baju panjang dia sama sekali tak kehilangan sisi cantiknya. Dan Kini dia sudah duduk di sebelahku. Tersenyum kepadaku yang sedari tadi terus memandanginya.
"Alhamdulillah Kamu udah bangun?," Ucap ayu sambil memegang dahiku.
"Aku dimana yu?", Tanyaku sembari mencoba bangkit dan duduk.
"Ini kamar ayu. Jangan dipaksa bangun dulu kalo masih sakit, coba ayu lihat dulu masih panas nggak,". Ucap ayu.
Pantas Aku hanya bisa memandanginya dengan tersipu malu. Rambutnya yang terurai sesekali tersapu kipas angin yang menyala. Menebarkan semerbak harum Dan wanginya mampu membuat jantungku berdesir. Namun, aku sedikit masih trauma dengan kejadian kemarin. Kejadian waktu surup, aku kira yang ku bonceng ayu eh ternyata malah demit.
"Yu, ini kamu kan? Ayu yang asli?,". Kataku meyakinkan diri dengan mencubit cubit pipi ayu yang tembam.
"Ihhh ini ayu emang siapa lagi. Jangan-jangan kamu cari kesempatan ya, dasar! ,". Protes ayu.
"Nih obatin sendiri aja. Ayu gamau,". Ucapnya lagi seraya bangkit dari duduknya.
"Eh eh jangan gitu. Aku kan cuma memastikan. Soalnya semalem aku ketemu Nyai sialan itu. Aku hampir mati di buatnya,". Kataku mencoba menjelaskan.
"Iya iya tapi jangan asal cubit kaya gitu lagi. Sakit tau pipi ayu,". Jawab ayu dengan bibir yang di maju majukan. Sungguh imut.
"Eh yu, kok aku bisa disini sih?". Tanyaku sambil merebahkan tubuh. Rasanya kepalaku masih berkunang kunang.
"Ayu kompres ya,". Ayu mulai meletakkan handuk kecil di bahuku yang memerah karena lebam. entah mungkin karena terantuk kerasnya batuan aspal mungkin.
"Yu, apa nenek tari udah di makamin ya? Aku jadi nggak enak sama yang lain gara-gara aku nggak kelihatan di pemakaman nenek.", Aku mencoba membuka obrolan.
"Huh, Simbah Tari udah di makamin tiga hari yang lalu, bahkan tahlilannya aja udah rampung tadi malem.", Jelas ayu.
"Apa? Tiga hari? Aku pingsan selama itu?,". Jawabku kaget.
"Iya kamu tuh pingsan selama itu. Jadi selama itu ayu yang ngerawat kamu,". Ucap ayu sambil bangkit meninggalkanku.
"Yu, apa menurutmu Nyai sialan itu bakal datang lagi,". Tanyaku.
Ayu hanya mengganguk pelan sembari melempar senyum ke arahku. Aku hanya bisa menoleh memandangi punggung dan rambut hitam lurusnya. Perlahan tubuh itu pergi melalui pintu untuk meninggalkan ruangan ini.
"Dia nggak akan berhenti sampai dendamnya semua terbalaskan,". Tegas ayu yang siluetnya mulai menghilang di balik pintu.
Ah ternyata aku ada di kamar ayu. Pantas saja wanginya aku familiar. Cukup melegakan karena ternyata aku tak jadi korban keganasan demit itu untuk saat ini. Namun, aku tak bisa memastikan keselamatanku di kemudian hari jika demit buruk rupa itu datang lagi. Chhh aku harus berbuat apa sekarang? Demit itu pasti akan datang lagi. Membayangkannya saja membuatku merinding.
"Kamu mau tak buatin bubur?,". Teriak ayu dari luar kamar.
"Terserah kamu aja yu,". Jawabku yang tak bisa sekeras suara ayu.
Setelah menunggu beberapa menit berlalu. Ayu kembali masuk sembari membawa nampan berisi semangkok bubur dan beberapa butir obat sepertinya. Terlihat dengan lembut ia meletakkan nampan itu di atas meja di samping kasur yang sedang ku tempati.
"Udah di makan dulu buburnya. Jangan lupa di habisin.", Ucap ayu.
"Iya, makasih ya yu. Eh by the way kok daritadi aku kok nggak lihat ibumu yu, Emang bi Tutik kemana?.". Kataku dengan suara sedikit serak.
"Ayu kan udah bilang. Ibu ke rumah Simbah Tari, bantu-bantu disana. Paling nanti sore udah pulang.", Celetuk ayu.
"Hmmm ooohhh berarti kita cuma berdua disini hehe?,". Kelakarku menggoda ayu.
"Jangan mikir macem-macem kamu! Dasar putra mesum!,". Bentak ayu sambil bangkit dan berjalan mundur beberapa langkah.
"Hahaha aku cuma bercanda ayu, lihat tuh mukamu sampai merah kaya gitu,".
"Maaf ya, ayu cantik, jangan marah. Aku nggak mungkin lah ngelakuin macem-macem sama kamu dengan kondisiku yang masih lemah gini.", Rayuku setelah melihat kekesalan di wajah ayu. Meskipun dalam hati aku merasa geli sendiri melihat reaksinya.
"Awas aja kalo macem-macem. Huh.", Ancam ayu di Sertai cubitan pada pinggangku, cubitan yang kurasa cukup kuat. Sedikit meringis aku di buatnya.
Setelah beberapa suap bubur masuk ke dalam mulutku. Sejenak terbersit pikiran kalut dalam anganku. Serta beberapa kejanggalan yang susah ku cerna dengan akal sehat. Kalau selama ini aku menghilang bahkan tidak sadar diri, paling tidak ada yang merawatku atau sekedar mengkhawatirkanku mungkin. Atau mereka lupa padaku karena mereka yang ada di rumah itu sibuk menyiapkan lelayu-nya pemilik rumah.
"Yu, apa selama tiga hari aku menghilang, nggak ada gitu yang nyariin aku atau jenguk gitu?.", tanyaku penuh kepo.
"Dua hari yang lalu sih ada Tante Ningsih yg kemayu itu, kesini sama kalo nggak salah ayah kamu deh, eh gatau juga ding aku juga lupa soalnya. Kalo seingatku sih dia ngomong ngakunya ayah kamu.", Ujar ayu sembari membereskan sisa mangkok dan beberapa plastik obat.
Ayah? Apa benar ayah kesini. Dan kenapa dia tidak membawaku pergi juga. Sebentar-sebentar apa ayah datang menengok-menengok saja dan kemudian pergi lagi. Apa rencanamu sebenarnya ayah Budi Rahardjo. Kenapa perangai dan tindak tandukmu sulit ku mengerti. Aishhh tunggu saja aku akan segera kembali ke rumah Nenek tari dan akan ku ungkap semua hal yang menurutku janggal ini!
"Oh iya orang itu kemaren juga nitip kotak itu putra. Aku nggak tau isinya apaan tuh, kupikir itu barang penting punya kamu. Jadi aku simpen aja dulu nunggu biar kamu sendiri yang buka,". Sergah ayu sambil pergi membawa mangkok dan gelas yang sudah kosong.
"Mana? Terus siapa yang ngasih yu?". Cercaku pada ayu.
"mmmmm kayaknya ayahmu deh, oh iya ayu lupa, kotaknya ayu taruh di bawah kolong tempat tidur,". Lanjutnya.
Segera aku bergegas untuk mencoba bangkit dari pembaringanku. Ku sibak gelapnya kolong tempat tidur yang berjarak lima puluh centi dari keramik berwarna putih tulang. Ku picingkan mata, sekilas Terlihat disana sudah teronggok sebuah kotak sederhana berbahan kayu. Iya hanya itu tak ada embel-embel pernish mengkilap atau cat dengan warna yang cerah. Hanya sebuah kotak kayu biasa yang nampak terlihat usang karena usia. Ku raih kotak itu dengan sedikit usaha.
Sekarang benda berukuran sekitar separuh dari box sepatu itu sudah berada dalam pangkuanku. Kubuka perlahan tutup yang hanya mempunyai sistem pengait berbahan dari kuningan. Seketika mataku berbinar melihat isi dari kotak yang di tinggalkan ayah hanya untukku. Kotak jelek lusuh dan kuno namun mempunyai sesuatu yang bisa ku anggap sebagai berlian untuk saat ini. Seringai kemenangan kini seakan terlukis di wajahku. akhirnya!
"Hehehehe, Sungguh tak kusangka..."
.
.
.
.
.
.
.
Bersambung....
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 91 Episodes
Comments
Mimik Pribadi
Wlu sebagian misteri sdh terbuka tapi msh belum seutuhnya jelas dan terpecahkan,,,,,lanjuutt
2023-07-30
1
nana purnamasari
pinisirin thorrr
2022-12-26
0
🐾🐾🎯Chandra Dewi♐🐾🐾
ish.. apa sih isi kotak pemberian ayah putra.. jd penasaran dech.. lanjut aja dech biar ga penasaran.. cuss..🏍️🏍️
2022-05-31
2